Share

Bab 3

Author: Muriaz
"Aku dan mamamu sudah bicarakan ini. Sudut balkon itu akan ditutup, lalu kami taruh ranjang lipat buat kamu di sana."

Balkon?

Tempat yang kemasukan angin saat cuaca lagi dingin dan terpapar terik matahari saat udara panas, bahkan tidak ada pelindungnya sama sekali.

Aku menangis dan memprotes, tetapi Ayah dan Ibu tetap bersikap keras. Dari nada bicara mereka hanya ada tuntutan agar aku memahami keadaan, tanpa memberi ruang sedikit pun untuk membantah.

"Sekarang mau ada anggota keluarga baru, jadi pengeluaran rumah tangga harus dikurangi. Meyra, sebentar lagi kamu juga selesai menghadapi ujian SBMPTN. Kamu sudah cukup besar untuk kerja dan menghasilkan uang sendiri."

"Mulai tahun depan, setelah ujian SBMPTN selesai, kamu nggak perlu kuliah. Cari kerja saja dan bantu Papa sama Mama melunasi utangmu."

Tidak bisa.

Aku harus tetap sekolah.

Guru pernah berkata bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar bagiku.

Aku berusaha membela diri dengan berbagai alasan yang masuk akal, tetapi Ibu justru menamparku dengan marah.

Ayah dan Ibu kemudian mengeluarkan buku catatan hitam serta setumpuk kontrak pinjaman dengan tanda tanganku, lalu melemparkannya ke hadapanku.

"Pikir baik-baik, kamu bukan anak kandung Papa. Kami nggak wajib biayain kamu sampai dewasa. Selama bertahun-tahun kita sudah jalankan sistem masing-masing menanggung biaya hidup sendiri. Kamu tahu nggak sudah berapa banyak utangmu pada Papa dan Mama? Kamu sudah jadi beban yang merugikan!"

Aku menutupi pipiku yang terasa panas dan bengkak.

Pandanganku jatuh pada Ibu yang sedang tenggelam dalam kebahagiaan karena kehamilannya.

Ibu ....

Apa Ibu lupa?

Aku memang bukan darah daging Ayah.

Tapi aku darah daging Ibu.

Namun Ibu hanya menunduk membelai perutnya. Kebahagiaan karena mengandung anak Ayah tiri membuatnya seolah melupakan segalanya. Setelah terdiam cukup lama, dia menghindari tatapanku yang penuh kebencian. Akhirnya, seakan sudah mengambil keputusan, dia mengangkat kepala dan menatapku.

"Meyra, jangan salahin Papa dan Mama. Membesarkan anak itu sangat mahal. Bahkan sebelum adikmu lahir, kami sudah harus menyiapkan uang susu dan biaya pendidikannya. Kamu sudah sebesar ini, seharusnya bisa mengerti dan bantu meringankan beban keluarga. Lagi pula, dari awal memang kamu sudah berutang banyak sama Papa dan Mama ...."

Mataku langsung berkaca-kaca.

Aku menatap Ibu dengan tidak percaya.

Saat itulah aku akhirnya mengerti.

Di keluarga ini, aku hanyalah orang luar yang menumpang dan berutang.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, aku berbalik dan mulai membereskan barang-barangku.

Anak kandung Ayah dan Ibu masih berada di dalam kandungan bahkan belum lahir.

Namun, demi menunjukkan betapa berharganya anak itu, mereka sudah menyiapkan kamar khusus jauh-jauh hari.

Dan untuk itu, aku lebih dulu dipindahkan ke balkon.

Pada malam pertama setelah pindah ke sana, aku kembali demam.

Saat itu musim hujan di bulan Juni.

Meski balkon sudah dipasangi jendela, angin dan air hujan tetap merembes masuk dari berbagai celah, membuat tempat itu terasa lembap dan dingin seperti ruang bawah tanah.

Setiap malam aku harus tidur sambil membungkus tubuh dengan dua lapis selimut tebal.

Suatu malam, aku terbangun karena haus dan keluar untuk mengambil segelas air hangat.

Baru saja tiba di ruang tamu, aku melihat sekotak ceri yang masih tersisa di atas meja.

Buahnya besar-besar, merah keunguan, dan mengeluarkan aroma manis yang menggoda.

Di sampingnya terdapat secarik catatan tulisan Ayah:

[Sayang, ini ceri impor. Bagus untuk menambah darah dan merawat kecantikan. Kamu sedang mengandung darah daging kita, jadi buah ini khusus untuk menambah vitamin bagi anak kita. Harganya 360 ribu per setengah kilogram. Ingat, jangan kasih sama orang luar.]

