แชร์

103. Tentang sleepwalking

ผู้เขียน: Gibran Dangumaos
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-16 17:08:43

Malam sudah lewat tengah malam, tapi Laras masih belum juga bisa memejamkan mata.

Lampu kamar utama sudah dimatikan. Hanya ada seberkas cahaya bulan samar yang menyelinap masuk lewat sela tirai tipis.

Di sampingnya, sang suami sudah tertidur lebih dulu. Napasnya teratur. Begitu tenang. Sangat bertolak belakang dengan isi kepala Laras yang sejak tadi seperti mesin yang menolak berhenti bekerja.

Perempuan itu berbaring terlentang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Diam. Namun, pikirannya me
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Hasrat Kakak Tiri   143. Umpan?

    Arion menyusuri jalanan kota menuju kedai teh yang disebutkan Laras.Pikiran Arion melayang pada sosok ayahnya.Mahendra bukan tipe pria yang akan bertindak kasar atau menggunakan ancaman terbuka.Ayahnya adalah seorang politikus kawakan.Ia ahli dalam membentuk persepsi, menggiring opini, dan membuat orang lain tunduk tanpa merasa dipaksa.Arion mengepalkan jemarinya di atas roda kemudi.Ia tahu betul, jika ayahnya ingin memisahkan dirinya dari Shana, pria tua itu tidak akan menyerangnya secara langsung.Ayahnya akan menyasar Shana—titik paling rapuh yang ingin ia lindungi.Di sebuah sudut kedai teh yang tertutup.Laras duduk menyendiri sambil meremas saputangan di tangannya.Pintu geser terbuka pelan, memperlihatkan sosok Arion yang melangkah masuk.Arion menarik kursi di hadapan ibu tirinya tanpa suara."Tante Laras."Laras mendongak, matanya yang sembap menatap Arion dengan raut penuh kecemasan."Terima kasih sudah mau datang, Arion."Arion tidak menyentuh cangkir teh di atas meja

  • Hasrat Kakak Tiri   142. Jejak yang Ditinggalkan

    Pagi datang tanpa membawa rasa tenang.Arion sudah duduk di depan meja kerjanya sejak fajar menyingsing.Di hadapannya, tiga lembar salinan dokumen dari map cokelat itu terbentang rapi.Ia memandangi stempel bank tua yang tercetak samar di sudut kanan bawah.Jemarinya mengetuk meja mahoni secara teratur.Ada rasa pusing yang perlahan menjalar di pangkal lehernya.Semakin ia meneliti alur angka di lembaran itu, semakin banyak lubang yang ia temukan.Aliran dana tersebut terlalu rapi untuk ukuran transaksi gelap di masa lalu.Seolah ada seseorang yang dengan sengaja melukis jejak itu agar mudah ditemukan puluhan tahun kemudian.Pintu kamar mandi terbuka pelan.Shana keluar dengan rambut yang masih basah terikat asal.Ia menatap Arion yang tampak sangat sibuk dengan tumpukan kertasnya."Kak Arion belum tidur sama sekali?"Arion refleks menutupi dokumen di mejanya dengan map kosong."Sudah tadi, sebentar."Shana berjalan mendekati meja kerja itu dengan langkah perlahan.Ia menyadari gerak

  • Hasrat Kakak Tiri   141. Layaknya Virus

    Langkah Arion menuruni tangga rumah utama terasa dingin dan berat.Map cokelat kusam di genggamannya terasa menekan, seolah berisi tumpukan batu.Di ujung tangga, Laras masih berdiri mematung.Wanita itu memandangi Arion dengan raut wajah yang sulit diartikan.Ada cemas, ada gelisah, namun ada pula penyesalan yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat."Arion..."Suara Laras memecah keheningan koridor.Arion menghentikan langkahnya, tanpa menoleh sepenuhnya."Tante belum tidur?"Laras melangkah mendekat, matanya sempat mengerling ke arah map cokelat di tangan Arion."Ayahmu... apa yang dia katakan padamu di dalam?"Arion memutar tubuhnya perlahan, menatap ibu tiri yang selama ini selalu bersikap lembut namun berjarak itu."Ayah meminta aku menjauhi Shana."Napas Laras tertahan sejenak."Lalu... apa jawabanmu?""Tante sendiri bagaimana?" tanya Arion balik, nadanya tetap tenang namun mengintimidasi."Apakah Tante juga setuju jika aku menjauhi Shana?"Laras membisu, jemarinya saling merema

