Hasrat Terlarang CEO Tampan

Hasrat Terlarang CEO Tampan

last updateLast Updated : 2025-08-13
By:  Nhaya_97Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kayla Janneth, 27 tahun. Cantik, cerdas, dan baru saja bangkit dari luka masa lalu yang nyaris menghancurkannya, ditipu besar-besaran oleh sang kekasih dan kini kabur entah ke mana membawa semua uang miliknya. Saat dirinya mabuk dan salah masuk kamar, dia bercinta dengan pria yang tidak dikenalinya. Setelahnya, dia pergi begitu saja karena ada wawancara kerja. Saat ia menerima tawaran menjadi asisten pribadi seorang CEO muda ternama, ia tidak menduga bahwa lelaki itu—Samuel Thomas—adalah pria yang telah menghabiskan malam bersamanya. Samuel, 32 tahun. CEO tampan dengan reputasi kejam di ruang rapat dan tak tersentuh di ranjang. Ia tidak pernah mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan—hingga Kayla datang, dengan sorot mata tajam dan bibir yang selalu tampak ingin dicium. Ia tahu, menginginkannya adalah kesalahan. Namun semakin ia menjauh, semakin ia terperangkap dalam pesona wanita itu. Di balik meja kerja dan ruangan kaca kantor mewah, ketegangan di antara mereka berubah menjadi permainan berbahaya. Sentuhan yang semula tak disengaja berubah menjadi kecanduan. Tatapan yang seharusnya profesional menjadi terlalu lama dan terlalu panas. Tapi mereka tahu, jika melangkah lebih jauh, tidak akan ada jalan kembali. Rahasia, pengkhianatan, dan masa lalu kelam siap menghancurkan apa pun yang tumbuh di antara mereka. Pertanyaannya: beranikah mereka menghadapi dunia demi rasa yang terlarang ini?

View More

Chapter 1

Malam Panas yang Membara

Langkah Kayla Janneth tertatih, hak tingginya nyaris patah, dan napasnya berat dengan aroma alkohol yang menyelimuti tubuhnya.

Ia tidak pernah terbiasa minum, tapi malam ini, dia ingin melupakan semuanya. Jeremy, mantan tunangannya, pria brengsek yang membawa kabur semua uang tabungannya termasuk cicilan apartemen yang baru dibayar setengah.

Matanya yang setengah terpejam menangkap nomor kamar 2703 dan tanpa berpikir, dia menempelkan kartu akses yang diberikan oleh resepsionis bar hotel.

Entah bagaimana bisa kartu itu berada di tangannya, Kayla tak tahu. Yang dia tahu hanyalah kasur empuk dan tempat tenang adalah satu-satunya pelarian saat ini. 

Pintu terbuka. Lampu kamar temaram, beraroma maskulin dan dingin.

Seorang pria tinggi berdiri dengan setelan hitam rapi, dasinya sudah dilepas dan segelas wine di tangannya. Matanya menyipit tajam saat melihat wanita asing—Kayla—menerobos masuk begitu saja.

Namun sebelum dia bisa mengucap kata protes, wanita itu telah menutup pintu di belakangnya lalu mendekat dan menggenggam kerah bajunya.

“Kau ... pria paling tampan yang pernah kulihat,” Kayla bergumam dengan napas beratnya. “Tolong buat aku melupakan semuanya.”

"Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada dingin sembari melepaskan tangan Kayla dari kerah bajunya.

"Keluar dari kamarku sekarang juga. Kau salah masuk kamar, Nona," ucapnya lagi. 

Kayla mengembungkan pipinya hingga aroma alkohol merebak di penciuman pria itu.

"Oh, ayolah. Hidupku sangat hancur. Tunanganku, Jeremy. Dia membawa kabur semua uangku, menguras habis kartu kreditku dan kini aku dikejar debt colector. Ah, sial! Sepertinya aku sudah gila." 

Pria itu mengangkat alisnya begitu mendengarnya. Wajah tegasnya menatap Kayla dari atas sampai bawah. Dia memang memesan wanita malam untuk melampiaskan kemarahan pada orang tuanya yang terus menjodohkan dia. 

Bajunya lusuh, langkahnya goyah. Sangat kontras dengan penampilan dia yang begitu tegas, tampan, mengenakan setelan mahal, bahkan wine di genggamannya pun bisa membeli tas yang dikenakan oleh wanita itu. 

"Sebaiknya keluar dari kamarku sekarang, Nona," usirnya kembali, dengan nada dinginnya. 

Kayla mendekat kemudian tangannya menyentuh dada Samuel dengan lembut. “Aku butuh pelarian. Aku mohon. Tiduri aku sekarang juga.”

Samuel menaruh gelas wine tersebut di nakas dan menatap datar wajah Kayla. "Siapa namamu?" tanyanya kemudian. 

"Kayla Janneth." Mata lelahnya menatap lekat wajah pria dingin itu lalu membelai dada bidang di balik kemeja putih yang dikenakannya. "Ayolah, apa lagi kau tunggu, hm? Sentuh aku, pria tampan!" titahnya dengan suara seraknya. 

