LOGINAku berbalik.Itu Jerry.Tidak, lebih tepatnya, itu Jerry yang baru saja dicabut semua jabatannya dan diasingkan dari pusat kekuasaan keluarga."Apa yang kau lakukan di sini?"Aku tidak punya sedikit pun basa-basi untuknya."Aku ...."Dia terlihat sangat lesu setelah sebulan.Setelan mahal yang biasanya selalu rapi sempurna, kini tampak kusut di tubuhnya. Rahangnya ditutupi janggut tipis, matanya keruh dan penuh kelelahan.Itu masuk akal. Beberapa hari yang lalu, Hans mengambil laporan keuangan terperinci dan rekaman itu lalu langsung menyerbu masuk ke pertemuan Tetua Keluarga Rosano.Di depan Bos Besar dan semua pimpinan cabang, dia memutar rekaman Jerry yang diam-diam mengejek Bos Besar sebagai "orang tua bodoh" dan menggelapkan sejumlah besar dana keluarga untuk membersihkan kekacauan yang dibuat Sonya.Tetapi laporan keuangan itulah yang menjadi pukulan fatal.Hal itu tidak hanya mengungkap ketidakmampuan Jerry dalam bisnis pencucian uang, tetapi juga mengungkapkan lubang hitam bes
Pembaptisan putraku diadakan di kastil pribadi Keluarga Mikael di Pantai Sorela.Tempat itu penuh sesak dengan tamu. Bahkan para penasihat dari beberapa keluarga saingan pun mengirim perwakilan beserta hadiah.Apalagi, semua orang tahu bahwa "jenius keuangan" Keluarga Mikael telah kembali.Dan arus kas yang dikendalikannya cukup untuk mengguncang fondasi separuh dunia mafia.Tepat tengah hari, jamuan makan resmi dimulai.Aku menggendong putraku saat ayahku secara pribadi memasang jimat perlindungan tradisional di lehernya.Si kecil tidak menangis. Dia hanya melihat sekeliling penuh rasa ingin tahu dengan sepasang matanya yang sama persis seperti milikku.Ketika makanan disajikan, aku membawa putraku ke ruang santai pribadi di bagian belakang untuk memberinya susu.Terdengar dua kali ketukan di pintu, tidak terlalu keras dan juga tidak pelan. Aku langsung merapikan kerah gaun sutraku.Kemudian, bangkit untuk membukakan pintu.Hans Torama berdiri di ambang pintu dengan mengenakan setelan
Sudut pandang Rana.Saat Jerry berbalik hendak meninggalkan rumah sakit, dia masih samar-samar mendengar kerabat pasien lain bergosip tentang dirinya."Astaga, padahal dia kelihatan seperti pria yang baik, tapi apa yang dia lakukan sungguh menjijikkan. Awas, kalau kau sampai berani memperlakukanku seperti itu ...."Perjalanan kembali ke rumah dipenuhi amarah yang membuat gelisah dan meledak-ledak.Dalam perjalanan selama dua puluh menit itu, dia mengumpat tiga atau empat kali dan membunyikan klakson tanpa alasan setidaknya lima atau enam kali.Jerry memacu kendaraannya kembali ke rumah Keluarga Rosano dan membuka pintu dengan keras.Kelopak bunga lili putih yang tak terhitung jumlahnya berjatuhan dari atas kepalanya seperti hujan, menyerupai pemakaman yang mengerikan.Hal itu disertai dengan tawa melengking Sonya dan anak buahnya.Wajah Jerry tampak muram saat mengamati ruang tamu.Dinding-dindingnya dipenuhi foto-foto wajahku yang sedang kesakitan karena melahirkan, sebuah pertunjukan
Sudut pandang pihak ketiga."Apa katamu?" Jerry membeku, kunci di genggamannya berderit karena kepalannya mengeras. "Dia pergi? Siapa yang mengizinkannya pergi?""Dia bukan hanya pergi ...."Anak buahnya itu menelan ludah dengan susah payah, matanya juga terbelalak ketakutan. "Para perawat mengatakan dia pergi setengah jam yang lalu. Dia membawa bayinya, naik ke iring-iringan SUV hitam, dan mengurus kepulangannya sendiri. Kamar itu sudah kosong sejak saat itu!"Terdengar bunyi dentingan tajam.Kunci mobil terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.Wajah Sonya menegang.Dia melirik kunci mobil di lantai, lalu ke layar ponsel Jerry yang menyala. Tangan yang tersembunyi di balik manset sutranya mengepal erat.Karena tidak mau menyerah, dia menggunakan triknya yang biasa, mengulurkan tangan untuk menarik lengan baju Jerry."Jerry, bagaimana kalau kita tunggu dulu? Mungkin dia akan membalas pesan sebentar lagi. Kau tahu kan bagaimana perempuan, mereka suka ngambek seperti ini ....""Kau t
Jerry yang baru saja sampai di pintu tiba-tiba berhenti.Dia berbalik dan menatapku seolah aku anak kecil yang sedang merajuk. "Apa tadi? Dapat balasan?"Dia berjalan dua langkah ke arahku, mengulurkan tangan untuk menyentuh pipiku. Aku tersentak menjauh darinya.Dia tidak marah karena tangannya masih menggantung di udara. Dia hanya terkekeh dan menyelipkannya ke dalam saku celana setelan mahalnya."Rana sayangku, kau sekarang sudah belajar bicara keras, ya? Sayang, jangan terlalu dramatis.""Apa anestesi masih membuat kepalamu kacau?"Rasa sakit di perutku begitu hebat hingga aku hampir tidak bisa berdiri, tetapi aku tetap menatap matanya. "Aku serius.""Jerry Rosano, kau akan berlutut dan menyesali apa yang telah kau lakukan hari ini."Mata kami bertemu. Melihat bahwa aku sama sekali tidak bercanda, Jerry tampak terkejut, tetapi dia segera menggelengkan kepala.Dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke telingaku, napasnya terasa hangat. "Oke. Kalau begitu, kau bisa tunjukkan padaku
Tanganku gemetar saat menunjuk komentar paling kejam di layar ponsel itu.Seseorang bahkan memasang tangkapan layar wajahku saat melahirkan di samping foto salah satu musuh keluarga beberapa saat sebelum mereka eksekusi."Jerry, aku ini istrimu, ibu dari anakmu. Kau membiarkan pria lain menggunakan momen paling penting buatku untuk jadi hiburan mereka, untuk bahan penghinaan, tapi kau pikir itu cuma lelucon?"Alis Jerry berkerut kesal saat dia mengambil ponsel Sonya.Dia dengan santai mengirim stiker [Sudah, jangan berlebihan] ke obrolan grup, lalu kembali menatapku."Cukup, Rana. Jangan terlalu lebay.""Kau sudah memberiku seorang pewaris. Aku bahagia, dan aku ingin berbagi kebahagiaan dengan anak buahku. Jika kau nggak suka, jangan lihat. Sekarang bersikap baiklah."Tubuhku langsung menjadi kaku, tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.Namun kemudian aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak pernah benar-benar mengenal pria itu.Kasih sayang yang kulihat selama ini hanyalah







