Compartilhar

170.

last update Data de publicação: 2026-10-30 14:44:09

Alena menarik napas panjang, kemudian membalas singkat, Baik. Aku akan datang.

Setelah pesan terkirim, Alena meletakkan ponselnya.

Ia mencoba kembali bekerja.

Namun, pikirannya telanjur dipenuhi berbagai kemungkinan.

Setelah sekian lama, Arion akhirnya mengambil inisiatif untuk menemuinya.

Seharusnya ia merasa senang.

Akan tetapi, entah mengapa, ia justru merasa seperti seseorang yang sedang menunggu keputusan besar.

Keputusan atas sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.

Keesokan
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Hasrat Kakak Tiri   170.

    Alena menarik napas panjang, kemudian membalas singkat, Baik. Aku akan datang.Setelah pesan terkirim, Alena meletakkan ponselnya.Ia mencoba kembali bekerja.Namun, pikirannya telanjur dipenuhi berbagai kemungkinan.Setelah sekian lama, Arion akhirnya mengambil inisiatif untuk menemuinya.Seharusnya ia merasa senang.Akan tetapi, entah mengapa, ia justru merasa seperti seseorang yang sedang menunggu keputusan besar.Keputusan atas sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.Keesokan paginya, Alena menghabiskan lebih banyak waktu daripada biasanya untuk memilih pakaian.Ia akhirnya mengenakan blus sederhana berwarna krem dan celana panjang hitam.Tidak berlebihan.Cukup rapi untuk sebuah pertemuan yang belum ia pahami arahnya.Sebelum berangkat, ia berdiri sejenak di depan cermin.“Tenang saja,” gumamnya kepada diri sendiri. “Kamu cuma mau bicara.”Namun, kata-kata itu tidak banyak membantu menenangkan dadanya.Sepanjang perjalanan, pikirannya terus berputar pada satu perta

  • Hasrat Kakak Tiri   168. Sebuah Pertemuan

    Senyum Tante Mira masih mengembang.“Ada banyak cara,” gumamnya. “Asal tahu harus mulai dari mana.”Ia memasukkan ponsel ke dalam tas dan bangkit dari kursi.Dalam perjalanan menuju pintu keluar, Tante Mira tidak lagi memikirkan bagaimana Roy memandangnya atau bagaimana Rina akan bereaksi jika mengetahui pertemuan ini.Yang ada di pikirannya hanya satu: hadiah besar yang menunggunya jika pernikahan itu terlaksana.Apa pun caranya.Di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari restoran, pria berkemeja gelap itu mengeluarkan ponselnya.Ia memilih sebuah nomor yang tersimpan tanpa nama.Panggilan tersambung.“Bagaimana?” tanya suara laki-laki dari seberang.“Bu Mira bersedia melanjutkan usahanya.”“Apakah dia memahami apa yang harus dilakukan?”“Sudah saya jelaskan. Dia tahu pernikahan Arion dan Alena harus terlaksana.”“Bagus.”Pria itu melirik ke arah restoran melalui kaca depan.“Namun, keluarga Roy tidak semudah yang kita perkirakan. Roy tidak ingin memaksakan pernikahan, sementara A

  • Hasrat Kakak Tiri   168. Tante Mira

    Tante Mira melirik jam tangannya untuk ketiga kalinya.Restoran itu tidak terlalu ramai. Musik instrumental mengalun pelan, sesekali bercampur dengan suara percakapan dari meja-meja di sekitarnya. Di hadapannya, secangkir teh yang dipesan hampir dua puluh menit lalu mulai kehilangan uapnya.Ia tidak datang untuk menikmati makanan atau mencari suasana tenang.Ada seseorang yang harus ditemuinya.Ponselnya bergetar.Sebuah pesan singkat masuk.Saya sudah sampai. Meja paling belakang.Tante Mira segera merapikan tasnya, kemudian bangkit dan berjalan menuju bagian restoran yang lebih sepi.Seorang pria berpakaian kemeja gelap duduk membelakanginya. Usianya mungkin sekitar empat puluh tahun. Di atas meja, hanya ada segelas air mineral dan sebuah ponsel.Pria itu menoleh ketika Tante Mira mendekat.“Silakan duduk, Bu.”Tante Mira menarik kursi di hadapannya.“Maaf, saya terlambat sedikit.”“Tidak masalah.”Pria itu tersenyum tipis, tetapi tatapannya tidak menunjukkan keramahan yang sama.“B

