Share

Bab 2

Author: Bagel
Jerry tampak sangat terkejut.

Dia mungkin tidak pernah menyangka istrinya yang selalu lembut dan patuh, tiba-tiba akan berbalik melawannya seperti itu.

Mengingat janji kami dulu, tatapannya goyah dan ekspresi rasa bersalah yang jarang terlihat muncul di wajahnya.

Tiga tahun berpacaran, lima tahun menikah.

Melihatnya seperti ini, secercah harapan terakhir yang konyol di hatiku hancur berkeping-keping.

Dulu aku mengira satu-satunya kekurangan Jerry sebagai suami adalah kegemarannya untuk bersenang-senang.

Tapi sekarang aku mengerti, dia bahkan tidak pantas menjadi seorang ayah.

Mungkin cemoohan di sorot mataku terlalu jelas. Jerry menghindari tatapanku, melonggarkan dasinya sambil mencari alasan.

"Kau juga tahu keadaannya, Rana. Aku ada panggilan mendesak saat itu. Urusan keluarga nggak bisa menunggu ...."

"Oh ya?"

Aku menatapnya dingin, lalu menoleh ke arah Sonya yang berdiri di sampingnya, siap membelanya kapan pun. Suaraku terdengar mengejek.

"Urusan mendesak apa yang nggak bisa menunggu? Sampai-sampai kau membiarkan dia menontonku dalam keadaan paling rentan? Apa semendesak itu sampai kau bahkan nggak bisa melihat putramu yang baru lahir?"

"Jerry, siapa yang memberimu hak untuk membawanya ke ruang persalinan? Dan siapa yang memberimu izin untuk merekam semua ini?"

Kata-kataku membuat ruangan hening, bahkan suara jarum jatuh pun akan bisa terdengar.

Jerry mengatupkan bibirnya, seolah mencoba mencari cara untuk membujuk agar lolos dari situasi ini.

Namun Sonya yang melihatnya diam justru cemberut karena tidak senang. Jari-jarinya dengan kuku merah darah bertumpu ringan di lengan Jerry.

"Rana, aku yang merekamnya."

Menatapku, dia mengangkat dagunya dengan angkuh. "Jangan salahkan Jerry. Aku hanya penasaran. Aku nggak tahu kalau melahirkan bisa begitu ... spektakuler."

"Lagipula, aku hanya ingin merekam momen penting ini. Saat anakmu sudah besar nanti, kau jadi punya kenangan untuk dilihat, kan? Ngamuk hanya karena hal sepele seperti ini nggak pantas sebagai istri seorang bos mafia."

Aku menoleh ke arah Jerry.

Dia tidak keberatan. Bahkan, ekspresinya sedikit melunak ketika mendengar Sonya membela kehormatannya.

"Penasaran ...."

Aku mengulangi kata itu perlahan.

"Kalau kau memang penasaran, Sonya, kenapa kau nggak mencari pria dan melahirkan sendiri?"

Suaraku tidak keras, dan nadaku juga tenang, tetapi kesombongan di wajah Sonya langsung retak.

Jerry menghela napas pelan, nadanya seperti teguran lembut.

"Sayang, itu bukan hal yang baik untuk dikatakan."

Aku memperhatikannya dengan tenang, tanpa berkata apa-apa.

Saat dia berbalik untuk menghibur Sonya, aku berbicara lagi, "Oh, aku lupa."

"Kau itu hanya anak haram dari keluarga yang nggak penting."

"Bahkan kalau kau mau punya anak, ayah Jerry nggak akan pernah mengizinkan anak dengan darah ternoda masuk ke bagian Keluarga Rosano."

Lagipula, semua orang yang mengenal Sonya tahu tentang hal-hal kotor yang telah dilakukannya di masa lalu.

Kata-kata itu belum sepenuhnya keluar dari mulutku ketika dua suara terdengar bersamaan.

"Rana!"

Disusul sebuah tamparan keras.

Sonya berdiri di depanku, tangannya yang kini sudah diturunkan baru saja menampar wajahku dengan keras.

Tubuhku masih lemah akibat operasi caesar, jadi aku bahkan tidak punya kekuatan untuk mengangkat tangan. Aku menerima tamparan itu sepenuhnya.

