Share

Bab 2

Author: Summer
Daniel dan aku mulai sewa apartemen seluas empat puluh meter persegi itu nggak lama setelah kita resmi pacaran. Setelah lulus kuliah, aku berusaha cari pekerjaan dengan gaji yang lebih baik. Namun, dengan kondisi keuanganku yang pas-pasan, aku cuma mampu sewa sebuah kamar sempit dan pengap di kawasan kumuh dekat area industri. Daniel sangat benci tempat itu. Dia terus ngeluh kalau lingkungan di sana begitu menyedihkan dan jarak tempuhnya terlalu jauh. Bahkan, nggak malu-malu dia bilang kalau suasana buruk di tempat itu rusak suasana hatinya setiap kali ingin bercinta. Karena itu, dia bersikeras agar kita tinggal bersama.

Agar mampu bayar setengah biaya sewa apartemen di kota yang mahal ini, aku rela ambil pekerjaan kedua yang sangat menguras tenaga, korbankan hampir seluruh waktu tidur dan waktu luangku. Namun sekarang, dia justru anggap lima tahun hubungan kita sebagai sebuah penipuan murahan, seolah-olah akulah yang selama ini manfaatkan dia.

"Daniel, setelah lima tahun pacaran, sebenarnya kamu anggap aku ini siapa?"

Air mataku mengalir tanpa mampu aku tahan. Bukan karena sedih saja, melainkan karena kasihan ke diriku sendiri. Lima tahun masa mudaku telah terbuang sia-sia, demi seorang pria berhati monster. Lihat air mataku, tangan yang tadi sodorkan HP ke depan wajahku sedikit bergetar. Perlahan dia tarik kembali.

"Aku cuma bercanda. Sebenarnya kita cuma ...."

Belum sempat Daniel selesaikan ucapannya, Nadia sudah lebih dulu menyela sambil hembuskan napas penuh ejekan, "Masih saja bilang kalau dia bukan wanita matre. Daniel, kalau bukan karena kamu, apa mungkin perempuan seperti dia bisa tinggal di tempat seperti ini? Bulan depan sebaiknya kontrak apartemen ini langsung diakhiri saja. Atau setidaknya suruh dia tanda tangani surat utang. Itu baru adil."

Kalau saja hukum nggak berlaku, tamparanku pasti sudah mendarat berkali-kali di wajah mereka berdua. Namun aku tahu, jika aku lakukan itu, mereka justru akan peras uangku dengan dalih ganti rugi. Lima tahun. Sudah cukup. Aku muak jadi pemain dalam sandiwara menjijikkan mereka.

"Aku nggak akan tanda tangani apa pun. Kalau kalian mau uang, silakan gugat aku ke pengadilan. Kita lihat saja apa hakim benar-benar akan menangkan kalian," kataku dengan suara dingin. "Dan malam ini juga aku akan pergi. Nona Nadia, karena kamu begitu ingin tinggal di sini, jangan lupa bayar bagian sewamu ke Daniel. Kalau nggak, justru kamulah benalu yang sebenarnya."

Baru saja aku berbalik hendak pergi, Daniel tiba-tiba terjang ke depan dan cengkeram pergelangan tanganku dengan erat. Seketika senyum angkuhnya langsung lenyap, diganti dengan tatapan gelap yang penuh keinginan untuk kendalikan.

"Elena, nggak usah omong kosong ini. Aku dan Nadia cuma bercanda," geramnya. "Pikirkan baik-baik. Kalau kamu melangkah keluar dari pintu itu, kamu akan kehilangan aku untuk selamanya."

Saat itulah aku benar-benar sadar betapa bodohnya diriku selama ini. Seharusnya aku nggak biarkan kata-kata manisnya luluhkan hatiku ketika pertama kali tahu dia adalah pewaris keluarga mafia yang punya kekayaan triliunan. Dan aku juga seharusnya nggak percaya dengan omong kosongnya tentang "hubungan yang murni" setiap kali dia secara tersirat tuduh aku incar uang keluarganya.

Aku terlalu bodoh karena terus berpegang pada kenangan saat dia pernah begadang semalaman rawat aku ketika aku demam tinggi, atau saat dia peluk aku dengan lembut demi redakan rasa sakitku. Dulu kita memang pernah saling cinta dengan tulus. Namun cinta seperti itu nggak mungkin bertahan jika setiap hari diperlakukan layaknya sebuah penyelidikan terhadap seorang penjahat.

"Daniel, kita putus."

Begitu kata-kata itu keluar dari bibirku, amarah di wajahnya seketika sirna, berganti dengan kepanikan yang benar-benar nyata.