  • Hasrat Kakak Tiri   140. Berkas yang Dipalsukan

    Roy masih menatap layar ponsel di genggamannya."Putrimu mulai bertanya."Tiga kata sederhana itu merayap lebih mengerikan daripada gertakan kematian mana pun yang pernah ia dengar.Cengkeraman jemarinya pada ponsel mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.Ia menyadari betul apa yang sedang berlangsung di balik layar.Ada tangan dingin yang sedang memainkan takdir mereka seperti bidak catur.Bukan cuma dirinya yang diseret.Bukan cuma Arion yang dijebak.Bukan cuma Shana yang diintai.Namun Laras juga sedang dijadikan umpan di tengah pusaran ini.Roy memejamkan mata rapat-rapat, mengusir denyut nyeri di kepalanya.Kilas memori kelam dari puluhan tahun lalu mendadak bangkit kembali.Malam itu.Malam ketika ia terpaksa melangkah pergi meninggalkan Laras yang sedang menggendong Shana,.Malam yang seumur hidupnya tak pernah benar-benar bisa ia maafkan.Namun sebelum penyesalan itu menariknya semakin dalam—ponselnya bergetar kembali dalam genggaman.TING!Sebuah notifikasi baru muncul.

  • Hasrat Kakak Tiri   139. Pertanyaan Ayah

    Pagi datang terlalu cepat.Cahaya matahari menyusup samar melalui celah tirai apartemen, jatuh membentuk garis tipis di lantai ruang tengah yang masih menyimpan sisa dingin semalam.Arion sudah terjaga sejak satu jam yang lalu.Namun ia tetap bergeming di tepi ranjang.Pikirannya terus berputar pada pesan singkat dari ayahnya yang masuk tadi malam."Besok pagi, datang ke rumah. Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan denganmu."Kalimat yang sangat singkat dan kaku.Namun Arion mengenal ayahnya melebihi siapa pun—beliau bukan tipe orang yang memanggil anaknya tanpa perhitungan matang.Terlebih setelah rangkaian kejanggalan yang terjadi sepanjang malam kemarin.Roy.Shana.Damar.Dan kini—titik terangnya justru mengarah pada ayahnya sendiri.Arion menunduk, menatap layar ponselnya yang meredup di genggaman.Di sampingnya, Shana masih terlelap tenang.Wajah gadis itu tampak begitu polos, sangat berbeda dari raut tegang yang ia tunjukkan semalam.Tidak ada garis gelisah di keningnya.Ti

  • Hasrat Kakak Tiri   138. Pesan Yang Salah

    Sementara itu...di dalam keheningan apartemen Arion, Shana masih menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.Sisa hujan di luar telah sepenuhnya reda.Namun udara malam masih menyisakan dingin yang mengembun tipis pada kaca jendela.Arion tidak banyak berucap.Tangannya menggenggam erat jemari Shana yang terasa dingin.Ia bisa merasakannya—ada getar emosi yang berbeda dari perempuan di sampingnya.Bukan perubahan yang kentara.Bukan sesuatu yang bisa ditangkap oleh mata orang awam.Namun Arion mengenali napas Shana cukup baik untuk menyadari gelisah itu.Ada beban berat yang sedang berputar di kepalanya.Sebuah rahasia yang jemarinya sendiri belum sanggup memeluknya."Kamu yakin baik-baik saja?"Shana mengangguk pelan."Iya, Kak.""Raut mukamu kelihatan berbeda."Shana tersenyum tipis, meratapi kehangatan yang baru saja ia rasakan."Mungkin karena hari ini... ada bagian dari diriku yang akhirnya menemukan rumahnya."Arion berpaling menatapnya lekat."Sesuatu yang penting?"Shana terdiam

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status