Beranda / Romansa / Hasrat Cinta Tuan William / 4. Kau Akan Menjadi Mahakaryaku

Share

4. Kau Akan Menjadi Mahakaryaku

Penulis: Dien Madaharsa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-16 17:53:55

Ketika Lira terbangun pagi itu, yang menyambutnya bukan lagi suara omelan sang ayah ataupun bunyi riuh televisi yang disetel dengan volume keras-keras, melainkan alunan musik klasik lembut yang menyelinap sopan di telinganya. 

Keganjilan ini membuat Lira terperenyak. Gadis itu mendorong diri agar duduk, menyapu semua hal yang terhampar di sekelilingnya dengan perasaan linglung. 

Ranjang yang ditempatinya berukuran besar dan sangat empuk. Bantalnya juga tidak membuat lehernya sakit. Televisi besar menggantung pada dinding di depannya. Rak-rak yang masih kosong, bilik ganti khusus, meja rias, dan nakas-nakas berpelitur cantik. Di seberang kamar, terdapat pintu kaca geser yang berbatasan dengan balkon di baliknya. Langit di luar biru cerah, tetapi hati Lira terasa kelabu muram ketika teringat apa yang dialaminya kemarin. 

Pria itu, William, jelas telah menginjak harga dirinya. Dia mengira sudah memiliki dan menguasai Lira seutuhnya—menganggapnya bagai boneka yang bisa dikurung dan dipermainkan dengan sesuka hati. Akan tetapi, Lira sadar William lupa tentang satu hal; bahwa Lira masih memiliki jiwa dan pendirian, yang tercipta dari pecahan masa lalu akibat dihantam badai berkali-kali. Pikirannya adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dimiliki oleh siapa pun, tidak untuk dikendalikan atau ditentang. 

Dan seburuk apa pun perlakuan William kepada Lira, gadis itu berjanji akan terus melawan…  sampai pria itu menyesal dan bertekuk lutut padanya. 

Lira baru saja turun dari kasur ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Annalise datang untuk mengecek, sekaligus menyuruh Lira berganti baju dan turun untuk sarapan. 

“Kenakan pakaian ini.” Annalise meletakkan satu stel pakaian baru di atas kasur. Lira baru ingat bahwa blusnya sudah robek tak karuan, hingga setelah mandi kemarin dia tidur mengenakan piyama biasa. 

Biasanya gadis itu akan memberontak atau memprotes. Namun setelah menjalani satu hari yang melelahkan, Lira sadar mengomel kepada Annalise hanya membuang-buang tenaga saja. Dia hanya seorang kepala pelayan yang menjalankan tugas, bukan otak di balik kebiadaban ini. 

Maka Lira memutuskan untuk menurut. Dia melepas atasan piyamanya dengan cepat sampai hanya meninggalkan bra saja. Annalise terlihat kaget, tetapi berusaha tenang. 

“Bagaimana tidur Anda semalam, Nona?” 

“Lumayan nyenyak sampai aku tidak ingat kalau kemarin seseorang melemparku ke neraka dunia.” 

Annalise tersenyum tipis, masih menunjukkan gerak-gerik tenang dan terkendali. Begitu Lira tuntas mengenakan celananya, dia mengajak Lira turun, menuju meja makan, tempat dimana berpiring-piring menu makanan mewah telah tersaji dengan cantik. Tumpukan daging panggang, roti-roti mekar dengan keju putih, kurma dan almond, buah-buahan segar serta deretan menu makan lain yang tidak pernah Lira lihat sebelumnya. 

Gadis itu mengambil tempat di salah satu kursinya, disusul seorang pelayan yang langsung melayaninya; menuangkan minuman ke dalam gelasnya, memasukkan kentang tumbuk, daging, serta udang ke piring. 

“Aku bisa mengambil makananku sendiri!” Lira tanpa sadar membentak. 

