Hari pertama Kayla bekerja sebagai asisten pribadi Samuel berjalan dengan ritme yang melelahkan.
Dari pagi, dia sudah harus mendampingi rapat internal, mengatur jadwal meeting klien, hingga memastikan dokumen penting siap di meja bosnya itu.
Namun, bukan beban kerja yang membuatnya gugup sepanjang hari. Tapi, karena tatapan Samuel.
Tatapan yang menusuk tanpa suara, seperti sesuatu yang dia rasakan di kulit, bahkan di tulang setiap kali dia berani mengangkat kepala. Tatapan yang seolah ingin mengupas lapisan demi lapisan dirinya sampai habis.
Saat rapat berlangsung di ruang konferensi besar, Kayla duduk di sisi kanan Samuel, sedikit menunduk sambil mencatat poin-poin penting.
Namun dari sudut matanya, dia bisa merasakan—pria itu sedang menatapnya.
Kayla tetap mencoba untuk fokus pada pembicaraan direksi, tapi kata-kata di udara terdengar seperti gumaman tak jelas.
Satu-satunya hal yang terasa nyata adalah tatapan itu. Perlahan dia melirik, dan benar saja—Samuel sedang memandangnya, tidak berkedip, dengan ekspresi yang sulit dia tebak.
Kayla buru-buru memalingkan wajahnya. Jantungnya berdegup terlalu cepat hingga membuat dadanya terasa sesak.
‘Jangan bodoh, Kayla. Fokus. Ini kerja. Kerja.’ Kayla membatin sambil mengeratkan pegangannya pada pena yang dia genggam.
Tapi setiap kali dia merasa sudah cukup tenang, tatapan itu kembali. Seperti magnet yang menarik matanya tanpa ampun.
Usai rapat, Kayla mengemasi laptop dan catatannya, berusaha melangkah cepat menuju lift. Samuel, seperti biasa, berjalan santai di belakangnya. Saat pintu lift terbuka, mereka masuk bersamaan.
Pintu tertutup dan lift mulai bergerak turun.
Awalnya hening. Kayla berdiri di sudut kanan, memeluk map, dan menatap angka-angka lantai yang berubah di panel. Tapi perlahan dia bisa merasakan itu lagi. Tatapan itu.
“Jangan menatapku seperti itu,” ucap Kayla tiba-tiba bahkan tanpa menoleh.
“Memangnya aku menatapmu seperti apa?” suara Samuel terdengar tenang, namun mengandung nada menggoda yang nyaris membuat lutut Kayla lemas.
“Seperti ….” Kayla ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “Seperti kemarin malam.”
Samuel tersenyum tipis. “Oh?”
Dia kemudian melangkah mendekat dan jaraknya kini hanya setengah meter dari Kayla.
“Semalam … kupikir kita sepakat itu hanya kebetulan.”
Kayla menatap lurus ke depan tengah berusaha mengabaikan sensasi panas yang merambat di tengkuknya. “Dan kebetulan itu tidak akan terjadi lagi.”
“Hm,” Samuel mengangguk dengan pelan, tapi tatapan matanya tidak juga berpaling. “Masalahnya, tatapanmu bilang hal lain, Kayla,” bisiknya dengan suara beratnya.
Kayla langsung menoleh cepat dan menatapnya dengan tajam. “Tatapanku tidak bilang apa-apa. Jangan mengada-ngada, Tuan Samuel!”
Samuel justru mendekat lagi. Kini hanya ada jarak satu langkah di antara mereka. Udara di lift terasa lebih sempit, dingin AC bercampur dengan panas dari tubuh Samuel yang semakin mendekat.
“Kau tahu apa yang menarik darimu, Kayla?” bisiknya. “Kau selalu berpura-pura menolak, tapi tubuhmu selalu bereaksi.”
Kayla menelan ludah dan matanya membelalak. “Tuan Samuel, aku tidak—”
Samuel mengangkat tangannya dan menyentuh dinding lift di samping kepala Kayla hingga membuatnya terperangkap di antara tubuhnya dan panel logam dingin.
“Katakan padaku … apa kau benar-benar tidak menginginkannya?” bisiknya dengan suara seraknya.
Jantung Kayla seperti ingin melompat keluar dari dadanya. Napasnya memburu. Ia bisa mencium wangi maskulin Samuel, aroma kayu dan rempah yang samar-samar mengingatkannya pada malam yang berusaha dia lupakan.
“Jangan lakukan di sini,” ucapnya dengan pelan, namun nadanya terdengar lebih seperti permohonan lemah daripada perintah tegas.
