ANMELDENAna menatap Leon dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya bergerak cepat, mencoba mencerna semua yang baru saja didengarnya. Leon pergi. Leon akan memulai hidup baru di negara lain, tanpanya."Apa kamu bercanda?"Leon menggelengkan kepalanya, matanya tak pernah lepas dari jalan di depan. "Aku tidak pernah bercanda tentang hal serius seperti ini, Ana. Dokter sudah memperingatkanku. Kesehatanku tidak akan pernah pulih sepenuhnya. Jika aku terus bekerja dan stres seperti ini, aku bisa mati kapan saja. Aku tidak ingin mati di sini, di London, dengan semua kenangan buruk ini."Ana terdiam. Dia merasakan dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menghancurkannya dari dalam. "Kamu hanya akan pergi? Tanpa membawaku?"Leon menghela napas panjang, mobilnya berbelok ke jalan yang lebih sepi. Dia akhirnya menepi ke pinggir jalan, mematikan mesin, dan menoleh ke Ana dengan tatapan lembut tapi penuh kesedihan."Aku tidak bisa membawamu. Kamu punya pekerjaan yang baru saja kamu mulai, dan kamu bahag
Beberapa minggu telah berlalu sejak Ana mulai bekerja di Hotel Harmony. Leon sengaja tidak mengunjungi hotel tersebut, meskipun dia adalah pemiliknya. Dia ingin memberi Ana ruang untuk menikmati pekerjaan barunya tanpa merasa tertekan oleh kehadirannya. Namun diam-diam, dia selalu meminta laporan dari manajer hotel tentang kinerja Ana. Setiap laporan selalu positif—Ana adalah resepsionis yang ramah, efisien, disukai oleh semua tamu.Leon merasa bangga, tetapi di saat yang sama, ada kecemasan mengganggu yang terus menghantui pikirannya. Ana menjadi semakin mandiri, semakin percaya diri, dan semakin cantik. Dia tidak lagi membutuhkan Leon seperti dulu. Dan Leon tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk.Pada Jumat sore, Leon memutuskan untuk pulang lebih awal dari kantor. Dia sedang berjalan menuju mobilnya ketika dia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.Di depan gedung kantornya, Ana berdiri di trotoar. Dia mengenakan gaun bunga yang segar, rambutnya terurai indah, dan dia se
"Apakah kamu sudah bicara dengannya tentang ini?" tanya Sebastian.Leon menggelengkan kepalanya. "Tidak, dan aku tidak akan melakukannya. Aku tidak ingin membuatnya merasa tertekan atau bersalah. Jika dia memilih pria lain, aku akan melepaskannya dengan senang hati. Asalkan dia bahagia, itu sudah cukup."Sebastian menatap Leon. "Kamu benar-benar mencintainya, Leon.""Lebih dari apapun di dunia ini. Karena itulah aku rela melepaskannya."Adrian menghela napas panjang. "Aku tidak bisa membayangkan pria lain bisa membuat Ana sebahagia dirimu.""Kamu terlalu baik padaku, tapi kenyataannya, Ana mungkin sudah memiliki seseorang. Aku melihat bagaimana dia mulai merawat dirinya sendiri, bagaimana dia mulai lebih sering tersenyum. Mungkin dia sudah menemukan kebahagiaan di luar sana," kata Leon.Di luar ruangan, suara langkah kaki mulai mendekat. Ketiganya menoleh ke arah pintu, dan saat pintu terbuka, semua percakapan langsung terhenti.Ana berdiri di ambang pintu, membawa dua kotak pizza bes
Matahari sore menyinari ruang kantor Leon di lantai tertinggi gedung Harrington Tower. Pemandangan London terbentang luas di balik kaca jendela besar, dengan Sungai Thames yang berkilauan dan deretan gedung pencakar langit yang menjulang.Di dalam ruangan yang mewah itu, tiga pria duduk di sekitar meja konferensi kayu mahoni, dikelilingi oleh tumpukan dokumen dan layar komputer yang menampilkan grafik keuangan.Leon duduk di kursi utama, punggungnya bersandar, matanya menatap layar laptop dengan konsentrasi. Wajahnya yang dulu pucat dan lelah kini terlihat lebih sehat, meskipun garis-garis halus di sudut matanya menunjukkan usianya yang mulai menua. Dia mengenakan jas abu-abu gelap yang rapi, rambutnya yang mulai beruban di bagian pelipis disisir ke belakang dengan sempurna. Meskipun usianya sudah lima puluh lebih dan kesehatannya tidak lagi sekuat dulu, Leon masih memiliki aura ketegasan yang membuat orang di sekitarnya hormat.Di sisi kanannya, Adrian duduk dengan santai, kakinya d
