Share

Bab 3

Penulis: Summer
Di tengah malam yang sunyi, aku seret koper-koper berat menyusuri jalanan yang lengang dan membeku. Selesar nggak lagi kasih aku tempat untuk berlindung, dan nggak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal sana. Bayiku sudah nggak ada, hubunganku juga telah berubah jadi abu. Bertahan di kota ini hanya akan perpanjang penderitaanku. Karena nggak punya tempat tujuan, aku habiskan sisa malam dengan meringkuk kedinginan di sebuah bangku kayu di taman umum yang sepi.

...

Keesokan paginya, aku langsung pergi ke kantor dan ajukan surat pengunduran diri.

Atasanku benar-benar terkejut.

"Mengundurkan diri? Apa Pak Daniel sudah setuju dengan keputusan ini? Oh yah, karena kamu berhenti di pertengahan bulan, bonusmu kali ini memang nggak akan terlalu besar. Sisa bonusnya akan aku transfer ke rekening kedua yang terdaftar, yah."

Aku mengernyit bingung. Rekening kedua? Sejak kapan aku punya? Bonus apa yang dimaksud? Dan kenapa Daniel harus setuju dengan pengunduran diriku dari pekerjaan biasa seperti ini?

Lihat ekspresi bingungku, atasanku juga ikut bingung.

"Bukannya kamu dan Pak Daniel pacaran? Justru dia sendiri yang secara khusus minta bagian HRD bagi pembayaran gajimu. Gaji pokokmu dikirim ke rekening utama, sementara seluruh bonus dan kenaikan gaji dimasukkan ke rekening lain yang dikunci. Katanya, kamu mau punya tabungan rahasia. Terus terang saja, aku sangat kagum dengan caramu tetap hidup hemat meskipun pacaran dengan pria sekelas Pak Daniel."

Ucapan itu hantam aku bagaikan pukulan telak di ulu hati.

Selama lima tahun, aku hidup hanya dengan gaji pokok saat pertama kali diterima kerja. Setiap kali ajukan kenaikan gaji, permohonanku selalu ditolak. Aku benar-benar percaya aku belum cukup kompeten untuk dipromosikan atau terima kenaikan gaji, bahwa kemampuanku memang belum cukup bagus. Kenyataannya begitu kejam, selama ini Daniel diam-diam alihkan seluruh bonus dan kenaikan gajiku ke sebuah rekening tersembunyi.

Aku segera menuju bagian keuangan dan minta seluruh slip gajiku selama beberapa tahun terakhir. Di sana, pada kolom bonus terbaru, tertulis dengan jelas angka 16 juta rupiah.

Tepat minggu lalu, aku kekurangan uang sebesar itu. Karena nggak mampu sediakan 16 juta tepat waktu, pihak rumah sakit tunda operasiku dan bayiku meninggal.

Ironisnya, jika seluruh bonus dan kenaikan gaji yang ditahan selama lima tahun itu dijumlahkan, nilainya lebih dari sepuluh kali lipat biaya operasi itu.

Aku benar-benar bodoh. Aku terlalu takut kehilangan pekerjaan dan satu-satunya sumber penghidupanku hingga pilih terus tundukkan kepala. Aku sama sekali nggak sadar gimana Daniel permainkan aku seperti orang tolol. Demi buktikan aku bukan wanita matre, aku nggak pernah sentuh sepeser pun uangnya. Sementara itu, diam-diam dia justru rampas hasil jerih payahku sendiri.

Selama lima tahun penuh, aku hidup terperangkap dalam kebohongan yang begitu keji.

Sambil genggam erat slip-slip gaji itu, aku berbalik untuk cari Daniel. Namun yang aku lihat justru dirinya jalan masuki area kantor dengan langkah penuh kesombongan, diikuti rombongan orang-orangnya seperti biasa.

"Elena, kita cuma bertengkar sedikit, tapi kamu langsung pindah dari apartemen dan mengundurkan diri dari pekerjaanmu?" Dia mencibir sambil menatapku dari atas ke bawah. "Kelihatannya emosimu benar-benar sudah di luar kendali. Gimana mungkin keluargaku bisa terima wanita yang kelakuannya seperti ini?"

