MasukKeadaan Leon memburuk dengan cepat.Seminggu setelah kunjungan ke museum, aku melihat perubahan yang tidak bisa aku abaikan. Leon lebih sering memegang dadanya, napasnya lebih pendek, dan kulitnya semakin pucat. Dia masih berusaha tersenyum, masih berusaha menjadi ayah yang sempurna untuk Ethan, tapi aku bisa melihat dia berjuang.Kamis malam, aku terbangun oleh suara batuk yang keras. Leon duduk di tepi tempat tidur, tangannya menekan dadanya, wajahnya basah oleh keringat. Lampu kamar masih redup, tapi aku bisa melihat betapa buruk kondisinya."Leon!" aku duduk dengan cepat, tanganku meraih bahunya. "Kau tidak baik-baik saja. Aku akan menelepon ambulans.""Tidak, aku hanya...""KAU TIDAK BAIK-BAIK SAJA!" teriakku, panik. "Aku tidak peduli apa kata dokter atau siapa pun. Aku tidak akan membiarkanmu mati di sini!"Aku meraih ponselku, jari-jariku gemetar saat menekan nomor darurat. Leon mencoba meraih tanganku, tapi tangannya lemas, dan dia jatuh kembali ke tempat tidur, matanya terpej
Hari minggu tiba.Aku turun dari tempat tidur, mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda yang Leon belikan untukku beberapa hari yang lalu. Aku tidak pernah memintanya, tapi dia membelikannya entah bagaimana, dan ketika aku melihatnya tergantung di lemari. Gaun itu sederhana, tidak mewah, tapi indah untuk bentuk tubuhku yang sekarang.Di ruang makan, Ethan sudah duduk di kursinya, memakan sereal dengan lahap. Leon duduk di sampingnya, menatap Ethan dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya sejak hasil tes DNA keluar. Aku bisa melihat betapa Leon berusaha menjadi ayah yang baik, hadir di setiap momen, menikmati setiap detik bersama anaknya."Mom!" teriak Ethan begitu melihatku. "Daddy bilang kita pergi ke museum hari ini!""Apa kau senang?""Sangat senang! Aku mau lihat dinosaurus!"Leon tertawa, suaranya hangat. "Aku janji, hari ini kita lihat dinosaurus sepuasnya."Kami sarapan bersama. Ethan berbicara tanpa henti tentang dinosaurus, tentang tulang-tulang raksasa yang d
Aku menatap Leon, matanya masih merah, wajahnya masih basah oleh air mata. Kata-katanya tentang Clara terngiang di kepalaku—tentang bagaimana Clara memilih Richard, tentang bagaimana Leon merasa dikhianati oleh putri sambungnya sendiri. Aku bisa melihat rasa sakit di balik matanya yang tenang, luka yang dia sembunyikan di balik ketegasan dan kekuatan.Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Sesuatu yang lebih dalam dari sekedar ketakutan akan pernikahan. Sesuatu yang selama ini aku pendam, yang aku kubur begitu dalam di bawah semua rasa sakit dan trauma."Apa artinya pernikahan bagimu, Leon?" tanyaku.Leon menatapku, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu."Apa maksudmu?""Aku serius. Apa artinya pernikahan? Bagiku, pernikahan hanyalah jerat seumur hidup. Sebuah sangkar yang aku masuki dengan sukarela, tapi begitu pintunya tertutup, aku tidak bisa keluar lagi. Aku kehilangan kebebasanku. Aku kehilangan diriku sendiri."Leon membuka mulutnya, tapi aku terus bicara. Aku tidak bis
Hari-hari berikutnya terasa seperti penantian yang tak berujung. Aku menghabiskan waktu di mansion bersama Ethan, mencoba menjalani rutinitas normal meskipun dadaku terasa sesak setiap kali ponsel berdering. Leon berusaha tetap tenang di depanku, tapi aku bisa melihat kegelisahan di matanya, cara jari-jarinya mengetuk meja tanpa henti, cara dia menatap ponselnya setiap beberapa menit.Aku juga gelisah. Bukan hanya karena hasil tes DNA, tapi karena semua yang terjadi dengan Clara, dengan Richard, dengan mimpi-mimpi buruk yang masih sesekali datang di malam hari. Leon sering terbangun di kursinya dan berjalan ke tempat tidur untuk memastikan aku masih bernapas. Aku berpura-pura tidur, tapi aku merasakan sentuhan tangannya di keningku, lembut dan penuh perhatian.Pada hari keempat, surat itu tiba.Kami sedang sarapan di ruang makan besar, aku, Leon, dan Ethan yang asyik memainkan dinosaurus plastiknya di atas meja ketika seorang pelayan masuk dengan amplop coklat di tangannya. "Untuk Tu
Aku meminum air itu sedikit demi sedikit, tenggorokanku terasa seperti terbakar. Leon duduk di sampingku, tangannya masih menggenggam tanganku, ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan gerakan melingkar yang menenangkan."Aku bisa tidur di sofa. Kau tidak perlu...""Kau tidak akan tidur di sofa. Kau akan tidur di sini, di tempat tidurku. Aku akan tidur di sofa.""Leon...""Aku tidak akan membantah, Ana. Ini sudah keputusan."Aku menatapnya, mencari celah untuk membantah, tapi tidak ada. Leon sudah kembali menjadi dirinya yang keras kepala, yang tegas, yang tidak bisa diganggu gugat. Aku menghela napas, menyerah.Leon membantuku berbaring lagi, menarik selimut, dan menepuk kepalaku sekali lagi sebelum dia berjalan ke kursi di dekat jendela. Aku menatap punggungnya yang lebar, bahunya yang tegang, dan aku bertanya-tanya apa yang ada di pikirannya. Tapi kelelahan akhirnya mengalahkan rasa ingin tahuku, dan aku tertidur.Aku terbangun dengan suara-suara dari luar kamar.Suara Leon da
Aku menatap Leon, matanya lurus ke depan, tangan mencengkeram setir dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ethan tertidur di kursi belakang, tubuh kecilnya terbungkus jaket Leon yang terlalu besar untuknya. Aku masih gemetar. Entah karena dingin, atau karena apa yang baru saja terjadi. Mungkin karena keduanya. "Leon..." suaraku serak. "Jangan bicara dulu," potongnya, masih tanpa menoleh. "Aku sedang berusaha untuk tidak berteriak." Aku menutup mulut. Kami melaju di jalanan malam yang sunyi. Mansion itu muncul di kejauhan. Begitu masuk ke gerbang besi besar, Clara sudah berdiri di teras, lengannya bersilang, wajahnya penuh tanya dan kekhawatiran. Aku merasakan perutku mulas. Aku sudah tahu bagaimana ini akan berakhir. Leon turun lebih dulu, membuka pintu belakang untuk menggendong Ethan yang masih tidur. Aku menyusul dengan langkah berat. Clara mendekat, matanya menatap Leon, lalu ke arahku. "Apa yang terjadi?" tanya Clara. Leon menghela napas. "Nanti aku jelaskan
Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion
Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.







