Share

Bab 682

Penulis: Rina Safitri
Lewat kaca spion, Eric lihat Wilson yang berdiri terpaku seperti batu menanti kekasihnya, Eric pun mendecak. “Kakak kelasmu itu ada masalah apa sih?”

Puspa menoleh. “Kenapa kamu bicara gitu?”

Eric mendengus. “Kalau nggak ada masalah, kenapa mandangin istri orang seperti itu? Wajahnya sih normal, tapi apa dia punya penyakit tersembunyi?”

Puspa melirik tajam. “Pantas aja anakmu nggak suka kamu. Mulutmu tuh nyebelin.”

“Kak Wilson itu teman baikku, jangan asal bicara.”

Eric manyun, tapi tetap yakin. Sesama pria, ia tahu betul arti tatapan Wilson tadi.

“Temanmu ya temanku. Kamu suruh aku bicara apa, aku nurut.”

...

Di depan pintu masuk sekolah TK.

Puspa jemput dan gandeng Toni dari tangan gurunya.

Si kecil langsung lompat ke pelukan Puspa seperti burung kecil kembali ke sarangnya. Dengan suara manis ia berkata, “Ibu, selama kita berpisah tadi, aku kangeeen banget sama ibu. Ibu kangen aku juga nggak?”

Puspa usap pipinya yang lembut. “Pasti kangen dong.”

Bersama sesuatu yang begitu murni, hat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 684

    Begitu kemungkinan itu terlintas, tubuh Indra langsung terasa nggak enak, darah yang tadi mendidih seketika membeku, dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.‘Gimana mungkin dia menikah dan lahirkan anak untuk pria lain? Gimana bisa!’...Kabar bahwa Puspa masih hidup mengguncang Keluarga Wijaya layaknya petir di siang bolong, terutama bagi Kakek Budi.Namun bukan kabar bahwa Puspa hidup yang paling buat dia nggak terima, melainkan kenyataan kalau wanita itu menikah dengan kepala Keluarga Gozali.Di matanya, Puspa hanyalah seekor binatang yang sayapnya sudah dipatahkan, nggak berdaya, hanya bisa pasrah diperlakukan semaunya.Siapa sangka, orang yang dulu ia anggap remeh kini berani “naik” di atas kepalanya!Ia sungguh terlalu remehkan kemampuan Puspa, ternyata wanita itu temukan “senjata” yang sangat baik untuk lindungi dirinya.“Sebelum jam empat kamu sudah tinggalkan kantor, kamu pergi ke mana?”Kakek Budi menatap tajam Indra yang sejak masuk nggak bicara sepatah kata pun.Indra menyesap

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 683

    Tatapan Indra berkelana di antara ketiga orang itu, sebelum akhirnya berhenti di Toni.Ia meneliti anak itu lekat-lekat, seolah ingin cari sesuatu yang familiar di wajahnya.Ia merasa ada bayangan Puspa pada alis dan mata si kecil, kepolosan manis itu, ia pernah lihat itu di Puspa.Kejar-kejaran kecil mereka segera berakhir ketika mobil itu menyatu dengan arus lalu lintas dan menghilang dari depan gerbang sekolah.Suara serak Indra terdengar di dalam mobil, “Gimana hasil penyelidikannya?”Cakra masih belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya. Ia memang tahu Puspa nggak mati, tetapi lihat “hantu” di tengah hari bolong tetap saja buat dia merinding.Mendadak dengar suara Indra, ia terlonjak, lalu buru-buru menata diri dan mulai laporkan hasil penyelidikannya satu per satu.“Eric sangat jaga kerahasiaan informasi pribadi Puspa. Riwayatnya selama bertahun-tahun hampir nggak terlacak. Tapi orang-orang di sekitar mereka bilang hubungan suami istri itu sangat harmonis. Mereka bilang Eric ad

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 682

    Lewat kaca spion, Eric lihat Wilson yang berdiri terpaku seperti batu menanti kekasihnya, Eric pun mendecak. “Kakak kelasmu itu ada masalah apa sih?”Puspa menoleh. “Kenapa kamu bicara gitu?”Eric mendengus. “Kalau nggak ada masalah, kenapa mandangin istri orang seperti itu? Wajahnya sih normal, tapi apa dia punya penyakit tersembunyi?”Puspa melirik tajam. “Pantas aja anakmu nggak suka kamu. Mulutmu tuh nyebelin.”“Kak Wilson itu teman baikku, jangan asal bicara.”Eric manyun, tapi tetap yakin. Sesama pria, ia tahu betul arti tatapan Wilson tadi.“Temanmu ya temanku. Kamu suruh aku bicara apa, aku nurut.”...Di depan pintu masuk sekolah TK.Puspa jemput dan gandeng Toni dari tangan gurunya.Si kecil langsung lompat ke pelukan Puspa seperti burung kecil kembali ke sarangnya. Dengan suara manis ia berkata, “Ibu, selama kita berpisah tadi, aku kangeeen banget sama ibu. Ibu kangen aku juga nggak?”Puspa usap pipinya yang lembut. “Pasti kangen dong.”Bersama sesuatu yang begitu murni, hat

