Mag-log inTahun ini ulang tahun Endah dirayakan di luar.Nggak ada pesta besar, nggak undang banyak orang, cuma makan malam bertiga. Oh, tunggu, bukan hanya bertiga.Endah dan Lisa masing-masing undang seseorang. Yang pertama panggil Freya, yang kedua undang Sonya, tujuan keduanya sudah jelas, nggak perlu dijelaskan lagi.Saat lihat Sonya, alis Endah langsung terangkat tinggi. Ia kesal karena Lisa nggak beri tahu sebelumnya, selain itu dia juga nggak suka dengan sikap Sonya yang nggak tahu diri.Mengingat beberapa hari lalu Lisa masih bertengkar dengannya, dan hari ini baru sedikit melunak, ia pun nggak berani tegur dia sekarang. Takut anak itu merasa dipermalukan dan kembali ribut.Di hari baik seperti ini, Endah nggak ingin rusak suasananya. Jadi ia alihkan sasaran kemarahannya ke Sonya.“Sonya, terima kasih atas doanya. Niat baikmu sudah kuterima, tapi malam ini kami sedang makan sebagai keluarga. Rasanya kalau kamu ikut nggak terlalu cocok. Lain kali aku traktir kamu secara khusus, gimana?”
Toni memutar matanya yang bulat bening, lalu buru-buru sembunyi di pelukan Puspa, satu-satunya benteng besarnya.“Ibu, Ayah jadi gila! Seram sekali! Nenek bilang, penyakit gila bisa menular. Ayo cepat pergi.”Lihat Eric yang seperti tyrex dan anaknya yang seperti bunga putih yang kecil, Puspa nggak bisa tahan tawa. Ia langsung angkat anak itu ke dalam pelukannya.“Oke, ayo kita kabur sekarang.”Toni tunjukkan delapan giginya yang putih, wajah mungilnya penuh kemenangan, menatap Eric dengan provokasi terang-terangan.“Biar aku yang gendong.”Dengan beberapa langkah besar, Eric menyusul dan langsung angkat anak itu dari pelukan Puspa.“Sudah aku bilang dia itu terlalu berat. Gendong dia bisa bikin cedera.”“Ibu, aku nggak mau Ayah gendong aku! Dia mau pukul aku!”Toni jatuhkan tubuhnya seperti anak babi gemuk ke arah Puspa, berusaha kabur dari “cengkeraman iblis”.Eric pun tepuk pantat montoknya sekali.“Berisik lagi, nanti kubuang kamu di pinggir jalan. Aku dan Ibumu pergi makan berdua.
Mendadak, Eric langsung kelihatan nggak senang. Tatapannya penuh keluhan seolah simpan seribu duka.‘Kenapa dia pasang ekspresi seperti itu?’Keluhannya makin menjadi. “Kenapa kamu begitu kenal dia? Aku belum sebut nama siapa pun, gimana bisa kamu langsung tahu?”Puspa terdiam.Apa dia lupa? Dari dulu dia selalu panggil Indra dengan sebutan itu. Jadi jelas Puspa tahu, kan?Baca ekspresi matanya, Eric mendengus, “Sikapmu ini nggak benar.”“Nggak benar gimana?”Ini orang suka bicara seenaknya.Belum sempat Eric jawab, Toni yang sejak tadi mendongak pandangi keduanya malah buka mulut duluan.“Ibu, Ayah itu lagi cemburu tuh.”Eric pun menyeringai, acak rambut anak itu. “Kamu sok tahu sekali.”Toni menepis tangan besar yang ganggu dia itu, tirukan dengusannya.“Cemburu ya cemburu. Masih saja nggak mau ngaku. Nenek bilang, kalau suka seseorang, harus berani tunjukin. Ayah tuh nggak macho sama sekali.”Setelah puas sindir Eric, anak itu kembali mendongak, suaranya manis dan jernih,“Ibu, aku
Eric sama sekali nggak peduli dengan ancaman itu. Sepasang mata tajamnya penuh dengan rasa sinis.“Pak Indra anggap Kota Ubetu ini tempat kekuasaan pihak kalian? Jadi mau tindas pendatang baru?”Mata Indra kembali menyipit. Rasa permusuhan dari lelaki itu begitu jelas, namun ia nggak ngerti dari mana asalnya.Ia sangat yakin, ia nggak kenal Eric, bahkan nggak pernah ketemu dia sebelumnya.Indra berkata datar, “Dalam bisnis, ada aturan yang harus dijaga.”Sesaat setelah kata-kata itu terdengar, sudut bibir Eric terangkat. Wajahnya sombong, penuh tantangan, “Sayang sekali, aku ini orangnya paling suka bertindak semaunya sendiri. Jadi menurutmu aku harus gimana?”Nggak ada orang bodoh di ruangan itu, siapa pun pasti bisa rasakan tanda peperangan setebal itu. Pihak rekan bisnis mulai sadar ada yang nggak beres, kulit kepalanya serasa menegang. Tiba-tiba kue yang dia lagi makan jadi seperti sulit ditelan.Sekilas, kilatan dingin melintas di mata Indra, namun ekspresinya tetap tenang. Seola
Indra menatap lelaki di hadapannya, di wajah pria itu tersimpan sedikit aura liar yang sulit dijinakkan. Matanya pun menyipit tanpa sadar.“Pak Eric, silakan duduk.”Pihak rekan bisnis tersenyum ramah sambil persilakan Eric duduk.Meja bundar itu buat ketiga pihak duduk di tiga sisi, seolah bentuk hubungan tiga kekuatan yang saling mengawasi. Di mata Indra terlihat jelas sorot sedang meneliti.Begitu dengar nama Salindo Perkasa, sebuah dugaan muncul. Dan benar saja dugaan itu tepat. Pria ini ingin masuk ke proyek yang sama. Nggak, tepatnya ia ingin rebut proyek itu dari tangan Indra.Indra nggak ucapkan sepatah kata pun, hanya memandang rekan bisnisnya dengan tatapan tenang yang samar, sulit diterka apa ia marah, tersinggung, atau nggak peduli.Rekan bisnisnya menahan canggung di wajahnya lalu buru-buru jelaskan, “Pak Indra, Pak Eric juga ingin ikut investasi. Mereka bisa sediakan bahan baku, kurangi biaya awal, dan nanti bantu perluas jalur distribusi ke luar negeri.”Penghematan gand
Usai ucapkan kalimat itu, Jimmy tinggalkan mereka begitu saja dan melangkah lebar menuju rumah. Istrinya pun cepat-cepat nyusul di belakang.Winda Jihan berkata, “Sebenarnya kamu punya hubungan apa dengan mantan istri kakakmu? Kenapa kamu selalu belain dia?”Ini bukan pertama kalinya ia lihat Jimmy bersikap tajam ke Indra karena Puspa. Kalau hanya sekali dua kali mungkin bisa dimaklumi, tapi setiap kali bertemu, ia selalu menyindir dan ejek Indra karena hal itu.Tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya. Wajah Winda mengeras, tatapannya mengusut. “Jangan-jangan Puspa itu wanita yang kamu sembunyikan di hatimu selama ini?”Ia tahu, suaminya simpan sosok seorang wanita di hatinya, seseorang yang nggak pernah boleh ia sentuh apalagi ditanyakan.Jimmy mengernyit, menatapnya seperti menatap orang bodoh. “Kamu lagi halusinasi?”Winda nggak mau mundur. “Kalau bukan dia, terus siapa?”Di mata Jimmy berkilat rasa nggak sabar. “Sebelum nikah kan sudah kubilang, aku nggak peduli dengan masa lalumu,







