Home / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / "Akan Kukalahkan Rekor-mu, Arion"

Share

"Akan Kukalahkan Rekor-mu, Arion"

last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-27 06:57:10

Suara itu, tipis seperti benang sutra yang direntangkan, menyelinap dari bawah celah pintu. Desahan tertahan, hela napas yang terlalu panjang—semua merambat dan menghantam jantung Shana.

Shana mematung. Kali ini, kakinya menancap ke lantai. Tidak ada naluri untuk mundur atau lari.

Jika sebelumnya ia terlihat hancur, kini wajahnya menampilkan ketenangan dingin. Seperti seseorang yang baru saja menatap kegelapan di dalam dirinya, dan memutuskan untuk menyambutnya.

Waktu seperti mencair, berdetak
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat Kakak Tiri   137. Nama Yang Tak Boleh Disebut

    Sementara beberapa kilometer dari sana—Roy masih duduk berhadapan dengan Shana.Menatap putrinya dengan keheningan yang perlahan memeluk canggung di antara mereka.Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan.Tentang tawa yang melewatkan masa kecil Shana.Tentang luka yang diam-diam menyusun kehidupannya.Tentang Arion.Tentang Laras.Namun untuk hari ini—melihat Shana duduk di hadapannya saja sudah terasa lebih dari cukup.Setidaknya untuk sebuah awal yang sempat runtuh.Roy memandangi mata gadis itu, menatap pantulan dirinya sendiri yang terlalu lama absen."Shana.""Iya?""Kalau suatu saat kamu merasa dunia terlalu berat..."Roy menghentikan ucapannya, tenggorokannya terasa tersumbat."...hubungi Ayah."Shana tersenyum tipis, sebentuk senyum yang hangat namun menyimpan jeda panjang."Baik, Ayah."Roy mengangguk, berusaha menahan denyut hangat di dadanya.Namun sebelum Shana sempat merapikan tas dan berdiri—Roy kembali menahan napasnya."Dan satu hal lagi."Shana menatapnya leka

  • Hasrat Kakak Tiri   136. Pertemuan Yanng Twrlambat

    Pagi itu—Roy duduk sendirian di ruang kerjanya.Secangkir kopi hitam berada di atas meja, tetapi sejak tadi tidak disentuh.Pikirannya masih tertahan pada percakapan semalam.Jangan percaya semua yang dikatakan Damar.Bahkan Damar pun tidak mengetahui seluruh kebenarannya.Roy mengusap wajahnya pelan.Ada terlalu banyak hal yang harus ia pikirkan.Tentang Alena.Tentang Arion.Tentang Damar.Tentang pria misterius yang kembali setelah bertahun-tahun menghilang.Dan sekarang—tentang Shana.Roy menatap sebuah nama yang terpampang di layar ponselnya.Shana.Jarinya sudah berada di atas tombol panggil selama hampir satu menit.Namun ia belum juga menekannya.Aneh.Menghadapi orang-orang yang mengancam hidupnya jauh lebih mudah daripada menghubungi seorang anak yang seharusnya sejak dulu ia kenal.Anaknya sendiri.Roy menarik napas panjang.Lalu akhirnya menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar.Sekali.Dua kali.Tiga kali.Kemudian—"Hallo?"Suara perempuan muda terdengar dari seb

  • Hasrat Kakak Tiri   135. Mulai Terlihat

    Malam merangkak semakin larut.Namun mata Roy sama sekali belum mau terpejam.Ia berdiri sendirian di balkon lantai dua rumahnya.Secangkir kopi hitam di atas meja kecil sudah lama kehilangan uapnya.Dingin.Sama dinginnya dengan pikiran Roy malam itu.Angin malam berembus pelan.Membawa aroma tanah basah sehabis hujan.Namun ketenangan itu gagal meredakan kegelisahan di dadanya.Ucapan Damar terus terngiang."Kita diawasi.""Mereka mulai bergerak."Roy mengembuskan napas panjang.Sudah bertahun-tahun ia berusaha menjauh dari permainan itu.Ia membangun perusahaan.Membesarkan Alena.Menjalani hidup senormal mungkin.Ia mengira...masa lalu akhirnya memilih mengubur dirinya sendiri.Ternyata ia salah.Masa lalu tidak pernah benar-benar mati.Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.Roy menoleh ke arah langit.Awan gelap masih menggantung.Tidak terlihat satu pun bintang.Persis seperti malam ketika semuanya berubah bertahun-tahun silam.Saat itu...ia kehilangan seseorang.Da