Pelayan perempuan itu sejenak menatap Lira. Ada sorot tidak suka yang terpancar dari mata sang pelayan, tetapi dia tidak menunjukkannya dengan terang-terangan. 

“Tuan William menyuruh kami memilihkan makanan bergizi untuk Anda,” Annalise tiba-tiba menyahut dari sisi meja makan. “Dalam satu minggu ini, berat badan Anda harus naik.” 

Ketika Lira hendak menjawab dengan sindiran, William tiba-tiba datang dari arah tangga. Masih mengenakan piyama putih berlapis kardigan panjang berbahan satin. Bila biasanya pria ini tampak bengis dan galak dalam balutan jas formal ataupun sweater hitam, pagi ini dia terlihat lebih… lembut dan tenang. 

Lira tidak sadar sejak tadi dirinya memperhatikan William dari atas sampai bawah. 

“Apa yang kau lakukan?” tegur William pada Lira, yang langsung mengerjapkan mata. “Makan.” 

‘Tenang, Lira. Kita akan melihat situasi dulu ke depannya,’ Lira membatin yakin. Dia berusaha memotong daging bistik di piringnya, tetapi gerakannya begitu kikuk sehingga peralatan makannya malah berbunyi gaduh. 

Beberapa pelayan yang berdiri di belakangnya berbisik-bisik. Suara mereka cukup keras hingga bisa terdengar oleh Lira. 

“Mana ada yang memegang pisau dan garpu seperti itu?”

“Sekali liar tetap liar, tidak peduli dipoles secantik apa pun.” 

“Tuan William sepertinya salah memilih lagi.”

Bisikan terakhir itu membuat Lira menoleh ke belakang dengan ganas. Dua pelayan yang sedang berbisik-bisik tadi tersentak, lalu mundur dan pura-pura menyibukkan diri dengan pekerjaan lain. Annalise tampaknya membaca kejadian barusan. Wanita itu segera undur diri dan memanggil dua pelayan tadi untuk ikut dengannya. 

Lira kembali berpaling pada makanannya sendiri. Masih berpikir tentang apa yang didengarnya barusan. Apa maksud para pelayan itu? Tuan William salah memilih? 

Jangan-jangan … sebelum ini ada korban lain selain Lira? 

“Setelah makan, kau ikut aku.” William tahu-tahu berceletuk. Dia baru saja menyesap minumannya di cangkir dan meletakkannya kembali di meja. 

Lira menatap asap teh di cangkir William yang masih mengepul, dan tidak sengaja tatapannya bergeser pada jari manis William. 

Sebuah cincin melingkar di sana. 

Apakah pria ini sudah beristri?

Yah, bila benar, sebenarnya wajar. Dia terlihat jauh lebih dewasa daripada Lira. Mungkin usianya di pertengahan 30, atau hampir mendekati 40. Namun, harus diakui, penampilannya sangat muda sehingga Lira sempat terkecoh dengan usia sebenarnya. Bahkan dalam siraman cahaya pagi ini, Lira terpaksa mengakui William jauh terlihat lebih tampan. Mata kelabu William bersinar seperti lautan bintang. Ironis membayangkan itu adalah mata yang sama dengan mata pria yang merobek-robek pakaian Lira kemarin. 

“Apa Anda akan sungguh-sungguh menjawab bila saya bertanya sesuatu?” Mendadak Lira bertanya dengan nada sopan. 

"Tergantung apa pertanyaanmu,” kata William dingin. 

“Kenapa Anda membawa saya kemari?” 

“Kukira kau sudah bisa menebaknya. Ayahmu menjualmu padaku.”

“Ya, tapi kenapa Anda mau membeli saya?” Lira meremas tepian meja dengan jarinya hingga memutih, kepalang tidak sabar. “Anda mengatai saya kurus, liar, seperti anjing. Kalau Anda butuh seseorang yang lebih berisi dan cantik daripada saya, kenapa tidak mencari yang lain?” 

