LOGINRoy hanya melirik sekilas layar ponselnya.Nomor asing.Tidak dikenal.Dan tanpa ragu—ia langsung mematikan layar itu kembali.Roy memang seperti itu sejak dulu.Ia tidak suka mengangkat nomor asing.Terlalu banyak hal buruk dalam hidupnya datang dari panggilan-panggilan tak dikenal.Jadi pagi ini pun ia memilih mengabaikannya.Ponsel itu kembali bergetar.Sekali.Dua kali.Roy tetap tidak peduli.Ia memasukkan ponselnya ke saku celana lalu berjalan cepat menuju garasi rumah.Langkahnya terdengar berat di lantai keramik.Pikirannya sudah penuh oleh pertemuannya dengan Laras.Tentang apa yang harus ia katakan.Tentang bagaimana ia harus memulai.Tentang Shana.Dan tentang kemungkinan bahwa hari ini… hidup mereka semua benar-benar akan berubah.Sementara itu—di apartemen Arion,suasana ruang tamu berubah lebih tegang dibanding beberapa menit lalu.Arion masih berdiri dekat meja sofa sambil memegang ponsel di telinga.Tatapannya tajam ke depan.Sedangkan Shana duduk diam sambil memperh
Pagi itu terasa jauh lebih panjang dibanding biasanya.Matahari sudah naik cukup tinggi.Namun di dalam kamar utama rumah Laras—perempuan itu masih berdiri diam di depan lemari pakaian sejak lima belas menit lalu.Tangannya memegang satu blouse berwarna krem.Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Tatapannya kosong.Kacau.Di atas tempat tidur, ponselnya masih menyala.Pesan terakhir dari Roy belum juga hilang dari layar.“Aku rasa kita harus bicara langsung.”Sederhana.Singkat.Namun cukup membuat hati Laras gelisah sejak subuh tadi.Ia mengembuskan napas panjang.Lalu duduk perlahan di pinggir ranjang.Perasaannya campur aduk.Aneh.Dan sedikit memuakkan.Karena setelah bertahun-tahun—hari ini ia akan kembali bertemu Roy secara sengaja.Bukan kebetulan.Bukan sekadar berpapasan.Tapi benar-benar bertemu.Berdua.Pikiran itu saja sudah membuat dadanya terasa tidak nyaman.Laras menunduk pelan.Jemarinya saling menggenggam erat di atas paha.Ia merasa bersalah.Sangat b
Pagi datang perlahan.Langit di luar apartemen masih pucat ketika cahaya matahari pertama mulai menembus sela tirai ruang tamu.Kota belum benar-benar sibuk.Suara kendaraan di bawah sana masih jarang terdengar.Dan di dalam unit apartemen itu—sunyi pagi terasa jauh berbeda dibanding sunyi semalam.Arion sudah bangun sejak satu jam lalu.Namun ia bahkan tidak yakin apakah dirinya benar-benar tidur tadi malam.Kaos hitamnya sedikit kusut.Rambutnya juga berantakan.Ia duduk di sofa ruang tamu sambil menatap layar ponsel yang mati sejak beberapa menit lalu.Pikirannya masih penuh.Tentang Roy.Tentang telepon Arka semalam.Tentang nada suara laki-laki itu ketika menyebut nama “Roy”.Dan entah kenapa—semakin Arion mencoba melupakan semuanya, semakin banyak potongan yang terasa saling terhubung.Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.Ia mengusap wajah kasar.Pelan.Lelah.Namun sebelum pikirannya kembali tenggelam lebih jauh—suara langkah kaki kecil terdengar dari arah dapur.Arion meno
Malam sudah lama melewati puncaknya.Namun, kelopak mata Alena masih menolak untuk terpejam.Kamar itu sunyi dan gelap.Hanya ada seulas cahaya pucat dari lampu taman yang menyelinap lewat celah gorden, melukis garis tipis yang dingin di atas lantai marmer.Alena berbaring telentang.Menatap langit-langit yang samar.Selimutnya masih terlipat rapi, seolah dia bahkan tidak memiliki energi untuk meringkuk di dalamnya.Kedua tangannya bertumpu di atas perut yang terasa agak mual—bukan karena sakit fisik, melainkan karena kecemasan yang perlahan mulai menggerogoti dadanya.Kejadian sore tadi kembali berputar.Egoisnya ingatan manusia; ia selalu memutar ulang hal-hal yang justru paling ingin kita lupakan.Satu per satu detailnya hadir kembali tanpa bisa ia cegah.Tatapan Arion.Nada bicaranya yang datar, seolah seluruh rencana masa depan mereka hanyalah sebuah formalitas bisnis.Dan yang paling melukai hatinya—cara sepasang mata laki-laki itu, berkali-kali tanpa sadar, kehilangan fokus da
Satu notifikasi masuk.Laras melirik sekilas.Namun saat membaca nama pengirimnya—matanya langsung berubah.Roy.Jantungnya berdegup pelan.Ia segera mengambil ponsel itu hati-hati agar tidak membangunkan suaminya.Lalu membuka pesan tersebut.Hanya satu kalimat pendek.“Aku rasa… Shana sudah tahu siapa aku.”Laras langsung terdiam.Tatapannya terpaku pada layar ponsel yang masih menyala redup di tangannya.Kalimat pendek itu terasa seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan air tenang— kecil, namun menciptakan gelombang panjang di dalam dada.“Aku rasa… Shana sudah tahu siapa aku.”Laras menelan ludah pelan.Di sampingnya, suaminya masih tertidur pulas membelakangi dirinya. Napas lelaki itu stabil. Tenang. Sangat bertolak belakang dengan isi kepala Laras malam ini yang mulai kembali dipenuhi suara-suara lama yang selama bertahun-tahun ia paksa diam.Jarinya bergerak perlahan di atas layar.Sempat berhenti.Ragu.Namun hanya beberapa detik.Karena setelah pertemuan tadi sore— Laras sa
Malam sudah lewat tengah malam, tapi Laras masih belum juga bisa memejamkan mata.Lampu kamar utama sudah dimatikan. Hanya ada seberkas cahaya bulan samar yang menyelinap masuk lewat sela tirai tipis.Di sampingnya, sang suami sudah tertidur lebih dulu. Napasnya teratur. Begitu tenang. Sangat bertolak belakang dengan isi kepala Laras yang sejak tadi seperti mesin yang menolak berhenti bekerja.Perempuan itu berbaring terlentang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Diam. Namun, pikirannya melompat ke mana-mana.Tentang sore tadi. Tentang pertemuan keluarga itu. Tentang Arion. Dan tentang bagaimana mata pria itu—beberapa kali tanpa sadar—selalu kembali melirik ke arah Shana.Laras perlahan memiringkan tubuhnya. Tatapannya jatuh pada meja kecil di dekat jendela. Di sana, berdiri sebuah bingkai foto lama.Foto keluarga mereka.Arion berdiri di sana dengan ekspresi datarnya yang khas, sementara Shana tersenyum kecil di sampingnya. Dan entah kenapa—malam ini, semakin dilihat, dadanya se