  • Hasrat Kakak Tiri   166. Keputusan Arion

    Malam itu, Arion baru saja menuntaskan rentetan tugas kuliahnya.Ponsel di atas meja mendadak bergetar pelan.Nama Arka tertera di layar.Arion melirik jam dinding sesaat, lalu mengangkat panggilan itu.“Tumben banget menelepon malam-malam. Ada masalah apa?”“Memangnya aku harus punya masalah dulu baru boleh meneleponmu, hah?”“Biasanya sih begitu.”Arka terkekeh renyah dari seberang sana.“Wah, persahabatan kita ternyata menyedihkan sekali ya.”“Kalau cuma mau mengeluh nggak jelas, aku tutup teleponnya.”“Eh, jangan! Aku serius.”Nada suara Arka mendadak berubah.Tidak sepenuhnya berat, tapi cukup kontras untuk membuat Arion mengalihkan atensinya sepenuhnya dari layar laptop.“Ada apa?” tanya Arion serius.Arka tidak langsung menjawab.Di tempatnya, ia duduk bersandar pada sofa, mendekatkan ponsel erat ke telinga.Sejak berpisah dari kafe bersama Alena sore tadi, ribuan pikiran terus berputar liar di kepalanya.Ia sudah blak-blakan membuka isi hatinya pada perempuan itu.Namun, ia be

  • Hasrat Kakak Tiri   165. Terjebak Kekhawatiran

    Shana menatap layar ponselnya lekat-lekat.Pesan terakhir dari nomor asing itu masih terpampang jelas di sana.Jangan beri tahu Arion dulu. Masalah ini tidak ada hubungannya dengan dia.“Memangnya kamu siapa, main melarang-larang begitu?” gumamnya kesal.Ia sempat berniat membalas dengan rentetan pertanyaan tajam.Namun, urung ia lakukan.Orang itu bahkan tidak menjawab pesannya yang sebelumnya. Mengirim chat lagi hanya buang-buang waktu dan tenaga.Shana akhirnya beralih membuka kembali foto sang ayah.Roy tampak berdiri di dekat mobil, tertangkap kamera dari kejauhan.Tidak ada yang aneh dari potret itu.Kecuali satu fakta: seseorang telah mengambil gambarnya tanpa izin dan sepengetahuan Roy.Shana memperbesar gambar tersebut. Berharap ia bisa menemukan secuil petunjuk tentang di mana foto itu diambil.Sayang sekali, resolusinya tidak cukup tajam untuk membantunya.Ia kembali mencoba menghubungi ayahnya.Tidak diangkat.Shana mengembuskan napas berat, lalu membiarkan tubuhnya ambruk

  • Hasrat Kakak Tiri   164. Hanya Sebagian Kecil

    Shana mengetik balasan. Jarinya berhenti di atas papan ketik.Ada terlalu banyak tanya. Sampai ia sendiri bingung harus mulai dari mana.Ia menatap layar ponsel. Mulutnya sedikit terbuka.“Uangku...?”Malam yang sepi mendadak riuh oleh tanda tanya.Ia kembali membaca pesan dari ayahnya.Oh ya, Na. Uang yang Ayah kirim tadi itu baru sebagian kecil dari uangmu.Sebagian kecil?Shana menghitung jumlah yang baru masuk. Lalu membayangkan angka itu dikali sekian kali.Keningnya berkerut.“Ya ampun. Jangan-jangan aku salah baca.”Ia buka aplikasi perbankan. Mengecek saldo. Menutupnya. Membukanya lagi.Angkanya sama persis.Shana mengusap wajah.“Ini sebenarnya apa, sih?”Ia mengetik pesan.Shana: Yah, maksudnya uang Shana? Sejak kapan Shana punya uang sebanyak ini?Pesan terkirim.Belum semenit, Roy membalas.Roy: Memangnya selama ini kamu pikir Ayah bekerja hanya untuk makan sendiri?Shana mengerucutkan bibir.Shana: Bukan begitu. Tapi Ayah tidak pernah bilang punya uang khusus buat Shana.

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status