Kemudian Lira kepikiran sebuah gagasan menyedihkan, lalu melontarkannya tanpa basa-basi, “Oh, apa ayah saya menjual saya dengan harga murah? Dan Anda buru-buru tergiur dengan harga murah itu sehingga tidak melihat lebih dulu bagaimana saya? Anda tidak punya uang untuk membeli gadis yang lebih sempurna, ya?”

“Mulutmu itu,” William menatapnya dengan seringai tipis, entah merasa terpukul atau justru terhibur, “Menggonggong terus seperti anjing liar yang mencari makan di tempat sampah. Kau perlu dididik agar tahu tentang adab.”

Lira mendengkus. “Bicara adab seolah-olah Anda tahu saja tentang itu. Tidak ingat apa yang Anda lakukan kemarin?”

Garpu di tangan William terhenti. Pria itu terdiam sejenak. Lira berharap dia berhasil membuat perasaannya tersinggung. 

“Kalau kau membangkang, kau akan dapat hukuman. Itulah aturan di sini.” Kemudian William memotong lagi bistik di piringnya dengan tenang. “Sekarang makan. Kau anak kecil cerewet.”

Dasar pria tua! Lira mengutuk dalam hati. 

“Anda belum menjawab pertanyaan saya,” tekan Lira. “Kenapa Anda membeli saya? Merobek pakaian, menyuruh saya mengenakan gaun jelek, dan memaksa saya supaya menaikkan berat badan… sebenarnya ini semua untuk apa?”

BRAK! William menggebrak meja. Lira terkesiap, tiba-tiba merasa ciut di hadapan pria ini. Apakah dia salah bicara? 

“Gaun jelek, katamu?” William menatap tajam, penuh kemarahan. “Harusnya kau berterima kasih karena telah kuberi kesempatan mencoba gaun itu.”

Sebetulnya Lira tidak benar-benar berpikir gaunnya jelek. Malah sebaliknya, gaunnya terlihat cantik dan sangat nyaman dikenakan. Ocehan tadi untuk menekankan rasa tidak sukanya karena dipaksa saja. Akan tetapi, melihat betapa serius ekspresi William saat membahas gaun itu, Lira tahu pria ini membelinya atas tujuan yang tidak biasa. 

Annalise bilang, William adalah seorang fashion designer, bukan? Gaun kemarin mungkin adalah buatannya. Pantas saja dia terpukul saat Lira mengoloknya. 

Ha, syukurlah. Sekarang, Lira mendapatkan satu kelemahannya. Kelak di kesempatan berikutnya, Lira akan lebih banyak lagi berbuat masalah hanya untuk membuat pria ini kesal. 

“Kau,” William menudingnya dengan ujung garpu. “Akan menjadi maharkayaku yang paling ambisius.” 

“Apa?” Lira mengernyitkan kening. 

“Menggunakan busana-busana rancanganku, berjalan di runway, dan berpose. Itulah yang mulai saat ini kau lakukan.”

“Tapi—”

“Tidak ada penolakan. Kau dibeli untuk menjadi barangku. Milikku yang bisa kuatur sesuka hati.”

Berengsek. 

Ada banyak hal yang ingin Lira katakan pada pria ini, tetapi dia memilih bungkam. Kelak dia akan mencari cara mandiri agar bisa lepas dari cengkeramannya. Lihat saja.

Lantas gadis itu sukses menahan protes dan beralih melahap makanannya, kendati perutnya sudah tidak berselera. 

Semua makanan ini rasanya hambar. Barang-barang glamor yang ada di kamarnya, gaun merah sangria yang dikenakannya, tidak terasa istimewa di benaknya. Betapa aneh melihat pemandangan penuh kekayaan ini namun tidak merasa tertarik dengan segalanya. Padahal saat masih kecil, Lira selalu bermimpi menjadi seorang putri kerajaan. 

