LOGINHujan turun dengan deras sejak sore, membungkus rumah mewah itu dalam kabut abu-abu yang lembab. Suara rintiknya yang menghantam kaca jendela terdengar seperti ribuan jari kecil yang mencoba mengetuk masuk. Di dalam rumah, keheningan terasa lebih berat daripada biasanya, seolah udara telah berubah menjadi cairan kental yang sulit untuk dihirup.Rama sedang berada di ruang kerjanya, tenggelam dalam panggilan telepon dengan pengacara dan detektif. Manisha, yang merasa bosan sekaligus tertekan di dalam kamar, memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Ia hanya ingin mengambil segelas air, namun langkah kakinya justru membawanya berhenti di depan pintu ruang kerja Rama yang sedikit terbuka.Manisha tidak berniat menguping, tetapi ia bisa mendengar nada suara Rama yang rendah dan penuh tekanan."Aku tidak peduli berapa biayanya, Broto! Aku ingin tahu di mana perempuan itu berada sekarang. Aku tidak bisa tidur hanya dengan mengetahui dia berkeliaran di sekitar rumahku!"Manisha menghela napas
Rumah baru itu seharusnya menjadi surga. Arsitekturnya sempurna, materialnya mewah, dan setiap sudutnya dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal. Namun bagi Manisha, rumah itu kini terasa seperti sebuah monumen kesunyian.Sudah dua minggu sejak Rama mengusir Dipta. Sejak saat itu, suasana di rumah semakin mencekam. Rama tidak lagi hanya meminta laporan keberadaan Manisha; ia memasang kamera pengawas di hampir setiap ruangan, kecuali kamar mandi dan tempat tidur. Alasan Rama selalu sama. Demi keselamatan.Siang itu, Manisha berada di studio lukisnya. Ia mencoba menggoreskan warna biru pada kanvasnya, namun tangannya gemetar. Setiap kali ia melirik ke arah pintu, ia bisa melihat bayangan pengawal yang berdiri tegak di koridor. Mereka tidak bicara, tidak tersenyum, hanya menatap dengan mata waspada yang seolah-olah sedang mengawasi seorang tahanan, bukan seorang nyonya rumah.Tiba-tiba, suara pintu depan tertutup dengan keras.Suara itu menggema di seluruh ruangan, memicu reaksi in
Suasana di kantor Archie Design tidak pernah sesunyi ini. Para karyawan bekerja dengan kepala tertunduk, tidak ada lagi candaan di sela-sela jam istirahat. Mereka semua tahu, sang Direktur sedang berada di ambang ledakan.Di dalam ruang kerjanya, Rama tidak menyentuh meja gambarnya selama tiga hari. Ia duduk terkurung di balik meja besar, dikelilingi oleh tumpukan dokumen audit dan cetakan data digital yang tersebar berantakan. Matanya merah, kantung matanya menghitam. Ia tidak tidur, hanya mengonsumsi kopi hitam pekat dan kemarahan yang membara.Rama menggeser lembaran data akses server perusahaan. Ada satu pola yang terus mengganggunya. Data yang bocor ke Pak Baskoro diambil menggunakan otoritas tingkat tinggi, akses yang hanya dimiliki oleh dirinya dan satu orang kepercayaan lainnya.Pintu ruang kerja terbuka. Dipta masuk membawa beberapa berkas baru, wajahnya tampak cemas."Aku sudah mencoba melacak alamat IP pengirim dokumen itu lagi, tapi mereka menggunakan keamanan berlapis. Sa
Ruang rapat di kantor pusat Archie Design terasa mencekam. Pendingin ruangan yang disetel rendah tidak mampu meredam hawa panas yang memancar dari raut wajah Rama. Di hadapannya, Pak Baskoro, salah satu investor terbesar untuk proyek pembangunan museum seni kontemporer, menyandarkan punggungnya dengan ekspresi dingin."Aku tidak bisa melanjutkan ini, Rama," ujar Pak Baskoro datar.Rama mengerutkan kening, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme cepat. "Maaf, Pak? Apa maksud Anda? Kita sudah mencapai tahap finalisasi desain. Semua material sudah dipesan.""Itu sebelum aku menerima dokumen ini," Pak Baskoro menggeser sebuah map biru ke hadapan Rama. "Ada laporan mengenai kebocoran data internal dan indikasi manipulasi biaya di beberapa sub-kontraktor. Reputasiku terlalu berharga untuk dikaitkan dengan skandal korupsi atau ketidakbecusan manajemen."Rama membuka map itu dengan kasar. Kertas-kertas di dalamnya menunjukkan data yang tampak sangat meyakinkan, meski Rama tahu itu adalah fa
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden, namun bagi Manisha, cahaya itu tidak membawa kehangatan. Ia terbangun dengan perasaan berat di dadanya, seolah ada batu besar yang menghimpit napasnya. Di sampingnya, Rama masih terlelap dengan napas teratur. Wajah pria itu tampak begitu tenang. Sangat kontras dengan sosok yang mengintimidasi dan mendominasi dirinya kemarin sore.Manisha bergeser perlahan, mencoba menjauhkan diri tanpa membangunkan suaminya. Namun, sebuah lengan kokoh tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuhnya kembali hingga punggungnya menempel sempurna pada dada bidang Rama."Mau ke mana, Sayang?" bisik Rama. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun ada nada kepemilikan yang kental di sana.Manisha membeku. Sentuhan yang biasanya terasa nyaman, kini mengirimkan gelombang kegelisahan di sekujur tubuhnya. "Aku... aku mau ke kamar mandi," jawabnya kaku.Rama tidak melepaskannya. Ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Manisha, m
Manisha terbangun lebih dulu, menatap wajah Rama yang masih terlelap di sampingnya. Sisa-sisa emosi semalam masih membekas jelas. Campuran antara kepuasan dan kegelisahan yang belum sepenuhnya mereda.Ia bangkit pelan, berjalan menuju jendela, menatap taman belakang yang basah oleh embun pagi."Sha?" Suara Rama terdengar serak, tanda baru bangun."Pagi, Rama," jawab Manisha, tanpa berbalik.Rama bangkit, mendekati Manisha dari belakang, merangkulnya perlahan. "Kamu sudah bangun lama?""Belum. Aku memikirkan banyak hal.""Soal semalam?"Manisha akhirnya berbalik, menatap Rama lekat-lekat. "Soal semalam, soal ancaman itu, soal semuanya, Rama.""Sha, aku minta maaf. Aku belum bisa membuat kamu bahagia sepenuhnya." Rama menghela napas, mengecup dahi Manisha lembut. "Aku janji, mulai sekarang aku mengusahakan apapun untukmu. Semuanya untuk keselamatanmu."Manisha mengangguk pelan. “Aku percaya padamu.”Rama tersenyum, mengelus pipi Manisha dan mengecupnya lembut. “Aku tidak ke kantor hari







