Beranda / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / 112. Tak Bisa Menolak

Share

112. Tak Bisa Menolak

last update Tanggal publikasi: 2026-05-20 19:23:48

Napas Shana perlahan tertahan di tenggorokan.

Karena cara Arion menatapnya sekarang—

bukan lagi seperti seseorang yang sedang bercanda.

Bukan juga tatapan seorang teman.

Tatapan itu terlalu dalam.

Terlalu serius.

Dan terlalu hangat untuk bisa ia hindari.

“Aku nolak semua ini…” suara Arion rendah, nyaris seperti bisikan.

“…karena dari awal aku udah nggak bisa lihat perempuan lain.”

Jantung Shana langsung seperti jatuh bebas.

Matanya membesar sedikit.

Sementara Arion—

masih menatapnya tanpa berpa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hasrat Kakak Tiri   139. Pertanyaan Ayah

    Pagi datang terlalu cepat.Cahaya matahari menyusup samar melalui celah tirai apartemen, jatuh membentuk garis tipis di lantai ruang tengah yang masih menyimpan sisa dingin semalam.Arion sudah terjaga sejak satu jam yang lalu.Namun ia tetap bergeming di tepi ranjang.Pikirannya terus berputar pada pesan singkat dari ayahnya yang masuk tadi malam."Besok pagi, datang ke rumah. Ada hal penting yang harus Ayah bicarakan denganmu."Kalimat yang sangat singkat dan kaku.Namun Arion mengenal ayahnya melebihi siapa pun—beliau bukan tipe orang yang memanggil anaknya tanpa perhitungan matang.Terlebih setelah rangkaian kejanggalan yang terjadi sepanjang malam kemarin.Roy.Shana.Damar.Dan kini—titik terangnya justru mengarah pada ayahnya sendiri.Arion menunduk, menatap layar ponselnya yang meredup di genggaman.Di sampingnya, Shana masih terlelap tenang.Wajah gadis itu tampak begitu polos, sangat berbeda dari raut tegang yang ia tunjukkan semalam.Tidak ada garis gelisah di keningnya.Ti

  • Hasrat Kakak Tiri   138. Pesan Yang Salah

    Sementara itu...di dalam keheningan apartemen Arion, Shana masih menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.Sisa hujan di luar telah sepenuhnya reda.Namun udara malam masih menyisakan dingin yang mengembun tipis pada kaca jendela.Arion tidak banyak berucap.Tangannya menggenggam erat jemari Shana yang terasa dingin.Ia bisa merasakannya—ada getar emosi yang berbeda dari perempuan di sampingnya.Bukan perubahan yang kentara.Bukan sesuatu yang bisa ditangkap oleh mata orang awam.Namun Arion mengenali napas Shana cukup baik untuk menyadari gelisah itu.Ada beban berat yang sedang berputar di kepalanya.Sebuah rahasia yang jemarinya sendiri belum sanggup memeluknya."Kamu yakin baik-baik saja?"Shana mengangguk pelan."Iya, Kak.""Raut mukamu kelihatan berbeda."Shana tersenyum tipis, meratapi kehangatan yang baru saja ia rasakan."Mungkin karena hari ini... ada bagian dari diriku yang akhirnya menemukan rumahnya."Arion berpaling menatapnya lekat."Sesuatu yang penting?"Shana terdiam

  • Hasrat Kakak Tiri   137. Nama Yang Tak Boleh Disebut

    Sementara beberapa kilometer dari sana—Roy masih duduk berhadapan dengan Shana.Menatap putrinya dengan keheningan yang perlahan memeluk canggung di antara mereka.Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan.Tentang tawa yang melewatkan masa kecil Shana.Tentang luka yang diam-diam menyusun kehidupannya.Tentang Arion.Tentang Laras.Namun untuk hari ini—melihat Shana duduk di hadapannya saja sudah terasa lebih dari cukup.Setidaknya untuk sebuah awal yang sempat runtuh.Roy memandangi mata gadis itu, menatap pantulan dirinya sendiri yang terlalu lama absen."Shana.""Iya?""Kalau suatu saat kamu merasa dunia terlalu berat..."Roy menghentikan ucapannya, tenggorokannya terasa tersumbat."...hubungi Ayah."Shana tersenyum tipis, sebentuk senyum yang hangat namun menyimpan jeda panjang."Baik, Ayah."Roy mengangguk, berusaha menahan denyut hangat di dadanya.Namun sebelum Shana sempat merapikan tas dan berdiri—Roy kembali menahan napasnya."Dan satu hal lagi."Shana menatapnya leka

