LOGINJordan terkekeh pelan. Tatapannya menyapu Daniel dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu berhenti pada kotak cincin yang masih ada di tangannya."Berlian buatan khusus, ya?" katanya tenang. "Aku ingat kamu, Pak Daniel. Kita pernah ketemu di pelelangan kelas atas bulan lalu. Kita sempat saling berebut batu zamrud langka yang kemudian dijadikan bros milik Elena."Jordan menatap Daniel tanpa sedikit pun alihkan pandangannya."Dengan kekayaan keluargamu, seharusnya sangat mudah kalahkan aku. Tapi begitu harga mulai naik, kamu langsung mundur. Apa karena kamu memang nggak cukup peduli atau karena menurutmu Elena memang nggak sepadan dengan harga itu?"Ucapan Jordan buat aku tertegun. Jadi, dia beneran datang ke pelelangan hanya demi dapatkan zamrud untuk brosku?Aku noleh ke dia. Suara yang keluar campuran dari rasa terkejut dan bingung."Jordan, kamu sudah gila yah? Kamu habiskan uang sebanyak itu hanya untuk kasih aku hadiah?"Jordan menatapku lembut. Tangannya genggam jemariku dengan p
Keesokan malamnya, aku berdiri di depan lemari pakaian sambil pandangi deretan gaun elegan yang selama beberapa minggu terakhir diam-diam dikirimkan Jordan untuk aku.Tanpa sadar senyum tipis terukir di bibirku. Jordan nggak pernah peduli pada tren mode. Dia juga nggak pernah berusaha bentuk aku jadi sosok yang dia inginkan. Yang selalu dia pikirkan hanya satu hal, apa aku merasa nyaman, percaya diri, dan bahagia saat pakai itu.Setelah pertimbangkan beberapa saat, aku pilih gaun sutra berwarna hijau tua dengan potongan sederhana namun anggun. Dengan hati-hati aku sematkan bros platinum berhias zamrud yang dia hadiahkan kemarin tepat di dekat tulang selangkaku. Kilau hijau zamrud itu pantulkan cahaya dengan begitu indah, menyatu sempurna dengan warna gaunku.Sebenarnya Jordan sudah tawarkan diri untuk jemput aku. Namun dengan lembut aku tolak. Aku ingin datang sendiri ke paviliun rumah kaca. Aku ingin kasih dia sebuah kejutan kecil. Dengan caraku sendiri, aku ingin tunjukkan betapa bes
Nggak sampai lima belas menit kemudian, sepiring mie hangat yang mengepul telah tersaji dengan rapi di hadapanku.Saat aku hampir habiskan separuh porsinya, Jordan sandarkan tubuhnya ke pagar beranda sambil pandangi aku dengan senyum tipis yang menenangkan."Sudah kenyang?"Setiap kali perutku mulai penuh, tanpa sadar aku bakal makan semakin pelan. Tapi, karena sangat hargai jerih payah Jordan yang masak untuk aku, aku selalu berusaha habiskan makanan itu, meski harus suapkan itu sedikit demi sedikit."Kalau sudah kenyang, nggak usah dipaksa," ucap Jordan lembut sambil ulurkan tangannya ambil garpu dari jemariku. "Makan kebanyakan justru akan buat tubuhmu nggak nyaman setelah operasi."Aku gigit bibirku, lalu tertawa kecil."Jordan, apa kamu punya kemampuan baca pikiran? Gimana bisa kamu selalu tahu persis apa yang sedang aku pikirkan?"Jordan ikut tersenyum."Itu bukan sihir, Elena. Cuma, hatimu terlalu jujur. Semua yang kamu rasakan selalu terpancar jelas dari wajahmu. Mustahil untuk
Sore itu, akhirnya aku sempatkan diri pergi ke klinik di kota untuk jalani pemeriksaan pascaoperasi yang selama ini terus aku tunda. Sejak kembali ke kota kecil di lembah ini, aku terus paksakan diri kerja tanpa kenal lelah, sama sekali abaikan peringatan dokter tentang kondisi tubuhku yang masih sangat lemah.Saat sedang duduk tunggu giliran di ruang tunggu, seseorang yang begitu aku kenal melangkah masuk ke dalam klinik.Jordan Halim.Dia datang untuk serahkan laporan keamanan air pertanian kepada petugas kesehatan daerah. Namun begitu matanya lihat sosokku yang duduk di deretan kursi plastik, raut wajahnya langsung dipenuhi kekhawatiran.Tanpa ragu, dia jalan hampiri aku, kesampingkan urusannya sendiri, lalu duduk di kursi di sampingku. Dia nggak ajukan pertanyaan yang buat aku nggak nyaman. Dia juga nggak paksa aku untuk cerita. Dia hanya tetap ada di sisiku, diam-diam temani aku jalani seluruh proses pemeriksaan. Ketika dokter dengan lembut tegur aku karena tubuhku alami kekuranga
Selama tiga hari berikutnya, Daniel kerahkan seluruh jaringan pelacak milik sindikat mafianya, balikkan seluruh penjuru kota demi cari aku. Dia tempatkan jaringan intelijen keluarganya dalam status siaga penuh, mati-matian cari wanita yang berani kabur dari sangkar emas yang selama ini dia bangun.Namun aku kenal Daniel lebih baik daripada siapa pun. Justru karena itu aku nggak mungkin berdiam diri tunggu sampai dia temukan aku.Alih-alih sembunyi dalam ketakutan, aku buka kembali daftar kontak lama di HP-ku hingga akhirnya temukan nomor sahabat masa kecilku. Sekarang dia telah jadi seorang pengacara korporasi ternama, sama sekali nggak punya hubungan dengan dunia mafia yang dikuasai Daniel. Dengan tangan yang mantap, aku ketik sebuah pesan singkat lalu kirimkan melalui WhatsApp.Aku tahan napas sambil menatap layar HP, hingga dua tanda centang abu-abu perlahan berubah jadi biru. Dia nggak pernah hapus nomorku. Dia juga nggak pernah lupakan persahabatan kita. Berkat ikatan yang telah t
"Daniel," isak Nadia. "Soal bayi itu kemungkinan besar cuma kebohongan Elena supaya kamu merasa bersalah. Jangan sampai kamu kena tipu! Kalaupun itu benar, memangnya kenapa? Nggak ada yang istimewa. Setidaknya sekarang dia nggak akan pernah bisa lagi pakai alasan murahan seperti itu untuk kuras harta keluargamu."Untuk sesaat, Daniel pandangi wanita di hadapannya seolah baru pertama kali kenal dia. Rasa asing yang begitu dingin perlahan menjalar di hatinya."Itu anak pertamaku," geram Daniel. Suaranya bergetar, simpan amarah yang begitu mengerikan. "Kamu tahu betapa besarnya keinginanku untuk punya seorang anak. Kamu juga tahu betapa keluargaku menjunjung tinggi garis keturunan keluarga kita!"Daniel hendak kejar aku, tetapi Nadia buru-buru tarik lengannya."Kalau sekarang kamu kejar dia, kamu cuma akan kasih dia kesempatan untuk permainkan kamu! Daniel, kalau bukan karena kamu kasih dia pekerjaan di perusahaan ini, Elena nggak akan punya tempat tinggal!"Daniel menatapnya tajam. Rasa







