MasukBeberapa bulan setelah Manisha mengobati Rama di hotel, intensitas kedekatan mereka terjalin lebih intens. Banyak pesan mulai dikirimkan, panggilan telepon hampir tiap malam datang. Meski terkadang Manisha harus sabar menunggu apabila Rama berada di luar daerah yang tidak terjangkau internet.
Awalnya Manisha mencoba menahan segala gejolak perasaan yang mengacaukan hatinya. Namun, lambat laun dia tidak bisa menyangkal bahwa ia mencintai Rama. Dilihat kembali pantulan dirinya di kaca. “Kenapa aku semangat sekali jalan dengan Rama?” tanyanya bermonolog. Suara pintu diketuk, disusul dibukanya pintu dari luar. “Rama sudah menunggu di bawah, Sha. Ayo, cepat!” perintah Nareswari. “Iya, Ma. Ini sudah selesai.” Manisha meraih tas selempangnya dan keluar kamar. Nareswari hanya tersenyum menyaksikan tingkah putrinya. Sementara itu, di ruang tamu, ada Rama dan Adiwira yang tengah mengobrol serius. Manisha sangat hafal gelagat ayahnya. Merasa ada yang terjadi, dia lantas bertanya, “Ada apa, Ayah?” Tatapannya beralih ke Rama. “Kita makan malam di rumahku,” jelas Rama lalu berpamitan pada Adiwira. “Saya tunggu kabar baiknya, Rama.” Adiwira dan Rama berjabat tangan. Tindakan itu mengundang tanda tanya besar di benak Manisha. Maka, di tengah perjalanan dia banyak bertanya pada Rama. “Kamu ngobrol apa aja sama Ayah?” Pertanyaan pertama. “Soal kemajuan renovasi sekolah. Sekarang sudah hampir setengah jadi.” Rama menjawab santai dengan mengemudikan mobil. “Ayah tanya aneh-aneh nggak?” Pertanyaan Manisha kedua. “Aneh bagaimana maksudmu?” Manisha memilin dressnya tanpa sadar. “Misalnya, kapan tanggal pasti kita jadian,” ucapnya terdengar bimbang. Rama terkekeh, membuat Manisha mencebik. “Aku serius, Rama. Apa ayahku bertanya itu?” Ada kekhawatiran tersirat yang belum bisa Manisha jelaskan. “Menurutmu kita ini apa?” Rama malah balik bertanya. Bukannya menjawab, Manisha malah terdiam. Kepalanya tertunduk. “Sudah dua bulan tujuh belas hari sejak kamu mengajakku makan malam di hotel, tetapi aku telat datang. Lalu kau membawaku ke kamar hotel, mengobatiku yang terluka dan kau juga lebih dulu bertindak dengan-” Manisha menutup mulut Rama dengan satu tangan. “Jangan bahas itu. Aku malu.” Gelak tawa Rama memenuhi mobil dan mengisi keheningan malam tatkala mereka melintasi beberapa pepohonan. Manisha beringsut menjauh dari kursi kemudi. mengalihkan pandang ke luar jendela mobil. “Aku baru sadar.” Manisha kebingunan, “Jalan ke rumahmu terlewat jauh. Ini jalan ke daerah lain. Kamu mengajakku ke mana, Rama? Tadi kau bilang ke rumahmu?” “Ke rumahku yang lain.” Jawaban Rama sama sekali tidak menjawab rasa penasaran Manisha. Laki-laki itu justru dengan tenang mempercepat laju mobil dan beberapa menit berbelok ke kawasan rumah megah yang terletak di tengah lahan hijau. “Aku merancang bangunan ini sendiri. Bagaimana menurutmu?” Rama menghentikan mobilnya tepat di pintu utama. Manisha memandangi bangunan mewah itu tanpa berkedip. “Menakjubkan.” “Ayo turun. Aku mau menunjukkan sesuatu.” Rama antusias mengajak Manisha melihat-lihat isi rumah. Mulai dari ruang tamu, ruang makan, dapur, dan tempat favoritnya yakni kolam renang yang terletak di bagian belakang. “Lihat cahaya bulan yang memantul dari air kolam itu,” tunjuk Rama dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya menggenggam tangan Manisha. “Tepian kolam ini dilapisi batu alam berwarna krem yang hangat. Tempatnya luas untuk berjalan santai. Jadi aku meletakkan kursi jemur di sini.” Manisha mengangguk sekaligus kagum dengan tata letak tiap sudut rumah. Tanpa sengaja, ekor matanya menangkap jalan setapak yang mengarah ke luar. “Jalan kecil itu mengarah ke mana?” “Cepat sekali kau menyadarinya.” Rama tersenyum lebar, mengeratkan genggaman tangannya pada Manisha. “Itu akan menjadi tempat favoritmu. Aku tunjukkan.” Mereka berjalan cepat menuju tempat yang