Mag-log inNadira membuka pintu kamarnya. Dia yang keluar dengan membawa beberapa tas besar langsung disambut oleh Aryan dan Erlina yang kemungkinan besar sejak tadi menungguinya di depan pintu. Aryan awalnya terlihat lega saat mendekat, tetapi ketika dia bermaksud ingin memeluk Nadira, wanita itu langsung menolak kasar dan malah melemparinya tas besar yang sedang dipegangnya.“Mbak Nad ... aku dan Mas Aryan memang ada main di belakangmu. Namun, harusnya Mbak Nadira juga bisa memahami alasan kami melakukan itu. Mbak Nadira sibuk dengan kerjaan, Mas Aryan di sini kesepian. Belum lagi, kalian memang terlibat perang dingin beberapa waktu lamanya. Aku hanya ingin menghibur Mas Aryan saja, Mbak. Nggak lebih, kok.”Erlina bicara seolah tidak merasa bersalah sedikit pun. Nadira yang mendengarnya dibuat geram tak karuan. Ingin sekali rasanya Nadira memborbardir Erlina maupun Aryan dengan banyak umpatan. Namun, dia terlalu muak melihat kedua manusia di depannya sekarang. Atau memang mereka sudah kehilang
“Nad, kamu salah paham. Dengerin dulu penjelasanku,” pinta Aryan untuk ke sekian kalinya.Nadira berjalan cepat masuk ke kamarnya, diikuti langkah kaki Aryan yang tidak kalah cepatnya. Aryan masih berusaha mengajak bicara Nadira, membuat atensi istrinya itu agar mau mengarah padanya.Saat ini, Nadira sudah menulikan pendengaran. Dia bergerak ke arah lemari pakaian, mengeluarkan segala baju milik Aryan untuk dibuang keluar begitu saja.Melihat hal demikian, Aryan seketika panik. Dia kembali memohon sambil memeluk tubuh Nadira dari belakang, menyuruhnya untuk berhenti dan mendengarkan penjelasannya dengan tenang. Amarah Nadira terlalu meledak untuk dirinya imbangi.“Aku minta maaf. Aku mengaku salah, Nad. Tapi dengar dulu penjelasanku. Semua ini terjadi bukan karena tanpa sebab. Aku khilaf!”Rasanya Nadira ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aryan. Masih saja tidak mau mengakui pengkhianatannya. Bahkan masih punya muka untuk bilang semua ini beralasan.‘Memang ada alasan yang
Nadira memutuskan pulang lebih dulu ke kotanya. Tanpa memberi tahu siapa pun bahkan suaminya sendiri. Pikirannya terlalu kalut untuk menghadapi kenyataan soal apa yang Juan ucapkan beberapa jam yang lalu. Kini, ia sedang duduk sendirian di kursi bus. Otaknya penuh dengan nama Juan dan juga nama suaminya sendiri. Dia merasa seperti penjahat.Dia punya firasat tentang apa yang akan diperbuat Juan. Dia tahu itu, tetapi tetap memilih menemuinya. Itu suatu kesalahan besar yang menjadikannya sebagai penjahat. Dia mengkhianati suaminya, Aryan.Nadira menggigit bibir bawahnya resah. Dia mengabaikan panggilan telepon dan pesan yang Juan kirimkan terus-menerus. Lelaki itu pasti sedang sibuk mencarinya.“Aku tidak akan menghancurkan rumah tanggaku sendiri demi perasaan yang belum jelas ini,” gumamnya mempertahankan sikap tak acuhnya pada notifikasi ponsel dari Juan.Nadira tidak mau membiarkan atau memberi celah bagi siapa pun untuk jadi duri di pernikahannya. Sekalipun orang itu adalah Juan, le
Juan tidak langsung melanjutkan.Dadanya terangkat perlahan sebelum dia menarik napas berat, lalu mengembuskannya panjang seolah ada sesuatu yang sejak lama menekan di rongga dadanya. Bibir bawahnya tergigit pelan, menahan ragu yang sejak tadi merayapi keberaniannya. Jemarinya saling bertaut di atas meja, mengencang sesaat sebelum akhirnya terlepas kembali.Di depannya, Nadira menatapnya dengan tubuh yang mendadak kaku.Juan tahu tatapan itu.Tatapan seseorang yang belum siap mendengar apa pun setelah kalimat barusan.Namun justru karena itulah dia sadar, jika hari ini kembali memilih diam, penyesalan itu akan mengikutinya jauh lebih lama dari yang bisa dia tanggung. Terlalu lama dia memendam semuanya sendiri. Terlalu lama dia berpura-pura bahwa perasaannya hanya akan lewat begitu saja seiring waktu.Nyatanya tidak.Waktu tidak menghapus apa-apa.Waktu hanya membuatnya semakin dalam.Besok Nadira akan pulang.Dan setelah itu, Juan sendiri akan kembali terbang ke negara lain untuk perj
