“Kau ikut denganku malam ini,” ucapnya tanpa basa-basi setelah pria itu selesai dengan pertemuannya.
Kayla mengerutkan kening mendengarnya. “Maksudnya?” tanyanya bingung.
“Makan malam.”
Kayla terbelalak dan langsung beranjak dari duduknya. “Tuan Samuel, aku—”
“Tenang. Kau tidak akan duduk satu meja denganku. Ada meja VIP terpisah. Aku akan memesan untukmu. Kau hanya perlu menungguku di sana. Aku tidak ingin berbincang terlalu lama dengan mereka.”
“Untuk apa? Bukankah … makan malam ini adalah urusan pribadi Anda?” nada Kayla mengeras.
Samuel mencondongkan tubuh sedikit menatap Kayla dengan tatapan intens. “Kalau kau tidak datang, aku akan memikirkan ulang kontrak kerjamu. Termasuk fasilitas apartemen yang kau nikmati sekarang, Kayla.”
Kalimat itu membuat napas Kayla tertahan. Ia menatapnya dengan tatapan tak percaya, tapi ia tahu pria ini tidak main-main dengan ucapannya tadi.
Dia kemudian menghela napasnya dan mengangguk singkat. “Baiklah.”
**
Malam itu, mereka datang terpisah.
Samuel dengan mobil hitam mewahnya, sementara Kayla memilih taksi online, berusaha menghindari perhatian.
Restoran yang dituju adalah tempat eksklusif dengan lampu kristal berkilau dan aroma wangi bunga segar.
Kayla dibawa oleh pelayan menuju ruang VIP, ke sebuah meja kecil di sudut yang cukup jauh dari meja panjang di tengah ruangan.
Ia bisa melihat meja itu jelas—di sana, Adeline Carter, wanita elegan dengan rambut perak tertata rapi, duduk di ujung. Di sampingnya, Thea—cantik, modis, tapi tatapannya dingin—menunggu Samuel.
Samuel masuk beberapa menit kemudian. Jas hitamnya pas di badan, langkahnya tenang namun berwibawa. Ia mencium pipi ibunya sekilas lalu memberi anggukan singkat pada Thea sebelum duduk.
“Samuel,” Adeline membuka percakapan, “kita harus membicarakan tanggal pertunanganmu dengan Thea. Aku sudah bicara dengan pihak keluarga Thea, dan mereka setuju bulan depan.”
Samuel mengambil gelas air di depannya dan meminumnya perlahan sebelum menjawab, “Ma, aku masih perlu waktu untuk memikirkan tunangan itu.”
Nada suaranya dingin bahkan tidak ada sedikit pun antusiasme dalam ucapannya, justru dia menolak ucapan ibunya itu.
Sementara matanya terarah ke gelas, tapi sesekali melirik ke arah sudut ruangan—ke arah Kayla yang sedang duduk anggun, tengah memutar-mutar gelas wine di tangannya.
Kayla pura-pura tidak sadar dilirik, tapi dalam hati dia merasakan tatapan itu. Tatapan yang sama seperti di kantor—misterius, menuntut, namun kali ini terhalang oleh meja keluarga.
Thea mencondongkan tubuhnya mendengar ucapan Samuel tadi. “Samuel, kita sudah membicarakan ini selama berbulan-bulan. Kenapa kau terus menunda? Kau tahu keluargaku menunggu kepastian.”
Samuel meletakkan gelasnya dengan perlahan lalu menatap datar wanita di hadapannya itu.
“Kalau kau ingin segera menikah, nikahi saja pria yang sudah tidak sabar ingin jadi suami.”
Wajah Thea memucat lalu memerah karena marah. “Apa maksudmu berkata seperti itu, Samuel?”
“Maksudku,” Samuel menatapnya datar, “aku belum memikirkan langkah sebagai suami. Apalagi dengan wanita yang tidak aku cintai.”
Kata-kata itu menghantam meja seperti petir. Kayla yang duduk di sudut bahkan bisa merasakannya dari jauh.
