INICIAR SESIÓNDaniel memarkirkan mobilnya di pelataran parkir eksklusif Hotel Grand Meridian tepat pukul setengah sepuluh malam.Dengan mengenakan kemeja hitam yang tergulung hingga siku, langkah kakinya yang mantap memasuki lobi mewah bernuansa keemasan.Daniel tiba di hotel dan Giselle langsung menyambutnya di depan koridor private suite dengan senyum kemenangan yang meluap."Kamu datang tepat waktu, Daniel! Aku sangat bangga padamu malam ini," puji Giselle menyentuh lengan tegap suaminya.Ia memutar kunci kartu dan membuka pintu kamar nomor 809 lebar-lebar untuk membiarkan Daniel melangkah masuk lebih dulu.Giselle langsung meminta Daniel untuk masuk ke dalam kamar dan melihat wanita pilihan yang sudah menunggu di sana."Lakukan bagianmu dengan cepat, aku akan menunggu di restoran bawah," bisik Giselle sebelum menutup pintu dari luar.Di dalam kamar suite yang remang dan harum aromaterapi, seorang wanita muda bergaun malam tipis tampak berdiri canggung di tepi ranjang.Wanita itu langsung terpes
Tepat pukul delapan malam, Daniel melihat jam di tangannya dan langsung menghampiri Renata yang masih berada di sana menemaninya.Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan meja kerja Renata, mengamati raut wajah wanita itu yang tampak tenang namun diliputi gelisah.Daniel bertanya, “apa kamu tidak ingin bertanya alasan Giselle datang kemari tadi?”Renata mengadahkan kepalanya dengan pelan dan menggeleng pelan, lalu berbisik halus memecah keheningan di antara mereka."Ada apa, Daniel? Kenapa kamu menanyakan hal itu padaku?" tanya Renata dengan binar mata yang meredup ragu.Daniel menyunggingkan senyum miring yang sarat akan misteri. “Malam ini dia telah menyiapkan wanita untuk hamil anakku.”Renata menelan ludahnya dengan susah payah, mendadak merasakan hawa dingin menusuk hingga ke ulu hatinya."Lalu?" cicit Renata singkat, berusaha keras menjaga kestabilan suara dan raut wajahnya di hadapan sang dokter.Daniel menghela napas kasar dan bilang kalau Daniel harus ke hotel malam in
Beruntung Renata sudah mengenakan kembali baju kerjanya ketika pintu digedor dan teriakan dari Giselle terdengar di luar.Debaran jantung Renata memuncak, tangannya tergesa-gesa memasang kancing kemejanya yang sempat berantakan.Mata Renata membola menatap Daniel yang terlihat lebih santai tanpa sedikit pun raut kepanikan di wajahnya.Dengan gerakan tenang, Daniel menyampirkan kembali jas dokternya lalu berjalan melangkah menghampiri pintu.Kemudian Daniel membukakan pintu tersebut dan menatap datar wajah Giselle yang berdiri tegap dengan raut wajah kesal."Ada apa? Aku sedang sibuk, jangan mengganggu di jam kerja," tegur Daniel dingin tanpa ekspresi."Ini urusan yang sangat penting, Daniel! Kita harus bicarakan sekarang juga!" potong Giselle dengan nada menuntut.Tanpa menunggu izin dari pemilik ruangan, Giselle nyelonong masuk dan langsung menatap sengit wajah Renata yang sedang pura-pura merapikan dokumen di sana.Tatapan mata tajam Giselle seolah ingin menguliti keberadaan asisten
"Tapi, belum selesai, Renata," bisik Daniel seraya mendengus leher Renata yang membuat darah Renata berdesir hebat.Hembusan napas panas pria itu menyusuri garis rahang hingga ke bagian teratas dadanya yang kini naik turun tak beraturan.Tangannya merayap pada dada Renata dan membuka satu per satu kancing baju kerja Renata sambil melumat bibir wanita itu dengan ciuman yang semakin liar dan dalam.Lidah Daniel melesak masuk mengitari lidah Renata, menyerap setiap desah pasrah yang keluar dari tenggorokan wanita itu.Renata mendesah pelan, dadanya membusung spontan dengan napas yang memburu liar di dalam dekapan erat sang dokter.Sentuhan jemari tegap Daniel di balik kain pakaian yang kini terbuka lebar membakar seluruh permukaan kulit mulusnya.Daniel melepaskan baju tersebut dan meraup bergantian pucuk dada wanita itu dengan lahap yang membuat Renata menggigit bibirnya merasakan sensasi panas yang menggila dalam tubuhnya."D-Daniel... mmph..." rintih Renata dengan kedua tangan meremas
Renata memutar gagang pintu perlahan, melangkah masuk ke dalam ruang kerja Daniel yang dingin dan tenang.Pria tegap itu tampak berdiri di dekat papan pemindai, mengamati salah satu hasil scan pasien dengan kerutan tipis di dahinya."Daniel... apa benar kamu memanggilku ke sini?" tanya Renata pelan sembari menghentikan langkahnya di dekat pintu.Daniel tidak langsung menoleh. Ia mematikan lampu papan pemindai sebelum akhirnya memutar tubuhnya, menatap Renata dengan sorot mata yang sulit diartikan."Siapa yang bilang?" balas Daniel dingin dengan suara yang begitu tenang."J-James..." sahut Renata terbata-bata, mendadak merasa salah tingkah di bawah intimidasi tatapan mata pria berkuasa di hadapannya.Daniel menyunggingkan senyum miring yang membuat Renata jadi was-was seketika saat melihat tatapan elang pria itu yang mulai menguncinya rapat-rapat."Sepertinya memang tidak ada hal penting... aku permisi keluar lagi kalau begitu," cicit Renata ragu, berniat memutar tubuh untuk melarikan
Langkah tegap James mengalun santai memasuki area kantin rumah sakit yang mulai dipadati staf saat jam makan siang. Matanya yang jeli langsung menangkap sosok dua wanita yang sedang duduk mengobrol di meja sudut dekat jendela.Begitu mendekati meja tersebut, raut wajah James mendadak berubah cemberut saat melihat Widya justru sedang asyik tertawa bersama Renata sembari menikmati makan siangnya."Wah, jahat sekali kamu, Nona Widya! Tadi kan aku sudah bilang tunggu di meja depan untuk makan siang bersama!" seru James dengan nada berpura-pura teraniaya.Widya yang sedang mengunyah makanannya hampir saja tersedak begitu mendengar teguran konyol dari pria jangkung berbaju dokter itu. Ia meletakkan sendoknya kasar ke atas piring keramik."Siapa juga yang bilang mau ikut makan siang denganmu?!" sembur Widya ketus dengan mata mendelik lebar. "Aku kan tidak pernah mengiyakan ajakanmu tadi pagi! Jadi ya terserah aku mau makan siang dengan siapa saja!"Renata yang duduk di samping Widya hanya bi







