ANMELDENLangkah Arion menuruni tangga rumah utama terasa dingin dan berat.Map cokelat kusam di genggamannya terasa menekan, seolah berisi tumpukan batu.Di ujung tangga, Laras masih berdiri mematung.Wanita itu memandangi Arion dengan raut wajah yang sulit diartikan.Ada cemas, ada gelisah, namun ada pula penyesalan yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat."Arion..."Suara Laras memecah keheningan koridor.Arion menghentikan langkahnya, tanpa menoleh sepenuhnya."Tante belum tidur?"Laras melangkah mendekat, matanya sempat mengerling ke arah map cokelat di tangan Arion."Ayahmu... apa yang dia katakan padamu di dalam?"Arion memutar tubuhnya perlahan, menatap ibu tiri yang selama ini selalu bersikap lembut namun berjarak itu."Ayah meminta aku menjauhi Shana."Napas Laras tertahan sejenak."Lalu... apa jawabanmu?""Tante sendiri bagaimana?" tanya Arion balik, nadanya tetap tenang namun mengintimidasi."Apakah Tante juga setuju jika aku menjauhi Shana?"Laras membisu, jemarinya saling merema
Roy masih menatap layar ponsel di genggamannya."Putrimu mulai bertanya."Tiga kata sederhana itu merayap lebih mengerikan daripada gertakan kematian mana pun yang pernah ia dengar.Cengkeraman jemarinya pada ponsel mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.Ia menyadari betul apa yang sedang berlangsung di balik layar.Ada tangan dingin yang sedang memainkan takdir mereka seperti bidak catur.Bukan cuma dirinya yang diseret.Bukan cuma Arion yang dijebak.Bukan cuma Shana yang diintai.Namun Laras juga sedang dijadikan umpan di tengah pusaran ini.Roy memejamkan mata rapat-rapat, mengusir denyut nyeri di kepalanya.Kilas memori kelam dari puluhan tahun lalu mendadak bangkit kembali.Malam itu.Malam ketika ia terpaksa melangkah pergi meninggalkan Laras yang sedang menggendong Shana,.Malam yang seumur hidupnya tak pernah benar-benar bisa ia maafkan.Namun sebelum penyesalan itu menariknya semakin dalam—ponselnya bergetar kembali dalam genggaman.TING!Sebuah notifikasi baru muncul.
Pagi datang terlalu cepat.Cahaya matahari menyusup samar melalui celah tirai apartemen, jatuh membentuk garis tipis di lantai ruang tengah yang masih menyimpan sisa dingin semalam.Arion sudah terjaga sejak satu jam yang lalu.Namun ia tetap bergeming di tepi ranjang.Pikirannya terus berputar pada pesan singkat dari ayahnya yang masuk tadi malam."Besok pagi, datang ke rumah. Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan denganmu."Kalimat yang sangat singkat dan kaku.Namun Arion mengenal ayahnya melebihi siapa pun—beliau bukan tipe orang yang memanggil anaknya tanpa perhitungan matang.Terlebih setelah rangkaian kejanggalan yang terjadi sepanjang malam kemarin.Roy.Shana.Damar.Dan kini—titik terangnya justru mengarah pada ayahnya sendiri.Arion menunduk, menatap layar ponselnya yang meredup di genggaman.Di sampingnya, Shana masih terlelap tenang.Wajah gadis itu tampak begitu polos, sangat berbeda dari raut tegang yang ia tunjukkan semalam.Tidak ada garis gelisah di keningnya.Ti
Sementara itu...di dalam keheningan apartemen Arion, Shana masih menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.Sisa hujan di luar telah sepenuhnya reda.Namun udara malam masih menyisakan dingin yang mengembun tipis pada kaca jendela.Arion tidak banyak berucap.Tangannya menggenggam erat jemari Shana yang terasa dingin.Ia bisa merasakannya—ada getar emosi yang berbeda dari perempuan di sampingnya.Bukan perubahan yang kentara.Bukan sesuatu yang bisa ditangkap oleh mata orang awam.Namun Arion mengenali napas Shana cukup baik untuk menyadari gelisah itu.Ada beban berat yang sedang berputar di kepalanya.Sebuah rahasia yang jemarinya sendiri belum sanggup memeluknya."Kamu yakin baik-baik saja?"Shana mengangguk pelan."Iya, Kak.""Raut mukamu kelihatan berbeda."Shana tersenyum tipis, meratapi kehangatan yang baru saja ia rasakan."Mungkin karena hari ini... ada bagian dari diriku yang akhirnya menemukan rumahnya."Arion berpaling menatapnya lekat."Sesuatu yang penting?"Shana terdiam
Sementara beberapa kilometer dari sana—Roy masih duduk berhadapan dengan Shana.Menatap putrinya dengan keheningan yang perlahan memeluk canggung di antara mereka.Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan.Tentang tawa yang melewatkan masa kecil Shana.Tentang luka yang diam-diam menyusun kehidupannya.Tentang Arion.Tentang Laras.Namun untuk hari ini—melihat Shana duduk di hadapannya saja sudah terasa lebih dari cukup.Setidaknya untuk sebuah awal yang sempat runtuh.Roy memandangi mata gadis itu, menatap pantulan dirinya sendiri yang terlalu lama absen."Shana.""Iya?""Kalau suatu saat kamu merasa dunia terlalu berat..."Roy menghentikan ucapannya, tenggorokannya terasa tersumbat."...hubungi Ayah."Shana tersenyum tipis, sebentuk senyum yang hangat namun menyimpan jeda panjang."Baik, Ayah."Roy mengangguk, berusaha menahan denyut hangat di dadanya.Namun sebelum Shana sempat merapikan tas dan berdiri—Roy kembali menahan napasnya."Dan satu hal lagi."Shana menatapnya leka
Pagi itu—Roy duduk sendirian di ruang kerjanya.Secangkir kopi hitam berada di atas meja, tetapi sejak tadi tidak disentuh.Pikirannya masih tertahan pada percakapan semalam.Jangan percaya semua yang dikatakan Damar.Bahkan Damar pun tidak mengetahui seluruh kebenarannya.Roy mengusap wajahnya pelan.Ada terlalu banyak hal yang harus ia pikirkan.Tentang Alena.Tentang Arion.Tentang Damar.Tentang pria misterius yang kembali setelah bertahun-tahun menghilang.Dan sekarang—tentang Shana.Roy menatap sebuah nama yang terpampang di layar ponselnya.Shana.Jarinya sudah berada di atas tombol panggil selama hampir satu menit.Namun ia belum juga menekannya.Aneh.Menghadapi orang-orang yang mengancam hidupnya jauh lebih mudah daripada menghubungi seorang anak yang seharusnya sejak dulu ia kenal.Anaknya sendiri.Roy menarik napas panjang.Lalu akhirnya menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar.Sekali.Dua kali.Tiga kali.Kemudian—"Hallo?"Suara perempuan muda terdengar dari seb