Adeline membeku beberapa detik sebelum matanya menyala. “Samuel Alexander! Apa yang baru saja kau katakan?”
Samuel tidak menjawab, dia hanya menatap ibunya dengan ekspresi dingin.
“Kau pikir pernikahan ini permainan? Kau pikir aku mengatur ini untuk main-main?!” suara Adeline meninggi dan tangannya hampir menghantam meja, namun dia menahan diri di detik terakhir.
“Kau mempermalukan keluarga di depan calon istrimu sendiri, Samuel!” pekiknya dengan nada tajam.
Samuel menghela napasnya lalu berdiri. Gerakannya tenang, namun penuh tekad. Ia meraih jasnya yang tersampir di sandaran kursi lalu mengancingkannya kembali.
“Aku tidak akan menikahi seseorang hanya untuk memenuhi keinginan orang lain,” ucapnya dengan nada yang cukup tajam sebeum benar-benar pergi meninggalkan mereka.
“Samuel!” teriak Adeline, kali ini benar-benar kehilangan kesabaran.
Pria itu tidak memandang lagi. Ia terus berjalan meninggalkan meja dengan langkah yang mantap, mengabaikan teriakan ibunya yang terus memanggil namanya.
Namun di tengah jalan keluar, tatapannya sempat melirik ke meja Kayla. Sekilas, tapi cukup untuk membuat jantung Kayla berdegup kencang.
Kayla menunduk dengan cepat, berpura-pura sibuk dengan wine-nya. Tapi saat Samuel melewati pintunya, dia tahu—tatapan itu bukan kebetulan. Itu adalah pesan.
Kayla meneguk sisa wine-nya perlahan mencoba menenangkan detak jantungnya. Suasana di ruang VIP terasa aneh setelah Samuel pergi.
Suara Thea yang terdengar kesal samar-samar terdengar, diiringi nada tinggi Adeline yang jelas-jelas sedang marah.
Tidak lama setelahnya, seorang pelayan menghampirinya. “Nona, Tuan Samuel menunggu Anda di luar,” ucapnya sopan.
Kayla tersentak. “Apa? Dia … masih di sini?” tanyanya dengan pelan.
Pelayan itu hanya tersenyum kecil, seolah tahu sesuatu yang tidak dia tahu. “Dia ada di parkiran basement.”
Kayla merasa sebaiknya dia menolak, tapi otaknya mengingat ancaman Samuel di kantor tadi. Menghela napas panjang, dia kemudian meraih tasnya dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Begitu pintu lift terbuka di basement, udara di sana terasa dingin, namun bukan hanya karena pendingin udara. Mobil hitam Samuel terparkir di sudut, lampu depannya mati, namun pintu belakang terbuka.
“Masuk,” suara dalam itu terdengar dari dalam mobil.
Kayla mematung beberapa detik sebelum akhirnya menuruti. Begitu dia duduk di kursi belakang, pintu otomatis tertutup dan mobil mulai bergerak.
“Ke mana kita?” tanya Kayla hati-hati.
Samuel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya dari samping, tatapan yang membuat kulit Kayla terasa panas. “Kau terlihat cantik malam ini.”
Kayla tersipu, lalu buru-buru berpaling ke jendela. “Kalau itu hanya untuk memuji, Anda tidak perlu—”
Tiba-tiba tangan Samuel bergerak dan menyentuh pahanya di atas gaun malam yang dia kenakan. Sentuhan itu tegas namun perlahan membuat napas Kayla tertahan.
“Samuel …,” suaranya lirih, mengandung peringatan.
“Aku tadi hampir kehilangan kendali di meja makan,” bisiknya dan jemarinya bergerak sedikit naik sengaja untuk memberi sensasi panas yang membuat Kayla bergetar.
“Kau duduk di sana … memutar wine seolah tengah menggodaku.”
“Aku tidak—”
“Jangan bohong. Kau tahu aku memperhatikanmu sejak pertama kali kita datang di sana.” Samuel memotong dengan suara tajamnya.