dimaksud. Sesampainya di sana, Manisha dibuat terperangah akan keindahan desainnya. “Taman dalam ruangan ini bagaikan lukisan hidup.” Manisha melengok ke sana kemari. Setiap pergerakannya bagaikan menari di sela-sela rangkaian bunga. Manisha mencoba menghirup salah satu bunga. “Aroma fuchsia yang lebih ringan dan sedikit asam manis, hampir seperti campuran buah beri yang belum matang.” Dia beralih ke bunga yang lain. “Aku suka warna hydrangea ini. Merah muda kebiruan.” “Kau suka tempat ini?” Rama berjalan mendekat. Manisha dapat melihat raut wajahnya begitu jelas sekarang. Ada gurat keseriusan yang terpancar. “Iya, aku suka.” “Bagaimana desain bangunannya?” tanya Rama lagi. “Aku tidak paham soal arsitektur, tetapi aku rasa mirip bangunan era victoria.” Manisha menerangkan sebisanya. Rama mengangguk. “Rencananya aku ingin tinggal di sini secepatnya. Kamu mau menemaniku?” Tubuh Manisha seolah membeku, lidahnya kelu. Bulu kuduknya menegang mendengar pertanyaan yang baru saja Rama lontarkan. “Kamu suka tempat ini, kan?” Rama kembali bertanya sambil memperpendek jaraknya dengan Manisha. Manisha menelan ludah pelan. Kedua tangan Rama menyentuh dan mengelus lembut kedua pipinya. Matanya terkunci oleh Rama yang kian membuatnya menahan napas. “Jadilah bagian dari keluarga Danudirja.” Suara Rama menggema di telinga Manisha. Deru napasnya saat berbicara dapat Manisha rasakan sepenuhnya. “Menikahlah denganku, Sha.” Rama mengambil sesuatu dari saku jasnya. Membuka kotak beludru merah yang berisi cincin berlian berkilauan. Manisha tercekat ketika Rama berlutut di depannya dan memohon satu kalimat penuh kasih. “Maukah kau menjadi nyonya Pramadya Harsa Danudirja?”Malam itu, begitu sampai di rumah, Rama langsung mengejar Manisha yang berjalan cepat menuju kamar, wajahnya masih menyimpan ketegangan dari kejadian di pavilion sore tadi."Sha, tunggu. Kita perlu bicara," ucap Rama, menahan pintu kamar sebelum Manisha sempat menutupnya."Bicara apa lagi, Rama? Aku rasa semuanya sudah jelas sore ini.""Sha, aku tahu tadi keliatannya buruk, tapi Sinta cuma …""Selalu Sinta, Rama," potong Manisha, suaranya lelah. "Selalu ada alasan buat membela dia."Rama menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang, wajahnya penuh kelelahan yang sama besarnya dengan Manisha. "Sha, aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku terjebak di antara rasa bersalah aku ke Sinta dan cinta aku ke kamu.""Kamu tahu, Rama, aku baru dengar cerita dari Ibu mertua tadi." Manisha akhirnya duduk di kursi seberang, menatap suaminya lurus-lurus. "Cerita yang membuat aku mengerti kenapa semua ini terasa begitu familiar.""Cerita apa, Sha?"Manisha menghela napas, mulai bercerita perlahan, m
Beberapa hari setelah kunjungan yang penuh kejanggalan itu, sikap Sinta semakin menunjukkan perubahan yang tidak bisa lagi diabaikan Manisha. Setiap kali Rama datang, sengaja atau tidak, Sinta selalu mencari cara untuk berdua saja dengannya, meminta bantuan kecil yang sebenarnya bisa ditangani sendiri, atau sekadar mengajak mengobrol panjang tentang masa lalu yang terus ia ungkit.Siang itu, Manisha datang sendirian ke pavilion, berniat mengembalikan beberapa buku yang dipinjam Sinta minggu lalu. Namun begitu sampai, ia mendapati Sinta duduk begitu dekat dengan Rama di teras, tangan Sinta menggenggam lengan Rama erat, wajahnya menengadah menatap Rama dengan tatapan yang begitu intens."Rama, kamu ingat tidak lagu yang dulu sering kita nyanyikan bareng?" Sinta bertanya, suaranya lembut penuh rayuan halus."Sinta," ucap Manisha, suaranya tajam memecah momen itu.Rama dan Sinta sama-sama tersentak, buru-buru melepaskan genggaman tangan yang sejak tadi menyatu."Sha, kamu sudah datang," u
