เข้าสู่ระบบSentuhan yang awalnya ragu-ragu karena beban pikiran perlahan berubah menjadi luapan emosi yang tertahan. Ciuman itu mendalam, menuntut, sarat akan ketakutan kehilangan dan keputusasaan yang tidak terucap. Shana menarik kerah kemeja Arion, merapatkan tubuh mereka tanpa jarak yang tersisa, sementara tangan Arion mencengkeram pinggangnya erat-erat, seolah ingin menyatukan raga mereka agar takdir atau siapa pun tidak bisa memisahkan.Nafas mereka memburu di ruang tamu yang mendadak terasa panas. Arion mengangkat Shana tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, membuat kaki wanita melingkar di pinggangnya. Shana mendesah pelan saat punggungnya menabrak dinding dingin, kontras dengan panas tubuh Arion yang mendominasinya. Segala keraguan, bayang-bayang Alena, dan teka teki yang belum terjawab seolah lebur dalam sentuhan-sentuhan liar yang menuntut kepastian kenikmatan.Tangan Arion merayap masuk ke dalam pakaian Shana, meraba kulit halusnya dengan tergesa-gesa, membakar setiap jengkal tubuh ya
Pagi itu terasa berbeda bagi Shana.Tidak ada suara drama dari televisi. Tidak ada musik dari ponselnya. Bahkan secangkir kopi yang biasanya ia habiskan sambil bercanda dengan Arion masih dibiarkan dingin di atas meja.Shana hanya duduk diam.Di hadapannya, Arion sedang membaca beberapa lembar catatan. Wajahnya serius seperti biasa, tetapi kali ini Shana tidak sedang memikirkan apa yang sedang dibaca Arion.Ia sedang memikirkan dirinya sendiri.Tentang hidupnya.Tentang hubungan mereka.Dan tentang satu pertanyaan yang sejak beberapa hari terakhir terus berputar di kepalanya.Sampai kapan mereka bisa hidup seperti ini?Shana akhirnya bersuara."Kak?.""Hm?""Kalau semua ini selesai..."Arion mengangkat wajah."Semua ini?""Masalah ayahmu. Alena. Ayahku. Semua."Arion menatapnya beberapa detik."Kita akan menyelesaikannya.""Aku bukan bertanya soal itu."Shana menarik napas."Aku bertanya tentang kita."Tangan Arion berhenti bergerak.Shana menundukkan kepala sebentar sebelum kembali m
"Apa itu?"Shana tidak langsung menjawab.Jemarinya saling bertaut gelisah di hadapan Arion."Aku takut... setelah aku memanggilnya Ayah."Arion menunggu."Roy bilang aku jangan dulu memberi tahu Alena tentang pertemuan kami."Arion sedikit mengernyit."Kenapa?""Katanya... belum waktunya."Shana menarik napas panjang."Dia bilang ada alasan mengapa keberadaanku selama ini tidak pernah diketahui Alena."Arion terdiam.Kalimat itu mengingatkannya pada percakapan dengan Laras.Juga pada nama Alena.Serta pernikahan yang terasa dipaksakan ke dalam hidupnya.Namun malam ini ia tidak ingin membawa semua persoalan itu ke hadapan Shana.Setidaknya tidak sekarang."Roy memberimu alasan?""Belum.""Dia hanya memintamu merahasiakannya?"Shana mengangguk.Arion berjalan menuju sofa.Ia duduk, lalu menepuk tempat kosong di sampingnya."Sini."Shana menurut.Ia duduk di samping Arion dengan jarak yang sangat dekat.Beberapa detik mereka hanya diam.Tidak ada suara notifikasi.Tidak ada telepon.Ti
Malam semakin larut.Apartemen itu akhirnya kembali sunyi.Lampu ruang makan masih menyala, menerangi dua piring nasi goreng yang tinggal separuh.Namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menikmati makanan itu.Arion masih berdiri kaku di dekat meja.Sementara Shana duduk di kursi, menatapnya dengan tatapan yang perlahan berubah hangat, namun dalam."Kak.""Hm?""Sejak tadi Kakak kelihatan seperti sedang memikul beban yang sangat berat."Arion terdiam sejenak.Ia menghela napas, menarik kursi di hadapan Shana, lalu duduk perlahan."Aku cuma sedang memikirkan banyak hal.""Apakah ada hubungannya dengan Ibuku?"Pertanyaan jujur itu membuat binar mata Arion berubah.Shana memperhatikan riak emosi di wajah pria itu."Aku tahu Ibu menemui Kakak tadi."Arion mengembuskan napas panjang."Tante Laras tidak bilang apa-apa yang buruk tentangmu.""Aku tidak bertanya soal itu."Shana tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana."Aku cuma ingin tahu... apa yang sebenarnya bikin Kakak
Arion menyusuri jalanan kota menuju kedai teh yang disebutkan Laras.Pikiran Arion melayang pada sosok ayahnya.Mahendra bukan tipe pria yang akan bertindak kasar atau menggunakan ancaman terbuka.Ayahnya adalah seorang politikus kawakan.Ia ahli dalam membentuk persepsi, menggiring opini, dan membuat orang lain tunduk tanpa merasa dipaksa.Arion mengepalkan jemarinya di atas roda kemudi.Ia tahu betul, jika ayahnya ingin memisahkan dirinya dari Shana, pria tua itu tidak akan menyerangnya secara langsung.Ayahnya akan menyasar Shana—titik paling rapuh yang ingin ia lindungi.Di sebuah sudut kedai teh yang tertutup.Laras duduk menyendiri sambil meremas saputangan di tangannya.Pintu geser terbuka pelan, memperlihatkan sosok Arion yang melangkah masuk.Arion menarik kursi di hadapan ibu tirinya tanpa suara."Tante Laras."Laras mendongak, matanya yang sembap menatap Arion dengan raut penuh kecemasan."Terima kasih sudah mau datang, Arion."Arion tidak menyentuh cangkir teh di atas meja
Pagi datang tanpa membawa rasa tenang.Arion sudah duduk di depan meja kerjanya sejak fajar menyingsing.Di hadapannya, tiga lembar salinan dokumen dari map cokelat itu terbentang rapi.Ia memandangi stempel bank tua yang tercetak samar di sudut kanan bawah.Jemarinya mengetuk meja mahoni secara teratur.Ada rasa pusing yang perlahan menjalar di pangkal lehernya.Semakin ia meneliti alur angka di lembaran itu, semakin banyak lubang yang ia temukan.Aliran dana tersebut terlalu rapi untuk ukuran transaksi gelap di masa lalu.Seolah ada seseorang yang dengan sengaja melukis jejak itu agar mudah ditemukan puluhan tahun kemudian.Pintu kamar mandi terbuka pelan.Shana keluar dengan rambut yang masih basah terikat asal.Ia menatap Arion yang tampak sangat sibuk dengan tumpukan kertasnya."Kak Arion belum tidur sama sekali?"Arion refleks menutupi dokumen di mejanya dengan map kosong."Sudah tadi, sebentar."Shana berjalan mendekati meja kerja itu dengan langkah perlahan.Ia menyadari gerak