Kini dia sadar, setelah dirinya dijual kepada seorang pria dewasa yang sifatnya kejam, yang mulutnya setajam pedang, dan tindak-tanduknya menjeritkan potensi untuk menjadi iblis, kekayaan ini tidak berarti apa-apa. Lira hanya ingin bebas dari keadaan yang mengikat ini, seperti burung yang terbang dari sangkar.[]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Cinta Tuan William   99. Memancing Darren Datang

    Pencarian pun dimulai, namun hasilnya nihil.Tuan Archen mengerahkan seluruh jejaring lamanya—orang-orang yang dulu bekerja di bawah Darren, mitra bisnis bayangan, hingga relasi yang tak tercatat secara resmi. Nama Darren seolah menguap dari dunia. Tak ada alamat, tak ada jejak transaksi, bahkan orang-orang yang pernah dekat dengannya mendadak bungkam, seakan ada ketakutan kolektif yang menutup mulut mereka.Di sisi lain, William menelusuri Kemal dengan cara yang lebih sunyi.Lira menjadi penghubungnya. Ia mengingat kembali wajah-wajah lama, orang-orang yang dulu mengenal ayahnya—kenalan samar, nama yang jarang disebut, percakapan setengah bisik di masa lalu. Namun semua upaya itu berujung sama: jalan buntu. Kemal seperti sengaja menghapus dirinya sendiri dari peta.Hari demi hari berlalu, dan kegagalan itu mulai menggerogoti William.Siang itu, William duduk sendirian di ruang kerjanya. Tirai ditutup setengah, cahaya jatuh pucat di atas meja. Ia memijat pelipisnya dengan dua jari, ra

  • Hasrat Cinta Tuan William   98. Rencana Akhir

    Lira terbangun perlahan, disambut cahaya pagi yang pucat menyusup dari balik tirai. Beberapa detik pertama ia hanya diam, membiarkan kesadarannya merangkai ulang potongan ingatan semalam.Lalu ia menyadari sesuatu.Di bawah selimut, tubuhnya telanjang. Kulitnya bersentuhan langsung dengan seprai yang masih hangat—dan dengan tubuh lain di sampingnya.William.Pria itu masih terlelap, napasnya teratur, wajahnya damai dengan cara yang jarang Lira lihat belakangan ini. Rambut hitamnya sedikit berantakan, alisnya rileks, seolah dunia belum menagih apa pun darinya pagi ini.Dada Lira mengencang.Potongan ingatan semalam menyeruak: dirinya yang gemetar, suara sendiri yang putus-putus saat berkata ingin menyerah, wajah William yang tidak marah—hanya lelah dan penuh kesabaran. Lalu tangan yang menuntunnya ke ranjang, suara rendah yang menenangkan, kehangatan yang membuatnya berhenti berpikir.Lira menelan ludah.Ia menatap William lama sekali. Terlalu lama.Ada sesuatu di wajah tidur itu yang

  • Hasrat Cinta Tuan William   97. Segalanya Hancur Perlahan

    Malam itu, rumah terasa terlalu sunyi untuk ukuran sebuah rumah yang baru saja menjadi saksi pernikahan. Setelah kotak hitam berisi bangkai burung gagak itu ditemukan, Lira seperti kehilangan sebagian keberaniannya. Setiap kali ada paket datang, setiap kali pita terlihat, dadanya langsung mengencang. Ia tidak mau menyentuh apa pun. Tidak mau membuka apa pun. Hadiah-hadiah yang sebelumnya tampak berkilau kini baginya hanyalah potensi ancaman.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka—kamar yang kini resmi menjadi milik berdua—dengan lampu temaram dan selimut yang ditarik sampai dada. Ketika pintu terbuka dan William masuk, Lira bahkan tidak menoleh. Namun langkah kaki itu terlalu dikenalnya.William menutup pintu perlahan. Jasnya sudah dilepas, kemejanya hanya tersisa satu kancing yang terpasang. Wajahnya tegang, garis di antara alisnya semakin dalam.“Annalise sudah menceritakan semuanya,” kata William pelan.Kalimat itu menjadi pemicu. Lira langsung bangkit dan berlari ke arah William, m