"Jangan bercanda seperti ini," katanya terbata-bata. "Apa kamu beneran mau buang hubungan kita hanya karena masalah ini? Sebentar lagi kamu akan nikah dengan aku dan akhirnya dapat restu dari keluargaku."

Terlalu lama berdiri di atas singgasananya buat Daniel benar-benar percaya kalau cinta aku adalah bentuk belas kasihan yang dia berikan ke aku.

Aku menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Aku nggak lagi ngamuk. Karena selama ini kamu selalu yakin aku cuma benalu yang incar uang keluargamu, kamu pergi saja cari wanita yang benar-benar penuhi syarat untuk masuk ke dalam keluarga berhargamu itu."

Aku hentakkan tanganku hingga terlepas dari cengkeramannya, lalu berbalik dan masuk ke kamar untuk kemasi barang-barangku.

Satu menit kemudian, raungan penuh amarah menggema di seluruh apartemen.

"Elena! Kamu akan menyesal!"

Aku abaikan dia. Bahkan suara pintu depan yang dibanting keras saat dia pergi bersama Nadia nggak mampu usik hatiku lagi.

Selama lima tahun, aku bertahan dalam hubungan yang buat aku diperlakukan layaknya seorang pencuri. Ketika aku ada di titik paling putus asa, mohon 16 juta saja demi selamatkan anak yang sedang aku kandung, dia pilih berpaling dan biarkan aku menderita hanya demi lanjutkan permainan ujiannya yang konyol.

Itu adalah anak pertama kita. Namun dia bahkan nggak pernah tahu keberadaannya, apalagi peduli. Dan tepat pada saat itu juga, seluruh cintaku ke Daniel, beserta impian tentang keluarga yang selama ini aku percaya sedang kita bangun, benar-benar mati untuk selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 11

    Jordan terkekeh pelan. Tatapannya menyapu Daniel dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu berhenti pada kotak cincin yang masih ada di tangannya."Berlian buatan khusus, ya?" katanya tenang. "Aku ingat kamu, Pak Daniel. Kita pernah ketemu di pelelangan kelas atas bulan lalu. Kita sempat saling berebut batu zamrud langka yang kemudian dijadikan bros milik Elena."Jordan menatap Daniel tanpa sedikit pun alihkan pandangannya."Dengan kekayaan keluargamu, seharusnya sangat mudah kalahkan aku. Tapi begitu harga mulai naik, kamu langsung mundur. Apa karena kamu memang nggak cukup peduli atau karena menurutmu Elena memang nggak sepadan dengan harga itu?"Ucapan Jordan buat aku tertegun. Jadi, dia beneran datang ke pelelangan hanya demi dapatkan zamrud untuk brosku?Aku noleh ke dia. Suara yang keluar campuran dari rasa terkejut dan bingung."Jordan, kamu sudah gila yah? Kamu habiskan uang sebanyak itu hanya untuk kasih aku hadiah?"Jordan menatapku lembut. Tangannya genggam jemariku dengan p

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 10

    Keesokan malamnya, aku berdiri di depan lemari pakaian sambil pandangi deretan gaun elegan yang selama beberapa minggu terakhir diam-diam dikirimkan Jordan untuk aku.Tanpa sadar senyum tipis terukir di bibirku. Jordan nggak pernah peduli pada tren mode. Dia juga nggak pernah berusaha bentuk aku jadi sosok yang dia inginkan. Yang selalu dia pikirkan hanya satu hal, apa aku merasa nyaman, percaya diri, dan bahagia saat pakai itu.Setelah pertimbangkan beberapa saat, aku pilih gaun sutra berwarna hijau tua dengan potongan sederhana namun anggun. Dengan hati-hati aku sematkan bros platinum berhias zamrud yang dia hadiahkan kemarin tepat di dekat tulang selangkaku. Kilau hijau zamrud itu pantulkan cahaya dengan begitu indah, menyatu sempurna dengan warna gaunku.Sebenarnya Jordan sudah tawarkan diri untuk jemput aku. Namun dengan lembut aku tolak. Aku ingin datang sendiri ke paviliun rumah kaca. Aku ingin kasih dia sebuah kejutan kecil. Dengan caraku sendiri, aku ingin tunjukkan betapa bes

