MasukShana mengetik balasan. Jarinya berhenti di atas papan ketik.Ada terlalu banyak tanya. Sampai ia sendiri bingung harus mulai dari mana.Ia menatap layar ponsel. Mulutnya sedikit terbuka.“Uangku...?”Malam yang sepi mendadak riuh oleh tanda tanya.Ia kembali membaca pesan dari ayahnya.Oh ya, Na. Uang yang Ayah kirim tadi itu baru sebagian kecil dari uangmu.Sebagian kecil?Shana menghitung jumlah yang baru masuk. Lalu membayangkan angka itu dikali sekian kali.Keningnya berkerut.“Ya ampun. Jangan-jangan aku salah baca.”Ia buka aplikasi perbankan. Mengecek saldo. Menutupnya. Membukanya lagi.Angkanya sama persis.Shana mengusap wajah.“Ini sebenarnya apa, sih?”Ia mengetik pesan.Shana: Yah, maksudnya uang Shana? Sejak kapan Shana punya uang sebanyak ini?Pesan terkirim.Belum semenit, Roy membalas.Roy: Memangnya selama ini kamu pikir Ayah bekerja hanya untuk makan sendiri?Shana mengerucutkan bibir.Shana: Bukan begitu. Tapi Ayah tidak pernah bilang punya uang khusus buat Shana.
Shana mengusap layar, memeriksa siapa nama pengirimnya.Begitu melihat nama yang tertera, kedua alisnya langsung terangkat.Roy.Ayahnya sendiri.“Lho, Ayah transfer uang?”Shana memeriksa nominalnya sekali lagi. Angka yang tertera membuatnya mengerutkan kening. Jumlah itu terlalu besar untuk sekadar uang jajan atau kiriman biasa.Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan nama Roy di daftar kontak.Panggilan tersambung setelah beberapa dering.“Halo, Yah?”“Kenapa, Na?”Shana masih menatap layar ponselnya, seolah berharap nominal transfer tadi berubah dengan sendirinya.“Ayah baru saja transfer uang ke rekening Shana?”“Iya.”“Sebanyak ini?”Roy tertawa kecil di seberang sana.“Memangnya kenapa? Kurang?”“Bukan kurang!” Shana spontan meninggikan suara. “Justru kebanyakan! Ayah tiba-tiba mengirim uang sebanyak ini untuk apa?”“Memangnya seorang ayah harus punya alasan khusus kalau ingin mengirim uang kepada anaknya?”Shana terdiam sesaat.“Ya, tidak juga. Tapi biasanya Ayah bilang du
Shana baru saja tiba di apartemen.Langit di luar jendela mulai beranjak gelap.Ia menutup pintu dengan tumit kakinya.Tas kerja diletakkan asal di atas sofa.Lalu, sebuah napas panjang terlepas begitu saja dari dadanya.“Ya ampun... akhirnya sampai juga.”Setelah seharian bergelut dengan tumpukan pekerjaan yang seolah tak ada ujungnya, keinginannya cuma sederhana.Mandi, ganti baju santai, lalu rebahan menyaksikan drama Korea kesukaannya.Biasanya, ada seseorang yang bakal mengomel jika ia pulang terlalu malam.Seseorang yang selalu ribut kalau ia lupa makan, atau terlalu lama menatap layar ponsel.Laki-laki yang wajahnya selalu lipat dan datar, tapi ajaibnya, diam-diam memperhatikan detail kecil tentang dirinya.Arion.Mata Shana melirik sofa di depannya.Lalu tanpa sadar, pandangannya beralih ke kursi kecil dekat jendela.Entah kenapa, apartemen terasa terlampau sunyi malam ini.Dulu, ia sering sekali mengeluh karena Arion terlalu kaku.Laki-laki itu punya deretan aturan untuk hamp
Alena meletakkan tasnya di samping sofa.“Aku bilang, kalau Tante yang begitu ingin pernikahan itu segera dilaksanakan, Tante saja yang menikah dengan Arion.”“Alena!” Rina menegur, terkejut.Namun, Alena belum selesai.“Dari tadi semua orang sibuk menentukan kapan aku harus menikah, kapan harus menghubungi keluarga Arion, dan bagaimana supaya pernikahan ini tidak batal. Tapi tidak ada satu pun yang bertanya apakah aku bahagia dengan semua ini.”Tante Mira membuka mulut, wajahnya mulai memerah.“Kamu ini anak muda, jangan kurang ajar kepada orang yang lebih tua! Tante sedang memikirkan masa depanmu!”“Kalau memang memikirkan masa depanku, kenapa Tante tidak bertanya dulu apa yang aku inginkan?”“Kamu—”Tante Mira hampir berdiri. Tangannya bahkan sudah bertumpu pada sisi sofa, seolah hendak meluapkan kemarahannya.Namun, tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan Roy.Laki-laki itu tidak meninggikan suara. Ia bahkan masih duduk dengan tenang.Akan tetapi, tatapan Roy cukup membuat Tante M
Alena mematikan mesin mobilnya.Ia masih memandangi deretan kendaraan di halaman rumah dengan kening berkerut. Beberapa mobil bahkan terparkir hingga mendekati pagar.Seingatnya, tidak ada acara keluarga yang dijadwalkan hari ini.Ia turun, mengunci mobil, lalu berjalan menuju pintu utama.Belum sampai di teras, suara percakapan dari ruang tengah sudah terdengar jelas. Beberapa suara terdengar begitu bersemangat, sementara yang lain sesekali menyela dengan nada mendesak.Alena menghela napas.Ada apa lagi ini?Begitu memasuki rumah, ia mendapati ruang tamu penuh oleh kerabat dari pihak ibunya. Beberapa orang duduk di sofa, sebagian lainnya memenuhi kursi tambahan yang sengaja dikeluarkan dari ruang makan.Di antara mereka, Alena mengenali dua orang bibinya, beberapa paman, serta sejumlah sepupu yang sudah lama tidak berkunjung.Roy duduk di salah satu sofa bersama Rina. Wajahnya tenang, tetapi dari cara ia menyandarkan punggung dan melipat kedua tangan di depan dada, Alena bisa meneba
.“Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu.”Arka meletakkan cangkir kopinya di atas meja.Alena yang duduk di hadapannya mengangkat wajah. Sejak mereka datang ke kafe itu, Arka memang terlihat beberapa kali hendak mengatakan sesuatu, tetapi selalu mengurungkan niatnya.“Apa?” tanya Alena.Arka menatapnya sesaat.“Bagaimana keadaanmu belakangan ini?”Alena mengerjap. Ia tidak menyangka pertanyaan itu yang akan keluar.“Baik-baik saja.”“Benarkah?”Alena tersenyum kecil. “Kalau aku bilang tidak, memangnya kamu bisa melakukan sesuatu?”“Setidaknya aku bisa mendengarkan.”Jawaban itu membuat senyum Alena perlahan menghilang.Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa berbeda ketika diucapkan Arka. Tidak ada desakan untuk menjelaskan. Tidak ada tuntutan agar ia segera menemukan jalan keluar. Arka hanya menunggunya, seolah ia benar-benar punya waktu untuk mendengar apa pun yang ingin diceritakannya.Alena menunduk, memainkan sendok kecil di samping cangkirnya.“Semalam aku merasa sedan