Kayla mencoba menepis tangannya, tapi genggaman itu justru menguat. “Jangan terlalu dekat.”
Samuel tersenyum tipis, dia justru semakin mendekat sehingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. “Apa kau takut?” bisiknya kemudian.
Jantung Kayla berpacu dengan cepat lalu menggeleng. “Aku … tidak tahu.”
“Kalau begitu biarkan aku yang memutuskan,” ucapnya dengan nada yang nyaris seperti geraman.
Jari-jarinya bergerak sedikit lebih jauh ke atas, membuat Kayla menggenggam pergelangan tangannya untuk menghentikannya. “Aku mohon jangan di sini ….”
Samuel memandangnya lama lalu tersenyum samar. “Kau selalu tahu cara menghentikanku di saat yang tepat, Kayla.”
“Kau ikut denganku malam ini,” ucapnya tanpa basa-basi setelah pria itu selesai dengan pertemuannya.Kayla mengerutkan kening mendengarnya. “Maksudnya?” tanyanya bingung.“Makan malam.”Kayla terbelalak dan langsung beranjak dari duduknya. “Tuan Samuel, aku—”“Tenang. Kau tidak akan duduk satu meja denganku. Ada meja VIP terpisah. Aku akan memesan untukmu. Kau hanya perlu menungguku di sana. Aku tidak ingin berbincang terlalu lama dengan mereka.”“Untuk apa? Bukankah … makan malam ini adalah urusan pribadi Anda?” nada Kayla mengeras.Samuel mencondongkan tubuh sedikit menatap Kayla dengan tatapan intens. “Kalau kau tidak datang, aku akan memikirkan ulang kontrak kerjamu. Termasuk fasilitas apartemen yang kau nikmati sekarang, Kayla.”Kalimat itu membuat napas Kayla tertahan. Ia menatapnya dengan tatapan tak percaya, tapi ia tahu pria ini tidak main-main dengan ucapannya tadi.Dia kemudian menghela napasnya dan mengangguk singkat. “Baiklah.”**Malam itu, mereka datang terpisah.Samuel
Kayla masih berdiri di sudut lift dengan kedua tangannya memegang map erat-erat. Nafasnya kacau, wajahnya panas. Dan dia hanya tahu satu hal—dia harus menghindari pria itu.Tapi bagian terdalam diriny … diam-diam menunggu “nanti” itu datang.“Kau sudah gila, Kayla!” gerutunya sambil menghina dirinya sendiri karena mulai terperangkap dalam gairah yang Samuel berikan padanya.Setibanya di ruang kerja Samuel, Kayla melangkah masuk terlebih dahulu sambil membawa setumpuk dokumen yang baru saja dia peroleh dari sekretaris divisi keuangan.Samuel berjalan santai di belakangnya, jemari tangan kirinya menyelip di saku celana dengan aura otoritasnya memenuhi ruangan seperti biasa.Belum sempat Kayla meletakkan dokumen di atas meja, ponsel Samuel berdering nyaring. Nada dering khusus yang dia gunakan untuk satu orang—ibunya.Samuel melirik layar sebentar lalu menjawab dengan nada datar. “Ya, Ma?”Suara seorang wanita paruh baya terdengar lantang dari seberang, penuh dengan wibawa dan tanpa memb
Hari pertama Kayla bekerja sebagai asisten pribadi Samuel berjalan dengan ritme yang melelahkan.Dari pagi, dia sudah harus mendampingi rapat internal, mengatur jadwal meeting klien, hingga memastikan dokumen penting siap di meja bosnya itu.Namun, bukan beban kerja yang membuatnya gugup sepanjang hari. Tapi, karena tatapan Samuel.Tatapan yang menusuk tanpa suara, seperti sesuatu yang dia rasakan di kulit, bahkan di tulang setiap kali dia berani mengangkat kepala. Tatapan yang seolah ingin mengupas lapisan demi lapisan dirinya sampai habis.Saat rapat berlangsung di ruang konferensi besar, Kayla duduk di sisi kanan Samuel, sedikit menunduk sambil mencatat poin-poin penting.Namun dari sudut matanya, dia bisa merasakan—pria itu sedang menatapnya.Kayla tetap mencoba untuk fokus pada pembicaraan direksi, tapi kata-kata di udara terdengar seperti gumaman tak jelas.Satu-satunya hal yang terasa nyata adalah tatapan itu. Perlahan dia melirik, dan benar saja—Samuel sedang memandangnya, tid