Pipiku terasa panas, sentakan keras itu mengirimkan gelombang rasa sakit baru melalui sayatan di perutku.

Rasa sakit itu membuat pandanganku menjadi gelap, dan keringat dingin langsung membasahi baju rumah sakitku.

Sonya menatapku tajam, dadanya naik turun. "Kalau bukan karena Jerry, aku sudah robek mulutmu itu sampai hancur! Kau pikir kau putri bangsawan?"

Wajahku pucat pasi. Aku menggigit bibirku keras-keras untuk menahan tangis, mataku tertuju pada Jerry.

Saat Sonya menerjangku tadi, dia ada di sana. Aku tidak percaya kalau dia tidak bisa menghentikan wanita itu.

Kecuali jika dia memang tidak berniat untuk menghentikan Sonya.

Jerry melihat bekas telapak tangan merah yang dengan cepat terbentuk di pipiku. Tubuhnya menegang dan refleks hendak meraihku.

Tetapi setelah melihat Sonya gemetar karena marah, tangannya membeku di udara.

"Sonya, jangan gegabah."

Dia menghela napas dan berbalik kepadaku, nada suaranya kini mengandung sedikit rasa bersalah yang melelahkan, seolah-olah akulah yang memulai masalah.

"Rana, kau keterlaluan."

"Kau jelas tahu kalau Sonya sangat sensitif tentang latar belakangnya. Kenapa kau malah memprovokasinya dengan kata-kata seperti itu?"

Hatiku hancur. Aku yang keterlaluan?

Dibandingkan dengan hal-hal menjijikkan yang dia dan Sonya lakukan saat aku kesakitan setengah mati, satu kalimatku yang jujur itu bahkan tidak sampai sepersepuluhnya.

Aku telah mempertaruhkan nyawaku untuk memberinya seorang ahli waris, tapi dia bahkan tidak menanggapi tangisan anaknya sendiri beberapa saat yang lalu.

Dan sekarang, dia khawatir karena orang yang baru saja menyerangku merasa tersinggung.

"Jerry Rosano."

Aku menarik napas dalam-dalam, suaraku gemetar tetapi tegas.

"Aku nggak bicara padamu."

"Rana, kau terlalu serius."

Setelah menenangkan diri, Sonya menyilangkan tangan dan menyela dengan tatapan jijik.

"Tubuhmu sudah berubah bentuk dan jadi jelek selama hamil, tapi Jerry nggak pernah mengeluh sama sekali. Jadi emang kenapa kalau kita berbagi sedikit kebahagiaan dengan keluarga dan menonton video momen kau melahirkan?"

"Jangan bertingkah seperti martir besar. Kita semua keluarga di sini. Ini hanya lelucon."

Tubuhku menegang.

"Apa maksudmu? Cepat bilang siapa lagi yang sudah melihat video itu."

Sebuah firasat buruk merayap di hatiku.

Benar saja, melihat reaksiku, Sonya tak bisa menahan tawa sambil menyodorkan layar ponselnya ke wajahku.

Obrolan grup dibanjiri meme wajahku.

Para pimpinan cabang di lingkaran mafia yang biasanya memanggilku "Nyonya Rana" dengan hormat, kini justru melontarkan kata-kata kotor.

[Wajah itu, satu detik meringis, detik berikutnya matanya sampai berputar ke belakang. Dan dia merah banget ... sulit dipercaya dia sedang melahirkan, haha.]

[Sonya memang tahu cara bersenang-senang, dan selalu tahu cara menghibur para pria.]

[Teriakan itu ... membuatku terangsang ....]

Aku menutup mata. Gelombang mual melanda diriku, dan rasa sakit dari lukaku begitu hebat hingga aku hampir tidak bisa bernapas.

"Jerry, jelaskan."

Aku tidak menatap Sonya. Mataku tertuju pada suamiku.

Awalnya aku mengira ini hanya hiburan pribadi yang aneh antara dia dan Sonya.