Di belakangnya, Nadia pasang senyum puas yang sama sekali nggak disembunyikan. Dia melangkah maju sambil pasang wajah pura-pura iba.

"Elena, ternyata kamu beneran nggak tahu terima kasih, yah? Selama ini kamu hidup dari uang Daniel dan tinggal di apartemen yang dia sediakan. Kalau nggak ada Daniel, menurut kamu, apa kamu sanggup bertahan hidup sehari saja di kota ini?"

Ucapan itu buat amarahku mendidih. Aku genggam slip-slip gaji itu semakin erat, siap lemparkan itu ke wajah Nadia sebagai bukti. Namun sebelum sempat bicara, Daniel lebih dulu potong ucapanku, "Nadia benar. Kalau bukan karena aku, selama lima tahun terakhir, kamu pasti sudah mati kelaparan di jalan. Untuk hari ini, aku akan abaikan tingkahmu yang kayak anak kecil. Pulang sama aku. Aku juga nggak akan potong gajimu karena bolos kerja hari ini."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 11

    Jordan terkekeh pelan. Tatapannya menyapu Daniel dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu berhenti pada kotak cincin yang masih ada di tangannya."Berlian buatan khusus, ya?" katanya tenang. "Aku ingat kamu, Pak Daniel. Kita pernah ketemu di pelelangan kelas atas bulan lalu. Kita sempat saling berebut batu zamrud langka yang kemudian dijadikan bros milik Elena."Jordan menatap Daniel tanpa sedikit pun alihkan pandangannya."Dengan kekayaan keluargamu, seharusnya sangat mudah kalahkan aku. Tapi begitu harga mulai naik, kamu langsung mundur. Apa karena kamu memang nggak cukup peduli atau karena menurutmu Elena memang nggak sepadan dengan harga itu?"Ucapan Jordan buat aku tertegun. Jadi, dia beneran datang ke pelelangan hanya demi dapatkan zamrud untuk brosku?Aku noleh ke dia. Suara yang keluar campuran dari rasa terkejut dan bingung."Jordan, kamu sudah gila yah? Kamu habiskan uang sebanyak itu hanya untuk kasih aku hadiah?"Jordan menatapku lembut. Tangannya genggam jemariku dengan p

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 10

    Keesokan malamnya, aku berdiri di depan lemari pakaian sambil pandangi deretan gaun elegan yang selama beberapa minggu terakhir diam-diam dikirimkan Jordan untuk aku.Tanpa sadar senyum tipis terukir di bibirku. Jordan nggak pernah peduli pada tren mode. Dia juga nggak pernah berusaha bentuk aku jadi sosok yang dia inginkan. Yang selalu dia pikirkan hanya satu hal, apa aku merasa nyaman, percaya diri, dan bahagia saat pakai itu.Setelah pertimbangkan beberapa saat, aku pilih gaun sutra berwarna hijau tua dengan potongan sederhana namun anggun. Dengan hati-hati aku sematkan bros platinum berhias zamrud yang dia hadiahkan kemarin tepat di dekat tulang selangkaku. Kilau hijau zamrud itu pantulkan cahaya dengan begitu indah, menyatu sempurna dengan warna gaunku.Sebenarnya Jordan sudah tawarkan diri untuk jemput aku. Namun dengan lembut aku tolak. Aku ingin datang sendiri ke paviliun rumah kaca. Aku ingin kasih dia sebuah kejutan kecil. Dengan caraku sendiri, aku ingin tunjukkan betapa bes

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 9

    Nggak sampai lima belas menit kemudian, sepiring mie hangat yang mengepul telah tersaji dengan rapi di hadapanku.Saat aku hampir habiskan separuh porsinya, Jordan sandarkan tubuhnya ke pagar beranda sambil pandangi aku dengan senyum tipis yang menenangkan."Sudah kenyang?"Setiap kali perutku mulai penuh, tanpa sadar aku bakal makan semakin pelan. Tapi, karena sangat hargai jerih payah Jordan yang masak untuk aku, aku selalu berusaha habiskan makanan itu, meski harus suapkan itu sedikit demi sedikit."Kalau sudah kenyang, nggak usah dipaksa," ucap Jordan lembut sambil ulurkan tangannya ambil garpu dari jemariku. "Makan kebanyakan justru akan buat tubuhmu nggak nyaman setelah operasi."Aku gigit bibirku, lalu tertawa kecil."Jordan, apa kamu punya kemampuan baca pikiran? Gimana bisa kamu selalu tahu persis apa yang sedang aku pikirkan?"Jordan ikut tersenyum."Itu bukan sihir, Elena. Cuma, hatimu terlalu jujur. Semua yang kamu rasakan selalu terpancar jelas dari wajahmu. Mustahil untuk

