Share

Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan
Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan
Author: Bagel

Bab 1

Author: Bagel
Tawa melengking bergema di kamar rumah sakit.

Sonya mengayunkan ponsel keluaran terbaru di tangannya sambil menunjuk foto yang diperbesar dengan niat jahat dan tertawa sampai terbahak-bahak.

"Jerry, lihat dia. Jelek sekali."

"Ekspresi wajahnya ... sama sekali nggak seperti calon istri Bos Keluarga Rosano, kan? Jujur saja, ini membuatku merasa jijik."

Mendengar ucapan Sonya, Jerry mengangkat alisnya. Dia sedang memainkan pemantik api mahal sambil melihat gambar stiker yang baru saja dikirim Sonya ke ponselnya.

"Lihat usahaku ini demi membuatmu senang?"

"Sejujurnya, aku nggak ingin kau melihat adegan berdarah seperti itu. Tapi karena kau ingin merekamnya sebagai kenang-kenangan, aku membiarkanmu melakukannya."

Cara bicaranya yang santai tanpa menghiraukan harga diri istrinya membuat Sonya tertawa terbahak-bahak lagi.

Berbaring di ranjang rumah sakit, aku merasakan cairan dingin mengalir dari infus ke pembuluh darah, membuatku menggigil sampai ke tulang.

Dadaku terasa seperti sedang digergaji dengan pisau tumpul, angin dingin berhembus kencang melalui ruang kosong di dalamnya, meninggalkan rasa sakit yang menusuk dan pahit.

Dua jam yang lalu, air ketubanku pecah dan aku dibawa ke ruang operasi.

Aku pun teringat saat pertama kali mengetahui bahwa aku hamil.

Kami telah berjanji satu sama lain bahwa dia akan memegang tanganku sepanjang waktu, bahwa dia akan menjadi orang pertama yang menggendong anak kami.

Saat itu, Jerry memegang tanganku dan berkata dengan penuh perasaan, "Sayang, aku akan bersamamu sepanjang waktu. Kita akan menyambut malaikat kecil kita bersama-sama."

Selama lima tahun pernikahan kami, di depan umum dia selalu tampak sebagai suami yang sempurna dan penyayang.

Dulu aku percaya dia benar-benar mencintaiku. Aku bahkan merasa bersyukur, dan berpikir bahwa pengkhianatanku terhadap keluargaku sendiri adalah hal yang sepadan.

Tetapi ketika aku berada di meja persalinan dan pisau bedah mengiris kulitku, aku basah kuyup oleh keringat dingin karena rasa sakit, urat-urat di dahi dan leherku menonjol.

Namun, dia malah menarik tangannya untuk menjawab panggilan video dari Sonya. Dia bergumam, "Kau sabar ya, tahan sebentar." Dia lalu berbalik dan berjalan ke sudut ruangan untuk menerima panggilan itu.

Ketika rasa sakit mencapai puncaknya dan aku refleks meraih ujung bajunya karena ingin mencari sedikit kenyamanan, dia malah membawa wanita lain ke ruang persalinan.

Dia mencium keningku dan berkata, "Sayang, kelahiran anak kita perlu direkam dengan sempurna. Sonya itu fotografer profesional. Serahkan padanya, dia akan mendapatkan gambar terbaik."

Jerry bahkan sengaja keluar dari jangkauan kamera agar tidak mengganggu fokus artistik Sonya.

Orang bilang proses persalinan akan menunjukkan jati diri seorang pria, dan menurutku itu benar.

"Jerry, lihat ini ...."

Sonya memutar ulang video di ponselnya, dan sengaja menaikkan volume suaranya.

Mataku perlahan terbuka.

Melalui penglihatanku yang masih kabur, aku melihat Jerry mencondongkan tubuh. Matanya yang biasanya tampak menawan, kini dipenuhi ejekan.

"Ssst, Sonya, jangan terlalu kejam."