Aku tak pernah menyangka bahwa Sonya akan mengambil tangkapan layar dan mengubahnya menjadi gambar stiker animasi, lalu mengirimkannya bersama video itu ke grup obrolan yang dia gunakan dengan para pemimpin cabang di lingkaran mafia miliknya.

Jerry mengerutkan kening, jelas kesal dengan nada konfrontatifku.

Dia melirik ponselnya, lalu kembali menatapku.

Akhirnya, seolah-olah sudah kehilangan kesabaran untuk terus menuruti keinginanku, dia mengangkat tangannya. "Sudahlah, Rana."

Wajahnya menunjukkan ketidakpedulian. "Nggak ada yang perlu dijelaskan. Ini hanya teman-teman yang sedang bersenang-senang untuk menghidupkan suasana."

"Kau tahu lingkaran dalamku. Ini cuma lelucon, kenapa kau anggap serius? Kau benar-benar merusak suasana."

Napasku tercekat di tenggorokan.

Aku menatap pria yang telah kucintai selama delapan tahun dan mengulangi dengan pelan, "Kau sebut ini lelucon?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 8

    Aku berbalik.Itu Jerry.Tidak, lebih tepatnya, itu Jerry yang baru saja dicabut semua jabatannya dan diasingkan dari pusat kekuasaan keluarga."Apa yang kau lakukan di sini?"Aku tidak punya sedikit pun basa-basi untuknya."Aku ...."Dia terlihat sangat lesu setelah sebulan.Setelan mahal yang biasanya selalu rapi sempurna, kini tampak kusut di tubuhnya. Rahangnya ditutupi janggut tipis, matanya keruh dan penuh kelelahan.Itu masuk akal. Beberapa hari yang lalu, Hans mengambil laporan keuangan terperinci dan rekaman itu lalu langsung menyerbu masuk ke pertemuan Tetua Keluarga Rosano.Di depan Bos Besar dan semua pimpinan cabang, dia memutar rekaman Jerry yang diam-diam mengejek Bos Besar sebagai "orang tua bodoh" dan menggelapkan sejumlah besar dana keluarga untuk membersihkan kekacauan yang dibuat Sonya.Tetapi laporan keuangan itulah yang menjadi pukulan fatal.Hal itu tidak hanya mengungkap ketidakmampuan Jerry dalam bisnis pencucian uang, tetapi juga mengungkapkan lubang hitam bes

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 7

    Pembaptisan putraku diadakan di kastil pribadi Keluarga Mikael di Pantai Sorela.Tempat itu penuh sesak dengan tamu. Bahkan para penasihat dari beberapa keluarga saingan pun mengirim perwakilan beserta hadiah.Apalagi, semua orang tahu bahwa "jenius keuangan" Keluarga Mikael telah kembali.Dan arus kas yang dikendalikannya cukup untuk mengguncang fondasi separuh dunia mafia.Tepat tengah hari, jamuan makan resmi dimulai.Aku menggendong putraku saat ayahku secara pribadi memasang jimat perlindungan tradisional di lehernya.Si kecil tidak menangis. Dia hanya melihat sekeliling penuh rasa ingin tahu dengan sepasang matanya yang sama persis seperti milikku.Ketika makanan disajikan, aku membawa putraku ke ruang santai pribadi di bagian belakang untuk memberinya susu.Terdengar dua kali ketukan di pintu, tidak terlalu keras dan juga tidak pelan. Aku langsung merapikan kerah gaun sutraku.Kemudian, bangkit untuk membukakan pintu.Hans Torama berdiri di ambang pintu dengan mengenakan setelan

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 6

    Sudut pandang Rana.Saat Jerry berbalik hendak meninggalkan rumah sakit, dia masih samar-samar mendengar kerabat pasien lain bergosip tentang dirinya."Astaga, padahal dia kelihatan seperti pria yang baik, tapi apa yang dia lakukan sungguh menjijikkan. Awas, kalau kau sampai berani memperlakukanku seperti itu ...."Perjalanan kembali ke rumah dipenuhi amarah yang membuat gelisah dan meledak-ledak.Dalam perjalanan selama dua puluh menit itu, dia mengumpat tiga atau empat kali dan membunyikan klakson tanpa alasan setidaknya lima atau enam kali.Jerry memacu kendaraannya kembali ke rumah Keluarga Rosano dan membuka pintu dengan keras.Kelopak bunga lili putih yang tak terhitung jumlahnya berjatuhan dari atas kepalanya seperti hujan, menyerupai pemakaman yang mengerikan.Hal itu disertai dengan tawa melengking Sonya dan anak buahnya.Wajah Jerry tampak muram saat mengamati ruang tamu.Dinding-dindingnya dipenuhi foto-foto wajahku yang sedang kesakitan karena melahirkan, sebuah pertunjukan