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 8

    Sore itu, akhirnya aku sempatkan diri pergi ke klinik di kota untuk jalani pemeriksaan pascaoperasi yang selama ini terus aku tunda. Sejak kembali ke kota kecil di lembah ini, aku terus paksakan diri kerja tanpa kenal lelah, sama sekali abaikan peringatan dokter tentang kondisi tubuhku yang masih sangat lemah.Saat sedang duduk tunggu giliran di ruang tunggu, seseorang yang begitu aku kenal melangkah masuk ke dalam klinik.Jordan Halim.Dia datang untuk serahkan laporan keamanan air pertanian kepada petugas kesehatan daerah. Namun begitu matanya lihat sosokku yang duduk di deretan kursi plastik, raut wajahnya langsung dipenuhi kekhawatiran.Tanpa ragu, dia jalan hampiri aku, kesampingkan urusannya sendiri, lalu duduk di kursi di sampingku. Dia nggak ajukan pertanyaan yang buat aku nggak nyaman. Dia juga nggak paksa aku untuk cerita. Dia hanya tetap ada di sisiku, diam-diam temani aku jalani seluruh proses pemeriksaan. Ketika dokter dengan lembut tegur aku karena tubuhku alami kekuranga

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 7

    Selama tiga hari berikutnya, Daniel kerahkan seluruh jaringan pelacak milik sindikat mafianya, balikkan seluruh penjuru kota demi cari aku. Dia tempatkan jaringan intelijen keluarganya dalam status siaga penuh, mati-matian cari wanita yang berani kabur dari sangkar emas yang selama ini dia bangun.Namun aku kenal Daniel lebih baik daripada siapa pun. Justru karena itu aku nggak mungkin berdiam diri tunggu sampai dia temukan aku.Alih-alih sembunyi dalam ketakutan, aku buka kembali daftar kontak lama di HP-ku hingga akhirnya temukan nomor sahabat masa kecilku. Sekarang dia telah jadi seorang pengacara korporasi ternama, sama sekali nggak punya hubungan dengan dunia mafia yang dikuasai Daniel. Dengan tangan yang mantap, aku ketik sebuah pesan singkat lalu kirimkan melalui WhatsApp.Aku tahan napas sambil menatap layar HP, hingga dua tanda centang abu-abu perlahan berubah jadi biru. Dia nggak pernah hapus nomorku. Dia juga nggak pernah lupakan persahabatan kita. Berkat ikatan yang telah t

  • Harga Cinta di Balik Ujian Sang Pewaris Mafia   Bab 6

    "Daniel," isak Nadia. "Soal bayi itu kemungkinan besar cuma kebohongan Elena supaya kamu merasa bersalah. Jangan sampai kamu kena tipu! Kalaupun itu benar, memangnya kenapa? Nggak ada yang istimewa. Setidaknya sekarang dia nggak akan pernah bisa lagi pakai alasan murahan seperti itu untuk kuras harta keluargamu."Untuk sesaat, Daniel pandangi wanita di hadapannya seolah baru pertama kali kenal dia. Rasa asing yang begitu dingin perlahan menjalar di hatinya."Itu anak pertamaku," geram Daniel. Suaranya bergetar, simpan amarah yang begitu mengerikan. "Kamu tahu betapa besarnya keinginanku untuk punya seorang anak. Kamu juga tahu betapa keluargaku menjunjung tinggi garis keturunan keluarga kita!"Daniel hendak kejar aku, tetapi Nadia buru-buru tarik lengannya."Kalau sekarang kamu kejar dia, kamu cuma akan kasih dia kesempatan untuk permainkan kamu! Daniel, kalau bukan karena kamu kasih dia pekerjaan di perusahaan ini, Elena nggak akan punya tempat tinggal!"Daniel menatapnya tajam. Rasa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status