Kalimat Nadira menggantung di udara. Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap Nadira beberapa detik lebih lama dari biasanya, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak bisa disampaikan sembarangan. Tangannya terlipat di meja, lalu satu jari mengetuk pelan dengan irama ritmis.“Kadang bukan nggak kangen. Tetapi kebanyakan laki-laki justru bingung gimana cara menunjukkan rasa rindunya.” Raka berucap akhirnya, pelan dan terdengar seperti ragu yang dibalut dalam keseriusan.Nadira hanya menahan napas dan menghembuskannya dengan panjang. Sunyi. Dia bisa tahu kalau ada keraguan dari ucapan Raka. Pria itu sengaja bicara begitu untuk membuatnya tidak terlalu bersedih.Pendingin ruangan berdengung halus. Lampu redup membuat bayangan wajah Raka jatuh setengah di meja. “Kalau lagi ribut, apalagi melibatkan keluarga ...,” Raka melanjutkan, suaranya lebih hati-hati sekarang, “itu bukan cuma soal kamu sama dia lagi, Nad. Tapi ego, harga diri, dan ... hal-hal yang dia belum tentu bisa jelasin ke ka
Langkah Nadira terasa berat. Pertanyaan Juan menggantung di udara seperti benang tipis yang tak terlihat, tapi cukup kuat untuk menahannya tetap di tempat. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.Di depan, pintu mobil sudah terbuka. Paula setengah badan keluar dari jendela.“Nad! Buruan, ih, jangan lama! Mau nginep di parkiran, ya?”Suara itu memecah sunyi yang tiba-tiba terasa terlalu rapat. Nadira refleks melangkah mundur setengah langkah. “Aku—”Belum selesai kalimatnya, jemarinya tertahan.Juan tidak menggenggam keras. Hanya menahan pergelangan tangannya, ringan tapi cukup untuk membuat Nadira kembali menatapnya.“Jawab dulu,” ucapnya pelan.Bukan nada memaksa. Tapi ada sesuatu di sorot matanya yang membuat Nadira sulit menghindar. Sesuatu yang jarang ia lihat selama ini, keseriusan yang tak dibalut candaan.Degup di dada Nadira berubah tak teratur.Paula kembali berseru, kali ini disertai klakson pendek dari Raka. “Nadiraaa!”Nadira menelan ludah. Pikirannya berlari ke mana-mana.
Suara mesin motor Paula berhenti tepat di samping pagar rumah Nadira. Lampu jalan yang temaram membuat wajah keduanya tampak lembut di bawah cahaya kuning yang menggantung rendah. Udara malam berembus cukup kencang, membuat keduanya merapatkan blazer yang mereka kenakan. “Akhirnya sampai juga,” uc
Sinar matahari menembus tirai tipis, menebarkan semburat hangat ke seluruh ruangan. Aroma nasi goreng dan wangi kopi hitam menguar lembut dari dapur. Nadira sibuk di meja makan, menatap dua piring dengan potongan telur mata sapi di atasnya. Ia menoleh sekilas ke arah ruang tamu, tempat Aryan yang m
Suara mesin mobil terdengar halus membelah keheningan malam. Lampu jalan berderet seperti garis cahaya yang memantul di kaca depan. Nadira menatap kosong ke luar jendela, pikirannya masih melayang pada kejadian di rumah tadi. Hatinya lega karena Aryan akhirnya mau membelanya di depan sang mertua, t
“Menenangkan diri atau justru mencari kebebasan karena sudah bosan jadi istrimu dan menantuku, hah?!” suara Mala meninggi karena emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun.Nadira hanya diam. Jemarinya yang tergenggam di tangan Aryan sedikit bergetar. Tapi sebelum ia sempat menjawab, Aryan sudah melangka