Samuel memiringkan kepalanya sedikit, wajahnya kini hanya beberapa inci dari wajah Kayla. “Hm? Jadi, kau ingin di mana?”
Kayla memejamkan matanya karena sudah salah bicara seolah memberikan Samuel pilihan agar jangan menyentuhnya di sana.
Bahkan untuk saat ini, dia merasa jika menatap pria itu lebih lama, dia akan kehilangan kontrol sepenuhnya. Tapi Samuel tidak memberinya ruang. Perlahan, ia mendekat lagi hingga napas hangatnya menyapu pipi Kayla dan membuat tubuhnya tegang.
“Bukalah matamu, Kayla,” bisiknya.
Kayla membuka matanya dengan pelan. Dan di sana—mata Samuel memerangkapnya penuh intensitas seperti badai yang siap menelan.
Detik berikutnya, Samuel menurunkan wajahnya, jarak di antara bibir mereka tinggal sehela napas.
Kayla terpaku. Otaknya berteriak untuk mendorongnya, tapi tubuhnya tidak bergerak. Degup jantungnya terlalu keras, memenuhi seluruh kesadarannya.
Tepat saat bibir Samuel hampir menyentuhnya—
TING!
Lift berhenti di lantai tujuan. Pintu terbuka dan memperlihatkan dua staf kantor yang berdiri menunggu di luar. Mereka menatap sekilas, heran melihat posisi Samuel dan Kayla yang terlalu dekat.
Samuel hanya tersenyum kecil dan melangkah keluar tanpa tergesa, seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi sebelum benar-benar meninggalkan lift, dia menoleh dan berkata dengan nada yang hanya Kayla bisa dengar. “Kita akan melanjutkan ini nanti.”
“Kau ikut denganku malam ini,” ucapnya tanpa basa-basi setelah pria itu selesai dengan pertemuannya.Kayla mengerutkan kening mendengarnya. “Maksudnya?” tanyanya bingung.“Makan malam.”Kayla terbelalak dan langsung beranjak dari duduknya. “Tuan Samuel, aku—”“Tenang. Kau tidak akan duduk satu meja denganku. Ada meja VIP terpisah. Aku akan memesan untukmu. Kau hanya perlu menungguku di sana. Aku tidak ingin berbincang terlalu lama dengan mereka.”“Untuk apa? Bukankah … makan malam ini adalah urusan pribadi Anda?” nada Kayla mengeras.Samuel mencondongkan tubuh sedikit menatap Kayla dengan tatapan intens. “Kalau kau tidak datang, aku akan memikirkan ulang kontrak kerjamu. Termasuk fasilitas apartemen yang kau nikmati sekarang, Kayla.”Kalimat itu membuat napas Kayla tertahan. Ia menatapnya dengan tatapan tak percaya, tapi ia tahu pria ini tidak main-main dengan ucapannya tadi.Dia kemudian menghela napasnya dan mengangguk singkat. “Baiklah.”**Malam itu, mereka datang terpisah.Samuel
Kayla masih berdiri di sudut lift dengan kedua tangannya memegang map erat-erat. Nafasnya kacau, wajahnya panas. Dan dia hanya tahu satu hal—dia harus menghindari pria itu.Tapi bagian terdalam diriny … diam-diam menunggu “nanti” itu datang.“Kau sudah gila, Kayla!” gerutunya sambil menghina dirinya sendiri karena mulai terperangkap dalam gairah yang Samuel berikan padanya.Setibanya di ruang kerja Samuel, Kayla melangkah masuk terlebih dahulu sambil membawa setumpuk dokumen yang baru saja dia peroleh dari sekretaris divisi keuangan.Samuel berjalan santai di belakangnya, jemari tangan kirinya menyelip di saku celana dengan aura otoritasnya memenuhi ruangan seperti biasa.Belum sempat Kayla meletakkan dokumen di atas meja, ponsel Samuel berdering nyaring. Nada dering khusus yang dia gunakan untuk satu orang—ibunya.Samuel melirik layar sebentar lalu menjawab dengan nada datar. “Ya, Ma?”Suara seorang wanita paruh baya terdengar lantang dari seberang, penuh dengan wibawa dan tanpa memb
