Mag-log inSiang itu—matahari sebenarnyasedang bagus-bagusnya.Langit cerah.Udara juga tidakterlalu panas.Namun entah kenapa—apartemen itu terasaseperti dipenuhi sesuatu yang menggantung di udara.Sesuatu yang tidakterlihat.Tapi cukup berat untukmembuat dua penghuninya sama-sama malas keluar rumah.Kuliah hari ituakhirnya hanya jadi formalitas yang mereka abaikan.Shana duduk selonjorandi karpet ruang tamu sambil memeluk erat bantal kecil di pangkuannya.Mencari kenyamanan yang mendadak hilang dari hatinya.Sementara Arion dudukdi sofa di belakangnya.Laptop terbuka dimeja.Tapi sejak tadi tidakbenar-benar disentuh.Pikiran mereka sedangterlalu riuh untuk hanya sekedar peduli pada tugas kampus.“Jadi…”Shana memecahkeheningan. Suaranya agak serak.“…si bocah pom bensinitu akhirnya ngomong juga?”Arion mendengus kecil,ada sisa lelah di helaan napasnya.“Jangan panggil diabocah pom bensin.”“Lah emang bukan?”“Bukan.”“Terus apa?”Arion melirik datar,namun ada binar geli yang
Kafe itu belum terlalu ramai.Roy membeku.Pertanyaan itu tidak keluar dengan nada tinggi.Tidak ada bentakan.Tidak ada tangisan histeris.Namun justru karena Laras mengucapkannya dengan suara yang begitu pelan—rasanya jauh lebih menghancurkan.“…yang dikorbankan dari dulu selalu Shana. Kenapa?”Roy tidak langsung menjawab.Tatapannya jatuh ke jemari Laras yang saling menggenggam erat di atas meja.Jari-jari itu sedikit gemetar.Dan setelah sekian tahun terlewati—Roy akhirnya benar-benar melihat lelah yang selama ini dipikul perempuan di depannya.Laras bukan hanya membesarkan Shana sendirian.Ia juga membesarkan luka sendirian.Roy mengembuskan napas berat.Panjang.Namun udara yang masuk ke paru-parunya terasa tetap tidak cukup.“Aku nggak pernah bermaksud ngorbanin dia…”suara Roy serak.Laras tertawa kecil.Pahit.“Tapi itu yang terjadi.”Roy langsung terdiam lagi.Karena sekali lagi—Laras benar.Dan kebenaran memang sering kali tidak membutuhkan teriakan untuk menghancurkan s
Kafe itu belum terlalu ramai.Masih lewat pukul sepuluh pagi.Beberapa meja di dekat jendela terisi pekerja kantoran yang sibuk dengan laptop dan kopi mereka masing-masing.Sementara di sudut paling belakang—Laras duduk tegak dengan jemari saling bertaut di atas meja yang terasa dingin.Wajahnya terlihat tenang.Namun hanya orang yang benar-benar mengenalnya yang tahu—Jika sebenarnya perempuan itu sedang sangat tegang.Di sampingnya duduk seorang perempuan paruh baya berpakaian sederhana.Mbak Sumi.Pembantu rumah yang sudah lama ikut bersama Laras.Mbak Sumi melirik pelan ke arah majikannya.“Ibu yakin mau ngobrol di sini?”Laras mengangguk kecil.“Di sini aja.”Jawabannya pelan.Pendek.Yetap saja ada sesuatu dalam nada suaranya yang terdengar seperti sedang menjaga dirinya sendiri agar tidak goyah.Sejujurnya—Laras sengaja membawa Mbak Sumi.Bukan tanpa alasan.Ia tidak mau datang sendirian menemui mantan suaminya.Tidak setelah bertahun-tahun.Tidak setelah semua luka yang mere
Roy hanya melirik sekilas layar ponselnya.Nomor asing.Tidak dikenal.Dan tanpa ragu—ia langsung mematikan layar itu kembali.Roy memang seperti itu sejak dulu.Ia tidak suka mengangkat nomor asing.Terlalu banyak hal buruk dalam hidupnya datang dari panggilan-panggilan tak dikenal.Jadi pagi ini pun ia memilih mengabaikannya.Ponsel itu kembali bergetar.Sekali.Dua kali.Roy tetap tidak peduli.Ia memasukkan ponselnya ke saku celana lalu berjalan cepat menuju garasi rumah.Langkahnya terdengar berat di lantai keramik.Pikirannya sudah penuh oleh pertemuannya dengan Laras.Tentang apa yang harus ia katakan.Tentang bagaimana ia harus memulai.Tentang Shana.Dan tentang kemungkinan bahwa hari ini… hidup mereka semua benar-benar akan berubah.Sementara itu—di apartemen Arion,suasana ruang tamu berubah lebih tegang dibanding beberapa menit lalu.Arion masih berdiri dekat meja sofa sambil memegang ponsel di telinga.Tatapannya tajam ke depan.Sedangkan Shana duduk diam sambil memperh
Pagi itu terasa jauh lebih panjang dibanding biasanya.Matahari sudah naik cukup tinggi.Namun di dalam kamar utama rumah Laras—perempuan itu masih berdiri diam di depan lemari pakaian sejak lima belas menit lalu.Tangannya memegang satu blouse berwarna krem.Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Tatapannya kosong.Kacau.Di atas tempat tidur, ponselnya masih menyala.Pesan terakhir dari Roy belum juga hilang dari layar.“Aku rasa kita harus bicara langsung.”Sederhana.Singkat.Namun cukup membuat hati Laras gelisah sejak subuh tadi.Ia mengembuskan napas panjang.Lalu duduk perlahan di pinggir ranjang.Perasaannya campur aduk.Aneh.Dan sedikit memuakkan.Karena setelah bertahun-tahun—hari ini ia akan kembali bertemu Roy secara sengaja.Bukan kebetulan.Bukan sekadar berpapasan.Tapi benar-benar bertemu.Berdua.Pikiran itu saja sudah membuat dadanya terasa tidak nyaman.Laras menunduk pelan.Jemarinya saling menggenggam erat di atas paha.Ia merasa bersalah.Sangat b
Pagi datang perlahan.Langit di luar apartemen masih pucat ketika cahaya matahari pertama mulai menembus sela tirai ruang tamu.Kota belum benar-benar sibuk.Suara kendaraan di bawah sana masih jarang terdengar.Dan di dalam unit apartemen itu—sunyi pagi terasa jauh berbeda dibanding sunyi semalam.Arion sudah bangun sejak satu jam lalu.Namun ia bahkan tidak yakin apakah dirinya benar-benar tidur tadi malam.Kaos hitamnya sedikit kusut.Rambutnya juga berantakan.Ia duduk di sofa ruang tamu sambil menatap layar ponsel yang mati sejak beberapa menit lalu.Pikirannya masih penuh.Tentang Roy.Tentang telepon Arka semalam.Tentang nada suara laki-laki itu ketika menyebut nama “Roy”.Dan entah kenapa—semakin Arion mencoba melupakan semuanya, semakin banyak potongan yang terasa saling terhubung.Terlalu rapi untuk disebut kebetulan.Ia mengusap wajah kasar.Pelan.Lelah.Namun sebelum pikirannya kembali tenggelam lebih jauh—suara langkah kaki kecil terdengar dari arah dapur.Arion meno







