LOGINSetelah cuti seketika dua minggu, Manisha kembali melakukan kegiatannya seperti biasa. Kembali bekerja menangani berbagai perangkat pembelajaran dan mengajar di kelas. Bedanya, sekarang Manisha diantar dan dijemput oleh Rama. "Rama, kamu masih lama?" suara Manisha terdengar sedikit lelah di ujung telepon. "Bel pulang sebentar lagi, aku pikir aku bisa naik ojek online saja kalau kamu masih sibuk.""Jangan," jawab Rama cepat, sambil mengumpulkan berkas di mejanya. "Aku baru saja selesai rapat. Tunggu saja, aku ke sana sekarang. Lima belas menit lagi""Hati-hati di jalan." Sambungan terputus. Manisha menyelipkan ponselnya ke dalam tas sambil membereskan barang-barangnya. Di tengah kesibukannya, suara pintu di ketuk dari luar."Bu Manisha," panggil seorang petugas administrasi. “Ada wali murid yang ingin bertemu dengan Anda. Dia menunggu di ruang tunggu.”“Ada masalah apa?” Manisha takut selama masa cuti ada problem di antara muridnya.“Katanya hanya ingin mengobrol. Nama walinya, Aryase
Manisha membereskan lemari buku di ruang kerja Rama. Mencoba mengejutkannya dengan menata ulang ruangan sebagai bentuk permintaan maafnya atas perdebatan mereka minggu lalu.Saat memindahkan tumpukan buku tua. Sebuah album foto terjatuh. Halaman-halamannya terbuka sendiri di lantai.Manisha berlutut untuk memungutnya, tapi gerakannya berhenti begitu melihat lembar pertama. Rama dengan gaya rambut yang jauh lebih muda, duduk di anak tangga sebuah rumah bercat putih. Tersenyum ke arah kamera sambil merangkul seorang perempuan yang wajahnya tidak ia kenal.Di bawah foto itu, tertulis tangan, ‘Rama & Sinta: Kisah Abadi, Cinta Sejati,’Manisha masih menatap tulisan itu ketika suara pintu rumah terbuka."Sha, aku pulang. Kamu di mana?" Rama memanggil dari ruang tengah.Hening sesaat sebelum Manisha akhirnya bersuara, mencoba menahan getar di suaranya. "Aku di ruang kerja, Rama!"Rama melengos ke ruang kerja yang terletak tak jauh dari ruang tengah, menyusul Manisha. Ketika masuk dan melihat
“Aku tidak ingin menyakitimu, Sha. Semuanya terlalu rumit.” Rama menunduk, menahan perkataannya.Manisha dapat melihat gurat kesedihan yang disembunyikan Rama. Dia menatap wajah suaminya yang lebih dekat. Mencoba mencari jawaban yang tepat sebelum akhirnya bersuara."Aku menganggapmu suamiku, tetapi aku juga ingin dianggap sebagai istri yang berhak tahu, bukan orang asing yang harus terus menebak-nebak.""Aku tidak pernah menganggapmu orang asing." Rama menggenggam kedua tangan Manisha erat."Justru karena kamu begitu berarti, aku tidak ingin membebanimu dengan sesuatu yang belum selesai di dalam diriku," lanjutnya menjelaskan."Kalau begitu, biarkan aku memutuskan sendiri apakah aku sanggup menanggung beban itu atau tidak." Manisha menatap Rama tulus. "Jangan putuskan sepihak untukku, Rama."Rama memohon belas kasih, kemudian mencium tangan Manisha. "Baiklah. Aku akan bercerita, tetapi tidak sekarang. Aku butuh waktu untuk menyusun kata-kata yang tepat agar kamu memahami tanpa perlu
Cahaya pagi menyusup melalui gorden tipis kamar. Manisha membuka mata perlahan, mendapati Rama sudah terjaga, menatapnya dengan senyum lembut."Selamat pagi, Sayang. Apakah tidurmu nyenyak?" bisik Rama sambil mengusap pipi Manisha perlahan."Sangat nyenyak. Apalagi jika bangun langsung melihat wajahmu," jawab Manisha sambil menyandarkan kepala di dada Rama.Rama mengecup dahinya lembut. "Aku juga. Rasanya masih seperti mimpi. Tiga hari menjadi suami istri dan tinggal di rumah kita sendiri.""Tidak menyangka, akhirnya kita berada di sini.” Manisha menggenggam tangan Rama, memainkan jari-jarinya. "Rasanya sangat tenang."Mereka berbaring dalam suasana senyap. Saling menikmati kehangatan pagi. Rama merengkuh Manisha lebih erat, mengecup pelan puncak kepalanya."Aku mencintaimu, Manisha," bisik Rama, hampir tak terdengar."Aku juga mencintaimu.” Manisha memejamkan mata sambil tersenyum.Jam weker di meja samping berbunyi memecah keheningan. Rama menghela napas, enggan beranjak.“Aku harus
Ballroom Hotel dipenuhi rangkaian bunga mawar putih yang membentang dari pintu masuk hingga ruang utama. Ratusan kursi tertata rapi menghadap pelaminan yang dihiasi lengkungan bunga lily, anyelir, hydrangea, dan didominasi mawar. Sementara lampu gantung kristal memantulkan cahaya keemasan ke penjuru sudut. Keluarga Danudirja baru saja berfoto dengan pengantin. Mereka menyambut hadirnya anggota baru keluarga."Akhirnya anak bujangku menikah juga." Surya menepuk pundak Rama dengan bangga. "Ayah pikir kamu akan terus main-main sampai tua.""Ini berkat Manisha, Ayah. Pesonanya sulit dilupakan." Rama menyeringai, membuat Manisha salah tingkah."Ibu bahagia sekali mendapat seorang putri. Anak ibu ada empat. Tiga dari mereka laki-laki semua, hanya satu yang perempuan. Itu pun susah buat disuruh nikah." Suara Arumi, Ibu Rama bergetar menahan haru.“Mulai lagi, deh,” keluh Leila yang berada di samping Manisha. “Udah bener Rama nikah duluan. Jadi aku ada temennya.”Manisha mendapat pelukan han
Beberapa bulan setelah Manisha mengobati Rama di hotel, intensitas kedekatan mereka terjalin lebih intens. Banyak pesan mulai dikirimkan, panggilan telepon hampir tiap malam datang. Meski terkadang Manisha harus sabar menunggu apabila Rama berada di luar daerah yang tidak terjangkau internet. Awalnya Manisha mencoba menahan segala gejolak perasaan yang mengacaukan hatinya. Namun, lambat laun dia tidak bisa menyangkal bahwa ia mencintai Rama. Dilihat kembali pantulan dirinya di kaca. “Kenapa aku semangat sekali jalan dengan Rama?” tanyanya bermonolog. Suara pintu diketuk, disusul dibukanya pintu dari luar. “Rama sudah menunggu di bawah, Sha. Ayo, cepat!” perintah Nareswari. “Iya, Ma. Ini sudah selesai.” Manisha meraih tas selempangnya dan keluar kamar. Nareswari hanya tersenyum menyaksikan tingkah putrinya. Sementara itu, di ruang tamu, ada Rama dan Adiwira yang tengah mengobrol serius. Manisha