Dia memang menegur wanita itu secara verbal, tetapi nadanya penuh dengan pengertian. "Bagaimanapun juga, dia baru saja melahirkan. Tubuhnya agak kendur seperti adonan yang sedang mengembang ... tapi kurasa kau bisa menyebutnya 'berat badan bahagia'."

Seolah untuk membuktikan maksudnya, dia dengan lembut mengelus bahu Sonya.

"Bentuk tubuhnya dulu memang bagus. Tapi sekarang satu-satunya yang masih layak dilihat hanya pinggulnya, dan itu juga karena menjadi gemuk."

"Tentu saja, itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan tubuhmu yang sangat seksi."

Saat dia selesai bicara, pesan suara di obrolan grup langsung dipenuhi dengan siulan dan ejekan cabul dari para pria.

Suara-suara itu terasa sangat menyakitkan.

Tanganku di bawah selimut meremas seprai hingga buku-buku jariku memutih.

"Jerry ...."

Aku berbicara, suaraku serak dan lelah, kata-kata itu seperti pecahan yang dipaksa keluar dari tenggorokan.

Kedua orang di sofa itu membeku.

Jerry menoleh. Melihatku sudah bangun, dia segera memasang ekspresi khawatir dan bergegas mendekat.

"Rana? Sayang, kau sudah bangun?"

Dia dengan lembut menyingkirkan rambutku yang basah oleh keringat dari wajah. "Kau sudah bekerja keras, Sayang. Apa ada yang nggak nyaman? Mau minum?"

Melihat kelembutan di sorot matanya dan mendengarkan kata-kata manisnya, aku tertegun sejenak sebelum akhirnya memalingkan wajah untuk menghindari tatapannya.

"Apa kau nggak mau menjelaskan soal ini?"

Tangan Jerry yang sedang menuangkan air terhenti sejenak. Dia kemudian tersenyum tak berdaya, seolah-olah sedang menenangkan anak kecil yang rewel.

"Sayang, jangan terlalu sensitif." Dia bahkan mencoba mengulurkan tangan dan mengelus rambutku.

Aku melihat ke arah belakangnya. Sonya sengaja memperlihatkan layar ponselnya kepadaku.

Masih memutar video diriku saat persalinan, dengan kedua kakiku yang terbuka lebar.

Melihat tatapanku, senyum Sonya semakin cerah dan penuh provokasi.

Dengan suara manis yang menjijikkan, dia berkata, "Nyonya Rana, selamat ya."

Kemudian, jarinya "secara tidak sengaja" menekan tombol volume suara di sisi ponsel.

Ruangan itu tiba-tiba dipenuhi dengan jeritanku sendiri yang menyayat hati dari ruang persalinan.

Tubuhku langsung kaku. Di dalam keranjang bayi kecil yang berada di sampingku, bayi yang sedang tidur nyenyak itu tersentak oleh suara teriakan tiba-tiba dan mulai menangis.

Suara itu menusuk hatiku seperti ribuan jarum kecil.

Aku berjuang untuk duduk, mengabaikan rasa sakit yang menusuk di perutku, dan mengulurkan tangan untuk melindungi anakku. Aku lalu menoleh, wajahku mengeras saat aku membentak, "Matikan! Hapus video itu sekarang!"

Sonya cemberut, dia tampak merasa tak senang saat menoleh ke Jerry, matanya langsung berkaca-kaca. "Aku nggak sengaja, tanganku terpeleset .... Kenapa Rana jahat sekali?"

"Jerry, lihat dia ...."

Jerry mengerutkan kening, tetapi segera meletakkan gelas air dan dengan lembut mengambil tanganku. "Rana, sayang, jangan terlalu keras. Kau menakuti Sonya dan juga bayinya."

"Sedikit menangis itu bagus untuk paru-parunya. Semua orang hanya bercanda, sedang ikut merayakan. Kau itu nyonya bos masa depan keluarga ini, jadi cobalah bersikap lebih santai, ya?"

"Jangan mengamuk hanya karena hal sekecil ini. Kau itu nggak cantik kalau marah. Hatiku jadi sakit."

