Short
Harga Sebuah Keluarga

Harga Sebuah Keluarga

작가:  Muriaz완결
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8챕터
3.1K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Saat aku berusia tujuh tahun, ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Tak lama kemudian, ibuku menikah lagi dengan cinta pertamanya dan membawaku tinggal bersama keluarga barunya. Pada makan malam pertama di rumah itu, ayah tiriku mengumumkan sebuah aturan keluarga. "Mulai sekarang, di keluarga ini masing-masing menanggung biaya hidupnya sendiri." Saat itu aku mengambil sepotong daging sapi dan memakannya. Namun setelahnya, ayah tiriku meminta aku yang baru berusia tujuh tahun membayar enam juta untuk biaya makanan tersebut. Aku menoleh ke arah kakak tiriku yang sedang makan dengan lahap. "Kakak juga makan daging sapi. Kenapa Papa nggak minta Kakak bayar?" "Karena dia anak kandung Papa," jawab ayah tiriku. "Papa sayang dia, jadi dia punya hak istimewa karena ada hubungan darah." Aku pun memandang Ibu. Ayah tiriku melanjutkan, "Mamamu itu istriku. Papa cinta dia, jadi dia juga punya hak istimewa." "Sedangkan kamu, kita nggak punya hubungan darah, juga nggak ada ikatan perasaan. Papa nggak punya kewajiban untuk membesarkan kamu."

더 보기

1화

Bab 1

Demi menerapkan sistem keluarga yang mengharuskan setiap orang menanggung biaya hidupnya sendiri, semua barang di rumah diberi label harga.

Di pintu kulkas tertempel daftar harga:

[Apel: 10 ribu per buah.]

[Susu: 8 ribu per kotak.]

[Makanan sisa: 4 ribu per porsi.]

Dan masih banyak lagi.

Ibu dan Kakak memiliki hak istimewa.

Mereka bisa membuka kulkas sesuka hati tanpa perlu membayar apa pun.

Sedangkan aku tidak. Setiap kali ingin membuka kulkas, aku harus memikirkan apakah aku punya uang untuk membayarnya.

"Nggak punya uang tapi masih mau makan?" Ayah tiriku berkata dengan nada dingin.

Aku hanya menunduk dan bergumam pelan, tidak tahu harus menjawab apa.

Melihat itu, dia berpura-pura murah hati. "Sudahlah. Catat saja dulu sebagai utang. Nanti, kamu tanda tangan perjanjian pinjaman pribadi dengan Papa dan Mama."

"Bunganya dihitung menurut skema pinjaman berisiko tinggi, sebesar 0,1% per hari sampai kamu dewasa. Kalau sudah bisa cari uang sendiri, baru kamu lunasin pada Papa dan Mama."

Sejak saat itu, setiap kilowatt listrik yang kugunakan, setiap butir nasi yang kumakan, bahkan biaya liburan yang dikeluarkan khusus untuk mengajak Kakak bepergian, semuanya dicatat sebagai utang atas namaku.

Semua itu dilakukan atas nama aturan keluarga yang mengharuskan setiap orang menanggung biaya hidupnya masing-masing.

Bahkan sebelum genap dewasa, jumlah utangku sudah lebih dari 1,2 miliar.

Agar utangku tidak terus bertambah, aku hidup sehemat mungkin.

Aku mengenakan pakaian dan sepatu bekas yang dibuang Kakak. Kadang-kadang, demi mendapatkan makanan, aku bahkan mengemis di pinggir jalan.

Namun sehemat apa pun aku hidup, ada hal-hal yang tidak bisa kuhindari.

Saat cuaca sedang dingin dan flu sedang mewabah, aku tetap jatuh sakit.

Suhu tubuhku mencapai tiga puluh sembilan koma delapan derajat.

Seluruh tubuh terasa panas seperti terbakar.

Benar saja, hal pertama yang dilakukan Ayah dan Ibu bukan membawaku ke rumah sakit, melainkan mengeluarkan buku catatan keuangan, menekan-nekan kalkulator, lalu mencetak kontrak pinjaman yang baru.