Kayla berdiri di lorong panjang gedung itu, jemarinya masih meremas map berisi berkas lamaran. Ruang kerja Samuel ada di ujung sana, tapi langkahnya justru menjauh.Udara dingin dari pendingin ruangan tidak mampu meredam panas yang membakar pikirannya. Tawaran yang baru saja dia dengar terasa seperti jebakan yang dibungkus dengan pita emas—menggiurkan, namun berbahaya.Ia naik ke lantai atas, menuju area rooftop yang biasanya sepi. Dari sana, kota terbentang luas di bawah langit mendung.Mobil-mobil tampak seperti mainan kecil yang bergerak lambat di jalanan, lampu-lampu mulai menyala meski sore belum sepenuhnya tenggelam. Kayla berdiri di tepi pagar pengaman, memeluk dirinya sendiri tengah mencoba berpikir jernih.Tiga puluh juta per bulan. Apartemen. Kendaraan. Tunjangan. Semua yang dia butuhkan untuk memperbaiki hidupnya ada di dalam tawaran itu.Tapi, bekerja langsung di bawah Samuel, pria yang semalam menjadi bagian dari malam paling memalukan dalam hidupnya?Dia menutup matanya
“Aku … tidak mengerti maksudmu,” ucap Kayla seraya menatap datar wajah Samuel. Ia berusaha menekan gelombang kegelisahan yang mulai muncul dari dalam dadanya.Samuel menyilangkan kakinya dengan angkuh, lalu bersandar santai di kursinya yang terbuat dari kulit hitam mahal.Ia tampak seperti raja di singgasananya, mengamati Kayla layaknya pion yang baru masuk ke dalam permainan catur miliknya. “Kau tahu posisi apa yang kau lamar di sini?” tanyanya dengan suara rendah tapi mengandung tekanan.“Asisten administratif,” jawab Kayla singkat. Ia kemudian menggenggam tangannya erat di pangkuan, sedang mencoba menyembunyikan kegugupan.Samuel menatapnya dalam, pandangannya tajam menembus lapisan luar pertahanan diri Kayla. “Aku punya tawaran yang sedikit berbeda untukmu,” katanya dengan pelan.Kayla mengerutkan kening, naluri curiganya langsung menyala. “Berbeda?” ulangnya dengan nada waspada.“Jadi asisten pribadiku,” ucap Samuel dengan nada yang tenang tapi tegas. Manik matanya yang tajam seo
Langkah Kayla Janneth tertatih, hak tingginya nyaris patah, dan napasnya berat dengan aroma alkohol yang menyelimuti tubuhnya.Ia tidak pernah terbiasa minum, tapi malam ini, dia ingin melupakan semuanya. Jeremy, mantan tunangannya, pria brengsek yang membawa kabur semua uang tabungannya termasuk cicilan apartemen yang baru dibayar setengah.Matanya yang setengah terpejam menangkap nomor kamar 2703 dan tanpa berpikir, dia menempelkan kartu akses yang diberikan oleh resepsionis bar hotel.Entah bagaimana bisa kartu itu berada di tangannya, Kayla tak tahu. Yang dia tahu hanyalah kasur empuk dan tempat tenang adalah satu-satunya pelarian saat ini. Pintu terbuka. Lampu kamar temaram, beraroma maskulin dan dingin.Seorang pria tinggi berdiri dengan setelan hitam rapi, dasinya sudah dilepas dan segelas wine di tangannya. Matanya menyipit tajam saat melihat wanita asing—Kayla—menerobos masuk begitu saja.Namun sebelum dia bisa mengucap kata protes, wanita itu telah menutup pintu di belakang