Suaranya pelan, tetapi setiap kata terasa berat dan menekan dadaku hingga membuatku sulit bernapas.

Tanganku yang tadi menenangkan bayi tiba-tiba berhenti.

Sebuah bayangan terlintas di benakku, punggungnya yang teguh saat dia berpaling dariku di ruang persalinan untuk menjawab panggilan itu.

Aku menatap matanya dan bertanya, kata demi kata, "Jerry, saat putra kita dibawa keluar dari ruang persalinan, apa kau orang pertama yang menggendongnya?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 8

    Aku berbalik.Itu Jerry.Tidak, lebih tepatnya, itu Jerry yang baru saja dicabut semua jabatannya dan diasingkan dari pusat kekuasaan keluarga."Apa yang kau lakukan di sini?"Aku tidak punya sedikit pun basa-basi untuknya."Aku ...."Dia terlihat sangat lesu setelah sebulan.Setelan mahal yang biasanya selalu rapi sempurna, kini tampak kusut di tubuhnya. Rahangnya ditutupi janggut tipis, matanya keruh dan penuh kelelahan.Itu masuk akal. Beberapa hari yang lalu, Hans mengambil laporan keuangan terperinci dan rekaman itu lalu langsung menyerbu masuk ke pertemuan Tetua Keluarga Rosano.Di depan Bos Besar dan semua pimpinan cabang, dia memutar rekaman Jerry yang diam-diam mengejek Bos Besar sebagai "orang tua bodoh" dan menggelapkan sejumlah besar dana keluarga untuk membersihkan kekacauan yang dibuat Sonya.Tetapi laporan keuangan itulah yang menjadi pukulan fatal.Hal itu tidak hanya mengungkap ketidakmampuan Jerry dalam bisnis pencucian uang, tetapi juga mengungkapkan lubang hitam bes

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 7

    Pembaptisan putraku diadakan di kastil pribadi Keluarga Mikael di Pantai Sorela.Tempat itu penuh sesak dengan tamu. Bahkan para penasihat dari beberapa keluarga saingan pun mengirim perwakilan beserta hadiah.Apalagi, semua orang tahu bahwa "jenius keuangan" Keluarga Mikael telah kembali.Dan arus kas yang dikendalikannya cukup untuk mengguncang fondasi separuh dunia mafia.Tepat tengah hari, jamuan makan resmi dimulai.Aku menggendong putraku saat ayahku secara pribadi memasang jimat perlindungan tradisional di lehernya.Si kecil tidak menangis. Dia hanya melihat sekeliling penuh rasa ingin tahu dengan sepasang matanya yang sama persis seperti milikku.Ketika makanan disajikan, aku membawa putraku ke ruang santai pribadi di bagian belakang untuk memberinya susu.Terdengar dua kali ketukan di pintu, tidak terlalu keras dan juga tidak pelan. Aku langsung merapikan kerah gaun sutraku.Kemudian, bangkit untuk membukakan pintu.Hans Torama berdiri di ambang pintu dengan mengenakan setelan

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 6

    Sudut pandang Rana.Saat Jerry berbalik hendak meninggalkan rumah sakit, dia masih samar-samar mendengar kerabat pasien lain bergosip tentang dirinya."Astaga, padahal dia kelihatan seperti pria yang baik, tapi apa yang dia lakukan sungguh menjijikkan. Awas, kalau kau sampai berani memperlakukanku seperti itu ...."Perjalanan kembali ke rumah dipenuhi amarah yang membuat gelisah dan meledak-ledak.Dalam perjalanan selama dua puluh menit itu, dia mengumpat tiga atau empat kali dan membunyikan klakson tanpa alasan setidaknya lima atau enam kali.Jerry memacu kendaraannya kembali ke rumah Keluarga Rosano dan membuka pintu dengan keras.Kelopak bunga lili putih yang tak terhitung jumlahnya berjatuhan dari atas kepalanya seperti hujan, menyerupai pemakaman yang mengerikan.Hal itu disertai dengan tawa melengking Sonya dan anak buahnya.Wajah Jerry tampak muram saat mengamati ruang tamu.Dinding-dindingnya dipenuhi foto-foto wajahku yang sedang kesakitan karena melahirkan, sebuah pertunjukan

