LOGIN.“Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu.”Arka meletakkan cangkir kopinya di atas meja.Alena yang duduk di hadapannya mengangkat wajah. Sejak mereka datang ke kafe itu, Arka memang terlihat beberapa kali hendak mengatakan sesuatu, tetapi selalu mengurungkan niatnya.“Apa?” tanya Alena.Arka menatapnya sesaat.“Bagaimana keadaanmu belakangan ini?”Alena mengerjap. Ia tidak menyangka pertanyaan itu yang akan keluar.“Baik-baik saja.”“Benarkah?”Alena tersenyum kecil. “Kalau aku bilang tidak, memangnya kamu bisa melakukan sesuatu?”“Setidaknya aku bisa mendengarkan.”Jawaban itu membuat senyum Alena perlahan menghilang.Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa berbeda ketika diucapkan Arka. Tidak ada desakan untuk menjelaskan. Tidak ada tuntutan agar ia segera menemukan jalan keluar. Arka hanya menunggunya, seolah ia benar-benar punya waktu untuk mendengar apa pun yang ingin diceritakannya.Alena menunduk, memainkan sendok kecil di samping cangkirnya.“Semalam aku merasa sedan
Roy mendorong pintu mobil dengan kasar.Jantungnya berdegup liar.Di hadapannya, truk itu semakin dekat. Melaju tanpa kendali. Badannya terus bergoyang ke kiri dan kanan.Ia tak punya waktu untuk berpikir.Roy baru saja mengangkat tubuhnya. Tiba-tiba, sorot lampu dari arah berlawanan menyilaukan matanya.Sebuah mobil melesat.Kecepatannya sangat tinggi. Seolah pengemudinya tak berniat menginjak rem sama sekali.Roy hanya sempat melihat kilatan bodi mobil gelap. Sebelum kendaraan itu menghantam bagian depan truk.BRAAAAKK!Suara benturan menggelegar. Memecah kesunyian jalanan.Bagian depan mobil ringsek seketika. Truk terdorong menyamping.Suara logam beradu terdengar memekakkan telinga. Pecahan kaca berhamburan. Serpihan bodi terpental ke aspal.Roy terpaku.Tubuhnya membeku di ambang pintu.Belum sempat ia memahami situasi, sebuah mobil lain meluncur dari belakang truk.Pengemudinya mencoba menghindar. Namun, jarak sudah terlalu dekat.DUAARR!Mobil itu menabrak kendaraan di depannya
Mobil Roy melaju membelah jalanan menjelang malam.Lampu-lampu kendaraan berkelebat dari arah berlawanan. Sesekali, ia mengurangi kecepatan ketika melewati persimpangan, tetapi pikirannya tak benar-benar berada di jalan.Ada terlalu banyak hal yang belakangan ini terasa janggal.Ancaman terhadap Arka.Desakan agar Arion menikahi Alena.Kunjungan orang-orang yang tak pernah diketahui identitasnya.Lalu, percakapannya dengan Damar di kafe beberapa waktu lalu.Semua itu seperti potongan puzzle yang tersebar di atas meja. Bentuknya belum sempurna, tetapi Roy mulai melihat garis yang menghubungkan satu potongan dengan potongan lainnya.Ia teringat kembali pada catatan transaksi lama yang sempat ditanyakannya kepada Rina. Nama Reygon muncul di sana, membuat istrinya ketakutan dengan cara yang sulit dijelaskan.Mengapa nama lelaki itu masih muncul setelah sekian lama?Dan mengapa urusan pernikahan Arion dengan Alena terasa semakin mendesak?Roy memperlambat mobil.Pikirannya kembali pada per
Nama Reygon terpampang di layar ponsel.Pria di dalam mobil itu segera menekan tombol panggil.Panggilan tersambung setelah dering kedua.“Ya?”“Pak, saya baru saja melihat Roy meninggalkan apartemen Arion.”Hening sejenak di ujung telepon.“Roy?”“Benar, Pak. Dia datang membawa makanan. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi kunjungannya berlangsung cukup lama.”Reygon tidak langsung menjawab.Ia berdiri di dekat jendela ruang kerjanya, memandang hamparan lampu kota yang mulai menyala. Sebatang rokok terjepit di antara jarinya, tetapi sejak tadi belum juga ia hisap.“Apakah dia datang sendirian?”“Sejauh yang saya lihat, iya.”“Dan Shana?”“Saya tidak melihatnya.”Reygon menyipitkan mata.Ia tidak mengetahui bahwa Shana telah pindah dari apartemen Arion. Berdasarkan informasi yang selama ini dikumpulkannya, perempuan itu masih tinggal bersama Arion.Kunjungan Roy membuatnya memikirkan kemungkinan lain.Mungkin lelaki itu mulai khawatir melihat kedekatan putrinya dengan Ari
Roy tiba di apartemen Arion menjelang sore.Sebuah kantong berisi makanan tergantung di tangannya. Ia berniat menemui Shana, sekadar memastikan putrinya baik-baik saja setelah beberapa hari terakhir jarang bercerita panjang kepadanya.Pintu terbuka tak lama setelah bel ditekan.Arion berdiri di ambang pintu, tampak sedikit terkejut.“Om Roy?”“Sedang sibuk?”“Tidak. Silakan masuk, Om.”Roy melangkah ke dalam. Pandangannya berkeliling ruang tamu yang tertata rapi, lalu berhenti pada sudut ruangan dekat jendela.Biasanya, ada barang-barang Shana di sana. Bantal kecil, selimut yang kadang tergeletak sembarangan, atau tas yang ditinggalkannya begitu saja.Sekarang, sudut itu kosong.“Shana mana?”Arion menutup pintu.“Dia sudah pindah.”Roy menoleh.“Pindah ke mana?”“Ke apartemen lain. Dekat kantornya.”Roy meletakkan kantong makanan di atas meja. Ia tidak langsung duduk.“Kapan?”“Beberapa hari lalu.”Ada sedikit perubahan pada wajah Roy. Bukan kemarahan, melainkan keterkejutan yang seg
Pria berkemeja gelap itu mendekat. Matanya jatuh pada satu nama yang tertulis di bagian bawah laporan. Seketika, wajahnya kehilangan warna. Ia membaca nama itu sekali lagi. Seolah berharap dirinya telah salah melihat. Namun, nama tersebut tidak berubah. "Ini tidak mungkin..." bisiknya. Sosok di balik meja menatapnya lekat-lekat. "Sayangnya, laporan ini mengatakan sebaliknya." Pria itu mengangkat wajah dengan napas tertahan. "Kalau dia benar-benar terlibat..." "Berarti selama ini..." Ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Sosok di balik meja menutup laporan itu perlahan. "Ya." Tatapannya beralih ke foto-foto di atas meja. "Selama ini, mungkin kita bukan satu-satunya pihak yang sedang menyusun rencana." Keduanya mulai mempertanyakan satu hal. Satu hal yang jauh lebih mengerikan daripada kemungkinan kegagalan. Bagaimana jika sejak awal... merekalah yang sedang diarahkan menuju jalan buntu? ....Kafe kecil itu terletak di pinggiran kota.Jauh dari keramaian pusat b







