Share

Tawaran Terakhir

Author: Nhaya_97
last update Last Updated: 2025-08-13 11:18:18

Kayla berdiri di lorong panjang gedung itu, jemarinya masih meremas map berisi berkas lamaran. Ruang kerja Samuel ada di ujung sana, tapi langkahnya justru menjauh.

Udara dingin dari pendingin ruangan tidak mampu meredam panas yang membakar pikirannya. Tawaran yang baru saja dia dengar terasa seperti jebakan yang dibungkus dengan pita emas—menggiurkan, namun berbahaya.

Ia naik ke lantai atas, menuju area rooftop yang biasanya sepi. Dari sana, kota terbentang luas di bawah langit mendung.

Mobil-mobil tampak seperti mainan kecil yang bergerak lambat di jalanan, lampu-lampu mulai menyala meski sore belum sepenuhnya tenggelam. Kayla berdiri di tepi pagar pengaman, memeluk dirinya sendiri tengah mencoba berpikir jernih.

Tiga puluh juta per bulan. Apartemen. Kendaraan. Tunjangan. Semua yang dia butuhkan untuk memperbaiki hidupnya ada di dalam tawaran itu.

Tapi, bekerja langsung di bawah Samuel, pria yang semalam menjadi bagian dari malam paling memalukan dalam hidupnya?

Dia menutup matanya sejenak, mengingat sekilas potongan memori samar—tangannya yang gemetar, suara Samuel yang rendah, dan rasa malu yang menusuk hingga tulang.

Ia berjalan bolak-balik di rooftop itu, seakan langkah-langkahnya bisa merangkai jawaban.

“Ini gila. Ini benar-benar gila,” gumamnya.

Tetapi di setiap putaran pikirannya, satu fakta selalu kembali menghantam: dia sudah tidak punya pilihan banyak lagi.

“Hanya ini satu-satunya yang bisa membuat keadaan hidupku jadi lebih baik—”

Tiba-tiba, dering nyaring ponselnya memecah keheningan. Nama yang terpampang di layar membuat napasnya tercekat—Debt Collector.

“Astaga!”

Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia sempat ragu untuk menjawab, tapi membiarkannya berdering hanya akan membuat mereka semakin marah.

Dengan tangan gemetar, dia akhirnya menekan tombol hijau. “Halo,” sapanya dengan pelan.

“Kayla Janneth!” suara di seberang terdengar garang, nyaris seperti bentakan.

“Kau pikir kau bisa menghindar dari kami, hah? Sudah tiga kali kami hubungi minggu ini, dan kau masih belum juga membayar utangmu!” pekiknya di seberang sana.

Kayla menutup mata menahan dorongan untuk membalas teriak. “Aku … aku tahu. Aku minta waktu sedikit lagi, tolong. Satu bulan saja. Aku janji akan membayar—”

“Tidak ada satu bulan!” potong suara itu dengan ucapan yang sangat kasar. “Kami sudah terlalu lama menunggu. Kalau kau tidak bayar minggu ini, kau tahu akibatnya, Kayla!”

Kata-kata itu menohok seperti pukulan telak. Kayla merasakan perutnya mual saat mendengarna.

“Aku belum ada uangnya,” suaranya lirih bahkan hampir memohon. “Kumohon, beri aku sedikit waktu lagi. Oke, kalau tidak sebulan. Tapi, aku minta waktu sedikit lagi.”

Hening beberapa detik, lalu suara itu terdengar lagi, kali ini sedikit menahan nada marah. “Baiklah. Satu minggu. Tidak lebih. Kalau lewat, kau akan menyesal karena telah membohongi kami!”

Klik.

Panggilan berakhir, tapi ancaman itu terus bergema di telinganya. Kayla menatap ponsel di tangannya lalu menghembuskan napas berat.

Satu minggu. Hanya satu minggu untuk mendapatkan uang itu. Dan tawaran Samuel adalah satu-satunya pintu keluar yang terbuka lebar di hadapannya.

Tangannya terangkat ke wajah lalu mengusapnya dengan pelan.

“Satu minggu. Dia hanya memberiku satu minggu,” gumamnya.

Ia kemudian melirik jam di layar ponsel—pukul 16.57. Tiga menit sebelum batas waktu yang Samuel tetapkan.

“Mau tidak mau, aku harus menerima tawaran ini!”

Jantungnya mulai berdebar tak menentu. Seperti seseorang yang akhirnya berhenti melawan arus dan memilih untuk hanyut.

Kayla menuruni tangga darurat, berjalan dengan cepat menuju lantai tempat ruang kerja Samuel berada.

Ketika dia mendorong pintu ruang kerja itu, Samuel sudah duduk di balik meja dan menatapnya seakan dia sudah tahu Kayla akan kembali.

Senyum tipis terbentuk di sudut bibirnya—bukan senyum kejutan, melainkan senyum kemenangan.

“Kau datang juga akhirnya,” ucapnya dengan tenang seolah kedatangan Kayla hanyalah hal yang sudah bisa dia prediksi.

Kayla berdiri di hadapan mejanya lalu menarik napas panjang. “Aku … menerima tawaran Anda,” katanya akhirnya.