  • Hasrat Cinta Tuan William   96. Kotak Hitam Misterius

    Gedung tempat pernikahan itu berdiri seperti sebuah istana modern—menjulang, berlapis marmer pucat yang memantulkan cahaya sore. Langit-langitnya tinggi dengan kubah kaca raksasa, dari mana cahaya matahari jatuh lembut, menimpa altar yang dihiasi rangkaian bunga putih dan hijau pucat. Lilin-lilin kristal berjajar di sepanjang lorong, memantulkan kilau emas dari ornamen-ornamen halus yang menegaskan kemegahan tanpa kesan berlebihan. Setiap detail tampak terukur, seolah ruangan itu bernapas mengikuti irama janji yang akan diucapkan.Lira melangkah masuk dengan gaun putih elegan—potongannya bersih, jatuh mengikuti tubuhnya tanpa berteriak. Tidak ada renda berlebihan; hanya kemurnian garis dan kilau kain yang halus. Rambutnya disanggul rendah, beberapa helai dibiarkan membingkai wajahnya. Di hadapan altar, William menunggu dengan jas hitam yang terpotong rapi. Rambutnya dipangkas lebih pendek dari biasanya, keningnya tampak jelas, wajahnya tegas namun tenang—sebuah ketenangan yang hanya d

  • Hasrat Cinta Tuan William   95. Aku Ingin Menikah Padamu Saat Ini Juga

    Selewat beberapa waktu, kejayaan Lira terasa menanjak dengan kecepatan yang bahkan membuat dirinya sendiri terperangah. Tawaran demi tawaran berdatangan tanpa henti—iklan produk kecantikan, pemotretan editorial, hingga undangan tampil di beberapa acara televisi. Namanya mulai dikenal bukan sekadar sebagai “model Averi”, melainkan sebagai Lira Suhita: wajah baru yang sedang bersinar.Ada kebahagiaan yang jujur setiap kali ia pulang membawa kontrak baru, setiap kali namanya disebut dengan nada kagum. Namun kebahagiaan itu terasa lengkap karena satu hal: William selalu ada di dekatnya. Ia hadir sebagai penonton pertama setiap pemotretan, sebagai pendengar setia cerita-cerita kecil Lira, dan sebagai tempat Lira pulang ketika lelahnya dunia mulai terasa berat. Dalam diamnya, William menjaga jarak dari sorotan, seolah kejayaan Lira adalah panggung yang memang seharusnya hanya milik gadis itu.Siang itu, mereka berbelanja di sebuah supermarket besar. Tanpa pengawal, tanpa asisten, hanya mere

  • Hasrat Cinta Tuan William   94. Bayangan Darren yang Tak Lenyap

    Hampir sebulan telah berlalu sejak malam di pantai itu—malam ketika William menyatakan perasaannya kepada Lira dan menyematkan cincin di jarinya. Waktu tidak berjalan biasa sejak saat itu; ia seakan melunak, mengalir lebih hangat, dan memberi ruang bagi keduanya untuk tumbuh dalam kedekatan yang semakin nyata.Mereka terlihat semakin mesra, dan hal itu nyaris tak bisa disembunyikan. Di pagi hari, William kerap muncul di ambang pintu kamar Lira hanya untuk memastikan gadis itu sudah sarapan. Ia akan membenarkan kerah pakaian Lira dengan jari-jarinya sendiri, atau menyelipkan rambut yang jatuh ke belakang telinga Lira dengan gestur yang terlalu intim untuk ukuran rumah besar yang dipenuhi pelayan. Di ruang makan, William sering duduk terlalu dekat, lutut mereka bersentuhan, tangannya bertengger santai di sandaran kursi Lira—seolah tempat itu memang miliknya.Para pelayan menjadi saksi yang kikuk. Ada yang pura-pura sibuk membersihkan meja yang sudah bersih, ada yang memilih menunduk dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status