  • Hasrat Kakak Tiri   134. Damar

    SUV hitam itu perlahan memasuki sebuah kawasan perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.Udara malam terasa lebih dingin.Kabut tipis mulai turun, menyelimuti jalanan yang hanya diterangi beberapa lampu taman.Mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial yang berdiri sendirian di atas lahan luas.Dari luar...rumah itu tampak biasa.Bahkan terlalu sederhana untuk seseorang seperti Damar.Tak ada pagar tinggi.Tak ada penjagaan berlebihan.Tak ada kemewahan yang mencolok.Justru kesederhanaan itulah yang menjadi penyamaran terbaik.Damar turun dari mobil.Tatapannya sempat menyapu sekeliling halaman.Sunyi.Namun ia tetap tidak lengah.Kejadian di pantai beberapa jam lalu masih terus berputar di kepalanya.Seseorang telah mengawasi percakapannya dengan Roy.Dan itu berarti...lingkaran permainan mulai mengecil.Pintu rumah terbuka.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun segera menyambutnya.Rambutnya telah memutih.Tubuhnya sedikit membungkuk.Namun sorot matanya masi

  • Hasrat Kakak Tiri   133. Siapa sebenarnya Arka Madya Raka

    Malam semakin larut.Hujan yang sejak sore mengguyur kota akhirnya mulai reda.Lampu-lampu jalan memantulkan bayangan basah di atas aspal.SUV hitam milik Arka melaju tenang meninggalkan kafe.Di balik kemudi...senyum tipis masih bertahan di wajahnya.Entah sudah berapa kali sejak tadi ia mengingat tawa Alena.Tawa yang sederhana.Namun cukup membuat perjalanan pulang terasa jauh lebih singkat."Hadeh..."gumamnya pelan sambil menggeleng."Aku ini kenapa, sih?"Ia tertawa sendiri.Lalu menggeleng lagi."Baru ngopi sekali aja udah senyum-senyum sendiri."Lampu lalu lintas berubah merah.Mobil berhenti.Arka mengetuk pelan setir dengan jemarinya.Pikirannya kembali melayang.Alena.Perempuan itu terlihat begitu kuat.Namun malam ini...untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain dari dirinya.Sisi yang lelah.Sisi yang rapuh.Dan entah kenapa...Arka ingin terus berada di dekatnya."Aduh..."Ia menepuk dahinya pelan."Jangan mulai macam-macam, Ka.""Itu calon tunangan orang."Lampu beru

  • Hasrat Kakak Tiri   132. Harus Pulang

    Ting tong…Suara bel itu kembali terdengar.Jelas.Nyaring.Dan langsung meremukkan keheningan yang baru saja mendekap apartemen mereka.Tubuh Arion menegang kaku.Begitu pula Shana.Detik sebelumnya mereka masih saling merengkuh di atas sofa, lebur dalam hangat yang membuat dunia luar terasa jauh.Detik berikutnya—realita menampar mereka tanpa ampun.Ting tong…Bel berbunyi lagi.Kali ini lebih lama.Shana refleks menarik selimut, membungkus tubuhnya hingga ke bahu.Wajahnya pucat pasi.“Kak…”Napasnya memburu tak beraturan.“Siapa malam-malam begini?”Arion menggeleng pelan.Ia sendiri sama bingungnya.Jantungnya bergemuruh begitu hebat sampai telinganya berdenging.Pikirannya langsung meliar pada kemungkinan terburuk.Alena kembali.Satpam tadi.Atau…seseorang yang sama sekali tak boleh tahu keberadaan mereka.Ting tong…Bel berbunyi untuk ketiga kalinya.Arion buru-buru bangkit dari sofa.Tangannya menyambar kaos yang tergeletak di lantai.Memakainya sekenanya sambil mata tak le

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status