Samuel mengangguk pelan, seolah itu memang jawaban yang dia tunggu. “Bagus. Duduklah. Kita mulai bicara lagi.”

Kayla menurut, tapi matanya langsung membulat ketika Samuel membuka laci dan mengeluarkan sebuah map tebal berisi dokumen.

Pria itu kemudian meletakkannya di atas meja dan mendorongnya perlahan ke arah Kayla. “Kontrak kerjamu sudah siap. Bacalah, dan tandatangani jika kau setuju.”

Alis Kayla terangkat mendengarnya. “Sudah … siap?” Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya itu. “Sejak kapan—”

“Sejak aku memutuskan kau akan menerimanya,” potong Samuel dan menatapnya dengan lurus.

“Aku sudah bilang, aku butuh seseorang yang bisa kupercaya. Dan aku yakin itu kau.”

Kayla terdiam. Rasanya campur aduk—antara tersanjung, terkejut, dan sedikit terperangkap.

“Seolah … semua ini sudah direncanakan,” ucapnya hati-hati.

Samuel menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum samar masih bertahan di wajahnya. “Mungkin saja.”

Kayla menunduk menatap kontrak di depannya. Lembaran-lembaran kertas itu seakan berkilau, memantulkan janji akan masa depan yang lebih aman, tapi di saat yang sama menyimpan bayangan ancaman. Jemarinya ragu membuka halaman pertama, namun ia tetap melakukannya.

“Gaji tiga puluh juta per bulan, fasilitas apartemen, kendaraan, tunjangan,” ucap Samuel santai, seolah membaca isi kontrak itu untuknya.

“Jam kerja fleksibel, tapi aku menuntut kesiapan kapan pun dibutuhkan.”

Kayla menghela napasnya dengan panjang sebelum akhirnya mengangguk dengan pelan.

Ia tahu ini bukan pekerjaan biasa. Bahkan mungkin akan menuntut lebih dari sekadar waktu dan tenaga.

“Kalau kau setuju,” lanjut Samuel, “tandatangani sekarang. Dan kita bisa mulai besok.”

Tatapan mereka bertemu. Kayla menahan napas, lalu mengambil pulpen yang terletak di meja.

Suara gesekan pena di kertas terdengar jelas di tengah kesunyian ruangan itu.

Dengan setiap huruf yang dia coretkan, dia merasa sedang mengikat dirinya pada sebuah kesepakatan yang akan mengubah segalanya.

Begitu tanda tangannya selesai, Samuel mengambil kontrak itu dan menyelipkannya kembali ke dalam map.

“Selamat bergabung, Nona Janneth,” katanya dengan nada suara yang dingin namun entah kenapa terdengar memikat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Jangan di Sini

    “Kau ikut denganku malam ini,” ucapnya tanpa basa-basi setelah pria itu selesai dengan pertemuannya.Kayla mengerutkan kening mendengarnya. “Maksudnya?” tanyanya bingung.“Makan malam.”Kayla terbelalak dan langsung beranjak dari duduknya. “Tuan Samuel, aku—”“Tenang. Kau tidak akan duduk satu meja denganku. Ada meja VIP terpisah. Aku akan memesan untukmu. Kau hanya perlu menungguku di sana. Aku tidak ingin berbincang terlalu lama dengan mereka.”“Untuk apa? Bukankah … makan malam ini adalah urusan pribadi Anda?” nada Kayla mengeras.Samuel mencondongkan tubuh sedikit menatap Kayla dengan tatapan intens. “Kalau kau tidak datang, aku akan memikirkan ulang kontrak kerjamu. Termasuk fasilitas apartemen yang kau nikmati sekarang, Kayla.”Kalimat itu membuat napas Kayla tertahan. Ia menatapnya dengan tatapan tak percaya, tapi ia tahu pria ini tidak main-main dengan ucapannya tadi.Dia kemudian menghela napasnya dan mengangguk singkat. “Baiklah.”**Malam itu, mereka datang terpisah.Samuel

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Ini Baru Awal

    Kayla masih berdiri di sudut lift dengan kedua tangannya memegang map erat-erat. Nafasnya kacau, wajahnya panas. Dan dia hanya tahu satu hal—dia harus menghindari pria itu.Tapi bagian terdalam diriny … diam-diam menunggu “nanti” itu datang.“Kau sudah gila, Kayla!” gerutunya sambil menghina dirinya sendiri karena mulai terperangkap dalam gairah yang Samuel berikan padanya.Setibanya di ruang kerja Samuel, Kayla melangkah masuk terlebih dahulu sambil membawa setumpuk dokumen yang baru saja dia peroleh dari sekretaris divisi keuangan.Samuel berjalan santai di belakangnya, jemari tangan kirinya menyelip di saku celana dengan aura otoritasnya memenuhi ruangan seperti biasa.Belum sempat Kayla meletakkan dokumen di atas meja, ponsel Samuel berdering nyaring. Nada dering khusus yang dia gunakan untuk satu orang—ibunya.Samuel melirik layar sebentar lalu menjawab dengan nada datar. “Ya, Ma?”Suara seorang wanita paruh baya terdengar lantang dari seberang, penuh dengan wibawa dan tanpa memb