  • Hasrat Kakak Tiri   136. Pertemuan Yanng Twrlambat

    Pagi itu—Roy duduk sendirian di ruang kerjanya.Secangkir kopi hitam berada di atas meja, tetapi sejak tadi tidak disentuh.Pikirannya masih tertahan pada percakapan semalam.Jangan percaya semua yang dikatakan Damar.Bahkan Damar pun tidak mengetahui seluruh kebenarannya.Roy mengusap wajahnya pelan.Ada terlalu banyak hal yang harus ia pikirkan.Tentang Alena.Tentang Arion.Tentang Damar.Tentang pria misterius yang kembali setelah bertahun-tahun menghilang.Dan sekarang—tentang Shana.Roy menatap sebuah nama yang terpampang di layar ponselnya.Shana.Jarinya sudah berada di atas tombol panggil selama hampir satu menit.Namun ia belum juga menekannya.Aneh.Menghadapi orang-orang yang mengancam hidupnya jauh lebih mudah daripada menghubungi seorang anak yang seharusnya sejak dulu ia kenal.Anaknya sendiri.Roy menarik napas panjang.Lalu akhirnya menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar.Sekali.Dua kali.Tiga kali.Kemudian—"Hallo?"Suara perempuan muda terdengar dari seb

  • Hasrat Kakak Tiri   135. Mulai Terlihat

    Malam merangkak semakin larut.Namun mata Roy sama sekali belum mau terpejam.Ia berdiri sendirian di balkon lantai dua rumahnya.Secangkir kopi hitam di atas meja kecil sudah lama kehilangan uapnya.Dingin.Sama dinginnya dengan pikiran Roy malam itu.Angin malam berembus pelan.Membawa aroma tanah basah sehabis hujan.Namun ketenangan itu gagal meredakan kegelisahan di dadanya.Ucapan Damar terus terngiang."Kita diawasi.""Mereka mulai bergerak."Roy mengembuskan napas panjang.Sudah bertahun-tahun ia berusaha menjauh dari permainan itu.Ia membangun perusahaan.Membesarkan Alena.Menjalani hidup senormal mungkin.Ia mengira...masa lalu akhirnya memilih mengubur dirinya sendiri.Ternyata ia salah.Masa lalu tidak pernah benar-benar mati.Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.Roy menoleh ke arah langit.Awan gelap masih menggantung.Tidak terlihat satu pun bintang.Persis seperti malam ketika semuanya berubah bertahun-tahun silam.Saat itu...ia kehilangan seseorang.Da

  • Hasrat Kakak Tiri   134. Damar

    SUV hitam itu perlahan memasuki sebuah kawasan perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.Udara malam terasa lebih dingin.Kabut tipis mulai turun, menyelimuti jalanan yang hanya diterangi beberapa lampu taman.Mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang berdiri sendirian di atas lahan luas.Dari luar...rumah itu tampak biasa.Bahkan terlalu sederhana untuk seseorang seperti Damar.Tak ada pagar tinggi.Tak ada penjagaan berlebihan.Tak ada kemewahan yang mencolok.Justru kesederhanaan itulah yang menjadi penyamaran terbaik.Damar turun dari mobil.Tatapannya sempat menyapu sekeliling halaman.Sunyi.Namun ia tetap tidak lengah.Kejadian di pantai beberapa jam lalu masih terus berputar di kepalanya.Seseorang telah mengawasi percakapannya dengan Roy.Dan itu berarti...lingkaran permainan mulai mengecil.Pintu rumah terbuka.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun segera menyambutnya.Rambutnya telah memutih.Tubuhnya sedikit membungkuk.Namun sorot matanya masi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status