MasukLeon meminta maaf untuk kedua kalinya. Aku masih berdiri membelakanginya, punggungku tegang, tanganku terkepal erat di sisi tubuh. Air mata masih mengalir di pipiku, aku tidak menyekanya. Biar dia lihat apa yang sudah dia lakukan. Tapi kemudian dia tertawa seperti dia baru saja mengatakan sesuatu yang lucu. "Astaga," katanya dari belakangku, suaranya penuh sindiran. "Aku minta maaf, dan kau bahkan tidak bisa menatapku? Apa aku harus berlutut dulu?" Aku berbalik. Leon berdiri dengan tangan di saku celana, satu alis terangkat, sudut bibirnya menyunggingkan senyum miring yang membuatku ingin menamparnya. Dia tidak terlihat menyesal dan justru terlihat terhibur. "Aku minta maaf," ulangnya, tapi kali dengan nada mengejek. "Itu yang kau harapkan, kan? Aku merendahkan diri di depanmu. Aku mengaku salah. Aku bilang 'maaf, Ana, aku keterlaluan. Aku tidak seharusnya meninggalkanmu di pinggir jalan'." Dia menirukan suara cengeng yang jelas-jelas bukan suaranya. Matanya berkilat, buk
Ponselku berdering di atas meja samping sofa. Layar menampilkan nama Leon. Aku meraihnya dengan tangan gemetar, menekan tombol hijau."Halo?""Di mana kau?" Suara Leon di seberang sana dingin, tanpa basa-basi.Aku menoleh ke arah Adrian yang sedang duduk di kursi dekat jendela. Dia menatapku dengan mata bertanya."Aku bersama Adrian," jawabku."Pulang sekarang.""Malam sudah larut, besok pagi aku pulang.""Pulang sekarang. Aku tidak suka mengulang perintah.""Kau yang menurunkanku di pinggir jalan. Kau yang meninggalkanku. Sekarang kau suruh aku pulang?""Aku bilang pulang, Ana. Jangan buat aku marah.""Tapi aku bersama Adrian...""Aku tidak peduli kau bersama siapa. Aku suamimu dan kau harus pulang ke rumah, bukan ke rumah orang lain."Aku terdiam. Leon memang suamiku di atas kertas. Tapi apakah dia pernah bersikap seperti suami? Apakah dia pernah memperlakukanku seperti istri?"Aku tidak mau pulang malam ini. Aku mau istirahat di sini.""Aku tidak memberi kau pilihan, Ana."Telepon
Aku masih menyesap susu hangat ketika Adrian mengecup keningku tapi kemudian dia turun ke bibirku.Awalnya hanya tempelan. Bibirnya yang hangat menekan bibirku yang masih sedikit dingin karena angin malam tadi.Aku membiarkannya.Adrian menarik sedikit, menatap mataku sebentar. Matanya yang cokelat tua itu gelap, bukan gelap karena marah, tapi gelap karena hasrat. Aku belum pernah melihat ekspresi seperti ini di wajahnya yang biasanya ceria."Aku kangen menciummu, Sayang," bisiknya. Suaranya serak, berbeda dari biasanya.Lalu dia menciumku lagi dan kali ini berbeda.Bibirnya tidak lagi hanya menempel. Dia bergerak perlahan, penuh perhitungan, seperti dia sedang memainkan alat musik yang paling disukainya. Bibir bawahku dia hisap lembut, membuatku menarik napas tajam lalu dia melepaskannya, menggantinya dengan bibir atasku, mengulumnya seperti sedang menikmati permen yang paling lezat."Adrian..." namaku keluar setengah bisikan di sela-sela ciumannya.Dia tidak menjawab. Lidahnya kelua
Setelah semua tamu pulang, Leon masih duduk sebentar. Dia menyelesaikan sisa wine di gelasnya, lalu berdiri tanpa menatapku."Kita pulang."Aku mengikutinya ke luar restoran, ke tempat parkir bawah tanah yang gelap dan dingin. Leon membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri, tidak untukku. Aku masuk dari sisi penumpang seperti biasa.Mobil melaju meninggalkan gedung pencakar langit itu.Pembantu. Aku disuruh datang hanya untuk melayani tamu.Leon tidak bicara. Tangannya yang tidak terluka memegang setir dengan erat. Wajahnya fokus ke jalan, tapi aku bisa melihat kerutan tipis di dahinya, tanda bahwa pikirannya sedang tidak tenang.Mobil berhenti di pinggir jalan.Aku menatap Leon dengan bingung. "Kenapa kita berhenti di sini?""Aku ada urusan penting. Kau turun di sini."Aku melihat sekeliling. Kami berada di sebuah jalan sepi di pinggiran kota. Tidak ada taksi. Tidak ada halte bus dan hanya ada gedung-gedung perkantoran yang sudah gelap karena malam sudah tiba."Turun di sini? Sendiri
Aku duduk di bangku taman ketika bayangan tinggi menjulang di depanku.“Kamu di sini.”Aku mendongak. Leon berdiri dengan jas hitam rapi, dasi abu-abu melingkar sempurna di lehernya. Wajahnya datar seperti biasa, tapi ada sedikit kerutan di dahinya, mungkin karena dia harus mencari aku ke seluruh halaman rumahnya.“Ada apa?” tanyaku.“Ganti baju. Pakai yang bagus.”Aku mengerutkan dahi. “Mau ke mana?”“Aku ada pertemuan dengan klien di restoran. Kamu ikut.”Aku terkejut. “Aku? Ikut? Tapi aku tidak tahu apa-apa tentang bisnis kamu...”“Kamu tidak perlu tahu. Kamu hanya perlu duduk diam dan tersenyum. Sesekali menuangkan teh atau kopi seperti dulu saat kamu masih jadi pembantu.”Seperti dulu, seperti pembantu.“Baik, aku ganti baju dulu.”Aku memilih gaun yang paling bagus di lemari, hadiah dari Sebastian, gaun berwarna biru muda dengan bahan sutra yang lembut. Gaun ini longgar di perut, tidak memperlihatkan lipatan-lipatan lemak yang aku benci. Aku menyisir rambut lurusku, mengikatnya
Aku memejamkan mata.Delapan belas ribu euro.Semua ini dimulai dari hutang delapan belas ribu euro. Aku menerima pernikahan ini karena hutang ibuku. Aku menerima open marriage karena hutang ibuku. Aku menerima luka jahitan delapan benang, darah yang mengalir di antara pahaku, dan tiga pria yang bergantian memasuki tubuhku, semua karena hutang ibuku.Dan sekarang? Sekarang aku harus memikirkan apakah aku mau hamil. Hamil anak dari pria yang tidak mencintaiku. Hamil dalam pernikahan yang hanya kontrak. Hamil untuk mempertahankan aset keluarga yang tidak ada hubungannya denganku.Aku terjebak.Aku sudah terlanjur masuk terlalu dalam.Tapi apa lagi yang bisa aku lakukan? Kabur? Ke mana? Aku tidak punya uang. Aku tidak punya keluarga. Aku tidak punya teman. Aku hanya punya mereka, Leon, Adrian, Sebastian. Tiga pria yang entah mencintaiku atau hanya menginginkan tubuhku.Aku menggigit bibir. Air mata mengalir diam-diam di pipiku.Leon tidak melihatnya atau dia pura-pura tidak melihat.Aku