Orang luar yang dimaksud tentu saja aku.

Aku menatap kotak ceri itu sambil mencibir dalam hati.

Tiba-tiba, terdengar suara rintihan dari kamar utama.

"Air ... tolong ambilin segelas air ...."

Saat ini Ayah sedang pergi dinas.

Menjelang ujian SBMPTN, Kakak juga seperti biasa pergi bermain ke rumah temannya dan menginap di sana karena pulang terlalu malam.

Malam itu hanya ada aku dan Ibu di rumah.

Aku mendorong pintu kamar dan melihat Ibu terbaring di ranjang dengan wajah pucat. Keringat dingin membasahi dahinya.

Karena hamil pada usia yang tidak lagi muda, reaksinya memang cukup berat.

Tengah malam itu kakinya kram, sementara dia kehausan dan tubuhnya kesakitan.

Begitu melihatku, dia langsung memerintah seolah-olah itu adalah hal yang wajar, "Meyra, apa telingamu tuli? Mama sudah panggil berkali-kali. Kenapa baru masuk? Nggak lihat Mama sedang nggak enak badan banget? Cepat pijat kaki Mama. Kaki Mama kram, sakit sekali."

Aku berdiri diam di samping ranjang.

"Mama, sekarang sudah jam tiga subuh."

Aku menatapnya dengan dingin. "Ini sudah di luar jam kerja. Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan, biaya layanan perawatan malam hari harus dihitung dua kali lipat."

Mata Ibu langsung terbelalak, seolah-olah tidak mengenaliku lagi.

"Apa kamu bilang?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 8

    Om Gerry memegangi dadanya sambil menunjuk ke arahku. "Ka ... Kamu ...."Dengan suara tertahan, napasnya mendadak tersendat. Sesaat kemudian, dia langsung jatuh pingsan.Om Gerry segera dilarikan ke ICU.Dokter mengatakan dia mengalami pendarahan otak akut. Kondisinya sangat kritis, sehingga harus segera menjalani operasi dan dirawat di ruang perawatan intensif.Uang muka yang harus dibayar mencapai 200 juta.Sementara biaya operasi dan perawatan lanjutan diperkirakan setidaknya 600 juta.Mendengar jumlah itu, Kakak begitu ketakutan sampai ponselnya terlepas dari tangan. Dia langsung berbalik dan pergi dengan alasan ingin mengambil kartu asuransi kesehatan. Namun setelah itu, selama tiga hari penuh dia tidak pernah muncul lagi.Jevan masih sekolah di taman kanak-kanak. Dia hanya bisa menangis sambil meminta makan ayam goreng.Di lorong rumah sakit, hanya ada Ibu. Dalam keadaan panik dan kebingungan, dia mencengkeram lenganku lalu berlutut di lantai sambil bersujud memohon."Meyra! Mama

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 7

    "Mama tahu dulu Mama sudah bersalah sama kamu. Tapi nggak ada orang tua yang benar-benar salah di dunia ini. Sekarang kamu sudah menghasilkan uang. Bisa nggak ... bisa nggak kamu pinjamkan Mama uang 100 juta? Mama akan bikinkan surat utang. Bunganya juga akan dihitung."Mendengar kata "surat utang", aku tak kuasa menahan tawa."Ma, apa Mama lupa? Keluarga kita menerapkan sistem masing-masing menanggung biaya hidupnya sendiri.""Apa?""Kalau gitu, mari kita ikuti aturan pasar."Aku tersenyum pada bayanganku yang terpantul di kaca jendela gedung, rapi dan profesional seperti yang selama ini kuusahakan."Sekarang aku termasuk kelompok pemilik aset. Uangku hanya akan diinvestasikan pada aset yang berkualitas. Sedangkan kalian ...."Aku sengaja berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalian ini aset negatif. Risikonya terlalu tinggi, jadi aku nggak akan berinvestasi."Setelah mengatakan itu, aku langsung mengakhiri panggilan dan memblokir nomor Ibu.Layar ponsel kembali gelap, memantulkan wa