"Meyra, pergi ke rumah sakit boleh saja. Tapi kamu harus tahu, biaya berobat sekarang nggak ada habisnya. Pendaftaran, tes darah, infus, semuanya nggak mungkin kurang dari 2 juta."

"Dulu kamu juga sudah setuju kalau di keluarga ini menerapkan sistem masing-masing menanggung biaya hidupnya sendiri. Pengeluaran pribadi yang nggak terduga, kayak sakit atau demam, tentu harus ditanggung sendiri."

Namun, aku tidak punya kemampuan untuk membayar biaya pengobatanku sendiri.

Jadi, sekali lagi aku menandatangani kontrak pinjaman dengan Ayah dan Ibu.

Pada akhirnya, mereka tetap tidak membawaku ke rumah sakit.

Menurut Ayah, biaya rumah sakit terlalu mahal dan hanya membuang-buang uang.

Dia pergi ke apotek di bawah apartemen dan membeli sekotak obat penurun demam serta sekotak obat antiradang. Total harganya 90 ribu.

Setelah kembali, Ayah membawa obat-obatan itu ke kamarku. Ibu ikut masuk di belakangnya.

"Meyra, meski kamu bukan darah daging Papa, bukan berarti Papa nggak peduli sama kamu. Obat ini Papa bayarin dulu. Ditambah ongkos jalan 10 ribu, total semuanya jadi 100 ribu."

Ayah meletakkan obat itu di meja samping tempat tidur, lalu menyodorkan selembar kontrak dan sebuah pena kepadaku.

"Tanda tangani dulu kontrak pinjaman ini. Setelah ditandatangani, baru kamu boleh minum obatnya."

Saat itu aku sudah demam begitu tinggi, bahkan membuka mata pun terasa sulit.

"Mama …." panggilku dengan suara serak.

Namun Ibu hanya memalingkan wajah dan berkata pelan, "Cepat tanda tangani, Meyra. Kalau sudah tanda tangan dan minum obat, kamu pasti sembuh."

Aku menahan rasa tidak nyaman yang memenuhi seluruh tubuh, lalu mengangkat tangan dengan gemetar.

Dengan tulisan yang miring dan berantakan, kutandatangani kontrak pinjaman itu.

Namun tepat setelah pena meninggalkan kertas, suara Kakak tiba-tiba terdengar dari luar.

"Papa! Mama! Jariku tergores! Sakit banget!"

Ibu langsung melompat berdiri dan berlari ke dapur menghampiri Kakak.

Suaranya terdengar sangat cemas dan penuh rasa sayang.

"Ada apa, Anakku Sayang?"

"Aduh, sini biar Mama lihat! Berdarah nggak? Pa, ayo cepat! Bawa anak kita ke rumah sakit buat dibersihin lukanya dan disuntik tetanus! Luka kayak begini bisa ringan, bisa juga serius. Jangan sampai infeksi!"

Mendengar suara mobil Ayah yang tergesa-gesa dinyalakan dari luar, aku hanya bisa berbaring di tempat tidur sambil menangis.

Aku benar-benar tidak mengerti.

Kenapa saat aku demam hampir empat puluh derajat, yang kudapat hanya obat seharga 90 ribu dan kontrak pinjaman yang harus kutanggung sendiri?

Sedangkan Kakak hanya terluka sedikit di jari, tetapi langsung diantar ke rumah sakit tanpa perlu membayar apa pun?

Melihat kebingunganku, Kakak yang selalu dimanjakan dan disayangi seluruh keluarga tersenyum.

"Karena aku anak kandung Papa, dan Papa sayang aku."

"Dan karena mamamu cinta sama papaku, tentu saja aku juga jadi orang yang paling disayang mamamu!"

Karena Kakak adalah anak kandung Ayah, dia mendapatkan kasih sayang dari Ayah sekaligus dari Ibu yang mencintai Ayah. Semua kasih sayang itu menjadi miliknya.

Sedangkan aku hanya anak kandung Ibu.

Jadi seiring perkembangan usia ....

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
8 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status