LOGINAda godaan yang tidak berisik.Ia tidak berteriak, tidak memaksa. Ia hanya duduk diam di sudut pikiran, menunggu seseorang cukup lelah untuk lengah.Arion berdiri di sisi ranjang seperti orang yang lupa cara bernapas. Dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya. Cahaya lampu meja menyentuh kulit Shana dengan lembut, menyingkap garis-garis yang selama ini selalu ia lihat, tapi tidak pernah ia lihat seperti malam ini.Ia menelan ludah.“Ini salah,” gumamnya pelan, lebih seperti peringatan daripada keputusan.Namun matanya tetap turun. Bukan pada hal-hal yang vulgar—bukan. Justru pada detail kecil yang terlalu manusiawi untuk diabaikan. Rambut halus di bawah tengkuk Shana, membentuk lengkung lembut seperti huruf V, bergerak naik turun mengikuti napasnya. Tidak mencolok. Tidak disengaja. Tapi entah kenapa, justru di sanalah pikirannya tersangkut.Arion memejamkan mata sejenak.Kenapa justru itu?Ia pernah bersama banyak perempuan. Tubuh-tubuh berbeda, tekstur kulit berbeda, aroma yang
Tidak semua kehancuran datang dengan dentum keras. Sebagian besar justru merayap dalam senyap, dibungkus rapi dengan pita simpul yang manis, dan dikirimkan tepat pada waktunya—seolah-olah tangan yang mengirimnya tidak pernah ada.Udara di tangga sempit itu terasa berat dan lembap. Di atas kepala, lampu neon berkedip-kedip gelisah, seakan memberi peringatan yang tak terbaca. Sosok itu berdiri sejenak, membiarkan paru-parunya menyesuaikan diri dengan debu yang menyesak. Tangannya baru saja melepaskan sebuah kotak kayu tua ke tangan kurir. Alamatnya tertulis dengan tulisan tangan yang miring dan tajam—bukan karena tak mampu mencetak, melainkan karena tulisan tangan selalu punya cara untuk menusuk lebih dalam ke ingatan.Ia tak menoleh saat kurir itu menghilang di tikungan. Di saku jaketnya, ponsel bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tanpa identitas.Sudah sampai.Ia membacanya sekejap, lalu menghapus jejak itu selamanya. Tidak ada se
Baik. Kita lanjut tanpa ringkasan, tanpa kesimpulan, tanpa menggurui. Mengalir, gelap, dan menggantung.Foto itu jatuh di atas meja dengan suara yang nyaris tak terdengar. Kertasnya sudah menguning, sudutnya melengkung seperti pernah terlalu lama disimpan di saku mantel. Wajah perempuan di dalamnya buram oleh waktu, tapi tidak oleh ingatan.Ibu Shana tahu wajah itu.Bukan karena ia sering melihatnya belakangan ini—melainkan karena ia telah berusaha keras melupakannya selama bertahun-tahun.Dadanya mengencang. Tenggorokannya seperti mengeras, seolah tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Ia tidak menarik napas dalam-dalam. Ia tidak bersuara. Ia hanya mematung, menatap foto itu seperti seseorang yang tiba-tiba berhadapan dengan cermin lama yang retaknya ia kenali satu per satu.Perempuan dalam foto itu tersenyum lemah. Rambutnya disisir rapi, matanya cekung namun masih lembut. Senyum orang yang tahu hidupnya tidak panjang, tapi belum siap menyerah.Mendiang istri pertama sua
Sore itu turun perlahan di balkon rumah besar yang berdiri tenang di balik pagar tinggi. Rumah itu bukan rumah yang berisik. Tidak ada tawa berlebih, tidak ada percakapan panjang tanpa tujuan. Segalanya tertata, terlalu tertata seperti kehidupan yang sejak lama diputuskan untuk tidak memberi ruang pada kejutan.Ibu Shana duduk sendiri di kursi kayu panjang, menghadap halaman belakang yang luas. Rumputnya dipotong rapi, pot-pot bunga berjajar simetris, dan pohon kamboja di sudut halaman berdiri seperti saksi bisu yang terlalu sering melihat rahasia manusia.Di pangkuannya, secangkir teh melati mengepul tipis. Ia tidak benar-benar berniat meminumnya. Tangannya hanya ingin sesuatu untuk digenggam, agar pikirannya tidak melayang terlalu jauh.Angin sore menyentuh kulit lengannya. Tidak dingin, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa tubuhnya tidak lagi bekerja seperti dulu.Ia menghela napas perlahan.Menopause.Kata itu tidak pernah keluar dari mulutnya. Bahkan dalam pikirannya pun jarang
Telepon itu terasa lebih berat daripada seharusnya.Shana duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar ke dinding, jari-jarinya mencengkeram ponsel seperti sedang memegang sesuatu yang rapuh. Kipas angin di sudut kamar berputar malas. Cahaya siang menembus tirai tipis, jatuh tepat di lantai—terang, jujur, dan sama sekali tidak peduli pada kekacauan di kepala Shana.“Cerita tentang siapa?” ulang Shana, suaranya tenang, terlalu tenang.Di seberang sana, Rika menghela napas. Bukan napas gugup. Lebih seperti seseorang yang sudah lama memutuskan, dan akhirnya menekan tombol kirim.“Arion.”Nama itu menggantung di udara beberapa detik, seperti debu yang enggan jatuh.Shana tidak langsung menjawab. Ia berdiri, berjalan ke jendela, menyingkap tirai sedikit. Siang di luar terlihat normal—orang lewat, motor melintas, dunia tidak berhenti hanya karena satu nama disebutkan.“Aku dengar,” kata Shana akhirnya, “tapi aku nggak janji mau percaya.”“Itu adil,” jawab Rika cepat. “Aku juga nggak minta k
Arka menarik tirai jendela perlahan. Kain berat itu bergeser, menutup pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang berkelap-kelip seperti sirkuit elektronik yang tak pernah tidur. Kota di luar menghilang, menyisakan pantulan samar lampu kamar di kaca—seperti dunia yang sengaja dipadamkan setengah hati. Di pantulan itu, ia melihat bayangannya sendiri: seorang pria yang selama ini membangun benteng begitu tinggi hingga ia sendiri lupa cara untuk keluar.Luna berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak menyentuh. Tidak mendesak. Ia hanya hadir sebagai jangkar di tengah badai diam yang berkecamuk di kepala Arka. Kehadirannya tidak terasa seperti tuntutan, melainkan seperti sebuah undangan yang terbuka.“Kita bisa berhenti,” kata Luna pelan. Suaranya tidak mengandung keraguan, juga bukan sebuah tawaran terakhir yang penuh ancaman. Itu terdengar lebih seperti pengingat bahwa pintu di belakang mereka masih ada, tidak terkunci, dan Arka memegang kuncinya.Arka tidak langsung berbalik.