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Akan Melanjutkan ini Nanti

    Hari pertama Kayla bekerja sebagai asisten pribadi Samuel berjalan dengan ritme yang melelahkan.Dari pagi, dia sudah harus mendampingi rapat internal, mengatur jadwal meeting klien, hingga memastikan dokumen penting siap di meja bosnya itu.Namun, bukan beban kerja yang membuatnya gugup sepanjang hari. Tapi, karena tatapan Samuel.Tatapan yang menusuk tanpa suara, seperti sesuatu yang dia rasakan di kulit, bahkan di tulang setiap kali dia berani mengangkat kepala. Tatapan yang seolah ingin mengupas lapisan demi lapisan dirinya sampai habis.Saat rapat berlangsung di ruang konferensi besar, Kayla duduk di sisi kanan Samuel, sedikit menunduk sambil mencatat poin-poin penting.Namun dari sudut matanya, dia bisa merasakan—pria itu sedang menatapnya.Kayla tetap mencoba untuk fokus pada pembicaraan direksi, tapi kata-kata di udara terdengar seperti gumaman tak jelas.Satu-satunya hal yang terasa nyata adalah tatapan itu. Perlahan dia melirik, dan benar saja—Samuel sedang memandangnya, tid

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Tawaran Terakhir

    Kayla berdiri di lorong panjang gedung itu, jemarinya masih meremas map berisi berkas lamaran. Ruang kerja Samuel ada di ujung sana, tapi langkahnya justru menjauh.Udara dingin dari pendingin ruangan tidak mampu meredam panas yang membakar pikirannya. Tawaran yang baru saja dia dengar terasa seperti jebakan yang dibungkus dengan pita emas—menggiurkan, namun berbahaya.Ia naik ke lantai atas, menuju area rooftop yang biasanya sepi. Dari sana, kota terbentang luas di bawah langit mendung.Mobil-mobil tampak seperti mainan kecil yang bergerak lambat di jalanan, lampu-lampu mulai menyala meski sore belum sepenuhnya tenggelam. Kayla berdiri di tepi pagar pengaman, memeluk dirinya sendiri tengah mencoba berpikir jernih.Tiga puluh juta per bulan. Apartemen. Kendaraan. Tunjangan. Semua yang dia butuhkan untuk memperbaiki hidupnya ada di dalam tawaran itu.Tapi, bekerja langsung di bawah Samuel, pria yang semalam menjadi bagian dari malam paling memalukan dalam hidupnya?Dia menutup matanya

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Penawaran yang Fantastis

    “Aku … tidak mengerti maksudmu,” ucap Kayla seraya menatap datar wajah Samuel. Ia berusaha menekan gelombang kegelisahan yang mulai muncul dari dalam dadanya.Samuel menyilangkan kakinya dengan angkuh, lalu bersandar santai di kursinya yang terbuat dari kulit hitam mahal.Ia tampak seperti raja di singgasananya, mengamati Kayla layaknya pion yang baru masuk ke dalam permainan catur miliknya. “Kau tahu posisi apa yang kau lamar di sini?” tanyanya dengan suara rendah tapi mengandung tekanan.“Asisten administratif,” jawab Kayla singkat. Ia kemudian menggenggam tangannya erat di pangkuan, sedang mencoba menyembunyikan kegugupan.Samuel menatapnya dalam, pandangannya tajam menembus lapisan luar pertahanan diri Kayla. “Aku punya tawaran yang sedikit berbeda untukmu,” katanya dengan pelan.Kayla mengerutkan kening, naluri curiganya langsung menyala. “Berbeda?” ulangnya dengan nada waspada.“Jadi asisten pribadiku,” ucap Samuel dengan nada yang tenang tapi tegas. Manik matanya yang tajam seo

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Malam Panas yang Membara

    Langkah Kayla Janneth tertatih, hak tingginya nyaris patah, dan napasnya berat dengan aroma alkohol yang menyelimuti tubuhnya.Ia tidak pernah terbiasa minum, tapi malam ini, dia ingin melupakan semuanya. Jeremy, mantan tunangannya, pria brengsek yang membawa kabur semua uang tabungannya termasuk cicilan apartemen yang baru dibayar setengah.Matanya yang setengah terpejam menangkap nomor kamar 2703 dan tanpa berpikir, dia menempelkan kartu akses yang diberikan oleh resepsionis bar hotel.Entah bagaimana bisa kartu itu berada di tangannya, Kayla tak tahu. Yang dia tahu hanyalah kasur empuk dan tempat tenang adalah satu-satunya pelarian saat ini. Pintu terbuka. Lampu kamar temaram, beraroma maskulin dan dingin.Seorang pria tinggi berdiri dengan setelan hitam rapi, dasinya sudah dilepas dan segelas wine di tangannya. Matanya menyipit tajam saat melihat wanita asing—Kayla—menerobos masuk begitu saja.Namun sebelum dia bisa mengucap kata protes, wanita itu telah menutup pintu di belakang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status