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 6

    Saat melewati Ibu, kulihat air matanya jatuh berderai."Meyra ...." Dia berusaha meraih ujung bajuku. "Jangan pergi. Kalau kamu pergi, Mama gimana? Mama masih mengandung adikmu ...."Langkahku terhenti.Namun aku tidak menoleh."Mama," panggilku pelan. "Ini terakhir kalinya aku memanggilmu Mama."Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, perlahan kulepaskan genggamannya.Pintu utama tertutup dengan keras di belakangku.Sesaat kemudian, suara barang-barang yang dibanting terdengar dari dalam rumah.Namun, aku tidak menoleh lagi.Sinar matahari di luar begitu terang hingga membuat mataku perih.Air mata terus mengalir tanpa bisa kutahan.Ini adalah air mata terakhir yang kutumpahkan untuk keluarga itu.Mulai hari ini, setiap uang yang kuhasilkan dan setiap usaha yang kulakukan hanya untuk diriku sendiri....Empat tahun masa kuliah pun berlalu.Aku harus mencari nafkah sendiri untuk membiayai hidupku.Selama bertahun-tahun itu, aku hidup seperti mesin yang tidak pernah berhenti bekerja.Ba

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 5

    Aku hanya mengangguk tenang. "Oh, gitu."Setelah itu, kami berdua tidak mengatakan apa-apa lagi.Saat berbalik meninggalkan rumah, tanganku menyentuh kartu peserta ujian SBMPTN yang tersimpan di dalam saku.Setengah bulan kemudian, hasil ujian diumumkan.Aku memperoleh 685 poin dan berhasil masuk lima puluh besar peringkat provinsi.Sementara itu, Kakak hanya mendapat 280 poin, bahkan tidak mencapai batas nilai minimum untuk masuk perguruan tinggi negeri manapun.Pada hari pengumuman nilai, suasana di rumah terasa begitu menekan hingga membuat siapa pun sulit bernapas.Ayah menatap nilai Kakak yang terpampang jelas di layar komputer. Semakin lama, wajahnya semakin muram."Nggak mungkin! Pasti ada kesalahan dalam penilaian ujian!"Reaksi Ibu bahkan lebih besar daripada Ayah. Dia langsung berteriak, "Anak kesayanganku begitu pintar, gimana mungkin nilainya hanya segini?""Meyra ... Meyra biasanya pendiam. Bagaimana mungkin dia bisa dapat nilai setinggi ini? Jangan-jangan ... jangan-janga

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 4

    Karena selama ini aku tidak pernah membangkang kepada Ayah dan Ibu, apalagi berbicara kepada mereka dengan nada sedingin ini, perubahan sikapku membuat Ibu seolah tidak mengenaliku lagi."Meyra, aku ini mamamu! Mama 'kan sedang mengandung adikmu. Mama cuma minta kamu mijat kaki sebentar, tapi apa kamu bilang barusan?""Antara ibu dan anak kandung sekalipun tetap harus ada hitung-hitungan yang jelas. Bagiku, Mama nggak punya hak istimewa hanya karena status sebagai ibu. Bukankah Papa dan Mama yang ngajarin hal itu?"Aku mulai meniru cara Ayah dan Ibu memperlakukanku selama ini. Semua hal harus dihitung dengan rinci.Segalanya bisa dikonversikan menjadi uang."Menuangkan air kena biaya 20 ribu. Pijat kaki selama lima belas menit kena tarif dasar 100 ribu. Karena dilakukan pada malam hari, ada tambahan biaya 60 ribu. Totalnya 180 ribu."Ibu yang makin marah langsung meraih bantal dan melemparkannya ke arahku.Aku memiringkan tubuh dan menghindarinya dengan tenang. Bantal itu jatuh begitu

  • Harga Sebuah Keluarga   Bab 3

    "Aku dan mamamu sudah bicarakan ini. Sudut balkon itu akan ditutup, lalu kami taruh ranjang lipat buat kamu di sana."Balkon?Tempat yang kemasukan angin saat cuaca lagi dingin dan terpapar terik matahari saat udara panas, bahkan tidak ada pelindungnya sama sekali.Aku menangis dan memprotes, tetapi Ayah dan Ibu tetap bersikap keras. Dari nada bicara mereka hanya ada tuntutan agar aku memahami keadaan, tanpa memberi ruang sedikit pun untuk membantah."Sekarang mau ada anggota keluarga baru, jadi pengeluaran rumah tangga harus dikurangi. Meyra, sebentar lagi kamu juga selesai menghadapi ujian SBMPTN. Kamu sudah cukup besar untuk kerja dan menghasilkan uang sendiri.""Mulai tahun depan, setelah ujian SBMPTN selesai, kamu nggak perlu kuliah. Cari kerja saja dan bantu Papa sama Mama melunasi utangmu."Tidak bisa.Aku harus tetap sekolah.Guru pernah berkata bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar bagiku.Aku berusaha membela diri dengan berbagai alasan yang masuk akal, tetapi Ibu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status