LOGINMalam belum terlalu larut saat mobil itu menepi.Mesin mati.Tapi Roy tetap diam di kursinya.Tangannya masih mencengkeram setir.Matanya lurus ke depan.Kosong.Lampu jalan memantul di kaca, menciptakan bayangan yang bergerak kacau.Sama seperti isi kepalanya sejak meninggalkan rumah itu.Rumah Arion.Rumah yang tadi terasa begitu menyesakkan.Dan sekarang, mendadak terasa terlalu jauh untuk digapai kembali.Roy menghela napas panja
Ruangan itu mendadak sunyi saat suara itu muncul.Suaranya tidak keras.Juga tidak ragu.Tapi cukup untuk membuat semua orang menoleh.“Aku rasa kami tidak perlu menunggu lebih lama.”Ayah Alena akhirnya bicara.Sejak tadi dia lebih banyak diam di sudut kursi.Nada suaranya terlalu stabil.Seperti naskah yang sudah dia hafal di luar kepala.Semua mata tertuju padanya.Arion diam.Ayahnya pun diam.Shana juga terpaksa melihat ke arahnya.Pria itu berdiri pelan sekali.Gerakannya tertata.Dia tampak berusaha keras agar tetap terlihat tenang.“Terima kasih atas waktunya,” ucapnya pada ayah Arion.“Juga untuk keterbukaan hari ini.”Ayah Arion hanya mengangguk kecil.“Kami yang berterima kasih karena kalian sudah datang.”Pria itu tersenyum tipis.Hanya tarikan bibir yang formal.Matanya tetap terasa dingin.“Untuk urusan sebesar ini, saya rasa semua memang butuh waktu.”Kalimat itu terdengar seperti izin.Tapi Shana tahu itu adalah cara halus untuk pergi.Rina ikut berdiri di sampingnya.
Suara itu tidak keras.Tapi cukup untuk memecah sesuatu yang baru saja mulai terbentuk di antara mereka.Arion tidak langsung menoleh.Tatapannya masih tertahan di wajah Shana.Seolah ia tahu—begitu ia berbalik, percakapan ini akan berhenti di titik yang belum selesai.Dan mungkin… tidak akan pernah kembali ke titik yang sama.Shana yang lebih dulu mengalihkan pandangan.Bukan karena kalah.Tapi karena lelah.“Dipanggil,” katanya pelan.Nada suaranya kembali datar.Seolah beberapa detik yang lalu tidak pernah terjadi apa-apa.Arion mengangguk kecil.Namun kakinya belum bergerak.“Aku—” ia sempat ingin mengatakan sesuatu.Menahan.Menjelaskan.Atau mungkin… meminta waktu.Namun Shana sudah sedikit mundur.Memberi jarak lagi.Jarak yang tadi sempat mengecil.“Pergi aja,” katanya.Kali ini tanpa menatap.Dan entah kenapa… itu terasa lebih berat.Arion akhirnya berbalik.Langkahnya tenang.Seperti biasa.Namun di dalam kepalanya—tidak ada yang benar-benar tenang.—Ruang tamu terasa sedik
Langit di luar jendela mulai berubah warna.Tidak lagi seterang siang, tapi juga belum sepenuhnya jatuh ke malam. Ada gradasi abu-abu kebiruan yang menggantung, seperti dunia sedang ragu untuk memutuskan akan menjadi apa.Arion berdiri di sana.Masih di tempat yang sama.Masih dengan jarak yang sama dari Shana.Ia tidak mendekat.Bukan karena tidak mau.Tapi karena ia tahu—tidak semua jarak bisa diselesaikan dengan satu langkah.Ada jarak yang justru pecah kalau dipaksa terlalu cepat.Dan Shana… bukan tipe yang bisa ia tarik begitu saja tanpa konsekuensi.Arion menyandarkan bahunya ke dinding di dekat jendela. Tidak terlalu santai, tapi cukup untuk menahan tubuhnya yang sejak pagi terasa lebih berat dari biasanya.Beberapa detik berlalu.Tanpa suara.Tanpa gerakan.Hanya napas yang sesekali terdengar lebih jelas dari yang seharusnya.“Kamu marah?” akhirnya Arion bertanya.Sederhana.Tapi tidak ringan.Shana tidak langsung menjawab.Ia masih menatap keluar. Tangannya masih menyentuh ka
