Masuk“Sayang, aku pulang.”Figo masuk ke kamar dan langsung menghampiri Sora yang tengah duduk di meja rias.Sora membeku menatap pria itu melalui cermin di hadapannya. Perasaannya semakin tidak nyaman.Bagaimana jika Figo menyembunyikan sesuatu darinya?“Hai, selamat datang.” Sora tersenyum canggung lalu meraih eye cream, berusaha fokus pada aktifitasnya.“Aku merindukanmu,” bisik Figo seraya mengecup puncak kepala Sora lama, sembari menghidu aromanya dalam-dalam. “Rasanya lelahku langsung hilang setelah bertemu denganmu.”Sora seketika tertegun.Sikap pria itu masih sama. Lembut, hangat dan manis. Seharusnya Sora tidak perlu meragukannya, bukan?‘Sebenarnya sampai sekarang sikap Mas Dion masih baik, kok. Masih perhatian dan mesra juga.’Kata-kata perempuan di cafe siang tadi kembali terngiang. Sora menahan napas. Tidak mungkin Figo juga begitu, ‘kan?Manis dan mesra, tapi ternyata menyembunyikan sesuatu di belakangnya?“Kamu sudah makan?” tanya Sora basa-basi sembari melepaskan diri dari
“Suamiku selingkuh, Mbak.”Sora baru saja duduk di salah satu meja untuk menunggu matcha latte-nya selesai dibuat, saat tanpa sengaja mendengar suara perempuan tepat di meja belakangnya.“Serius?! Kok bisa?!” timpal perempuan lain dengan nada kaget. “Padahal Mas Dion ‘kan baik, Ta.”“Dia memang baik, Mbak. Tapi setelah aku hamil, Mas Dion jadi berubah.”Sora sebenarnya tidak ingin menguping. Dia berusaha fokus pada pesan-pesan yang masuk ke emailnya.Namun suara mereka terlalu jelas. Apalagi ketika ada kata ‘hamil’ yang disebut-sebut. Tanpa sadar Sora sudah penasaran dengan kelanjutan cerita itu.“Ta, masa sih Mas Dion selingkuh? Kok kayak nggak mungkin? Mas Dion bucin banget lho sama kamu.”“Itu dulu, Mbak. Waktu kami baru menikah. Dulu aku sempat berpikir aku wanita paling bahagia karena dicintai sama Mas Dion. Tapi ternyata aku salah.”Perempuan yang satunya lagi terdiam.“Sebenarnya sampai sekarang sikap Mas Dion masih baik, kok. Masih perhatian dan mesra juga. Tapi aku baru tahu
Setelah selesai menghabiskan harinya bersama Freya, Sora meminta sahabatnya itu untuk mengantarnya ke Wiranegara Group.Dia sengaja tidak memberi kabar kepada Figo bahwa dirinya akan datang.Sora ingin memberi kejutan.Tiba di Wiranegara Group saat langit mulai berubah gelap. Sora langsung mendatangi ruangan suaminya.Sora melihat Ryan baru saja keluar dari ruangan Figo. Lalu pria itu bergegas menuju pantry tanpa menyadari kehadiran Sora.Sora pun mendekati pintu. Kebetulan pintu itu tidak tertutup rapat sehingga ada sedikit celah.Sora akan mendorongnya. Namun, saat mendengar suara tawa Figo dengan seorang wanita di dalam sana, tangan Sora seketika berhenti bergerak.“Sepertinya aku datang di waktu yang gak tepat,” gumam Sora nyaris tak terdengar.Tetapi Sora penasaran, siapa yang telah membuat Figo tertawa selepas itu padahal selama ini Figo terkenal sebagai CEO yang jarang tertawa?Sora mencoba mengintip dari celah pintu. Dia melihat Figo sedang mengobrol dengan seorang wanita di s
Sora turun ke lantai satu menggunakan lift. Figo sengaja memasang lift di rumah mereka setelah kehamilan Sora semakin membesar. Pria itu melarang Sora menggunakan tangga.Keluar dari lift, Sora berhenti sejenak ketika ingat dia belum mengabari Figo. Lalu mengetik pesan untuk pria itu.Soraya Ruin: Sayang, kemarin aku sudah bilang ke kamu, hari ini aku pergi sama Freya.Seperti biasa, Figo tak pernah lama membalas pesannya. Pria itu membalasnya beberapa detik kemudian.Suamiku: Iya. Sudah berangkat?Soraya Ruin: Ini baru mau.Suamiku: Coba kirim foto kamu. Aku mau lihat baju apa yang kamu pakai.Sora tersenyum kecil membacanya. Lalu dia menghampiri cermin tinggi dan mengambil miror selfie. Mengirimkannya pada Figo.Detik berikutnya, Figo langsung menelepon.“Iya, Figo. Aku sudah kirim foto aku ke kamu,” ucap Sora sesaat setelah mengangkat panggilan tersebut, sembari berjalan menuju ruang tamu.“Ganti baju kamu.”“Hm? Kenapa harus ganti?” protes Sora tak setuju.“Sayang.” Figo terdengar
