ログインSaat aku berusia tujuh tahun, ayahku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Tak lama kemudian, ibuku menikah lagi dengan cinta pertamanya dan membawaku tinggal bersama keluarga barunya. Pada makan malam pertama di rumah itu, ayah tiriku mengumumkan sebuah aturan keluarga. "Mulai sekarang, di keluarga ini masing-masing menanggung biaya hidupnya sendiri." Saat itu aku mengambil sepotong daging sapi dan memakannya. Namun setelahnya, ayah tiriku meminta aku yang baru berusia tujuh tahun membayar enam juta untuk biaya makanan tersebut. Aku menoleh ke arah kakak tiriku yang sedang makan dengan lahap. "Kakak juga makan daging sapi. Kenapa Papa nggak minta Kakak bayar?" "Karena dia anak kandung Papa," jawab ayah tiriku. "Papa sayang dia, jadi dia punya hak istimewa karena ada hubungan darah." Aku pun memandang Ibu. Ayah tiriku melanjutkan, "Mamamu itu istriku. Papa cinta dia, jadi dia juga punya hak istimewa." "Sedangkan kamu, kita nggak punya hubungan darah, juga nggak ada ikatan perasaan. Papa nggak punya kewajiban untuk membesarkan kamu."
もっと見るOm Gerry memegangi dadanya sambil menunjuk ke arahku. "Ka ... Kamu ...."Dengan suara tertahan, napasnya mendadak tersendat. Sesaat kemudian, dia langsung jatuh pingsan.Om Gerry segera dilarikan ke ICU.Dokter mengatakan dia mengalami pendarahan otak akut. Kondisinya sangat kritis, sehingga harus segera menjalani operasi dan dirawat di ruang perawatan intensif.Uang muka yang harus dibayar mencapai 200 juta.Sementara biaya operasi dan perawatan lanjutan diperkirakan setidaknya 600 juta.Mendengar jumlah itu, Kakak begitu ketakutan sampai ponselnya terlepas dari tangan. Dia langsung berbalik dan pergi dengan alasan ingin mengambil kartu asuransi kesehatan. Namun setelah itu, selama tiga hari penuh dia tidak pernah muncul lagi.Jevan masih sekolah di taman kanak-kanak. Dia hanya bisa menangis sambil meminta makan ayam goreng.Di lorong rumah sakit, hanya ada Ibu. Dalam keadaan panik dan kebingungan, dia mencengkeram lenganku lalu berlutut di lantai sambil bersujud memohon."Meyra! Mama
"Mama tahu dulu Mama sudah bersalah sama kamu. Tapi nggak ada orang tua yang benar-benar salah di dunia ini. Sekarang kamu sudah menghasilkan uang. Bisa nggak ... bisa nggak kamu pinjamkan Mama uang 100 juta? Mama akan bikinkan surat utang. Bunganya juga akan dihitung."Mendengar kata "surat utang", aku tak kuasa menahan tawa."Ma, apa Mama lupa? Keluarga kita menerapkan sistem masing-masing menanggung biaya hidupnya sendiri.""Apa?""Kalau gitu, mari kita ikuti aturan pasar."Aku tersenyum pada bayanganku yang terpantul di kaca jendela gedung, rapi dan profesional seperti yang selama ini kuusahakan."Sekarang aku termasuk kelompok pemilik aset. Uangku hanya akan diinvestasikan pada aset yang berkualitas. Sedangkan kalian ...."Aku sengaja berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Kalian ini aset negatif. Risikonya terlalu tinggi, jadi aku nggak akan berinvestasi."Setelah mengatakan itu, aku langsung mengakhiri panggilan dan memblokir nomor Ibu.Layar ponsel kembali gelap, memantulkan wa
Saat melewati Ibu, kulihat air matanya jatuh berderai."Meyra ...." Dia berusaha meraih ujung bajuku. "Jangan pergi. Kalau kamu pergi, Mama gimana? Mama masih mengandung adikmu ...."Langkahku terhenti.Namun aku tidak menoleh."Mama," panggilku pelan. "Ini terakhir kalinya aku memanggilmu Mama."Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, perlahan kulepaskan genggamannya.Pintu utama tertutup dengan keras di belakangku.Sesaat kemudian, suara barang-barang yang dibanting terdengar dari dalam rumah.Namun, aku tidak menoleh lagi.Sinar matahari di luar begitu terang hingga membuat mataku perih.Air mata terus mengalir tanpa bisa kutahan.Ini adalah air mata terakhir yang kutumpahkan untuk keluarga itu.Mulai hari ini, setiap uang yang kuhasilkan dan setiap usaha yang kulakukan hanya untuk diriku sendiri....Empat tahun masa kuliah pun berlalu.Aku harus mencari nafkah sendiri untuk membiayai hidupku.Selama bertahun-tahun itu, aku hidup seperti mesin yang tidak pernah berhenti bekerja.Ba
Aku hanya mengangguk tenang. "Oh, gitu."Setelah itu, kami berdua tidak mengatakan apa-apa lagi.Saat berbalik meninggalkan rumah, tanganku menyentuh kartu peserta ujian SBMPTN yang tersimpan di dalam saku.Setengah bulan kemudian, hasil ujian diumumkan.Aku memperoleh 685 poin dan berhasil masuk lima puluh besar peringkat provinsi.Sementara itu, Kakak hanya mendapat 280 poin, bahkan tidak mencapai batas nilai minimum untuk masuk perguruan tinggi negeri manapun.Pada hari pengumuman nilai, suasana di rumah terasa begitu menekan hingga membuat siapa pun sulit bernapas.Ayah menatap nilai Kakak yang terpampang jelas di layar komputer. Semakin lama, wajahnya semakin muram."Nggak mungkin! Pasti ada kesalahan dalam penilaian ujian!"Reaksi Ibu bahkan lebih besar daripada Ayah. Dia langsung berteriak, "Anak kesayanganku begitu pintar, gimana mungkin nilainya hanya segini?""Meyra ... Meyra biasanya pendiam. Bagaimana mungkin dia bisa dapat nilai setinggi ini? Jangan-jangan ... jangan-janga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.