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 5

    Sudut pandang pihak ketiga."Apa katamu?" Jerry membeku, kunci di genggamannya berderit karena kepalannya mengeras. "Dia pergi? Siapa yang mengizinkannya pergi?""Dia bukan hanya pergi ...."Anak buahnya itu menelan ludah dengan susah payah, matanya juga terbelalak ketakutan. "Para perawat mengatakan dia pergi setengah jam yang lalu. Dia membawa bayinya, naik ke iring-iringan SUV hitam, dan mengurus kepulangannya sendiri. Kamar itu sudah kosong sejak saat itu!"Terdengar bunyi dentingan tajam.Kunci mobil terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.Wajah Sonya menegang.Dia melirik kunci mobil di lantai, lalu ke layar ponsel Jerry yang menyala. Tangan yang tersembunyi di balik manset sutranya mengepal erat.Karena tidak mau menyerah, dia menggunakan triknya yang biasa, mengulurkan tangan untuk menarik lengan baju Jerry."Jerry, bagaimana kalau kita tunggu dulu? Mungkin dia akan membalas pesan sebentar lagi. Kau tahu kan bagaimana perempuan, mereka suka ngambek seperti ini ....""Kau t

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 4

    Jerry yang baru saja sampai di pintu tiba-tiba berhenti.Dia berbalik dan menatapku seolah aku anak kecil yang sedang merajuk. "Apa tadi? Dapat balasan?"Dia berjalan dua langkah ke arahku, mengulurkan tangan untuk menyentuh pipiku. Aku tersentak menjauh darinya.Dia tidak marah karena tangannya masih menggantung di udara. Dia hanya terkekeh dan menyelipkannya ke dalam saku celana setelan mahalnya."Rana sayangku, kau sekarang sudah belajar bicara keras, ya? Sayang, jangan terlalu dramatis.""Apa anestesi masih membuat kepalamu kacau?"Rasa sakit di perutku begitu hebat hingga aku hampir tidak bisa berdiri, tetapi aku tetap menatap matanya. "Aku serius.""Jerry Rosano, kau akan berlutut dan menyesali apa yang telah kau lakukan hari ini."Mata kami bertemu. Melihat bahwa aku sama sekali tidak bercanda, Jerry tampak terkejut, tetapi dia segera menggelengkan kepala.Dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke telingaku, napasnya terasa hangat. "Oke. Kalau begitu, kau bisa tunjukkan padaku

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 3

    Tanganku gemetar saat menunjuk komentar paling kejam di layar ponsel itu.Seseorang bahkan memasang tangkapan layar wajahku saat melahirkan di samping foto salah satu musuh keluarga beberapa saat sebelum mereka eksekusi."Jerry, aku ini istrimu, ibu dari anakmu. Kau membiarkan pria lain menggunakan momen paling penting buatku untuk jadi hiburan mereka, untuk bahan penghinaan, tapi kau pikir itu cuma lelucon?"Alis Jerry berkerut kesal saat dia mengambil ponsel Sonya.Dia dengan santai mengirim stiker [Sudah, jangan berlebihan] ke obrolan grup, lalu kembali menatapku."Cukup, Rana. Jangan terlalu lebay.""Kau sudah memberiku seorang pewaris. Aku bahagia, dan aku ingin berbagi kebahagiaan dengan anak buahku. Jika kau nggak suka, jangan lihat. Sekarang bersikap baiklah."Tubuhku langsung menjadi kaku, tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.Namun kemudian aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak pernah benar-benar mengenal pria itu.Kasih sayang yang kulihat selama ini hanyalah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status