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 5

    Sudut pandang pihak ketiga."Apa katamu?" Jerry membeku, kunci di genggamannya berderit karena kepalannya mengeras. "Dia pergi? Siapa yang mengizinkannya pergi?""Dia bukan hanya pergi ...."Anak buahnya itu menelan ludah dengan susah payah, matanya juga terbelalak ketakutan. "Para perawat mengatakan dia pergi setengah jam yang lalu. Dia membawa bayinya, naik ke iring-iringan SUV hitam, dan mengurus kepulangannya sendiri. Kamar itu sudah kosong sejak saat itu!"Terdengar bunyi dentingan tajam.Kunci mobil terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.Wajah Sonya menegang.Dia melirik kunci mobil di lantai, lalu ke layar ponsel Jerry yang menyala. Tangan yang tersembunyi di balik manset sutranya mengepal erat.Karena tidak mau menyerah, dia menggunakan triknya yang biasa, mengulurkan tangan untuk menarik lengan baju Jerry."Jerry, bagaimana kalau kita tunggu dulu? Mungkin dia akan membalas pesan sebentar lagi. Kau tahu kan bagaimana perempuan, mereka suka ngambek seperti ini ....""Kau t

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 4

    Jerry yang baru saja sampai di pintu tiba-tiba berhenti.Dia berbalik dan menatapku seolah aku anak kecil yang sedang merajuk. "Apa tadi? Dapat balasan?"Dia berjalan dua langkah ke arahku, mengulurkan tangan untuk menyentuh pipiku. Aku tersentak menjauh darinya.Dia tidak marah karena tangannya masih menggantung di udara. Dia hanya terkekeh dan menyelipkannya ke dalam saku celana setelan mahalnya."Rana sayangku, kau sekarang sudah belajar bicara keras, ya? Sayang, jangan terlalu dramatis.""Apa anestesi masih membuat kepalamu kacau?"Rasa sakit di perutku begitu hebat hingga aku hampir tidak bisa berdiri, tetapi aku tetap menatap matanya. "Aku serius.""Jerry Rosano, kau akan berlutut dan menyesali apa yang telah kau lakukan hari ini."Mata kami bertemu. Melihat bahwa aku sama sekali tidak bercanda, Jerry tampak terkejut, tetapi dia segera menggelengkan kepala.Dia membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke telingaku, napasnya terasa hangat. "Oke. Kalau begitu, kau bisa tunjukkan padaku

  • Harga Sebuah Pengkhianatan dan Penghinaan   Bab 3

    Tanganku gemetar saat menunjuk komentar paling kejam di layar ponsel itu.Seseorang bahkan memasang tangkapan layar wajahku saat melahirkan di samping foto salah satu musuh keluarga beberapa saat sebelum mereka eksekusi."Jerry, aku ini istrimu, ibu dari anakmu. Kau membiarkan pria lain menggunakan momen paling penting buatku untuk jadi hiburan mereka, untuk bahan penghinaan, tapi kau pikir itu cuma lelucon?"Alis Jerry berkerut kesal saat dia mengambil ponsel Sonya.Dia dengan santai mengirim stiker [Sudah, jangan berlebihan] ke obrolan grup, lalu kembali menatapku."Cukup, Rana. Jangan terlalu lebay.""Kau sudah memberiku seorang pewaris. Aku bahagia, dan aku ingin berbagi kebahagiaan dengan anak buahku. Jika kau nggak suka, jangan lihat. Sekarang bersikap baiklah."Tubuhku langsung menjadi kaku, tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.Namun kemudian aku menyadari bahwa aku sebenarnya tidak pernah benar-benar mengenal pria itu.Kasih sayang yang kulihat selama ini hanyalah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status