LOGINArka masih berdiri di depan pos satpam, tapi pikirannya sudah jauh melompat ke mana-mana.Wanita…Kata itu berputar-putar di kepalanya seperti jarum rusak.Siapa wanita itu?Bukan teman Shana yang ia kenal. Bukan rekan kampus. Bukan siapa pun yang pernah Shana sebutkan di sela-sela obrolan mereka. Shana bukan tipe yang naik mobil orang asing, apalagi malam-malam, apalagi dalam kondisi lelah seperti tadi.Kecuali…Arka mengusap wajahnya kasar.Kecuali dia kenal baik.Pikirannya mencoba menyusun logika, tapi semuanya mentok.Kalau dia kenal… kenapa Shana nggak bilang apa-apa?Kenapa nomornya mati?Kenapa gue nggak tahu?Untuk pertama kalinya, Arka merasa tersisih dari lingkaran Shana. Dan rasa itu—asing, menusuk, tidak menyenangkan.“Mas,” katanya lagi ke satpam, nadanya lebih pelan, “wanitanya kelihatan gimana?”Satpam mengangkat bahu. “Biasa aja, Mas. Dewasa. Rapi. Kayaknya… bukan orang sembarangan.”Bukan orang sembarangan.Arka tertawa pendek tanpa humor.Semua orang di sekitar Shan
Arka duduk di balkon rumahnya, rokok menyala di sela jari, tapi tidak benar-benar dihisap. Api di ujungnya dibiarkan menyusut sendiri, seperti pikirannya yang berputar tanpa arah.Lampu-lampu kota di kejauhan berkelip, dingin, tak peduli.Aku bisa saja mendapatkan Shana tadi, Arion, gumamnya dalam hati, bibirnya melengkung tipis.Terlalu mudah, malah.Ia menepuk dadanya pelan, seolah menenangkan dirinya sendiri.Tapi aku nggak mau tubuhnya.Aku mau hatinya.Arka terkekeh lirih.Nggak kayak lo.Rahangnya mengeras.Lo cuma penikmat tubuh. Datang, sentuh, buang. Semua wanita sama di mata lo.Asap tipis keluar dari hidungnya.“Bodoh,” bisiknya. Entah ditujukan pada Arion… atau dirinya sendiri.Tiba-tiba alisnya berkerut.Ada sesuatu yang tidak pas.Arka melirik jam di ponselnya. Hampir tengah malam.Harusnya… sudah sampai.Ia duduk lebih tegak.Kemana perginya Shana?Tangannya refleks meraih ponsel. Ia membuka chat—tidak ada balasan. Ia menekan tombol panggil.Nomor yang Anda tuju sedang t
Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya.Atau mungkin hanya telinganya yang terlalu peka malam ini.Arion berdiri di depan jendela, tirai setengah terbuka, menatap parkiran apartemen yang mulai lengang. Lampu-lampu kendaraan datang dan pergi, tapi satu mobil yang ia tunggu tidak pernah muncul. Ia mengecek jam lagi. 22.47.“Harusnya sudah pulang,” gumamnya.Ia mencoba duduk. Gagal. Tubuhnya menolak diam. Ada gelisah yang tidak mau diberi nama, tapi terus menggerogoti bagian dada, seperti kuku yang menggaruk dari dalam.Ia mengambil ponsel. Membuka chat Shana. Terakhir online… entah kapan. Tidak ada tanda centang biru. Tidak ada apa-apa.
Arion berdiri beberapa meter di belakang mereka.Ia tidak berniat menguntit. Kalimat itu berulang di kepalanya seperti pembelaan murahan. Ia hanya memastikan. Hanya berjaga jarak. Hanya ingin tahu ke mana Shana pergi setelah meminta izin dengan suara yang terlalu hati-hati. Suara orang yang sedang menyembunyikan keputusan.Lampu jalan membuat bayangannya memanjang di aspal. Ia berhenti setiap kali Shana berhenti. Ia menoleh setiap kali Shana menoleh. Ia tahu jarak yang aman, tahu sudut yang tidak memantulkan wajahnya. Semua itu terlalu mudah. Terlalu terlatih.Dan di sanalah Arka.Arion langsung mengenali cara berdirinya. Cara bahunya sedikit condong ke depan saat berbicara. Cara tertawanya yang sengaja dikeraskan setengah nada—ciri orang yang ingin terlihat dominan di ruang yang bukan miliknya.Dadanya mengeras.Jadi ini maksudnya keluar sebentar.Ia tidak mendekat. Tidak memanggil. Tidak memutuskan untuk muncul seperti laki-laki yang merasa berhak. Ia memilih hal yang lebih dingin.
Langkah kaki Arka melambat, lalu benar-benar berhenti. Ia memutar badannya sedikit, membiarkan bahunya menghadap Shana. Di atas mereka, lampu jalan yang sudah tua berkedip sekali—seolah-olah sedang berusaha tetap nyala di tengah keheningan yang mulai terasa berat.Arka menepuk dadanya sendiri. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk menarik perhatian Shana dari aspal jalanan."Tenang aja," gumamnya, ada nada percaya diri yang menyelip di sela suaranya yang serak. "Selama ada Arka Madya Raka di sini, duniamu nggak bakal runtuh cuma gara-gara satu nama itu."Ia sengaja menyebutkan nama lengkapnya. Bukan untuk sombong, tapi lebih seperti sedang membentengi diri—atau mungkin membentengi Shana.Shana tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Arka, diam. Matanya menyisir wajah lelaki itu, seolah sedang mencari tahu apakah kalimat tadi itu tulus atau cuma bagian dari naskah yang sudah Arka siapkan sejak berangkat tadi."Kamu selalu pakai nama lengkap kalau lagi merasa menang?" tanya Shana. Sua
Telepon itu berdering tepat ketika Arka sedang menyalakan rokok keduanya.Getaran pendek. Sekali. Dua kali. Nama Shana muncul di layar, membuat sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.Ini cepat, batinnya. Terlalu cepat.Ia membiarkan dering itu berlangsung sampai hampir mati sendiri, lalu menjawab dengan nada datar yang ia latih bertahun-tahun—nada orang yang tidak berharap apa-apa.“Kenapa, Sha?”Di seberang sana, Shana tidak langsung menjawab. Arka bisa mendengar napasnya. Teratur, tapi berat. Seolah ada kalimat yang sedang ia susun dan ia takut salah meletakkannya.“Aku mau kamu cerita,” kata Shana akhirnya. “Tentang Arion.”Arka menyandarkan punggung ke dinding. Asap rokok keluar perlahan dari hidungnya.“Cerita yang mana?” tanyanya. “Versi singkat atau versi yang bikin kamu susah tidur?”Hening sebentar.&