Samuel menggeram kesal melihat Kayla yang terus menggodanya. Namun, pesona wanita di hadapannya ini memang sangat menggoda, terlebih dia juga sedang menunggu wanita malam itu datang, namun tidak juga tiba. 

"Baiklah, jika memang itu yang kau inginkan!" 

Tanpa banyak kata lagi, Samuel menarik tubuh Kayla ke pelukannya. Ciuman mereka liar, dalam, dan serakah. Tubuh Kayla terasa hangat dan menggoda dalam dekapannya itu. 

Tangannya yang gemetar lantas melepas kemeja Samuel, sementara pria itu sudah menyusuri garis lehernya dengan bibir penuh nafsu.

Tubuh telanjang mereka menyatu di atas ranjang. Desahan dan rintihan memenuhi ruangan, memecah keheningan malam.

Paha Kayla melingkar erat di pinggang Samuel, tubuhnya melengkung mengikuti gerakannya, dan setiap gesekan kulit mereka membuatnya melambung lebih tinggi dalam kenikmatan. Ia meracau, memohon, dan mendesah tanpa malu.

“Jangan berhenti. Tolong lebih dalam lagi, ahh ....”

Samuel menjawab dengan aksi yang lebih dalam dan panas. Dia mengeksplor tubuh wanita itu seperti musisi memainkan alat musik yang paling ia kuasai. Kayla menggigit bibir, menahan jeritan saat klimaks menyapu seluruh sarafnya.

**

Kayla membuka mata pelan setelah merasakan matahari menerobos celah jendela dan menyinari wajahnya. Dia mendapati dirinya telanjang, seprai berantakan, dan tubuhnya masih hangat karena sisa percintaan semalam.

 “Oh, Tuhan ...,” gumamnya lirih sambil meraih gaunnya yang tergelatak di lantai. “Apa yang telah aku lakukan?” gerutunya sambil mengusap wajahnya dengan pelan. 

“Tidurmu nyenyak, Nona?” suara bariton dari arah samping membuat Kayla menoleh.

“Si-siapa kau? Dan kenapa kau ada di sini?” tanyanya dengan gugup.

“Ini kamarku, dan sepertinya kau salah masuk kamar," jawabnya dengan tenang. 

Kayla menjambak rambutnya sendiri saat mendengar ucapan dari Samuel tadi. Suara alarm yang berbunyi membuatnya menoleh. Matanya terbelalak ketika melihat jadwal yang tertera di layar ponselnya itu.

“Sial! Hari ini aku ada wawancara kerja!” Ia buru-buru mengenakan pakaian sambil menahan nyeri di bagian-bagian tubuhnya yang semalam digempur dengan hebat.

“Maaf, aku harus pergi sekarang. Dan lupakan malam ini. Aku harap kita tidak bertemu lagi.”

Ia berlari keluar hotel dengan rambut acak-acakan, wajah nyaris tanpa riasan, dan hati yang masih tercekat karena malam gila yang tak pernah dia rencanakan.

**

Sepanjang perjalanan menuju kantor yang menjadi tujuan wawancaranya, Kayla terus memukul-mukul kepalanya sendiri.

“Kenapa aku bisa tidur dengan pria asing?! Bodoh! Gila! Kau sangat gila, Kayla!” makinya pada dirinya sendiri.

Ia menggigit bibir bawahnya, merasa malu, jijik, dan—secara absurd—masih merasakan sensasi panas di kulitnya. Dia buru-buru mengambil setelan baju rapi saat tiba di apartemen mininya.

Mengenakan pakaian sopan seadanya dan kembali berlari menuju gedung di mana dia akan melakukan wawancara kerja hari ini.

Lima belas menit kemudian, Kayla berdiri di depan gedung Thomas Corp, jantungnya berdetak tidak karuan.

Bukan hanya karena gugup menghadapi wawancara, tapi juga karena perasaan bersalah dan ketakutan bila pria tadi malam adalah seseorang yang penting di dunia ini.

Ia masuk ke dalam dan disambut oleh resepsionis, kemudian diantar ke ruang wawancara di lantai 47.

Begitu pintu terbuka, napas Kayla terhenti.

Di sana, duduk dengan anggun dan percaya diri di belakang meja marmer besar, adalah pria yang tidur dengannya semalam.

Samuel Thomas. Mengenakan setelan biru gelap, kemeja putih bersih, dan ekspresi santai penuh dominasi.

“Kita bertemu lagi, Nona,” ucapnya datar namun dengan senyum setengah mengejek.

Kayla membeku. Matanya membulat, wajahnya memucat. “Ka-kau ….”

Samuel bangkit dari duduknya dan melangkah santai, lalu bersandar di meja tepat di depannya.

“Ya. Aku adalah Samuel. Pria yang tidur denganmu semalam. Dan sepertinya kau sangat menikmati peranku semalam, Nona.”

“T-tidak. Itu ... Itu salah. Itu hanya … sebuah kecelakaan,” Kayla berbisik.

Wajahnya merah padam. Ia kemudian memalingkan muka, berharap bisa lenyap dari bumi ini karena tidak menyangka akan bertemu dengan pria yang menghabiskan malam bersamanya.

"Kau masih membutuhkan pekerjaan ini, Nona?" 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status