Setahun telah berlalu sejak Ethan pergi.Aku tidak bisa mengatakan bahwa waktu menyembuhkan semua luka, karena itu tidak benar. Luka itu masih ada, masih terasa setiap hari, setiap malam, setiap kali aku menutup mata dan mengingat senyumnya. Tapi aku telah belajar untuk hidup dengan rasa sakit itu, untuk membawanya sebagai bagian dari diriku, bukan sebagai beban yang menghancurkanku.Leon, Adrian, dan Sebastian telah menjadi penopangku selama setahun terakhir. Mereka tidak pernah meninggalkanku, bahkan ketika aku ingin menghilang dari dunia. Mereka ada di sampingku saat aku menangis, saat aku marah, saat aku diam berhari-hari tanpa bicara. Mereka mengerti bahwa kesedihan tidak memiliki jadwal, bahwa kadang aku baik-baik saja di pagi hari dan hancur di sore hari.Malam ini, kami makan malam bersama di mansion. Adrian memasak-sesuatu yang jarang dia lakukan, tapi dia bersikeras ingin mencoba resep baru yang dia pelajari dari koki Italia. Sebastian membawa anggur mahal dari koleksi priba
Persidangan akhirnya tiba.Hari itu langit London mendung, seperti ikut berduka atas semua yang telah terjadi. Aku dan Leon datang ke gedung pengadilan dengan mobil yang dikemudikan Sebastian. Adrian sudah menunggu di sana, berdiri di dekat pintu masuk dengan wajah tegang. Hari ini adalah hari di mana keadilan akan ditegakkan. Hari ini adalah hari di mana Clara dan Richard akan menghadapi konsekuensi dari perbuatan mereka.Aku mengenakan gaun hitam sederhana, tidak ada perhiasan, tidak ada riasan. Leon di sampingku juga berpakaian serba hitam, wajahnya pucat tapi matanya tajam, penuh tekad. Dia menggenggam tanganku erat saat kami berjalan masuk ke ruang sidang.Ruangan itu penuh. Wartawan duduk di deretan kursi belakang, kamera mereka siap merekam setiap momen. Hakim duduk di kursi tinggi di depan, wajahnya serius dan penuh wibawa. Juri duduk di samping, dengan ekspresi yang sulit dibaca. Dan di kursi terdakwa, Clara dan Richard duduk dengan wajah pucat, tangan mereka diborgol di pang
Aku menghentikan langkah.Tubuhku kaku seperti patung. Kata-kata Tuan Leon menusuk dari belakang, tajam dan dingin, seperti ujung pisau yang ditempelkan di leher."Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu?"Aku tidak berani menoleh. Mataku terasa panas. Air mata menggenang di pelupuk
Barang miliknya.Aku bukan barang dan aku bukan milik siapapun.Tuan Leon melepaskan tangannya dari perutku perlahan, kemudian dia berjalan kembali ke meja billiard, mengambil stik yang tadi diletakkannya, dan melanjutkan permainan seolah tidak ada yang terjadi.Seolah dia tidak baru saja menyelama
Aku menghela napas panjang, perintah Clara adalah perintah. Jika tidak datang, dia akan marah. Aku sudah hafal betapa buruknya amarah itu, benda-benda bisa terbang, kata-katanyabisa lebih tajam dari pisau, dan aku bisa diusir dari rumah besar ini.Jadi aku berjalan menyusuri koridor panjang mansion
Pov ANA.Aku duduk di bangku kayu gereja ini. Tanganku menggenggam erat ujung rok hingga kusut. Pacarku, Max berdiri dengan jas hitamnya yang rapi. Di sampingnya Sasha, sahabatku sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini dua tahun lalu. Perut Sasha sudah membuncit di balik gaun putihnya.