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 9

    Nggak sampai lima belas menit kemudian, sepiring mie hangat yang mengepul telah tersaji dengan rapi di hadapanku.Saat aku hampir habiskan separuh porsinya, Jordan sandarkan tubuhnya ke pagar beranda sambil pandangi aku dengan senyum tipis yang menenangkan."Sudah kenyang?"Setiap kali perutku mulai penuh, tanpa sadar aku bakal makan semakin pelan. Tapi, karena sangat hargai jerih payah Jordan yang masak untuk aku, aku selalu berusaha habiskan makanan itu, meski harus suapkan itu sedikit demi sedikit."Kalau sudah kenyang, nggak usah dipaksa," ucap Jordan lembut sambil ulurkan tangannya ambil garpu dari jemariku. "Makan kebanyakan justru akan buat tubuhmu nggak nyaman setelah operasi."Aku gigit bibirku, lalu tertawa kecil."Jordan, apa kamu punya kemampuan baca pikiran? Gimana bisa kamu selalu tahu persis apa yang sedang aku pikirkan?"Jordan ikut tersenyum."Itu bukan sihir, Elena. Cuma, hatimu terlalu jujur. Semua yang kamu rasakan selalu terpancar jelas dari wajahmu. Mustahil untuk

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 8

    Sore itu, akhirnya aku sempatkan diri pergi ke klinik di kota untuk jalani pemeriksaan pascaoperasi yang selama ini terus aku tunda. Sejak kembali ke kota kecil di lembah ini, aku terus paksakan diri kerja tanpa kenal lelah, sama sekali abaikan peringatan dokter tentang kondisi tubuhku yang masih sangat lemah.Saat sedang duduk tunggu giliran di ruang tunggu, seseorang yang begitu aku kenal melangkah masuk ke dalam klinik.Jordan Halim.Dia datang untuk serahkan laporan keamanan air pertanian kepada petugas kesehatan daerah. Namun begitu matanya lihat sosokku yang duduk di deretan kursi plastik, raut wajahnya langsung dipenuhi kekhawatiran.Tanpa ragu, dia jalan hampiri aku, kesampingkan urusannya sendiri, lalu duduk di kursi di sampingku. Dia nggak ajukan pertanyaan yang buat aku nggak nyaman. Dia juga nggak paksa aku untuk cerita. Dia hanya tetap ada di sisiku, diam-diam temani aku jalani seluruh proses pemeriksaan. Ketika dokter dengan lembut tegur aku karena tubuhku alami kekuranga

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 7

    Selama tiga hari berikutnya, Daniel kerahkan seluruh jaringan pelacak milik sindikat mafianya, balikkan seluruh penjuru kota demi cari aku. Dia tempatkan jaringan intelijen keluarganya dalam status siaga penuh, mati-matian cari wanita yang berani kabur dari sangkar emas yang selama ini dia bangun.Namun aku kenal Daniel lebih baik daripada siapa pun. Justru karena itu aku nggak mungkin berdiam diri tunggu sampai dia temukan aku.Alih-alih sembunyi dalam ketakutan, aku buka kembali daftar kontak lama di HP-ku hingga akhirnya temukan nomor sahabat masa kecilku. Sekarang dia telah jadi seorang pengacara korporasi ternama, sama sekali nggak punya hubungan dengan dunia mafia yang dikuasai Daniel. Dengan tangan yang mantap, aku ketik sebuah pesan singkat lalu kirimkan melalui WhatsApp.Aku tahan napas sambil menatap layar HP, hingga dua tanda centang abu-abu perlahan berubah jadi biru. Dia nggak pernah hapus nomorku. Dia juga nggak pernah lupakan persahabatan kita. Berkat ikatan yang telah t

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 6

    "Daniel," isak Nadia. "Soal bayi itu kemungkinan besar cuma kebohongan Elena supaya kamu merasa bersalah. Jangan sampai kamu kena tipu! Kalaupun itu benar, memangnya kenapa? Nggak ada yang istimewa. Setidaknya sekarang dia nggak akan pernah bisa lagi pakai alasan murahan seperti itu untuk kuras harta keluargamu."Untuk sesaat, Daniel pandangi wanita di hadapannya seolah baru pertama kali kenal dia. Rasa asing yang begitu dingin perlahan menjalar di hatinya."Itu anak pertamaku," geram Daniel. Suaranya bergetar, simpan amarah yang begitu mengerikan. "Kamu tahu betapa besarnya keinginanku untuk punya seorang anak. Kamu juga tahu betapa keluargaku menjunjung tinggi garis keturunan keluarga kita!"Daniel hendak kejar aku, tetapi Nadia buru-buru tarik lengannya."Kalau sekarang kamu kejar dia, kamu cuma akan kasih dia kesempatan untuk permainkan kamu! Daniel, kalau bukan karena kamu kasih dia pekerjaan di perusahaan ini, Elena nggak akan punya tempat tinggal!"Daniel menatapnya tajam. Rasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status