INICIAR SESIÓNPanggilan itu terputus sepihak, meninggalkan gema kalimat terakhirnya masih terngiang di ruang tengah. Rama menatap ponselnya lama, rahangnya mengeras."Rama, kita harus lacak nomor itu," ucap Manisha, suaranya masih bergetar. "Tidak bisa dibiarkan begitu terus.""Iya, kita harus usut perkara ini sampai tuntas. Aku bakal minta Dipta buat lacak semua nomor yang pernah masuk sejak awal kejadian. Dia pandai soal sistem informasi dan teknologi."Usai dihubungi, Dipta datang membawa laptopnya dan duduk bersama Rama di ruang kerja. Mereka memeriksa satu per satu catatan panggilan yang selama ini tersimpan."Ram, nomor yang barusan telepon kamu, sama seperti nomor yang menelepon Manisha waktu di sekolah dulu," ucap Dipta, menunjukkan layar laptopnya."Kamu bisa lacak lokasinya?""Sudah aku coba, tapi nomornya pakai kartu prabayar tanpa registrasi jelas. Susah dilacak langsung. Namun aku menemukan pola menarik." Dipta menggeser layar, menunjukkan sebuah peta dengan beberapa titik merah. "Sem
Suasana rumah masih terasa dingin, sisa pertengkaran semalam belum sepenuhnya mencair. Manisha turun ke ruang makan dengan mata sembab, sementara Rama sudah duduk di sana, wajahnya juga terlihat lelah, jelas tidak banyak tidur semalaman."Sha, kamu sudah lebih baik?" tanya Rama pelan, begitu Manisha duduk di kursi seberangnya."Lumayan," jawab Manisha singkat, menghindari kontak mata.Sarapan pagi itu berlangsung dalam keheningan yang canggung, hanya suara sendok beradu piring yang mengisi kesunyian. Bu Ratna sesekali melirik cemas, merasakan ketegangan yang masih menggantung di antara majikannya.Belum sempat suasana mencair, suara bel gerbang berbunyi nyaring. Salah satu pengawal masuk tergesa, membawa sebuah amplop coklat besar."Pak Rama, ini dikirim langsung ke gerbang. Kurirnya bilang harus diterima langsung oleh Bapak sendiri," ucap pengawal itu, menyerahkan amplop dengan raut waspada.Rama menerima amplop itu, mengerutkan kening membaca nama pengirim yang tertera di sudut kana
Sejak pertemuan dengan Bu Aminah, Manisha mendapati dirinya semakin sering melamun, terutama setiap kali menatap Rama yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kata-kata Bu Aminah terus terngiang, memutar ulang seperti kaset rusak di kepalanya."Sha, kamu melamun terus dari tadi," ucap Rama, muncul dari ruang kerja saat makan siang bersama di teras belakang."Tidak. Aku hanya mengagumi pemandangan," jawab Manisha cepat, mengalihkan pandangan ke arah taman."Kamu yakin? Dari tadi makananmu tidak disentuh.""Iya, Rama. Aku baik-baik saja."Rama menatapnya lama, tidak sepenuhnya percaya, tetapi memilih tidak mengejar lebih jauh. Ia melanjutkan makan siangnya, sesekali bercerita soal proyek terbaru kantornya, meski Manisha hanya menanggapi seadanya, pikirannya masih melayang jauh.Ketika Rama kembali sibuk dengan panggilan kerja, Manisha duduk sendirian di studio kecilnya di lantai dua, mencoba melukis untuk mengalihkan pikiran. Namun tangannya justru bergerak tanpa arah, menggoreskan warna-
Malam berikutnya dengan bantuan Gysa, Manisha akhirnya berhasil menemui salah satu tetangga lama keluarga Sinta, seorang perempuan tua bernama Bu Aminah yang sudah tinggal di gang itu sejak puluhan tahun lalu. Rumahnya kecil namun rapi, dengan halaman depan yang dipenuhi tanaman obat dan bunga kamboja."Silakan duduk, Nak," ucap Bu Aminah, mempersilakan Manisha dan Gysa masuk ke ruang tamu sederhananya yang hanya diterangi lampu bohlam kuning temaram."Terima kasih, Bu," jawab Manisha, duduk berdampingan dengan Gysa di kursi kayu tua yang berderit pelan."Jadi, Nak mau tanya soal Sinta?" tanya Bu Aminah, menatap Manisha lekat-lekat."Iya, Bu. Saya... saya kenal seseorang yang dulu dekat dengan Sinta," jawab Manisha hati-hati, tidak ingin mengungkap identitas aslinya terlalu cepat."Sinta itu anak baik, Nak. Sangat baik, malah." Bu Aminah tersenyum, matanya menerawang jauh mengingat masa lalu. "Dari kecil dia sudah sering bantu saya bawa barang belanja, menemani saya ke pasar kalau sed
Beberapa hari terakhir, Manisha mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari sikap Rama. Bukan hanya sekadar khawatir seperti biasanya, tetapi lebih dari itu, seolah setiap gerak-geriknya selalu berada dalam pantauan."Sha, kamu mau ke mana?" tanya Rama, muncul tiba-tiba dari ruang kerja begitu Manisha baru saja melangkah keluar kamar pagi itu."Ke dapur, Rama. Mau ambil minum.""Sendirian?""Rama, aku cuma jalan ke dapur, bukan ke luar negeri.""Aku ikut saja, sekalian aku juga mau ambil kopi."Manisha menghela napas, mengikuti Rama menuju dapur meski sebenarnya ia hanya ingin sedikit waktu sendirian. "Rama, kamu kenapa akhir-akhir ini terlalu posesif? Aku ke mana-mana selalu ada kamu.""Aku mau memastikan kamu aman, Sha.""Aku aman, Rama. Ini rumah kita sendiri.""Aku tahu. Tapi aku tetap mau dekat sama kamu."Manisha tidak membalas lagi, hanya tersenyum kecil yang dipaksakan, mencoba tidak menunjukkan kecurigaan yang mulai tumbuh di benaknya.Pagi ini Manisha sudah menyiapkan rencana
Rama melangkah masuk perlahan, matanya masih terpaku pada layar laptop yang terbuka di pangkuan Manisha. Hera segera berdiri, merasa canggung berada di tengah ketegangan yang tiba-tiba muncul di ruangan itu."Rama, aku bisa jelaskan," ucap Manisha cepat, menutup laptopnya setengah panik."Kalian sedang mencari apa?" tanya Rama, suaranya datar namun terasa berat."Rama, aku dan Hera menemukan beberapa informasi soal keluarga Sinta. Kamu harus lihat ini." Manisha membuka kembali laptopnya, menunjukkan layar yang masih menampilkan forum diskusi lama itu.Rama menatap layar sebentar, rahangnya mengeras. "Sha, tutup itu.""Rama, ini penting. Ibunya Sinta sudah meninggal dari lama, dan ayahnya ternyata…""Aku bilang tutup, Sha!" Suara Rama meninggi, membuat Hera dan Manisha sama-sama tersentak."Kenapa kamu marah? Aku coba bantu cari kebenaran!""Kamu tidak mengerti apa yang kamu lakukan, Sha! Kamu main gali-gali informasi seperti ini bisa membuat kamu makin dalam masuk ke bahaya!"Hera mer