Hari pertama Kayla bekerja sebagai asisten pribadi Samuel berjalan dengan ritme yang melelahkan.Dari pagi, dia sudah harus mendampingi rapat internal, mengatur jadwal meeting klien, hingga memastikan dokumen penting siap di meja bosnya itu.Namun, bukan beban kerja yang membuatnya gugup sepanjang hari. Tapi, karena tatapan Samuel.Tatapan yang menusuk tanpa suara, seperti sesuatu yang dia rasakan di kulit, bahkan di tulang setiap kali dia berani mengangkat kepala. Tatapan yang seolah ingin mengupas lapisan demi lapisan dirinya sampai habis.Saat rapat berlangsung di ruang konferensi besar, Kayla duduk di sisi kanan Samuel, sedikit menunduk sambil mencatat poin-poin penting.Namun dari sudut matanya, dia bisa merasakan—pria itu sedang menatapnya.Kayla tetap mencoba untuk fokus pada pembicaraan direksi, tapi kata-kata di udara terdengar seperti gumaman tak jelas.Satu-satunya hal yang terasa nyata adalah tatapan itu. Perlahan dia melirik, dan benar saja—Samuel sedang memandangnya, tid
Kayla berdiri di lorong panjang gedung itu, jemarinya masih meremas map berisi berkas lamaran. Ruang kerja Samuel ada di ujung sana, tapi langkahnya justru menjauh.Udara dingin dari pendingin ruangan tidak mampu meredam panas yang membakar pikirannya. Tawaran yang baru saja dia dengar terasa seperti jebakan yang dibungkus dengan pita emas—menggiurkan, namun berbahaya.Ia naik ke lantai atas, menuju area rooftop yang biasanya sepi. Dari sana, kota terbentang luas di bawah langit mendung.Mobil-mobil tampak seperti mainan kecil yang bergerak lambat di jalanan, lampu-lampu mulai menyala meski sore belum sepenuhnya tenggelam. Kayla berdiri di tepi pagar pengaman, memeluk dirinya sendiri tengah mencoba berpikir jernih.Tiga puluh juta per bulan. Apartemen. Kendaraan. Tunjangan. Semua yang dia butuhkan untuk memperbaiki hidupnya ada di dalam tawaran itu.Tapi, bekerja langsung di bawah Samuel, pria yang semalam menjadi bagian dari malam paling memalukan dalam hidupnya?Dia menutup matanya
“Aku … tidak mengerti maksudmu,” ucap Kayla seraya menatap datar wajah Samuel. Ia berusaha menekan gelombang kegelisahan yang mulai muncul dari dalam dadanya.Samuel menyilangkan kakinya dengan angkuh, lalu bersandar santai di kursinya yang terbuat dari kulit hitam mahal.Ia tampak seperti raja di singgasananya, mengamati Kayla layaknya pion yang baru masuk ke dalam permainan catur miliknya. “Kau tahu posisi apa yang kau lamar di sini?” tanyanya dengan suara rendah tapi mengandung tekanan.“Asisten administratif,” jawab Kayla singkat. Ia kemudian menggenggam tangannya erat di pangkuan, sedang mencoba menyembunyikan kegugupan.Samuel menatapnya dalam, pandangannya tajam menembus lapisan luar pertahanan diri Kayla. “Aku punya tawaran yang sedikit berbeda untukmu,” katanya dengan pelan.Kayla mengerutkan kening, naluri curiganya langsung menyala. “Berbeda?” ulangnya dengan nada waspada.“Jadi asisten pribadiku,” ucap Samuel dengan nada yang tenang tapi tegas. Manik matanya yang tajam seo
Langkah Kayla Janneth tertatih, hak tingginya nyaris patah, dan napasnya berat dengan aroma alkohol yang menyelimuti tubuhnya.Ia tidak pernah terbiasa minum, tapi malam ini, dia ingin melupakan semuanya. Jeremy, mantan tunangannya, pria brengsek yang membawa kabur semua uang tabungannya termasuk cicilan apartemen yang baru dibayar setengah.Matanya yang setengah terpejam menangkap nomor kamar 2703 dan tanpa berpikir, dia menempelkan kartu akses yang diberikan oleh resepsionis bar hotel.Entah bagaimana bisa kartu itu berada di tangannya, Kayla tak tahu. Yang dia tahu hanyalah kasur empuk dan tempat tenang adalah satu-satunya pelarian saat ini. Pintu terbuka. Lampu kamar temaram, beraroma maskulin dan dingin.Seorang pria tinggi berdiri dengan setelan hitam rapi, dasinya sudah dilepas dan segelas wine di tangannya. Matanya menyipit tajam saat melihat wanita asing—Kayla—menerobos masuk begitu saja.Namun sebelum dia bisa mengucap kata protes, wanita itu telah menutup pintu di belakang