Sora mengusap baby bump-nya yang sudah membuncit. Tak terasa kehamilannya kini sudah memasuki usia 20 minggu.Dibandingkan dengan kehamilan Shopie, kehamilannya yang sekarang jauh lebih rewel.Rewel dalam artian emosi dan suasana hati yang tidak stabil.Sora menjadi lebih mudah merasa sedih, kesal, marah dan cemburu. Tetapi hal itu hanya dia rasakan untuk Figo.Sedikit saja Figo berbuat kesalahan, seperti lupa menaruh handuk basah ke gantungan dan malah menyimpannya di kasur, suasana hati Sora langsung memburuk.Akan tetapi Figo tetap sabar menghadapinya. Dan anehnya, pria itu selalu punya cara untuk mengembalikan suasana hati Sora kembali membaik.Entah itu dengan cara membelikannya es krim kesukaan Sora, sampai sesuatu yang besar seperti mengajaknya liburan ke luar kota atau luar negeri.“Sayang, sudah tahu mana stroller yang cocok untuk bayi kita?” Figo yang baru selesai menelepon, berdiri di samping Sora dan merangkul pinggangnya dengan posesif.Sora mengangguk. Tangannya yang sem
Shit!Figo mengetatkan rahangnya, merasakan seluruh urat sarafnya bereaksi akibat mulut panas istrinya. Dadanya naik turun dengan cepat.Ya Tuhan. Ya Tuhan. Figo suka sekali cara Sora memuaskannya. Tubuh Figo terasa panas dingin. Jantungnya berdebar hebat.Figo menunduk menatap kepala Sora yang bergerak naik turun di antara pangkal pahanya. Terlihat sekali wanita itu berusaha memasukan seluruh milik Figo ke dalam mulutnya, tetapi Sora tahu itu mustahil.“Ya. Terus, Sayang,” bisik Figo dengan napas terengah-engah. Jemarinya mengusap kepala Sora lembut, membantunya bergerak. “Benar. Seperti itu, Sora. Ya Tuhan. Kamu benar-benar luar biasa. Damn! Aku nggak bisa menahan diri. Sora. Sora.”Dada Figo terasa nyaris meledak ketika gerakan Sora semakin cepat. Wanita ini membuatnya gila. Benar-benar gila. Figo tak bisa menahan diri. Gairahnya semakin bergejolak dan dia ingin segera berada di dalam diri Sora.Figo menarik kepala
Sora mengerutkan kening, merasa bingung kenapa Figo tiba-tiba membahas kehidupan pribadinya. Padahal pria itu paling anti terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Sora.Sora lalu menatap Figo dingin. “Kalau kamu datang ke sini cuma untuk mengawasi siapa yang berdiri di dekatku,” ujarnya tena
Sora melangkah masuk ke ruangan kerjanya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat ruang kosong di depan meja.Kedatangan Figo kemarin ke ruangannya masih menyisakan sesak di dalam dada Sora.Deringan ponsel yang berbunyi nyaring mengeluarkan Sora dari keterdiamannya.Seulas senyum kecil terl
“Pertimbangkan permintaanku baik-baik. Ini permintaan pertama sekaligus terakhir dariku.”Figo tidak langsung memberi tanggapan pada permintaan Sora. Dia hanya menatap wanita itu dengan dingin.“Kalau kamu lupa, aku nggak pernah meminta anak itu,” ucap Figo beberapa detik kemudian. Rahangnya berkedu
‘Ma, Papa nggak sayang aku, ya?’‘Kenapa, kok, Shopie nanyanya gitu? Papa sayang, kok, sama Shopie.’‘Tapi kenapa Papa nggak pernah jemput aku sekolah? Papa juga nggak pernah menginap di rumah kita.’Sora memejamkan mata ketika percakapannya dengan Shopie tadi pagi kembali terngiang di telinganya.