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 681

    Ketemu lagi dengan teman lama buat waktu serasa cepat berlalu. Di antara orang-orang yang sudah dikenalnya, Puspa merasa seperti pulang ke rumah.Demi buat Guru Zean bahagia, Puspa kerahkan seluruh kemampuannya. Akhirnya, ia berhasil tenangkan kegelisahan lelaki tua itu.Karena seluruh perhatiannya tercurah ke gurunya, ia pun nggak sadar sudah lewatkan panggilan dari Eric.Saat akhirnya ia ambil HP-nya, ada belasan panggilan nggak terjawab terpampang di layar. Puspa sudah terbiasa dengan kebiasaan laki-laki itu yang suka telepon berkali-kali.Setelah pamitan dengan guru dan yang lain, ia keluar untuk hubungi balik.Deretan panggilan nggak terjawab itu juga sempat dilihat oleh Wilson. Bukan karena ingin intip privasi Puspa, tapi karena matanya nggak sengaja lihat.Lihat nama kontak yang tertera, sorot mata Wilson sedikit meredup.Di koridor, Puspa tekan tombol panggil. Belum sampai dering kedua, teleponnya sudah diangkat.Detik berikutnya, suara Eric terdengar di seberang, rendah dan se

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 680

    Hanya karena alasan itu, Puspa akhirnya pilih untuk menghilang.Wilson tanya, “Siapa?”Karena semuanya sudah terlanjur terbongkar, Puspa nggak lagi tutupi itu. Ia jawab, “Kakek Budi.”Dengar nama itu, ekspresi Wilson langsung mengeras.Di luar dugaan, namun tetap masuk akal. Keluarga Wijaya lakukan hal seperti ini nggak bikin dia kaget sama sekali.Dan Puspa juga nggak heran kenapa Kakek Budi lakukan hal seperti itu. Alasannya mudah ditebak.Pertama, Kakek Budi nggak ingin lihat Indra terus terikat ke dia dan ganggu ketenteraman Keluarga Wijaya.Kedua, Kakek Budi ingin singkirkan Puspa, karena mau tukar nyawa dengan nyawa.Jadi, buat dia “menghilang”, adalah cara paling efektif, paling sedikit kerugian. Nggak, bagi Keluarga Wijaya, nggak ada kerugian sedikit pun.Asalkan dirinya lenyap, semuanya kembali ke tempatnya. Jalan paling bersih dan paling mudah, jadi tentu saja, mereka ambil jalan itu.Puspa nggak ingin terus terjebak dalam masa lalu. Ia sendiri yang potong pembicaraan, “Sejak

  • Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan   Bab 679

    Kamar rawat inap.Guru Zean terbaring di atas ranjang, sementara perawat sedang pijat seluruh tubuhnya agar otot-ototnya nggak tambah mengecil.Sosok kakek yang dulu penuh semangat dan ingatan kuat itu, kini tampak kurus dan rapuh.“Guru Zean.”Suara Puspa pelan, seakan takut bikin dia kaget.Dengar suara itu, Guru Zean perlahan, dengan gerakan yang tampak sangat berat memiringkan kepalanya. Begitu tatapan mereka bertemu, mata yang awalnya keruh itu sempat terhenti, sebelum akhirnya menatap tanpa berkedip.Puspa lalu tersenyum lembut. “Guru, aku sudah pulang.”Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, ruangan kembali sunyi. Sunyi sampai suara detik jam dinding terdengar begitu jelas.Hanya setelah puluhan detik, barulah Guru Zean tunjukkan reaksi.Cahaya mulai beriak di matanya, kolam mati yang tadinya tenang, perlahan bangkit jadi gelombang yang mengguncang. Matanya membesar, emosinya ikut melonjak.“Uh … kamu … kamu .…”Bibir Guru Zean yang menipis itu bergetar, otot-otot wajahnya berk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status