Tidak ada yang langsung berubah setelah kata “setuju” itu keluar dari mulut Laras.Tidak ada suara keras.Tidak ada reaksi berlebihan.Justru sebaliknya—ruangan itu teras tenang. Terlalu tenang.Seperti danau yang permukaannya halus, tapi di bawahnya arus sedang saling bertabrakan tanpa arah.Shana masih duduk di tempatnya.Tubuhnya tidak bergerak.Tapi di dalam—semuanya bergeser.Pelan.Menyakitkan.Dan tidak bisa dihentikan.Ia tidak langsung menatap ibunya.Tidak juga menatap Arion.Tatapannya jatuh ke meja.Ke permukaan kaca yang memantulkan bayangan samar wajah-wajah di sekitarnya.Ibunya.Ayah Arion.Alena.Arion.Sisil.Dan… pria itu.Ayahnya.Orang yang seharusnya menjadi bagian dari hidupnya sejak awal—tapi justru hadir di momen seperti ini.Lengkap.Terlambat.Dan menyakitkan.Tangannya yang sejak tadi saling mengunci di atas paha perlahan mengerat.Ia tidak sadar.Sampai ujung jarinya mulai memucat.Di seberangnya, percakapan mulai bergerak lagi.“Kalau begitu…” suara aya
Ayah Arion menghela napas panjang, pelan sekali. Seolah ia sengaja mengulur waktu, memberi ruang bagi setiap orang di sana untuk menaruh perhatian sepenuhnya—bukan sekadar duduk, tapi benar-benar menyimak.Dengan gerakan yang tenang, jemarinya merogoh saku dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop yang tampak bersahaja, namun terasa begitu sarat oleh makna.Smplop itu berwarna krem, sedikit kusam di sudut-sudutnya, seperti sesuatu yang sudah lama disimpan—bukan karena dilupakan, tapi karena menunggu waktu yang tepat.Semua mata langsung tertuju ke sana.Tanpa perlu diberi tahu, semua orang tahu—ini bukan sekadar kertas biasa."Ada satu hal," kata Ayah Arion akhirnya. Suaranya tenang, namun memiliki bobot yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. "Sesuatu yang seharusnya sudah kita bicarakan sejak lama."Ia meletakkan amplop itu di atas meja. Jemarinya diam di sana beberapa saat, seolah masih enggan melepas apa pun yang tersimpan di dalamnya."Ini," lanjutnya perlahan, "adalah amanat
Telepon itu berdering tepat ketika Arka sedang menyalakan rokok keduanya.Getaran pendek. Sekali. Dua kali. Nama Shana muncul di layar, membuat sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.Ini cepat, batinnya. Terlalu cepat.Ia membiarkan der
Arion tidak langsung membuka pintu.Ada jeda—singkat, tapi sarat kecurigaan—ketika tangannya berhenti beberapa sentimeter dari gagang. Ia berdiri mematung, telinga bekerja lebih keras daripada mata. Di balik pintu, apartemennya yang seharusnya familiar terasa asing. Seperti ruang yang baru saja men
Langkah kaki Arka melambat, lalu benar-benar berhenti. Ia memutar badannya sedikit, membiarkan bahunya menghadap Shana. Di atas mereka, lampu jalan yang sudah tua berkedip sekali—seolah-olah sedang berusaha tetap nyala di tengah keheningan yang mulai terasa berat.Arka menepuk dadanya sendiri. Tida
Shana baru sadar tangannya gemetar ketika cangkir teh itu beradu pelan dengan piring.Bukan karena panas.Bukan karena gugup biasa.Melainkan karena cara ibunya menatap—terlalu tenang untuk sebuah obrolan biasa.“Aku mau kamu ingat,” kata ibunya, pelan







