Mag-log inMatahari sore menyinari ruang kantor Leon di lantai tertinggi gedung Harrington Tower. Pemandangan London terbentang luas di balik kaca jendela besar, dengan Sungai Thames yang berkilauan dan deretan gedung pencakar langit yang menjulang.Di dalam ruangan yang mewah itu, tiga pria duduk di sekitar meja konferensi kayu mahoni, dikelilingi oleh tumpukan dokumen dan layar komputer yang menampilkan grafik keuangan.Leon duduk di kursi utama, punggungnya bersandar, matanya menatap layar laptop dengan konsentrasi. Wajahnya yang dulu pucat dan lelah kini terlihat lebih sehat, meskipun garis-garis halus di sudut matanya menunjukkan usianya yang mulai menua. Dia mengenakan jas abu-abu gelap yang rapi, rambutnya yang mulai beruban di bagian pelipis disisir ke belakang dengan sempurna. Meskipun usianya sudah lima puluh lebih dan kesehatannya tidak lagi sekuat dulu, Leon masih memiliki aura ketegasan yang membuat orang di sekitarnya hormat.Di sisi kanannya, Adrian duduk dengan santai, kakinya d
Setahun telah berlalu sejak Ethan pergi.Aku tidak bisa mengatakan bahwa waktu menyembuhkan semua luka, karena itu tidak benar. Luka itu masih ada, masih terasa setiap hari, setiap malam, setiap kali aku menutup mata dan mengingat senyumnya. Tapi aku telah belajar untuk hidup dengan rasa sakit itu, untuk membawanya sebagai bagian dari diriku, bukan sebagai beban yang menghancurkanku.Leon, Adrian, dan Sebastian telah menjadi penopangku selama setahun terakhir. Mereka tidak pernah meninggalkanku, bahkan ketika aku ingin menghilang dari dunia. Mereka ada di sampingku saat aku menangis, saat aku marah, saat aku diam berhari-hari tanpa bicara. Mereka mengerti bahwa kesedihan tidak memiliki jadwal, bahwa kadang aku baik-baik saja di pagi hari dan hancur di sore hari.Malam ini, kami makan malam bersama di mansion. Adrian memasak-sesuatu yang jarang dia lakukan, tapi dia bersikeras ingin mencoba resep baru yang dia pelajari dari koki Italia. Sebastian membawa anggur mahal dari koleksi priba
Persidangan akhirnya tiba.Hari itu langit London mendung, seperti ikut berduka atas semua yang telah terjadi. Aku dan Leon datang ke gedung pengadilan dengan mobil yang dikemudikan Sebastian. Adrian sudah menunggu di sana, berdiri di dekat pintu masuk dengan wajah tegang. Hari ini adalah hari di mana keadilan akan ditegakkan. Hari ini adalah hari di mana Clara dan Richard akan menghadapi konsekuensi dari perbuatan mereka.Aku mengenakan gaun hitam sederhana, tidak ada perhiasan, tidak ada riasan. Leon di sampingku juga berpakaian serba hitam, wajahnya pucat tapi matanya tajam, penuh tekad. Dia menggenggam tanganku erat saat kami berjalan masuk ke ruang sidang.Ruangan itu penuh. Wartawan duduk di deretan kursi belakang, kamera mereka siap merekam setiap momen. Hakim duduk di kursi tinggi di depan, wajahnya serius dan penuh wibawa. Juri duduk di samping, dengan ekspresi yang sulit dibaca. Dan di kursi terdakwa, Clara dan Richard duduk dengan wajah pucat, tangan mereka diborgol di pang
Aku menghabiskan tiga hari di rumah sakit. Dokter mengatakan aku mengalami dehidrasi parah, kelelahan ekstrem, dan trauma emosional yang dalam. Mereka merekomendasikan agar aku menjalani terapi, tapi aku menolak. Aku tidak butuh orang asing untuk mendengarkan ceritaku. Aku butuh anakku kembali. Tapi karena itu tidak mungkin, aku hanya butuh untuk terus bergerak maju, meskipun setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.Leon menjemputku dari rumah sakit. Adrian dan Sebastian mengikuti di belakang dengan mobil mereka sendiri. Perjalanan pulang ke mansion terasa sunyi, hanya suara mesin mobil dan napas kami yang bergantian. Leon menggenggam tanganku sepanjang jalan, tidak pernah melepaskannya, seolah-olah dia takut aku akan menghilang jika dia melepaskan.Saat kami tiba di mansion, semuanya terasa berbeda. Rumah yang dulu terasa hangat dan penuh kehidupan, sekarang terasa seperti museum yang dingin dan sunyi. Setiap sudut mengingatkanku pada Ethan, pada tawanya, pada lan
Leon diizinkan pulang dari rumah sakit setelah seminggu menjalani perawatan intensif. Dokter memperingatkannya untuk tidak stres, tidak melakukan aktivitas berat, dan menjaga pola makan. Tapi aku tahu, begitu Leon mendengar nama Clara dan Richard, semua peringatan dokter akan terlupakan. Amarahnya terlalu besar, luka di hatinya terlalu dalam.Aku menjemputnya dari rumah sakit dengan mobil yang Adrian pinjamkan. Sebastian duduk di kursi penumpang depan, sementara Adrian mengikuti di belakang dengan mobilnya sendiri. Leon berjalan keluar dari pintu rumah sakit dengan langkah masih agak gontai, tapi matanya sudah tajam, penuh tekad. Dia memakai jaket hitam yang membuatnya terlihat lebih kurus dari biasanya, tapi aura ketegasannya masih sama."Apa kau yakin kau cukup kuat untuk ini?" tanyaku, tanganku menggenggam sikunya untuk menopang."Aku tidak punya pilihan," jawabnya, suaranya datar tapi tegas. "Aku tidak bisa diam sementara mereka menghancurkan segalanya."Kami naik ke mobil. Leon d
Setiap sore, tanpa pernah absen, aku dan Leon pergi ke makam Ethan.Kami duduk di tanah hijau di samping nisan marmer putih yang bersih dan sederhana. Di atasnya terukir nama Ethan Harrington, dengan tanggal lahir dan tanggal kematian yang jaraknya hanya lima tahun. Terlalu pendek. Terlalu singkat. Seumur hidup yang seharusnya masih panjang, tapi dipotong oleh tangan-tangan kejam.Aku membawa mainan baru setiap kali datang. Kadang dinosaurus plastik lain, karena Ethan sangat menyukainya. Kadang mobil-mobilan kecil, atau buku cerita bergambar yang dulu selalu dia minta untuk aku bacakan sebelum tidur. Hari ini, aku membawa dinosaurus favoritnya-yang sudah usang, dengan cat mengelupas di bagian ekor, tapi dia selalu memeluknya saat tidur.Aku meletakkan dinosaurus itu di pangkuanku, lalu mengelus permukaan nisan yang dingin."Halo, Sayang," bisikku, suaraku serak. "Mom datang. Mom bawa temanmu. Kau pasti rindu padanya, kan?"Angin sore berhembus lembut, membawa aroma rumput dan bunga-bu
Dua hari berlalu. Aku berusaha menghindari Tuan Leon dan tamu-tamunya. Aku bekerja lebih keras dari biasanya. Aku membersihkan setiap sudut mansion, mencuci pakaian Clara hingga wangi, bahkan menyapu halaman yang tidak pernah aku sentuh sebelumnya. Aku berharap dengan bekerja keras, semuanya akan
Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion







