LOGINPintu ruang istirahat pribadi itu terkunci otomatis dengan dentum halus yang mengubur seluruh bising dari luar.
Ruangan remang beraroma kayu cendana dan alkohol steril itu kini sepenuhnya terisolasi dari jangkauan dunia luar.
Daniel tak membiarkan Renata membuang waktu untuk berpikir.
Pria tegap itu mendorong Renata perlahan hingga punggung mulusnya menempel pada cermin raksasa yang menyatu di dinding kamar istirahat.
Dinginnya permukaan kaca yang menerpa kulit Ren
Pintu ruang istirahat pribadi itu terkunci otomatis dengan dentum halus yang mengubur seluruh bising dari luar.Ruangan remang beraroma kayu cendana dan alkohol steril itu kini sepenuhnya terisolasi dari jangkauan dunia luar.Daniel tak membiarkan Renata membuang waktu untuk berpikir.Pria tegap itu mendorong Renata perlahan hingga punggung mulusnya menempel pada cermin raksasa yang menyatu di dinding kamar istirahat.Dinginnya permukaan kaca yang menerpa kulit Renata beradu kontras dengan hawa panas yang mendidih dari tubuh Daniel."D-Daniel... ada kaca di sini," desah Renata tercekat, matanya membelalak menatap pantulan tubuh mereka berdua di dalam cermin."Bagus," bisik Daniel parau di leher Renata, jemari tegapnya merayap tangkas membuka kancing kemeja kerja Renata satu per satu."Lihat bagaimana tubuhmu menyambutku, Renata."Tanpa menanggalkan seluruh pakaiannya, Daniel menyingkap rok kerja Renata hingga menumpuk di pingga
Pesan singkat terenkripsi itu bergetar halus di dalam saku seragam administrasi Renata, memutus ketenangan rapuh yang baru saja dibangun Widya di sampingnya.Dengan jemari dingin yang sedikit bergetar, Renata merogoh ponselnya di bawah kolong meja, membaca sederet kalimat pendek tanpa nama pengirim yang ia hafal luar kepala:“Ke ruang kerjaku sekarang. Lewat koridor VIP belakang.”Renata menelan ludah kaku. Ia menoleh perlahan ke arah Widya yang sedang sibuk mengetik di komputer bangsal."Wid, aku... aku harus menyerahkan berkas revisi inventaris ini ke lantai atas sebentar," cicit Renata, menyusun alasan sehalus mungkin.Widya menghentikan jemarinya, lalu menatap Renata dengan binar mata mendukung."Pergilah. Ingat pesanku tadi, Ren. Jangan kelihatan panik," bisiknya lembut sembari mengedipkan sebelah mata.Renata mengangguk pelan, meremas map tebal di dadanya lalu melangkah keluar dari ruang administrasi bangsal
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan administrasi bangsal yang sepi, Renata langsung mendudukkan tubuhnya di kursi putar di balik meja komputer.Ia meletakkan tumpukan map itu secara sembarangan, lalu menyandarkan punggungnya dengan helaan napas yang terputus-putus.Pandangan mata Renata menatap kosong ke arah layar monitor yang memantulkan bayangan wajahnya yang pucat pasi dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata.Pikirannya melayang jauh, sama sekali tidak bisa difokuskan pada angka-angka dan data medis di hadapannya.Detektif swasta... rekaman CCTV hotel... lantai dua belas.Kata-kata Giselle beberapa saat lalu terus bergaung liar di dalam kepalanya bagaikan gema teror yang tak bertepi.Renata memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih kaku.Bayangan bagaimana Daniel menuntunnya menyusuri lorong privat kamar nomor 1208 semalam melintas begitu nyata.Jika detektif
Napas Giselle memburu hebat, dadanya naik turun seiring dengan gelombang amarah yang membakar seluruh akal sehatnya.Wajah cantiknya yang biasa dipoles dengan keanggunan palsu kini memerah padam, dipenuhi raut kesetanan atas sikap dingin dan kata-kata menohok yang baru saja dilontarkan oleh suaminya."Brengsek kamu, Daniel!" jerit Giselle tertahan, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Kamu pikir kamu itu siapa?! Kamu pikir kamu bisa berdiri di kursi Direktur Medis ini tanpa sokongan dari keluargaku dan restu dari Paman Harry?!"Daniel tidak menggerakkan satu otot pun di wajahnya.Pria tegap itu tetap duduk bersandar dengan tenang, menatap Giselle yang sedang meledak-ledak di hadapannya bagaikan menyaksikan pertunjukan teater yang menjengkelkan.Pandangan matanya yang tajam dan pekat sama sekali tak memancarkan rasa takut, rasa bersalah, apalagi penyesalan.Sikap tak tergerak dari Daniel justru kian menyu
Ketegangan di dalam ruang kerja administrasi kian menebal, membakar oksigen hingga terasa amat menghimpit dada.Giselle masih berdiri tegap di hadapan Daniel dengan mata membelalak penuh kemurkaan dan tuntutan, menanti jawaban atas tuduhan yang dilemparkannya.Daniel tak langsung merespons.Dengan ketenangan yang dingin mutlak, pria tegap itu memalingkan wajahnya perlahan, menoleh ke arah Renata yang duduk terpaku di balik meja kerja."Renata, tinggalkan ruangan ini sekarang," perintahkan Daniel dengan intonasi rendah yang berat dan tak tertolak."Bawa berkas pendataan pasien hari ini dan selesaikan tugasmu di area administrasi bangsal utama."Renata meremas sudut map di tangannya, merasakan debar jantungnya melonjak drastis.Ia menatap Daniel sebentar, menangkap pancaran mata pekat pria itu yang seolah berbisik menenangkannya.Tanpa berani menyela atau membuang waktu, Renata segera berdiri, merapikan tumpukan dokumen dengan jemari gemetaran, lalu melangkah cepat melewati Giselle.Pin
Ancaman dingin yang terlontar dari bibir Giselle membekukan seluruh udara di dalam ruangan kerja administrasi.Renata tetap bergeming di kursi kerjanya, menahan gemetar di jemarinya saat Giselle melangkah perlahan menuju jendela besar, menatap ke arah pelataran parkir rumah sakit dengan raut wajah penuh tuntutan egoistis."Aku akan memastikan wanita itu tahu diri," gumam Giselle lagi dengan nada suara pelan namun sarat dendam yang pekat."Dia hanya alat. Jika Daniel mengira bisa menyembunyikan ibu pengganti pilihan pribadinya dari aku, dia sangat salah besar."Dada Renata naik turun tak beraturan.Setiap kata yang keluar dari mulut Giselle rasanya bagaikan duri tajam yang menusuk tepat di ulu hatinya.Kepalanya mulai berdenyut nyeri, membayangkan skenario terburuk jika detektif swasta suruhan Giselle benar-benar menemukan rekaman CCTV atau jejak keberadaan mereka di hotel semalam."Giselle, dengarkan aku dulu..." sela Renata mencoba memecah dominasi emosi iparnya itu."Kamu harus berp