Di lain hari, pada waktu sore, Manisha kembali menemani Rama mengunjungi pavilion Sinta, meski dengan perasaan yang masih diliputi keraguan sejak percakapan terakhir mereka. Begitu mereka tiba, Sinta menyambut dengan senyum yang terasa berbeda, lebih hangat, lebih dekat, dengan gerak-gerik yang tidak lepas dari perhatian Manisha."Rama, aku membuat teh spesial untuk kamu," ucap Sinta sengaja menyentuh lengan Rama sekilas saat menyerahkan cangkir, jarinya bertahan sedikit lebih lama dari yang seharusnya."Terima kasih, Sinta," jawab Rama tidak menyadari atau memilih tidak menyadari sentuhan itu.Manisha duduk di kursi seberang, memperhatikan setiap gerakan Sinta dengan mata yang semakin waspada. Sinta duduk terlalu dekat dengan Rama, tertawa terlalu keras pada setiap candaan kecil. Sesekali menyentuh bahu Rama saat bicara, gestur-gestur yang terlihat wajar sekilas, tetapi terasa berlapis maksud tersembunyi bagi Manisha yang mengamatinya dengan seksama."Rama, kamu ingat tidak, dulu kit
Beberapa hari setelah insiden luka-luka Sinta, Surya mengambil keputusan untuk menempatkan Sinta di sebuah pavilion kecil yang masih satu kawasan dengan rumah utama keluarga Danudirja, beralasan keamanan yang lebih terjamin dengan pengawasan ketat dari tim keamanan keluarga."Ini sementara, Sha," ucap Rama suatu sore, ketika mengajak Manisha berjalan-jalan di taman rumah utama. "Sampai kondisinya lebih stabil dan situasi Yudha bisa ditangani.""Aku mengerti, Rama," jawab Manisha, meski hatinya masih menyimpan gejolak yang belum sepenuhnya reda sejak malam makan keluarga itu."Sha, aku mau minta tolong sesuatu.""Tolong apa?""Aku mau kamu ikut aku mengunjungi Sinta. Bukan buat apa-apa, hanya ... aku pengen kalian berdua bisa mengenal atau minimal saling menerima keberadaan masing-masing."Manisha menghentikan langkahnya, menatap Rama tidak percaya. "Kamu serius, Rama?""Aku tahu ini berat, Sha. Tapi aku capek liat kalian berdua terus-terusan bermusuhan. Aku pengen kita semua bisa hidu
Sinta berdiri di ambang pintu, tubuhnya gemetar hebat, pipinya lebam kebiruan, sudut bibirnya sobek mengeluarkan sedikit darah yang sudah mengering. Lengan kanannya memerah, seperti bekas cengkeraman kuat, gaunnya kotor dan robek di beberapa bagian."Sinta!" Rama bergerak cepat, meninggalkan kursinya, berlari menghampiri sosok yang hampir ambruk itu."Astaga!" Arumi ikut berdiri, wajahnya pucat pasi melihat kondisi Sinta.Rama menangkap tubuh Sinta yang mulai limbung, membantunya duduk di kursi terdekat. "Sinta, kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini ke kamu?""Ayahku," bisik Sinta, suaranya nyaris tidak terdengar, napasnya masih terengah. "Dia datang ke tempatku. Entah darimana dia tahu. Dia ... dia marah besar, bilang aku pengkhianat karena terima bantuan dari keluarga Danudirja."Manisha berdiri kaku di tempatnya, menyaksikan kepanikan yang mendadak menyelimuti ruang makan itu, dadanya sesak melihat betapa cepatnya perhatian semua orang, terutama Rama, teralih sepenuhnya pada Sinta.
Malam itu, keluarga besar Danudirja berkumpul di rumah utama untuk makan malam bersama. Sebuah tradisi bulanan yang sempat terbengkalai selama beberapa bulan terakhir akibat berbagai kekacauan yang melanda Rama dan Manisha. Meja makan panjang dipenuhi hidangan lengkap, aroma masakan khas keluarga menguar hangat memenuhi ruangan."Akhirnya kita bisa kumpul lagi seperti dulu," ucap Arumi, tersenyum sambil menyendokkan nasi ke piring Manisha. "Sha, kamu makin kurus, Nak. Ayo, makan yang banyak.""Terima kasih, Ma," jawab Manisha, mencoba tersenyum meski masih menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang.Arkan dan Aryan, si kembar yang duduk berdampingan di seberang meja, saling melempar candaan seperti biasa. Mencoba mencairkan suasana yang masih terasa sedikit kaku sejak insiden beberapa minggu lalu."Kak Rama, katanya sempat drama besar-besaran, ya, di rumah?" celetuk Arkan, nyengir jahil."Arkan," tegur Leila sebagai anak pertama, memberi tatapan tajam pada adik bungsunya."Aku h







