Home / Romansa / Hasrat Terlarang CEO Tampan / Penawaran yang Fantastis

Share

Penawaran yang Fantastis

Author: Nhaya_97
last update Last Updated: 2025-06-24 16:27:50

“Aku … tidak mengerti maksudmu,” ucap Kayla seraya menatap datar wajah Samuel. Ia berusaha menekan gelombang kegelisahan yang mulai muncul dari dalam dadanya.

Samuel menyilangkan kakinya dengan angkuh, lalu bersandar santai di kursinya yang terbuat dari kulit hitam mahal.

Ia tampak seperti raja di singgasananya, mengamati Kayla layaknya pion yang baru masuk ke dalam permainan catur miliknya. “Kau tahu posisi apa yang kau lamar di sini?” tanyanya dengan suara rendah tapi mengandung tekanan.

“Asisten administratif,” jawab Kayla singkat. Ia kemudian menggenggam tangannya erat di pangkuan, sedang mencoba menyembunyikan kegugupan.

Samuel menatapnya dalam, pandangannya tajam menembus lapisan luar pertahanan diri Kayla. “Aku punya tawaran yang sedikit berbeda untukmu,” katanya dengan pelan.

Kayla mengerutkan kening, naluri curiganya langsung menyala. “Berbeda?” ulangnya dengan nada waspada.

“Jadi asisten pribadiku,” ucap Samuel dengan nada yang tenang tapi tegas. Manik matanya yang tajam seolah menantang Kayla.

“Mengurus jadwal, mendampingi pertemuan, bahkan terkadang ikut dalam perjalanan bisnis.”

Kayla terdiam. Ada sesuatu dalam cara Samuel menyampaikan tawaran itu yang membuatnya merasa terperangkap. “Tapi … aku tidak melamar di bagian itu. Aku juga tidak memiliki pengalaman sebagai asisten pribadi, Tuan,” jawabnya dengan nada defensif.

Samuel menyeringai mendengar penuturan Kayla tadi. “Kau pintar, Nona Janneth. Latar belakang akademismu bagus saat aku melihat CV-mu. Dan semalam kau menyebutkan banyak hal, termasuk fakta bahwa kau putus dengan tunanganmu, dan mantanmu itu kabur dengan uangmu. Apa benar, Nona Janneth?" 

Kayla tercekat. Jantungnya seperti berhenti berdetak untuk sesaat. Matanya membulat. “Kau ... dari mana tahu itu?” bisiknya nyaris tak terdengar.

Samuel mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya disatukan di atas meja kayu yang mengilap. “Kau meracau sepanjang malam, Nona Janneth. Saat tidak minta disentuh, kau menangis dan mengutuk nama Jeremy. Cukup dramatis sebenarnya.”

Pipi Kayla langsung merona merah, rasa malu menampar wajahnya keras-keras. Ia ingin bersembunyi, lenyap dari ruangan itu, dari gedung itu, bahkan dari kota ini.

“Astaga! Aku ....” kata-katanya menggantung. Tenggorokannya terasa kering dan napasnya tertahan mendengar ucapan lelaki tampan di hadapannya itu. 

“Tenang. Aku tidak sedang menghakimimu.” Samuel beranjak dari duduknya dan berjalan mengitari meja, lalu berhenti di samping Kayla, tubuhnya sedikit membungkuk menatap lekat wajah Kayla. Wajahnya kini hanya beberapa inci dari wajah Kayla yang masih menunduk malu.

“Justru aku ingin membantumu,” lanjutnya dengan suara pelan.

Kayla mendongak. Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat, waktu terasa melambat. Ada keraguan yang begitu jelas di mata Kayla, namun juga ada secercah harapan—sesuatu yang bahkan tidak ingin dia akui.

“Berapa besar utangmu?” tanya Samuel tanpa basa-basi.

Kayla menggigit bibir bawahnya. Ia tahu ini adalah saatnya untuk jujur, meski memalukan. Dengan suara pelan dan terputus-putus, ia menjawab, “Du-dua ratus juta.”

Samuel mengangguk pelan, seperti sudah menduganya. “Baik. Kau akan bekerja langsung di bawahku, dengan gaji awal tiga puluh juta per bulan. Ditambah fasilitas apartemen kecil milik perusahaan, kendaraan, dan tunjangan.”

Kayla nyaris menjatuhkan rahangnya. Ia membelalakkan mata, menatap Samuel dengan ekspresi tak percaya. “Apa ... apa kau serius?” suaranya serak.

“Sangat serius.” Tatapan Samuel tetap tak berubah—dingin, penuh kalkulasi namun terkontrol.

“Aku tahu kau butuh uang, dan jujur saja, aku butuh seseorang yang bisa kupercaya. Staf lamaku mengundurkan diri tiba-tiba karena hamil dan menikah. Jadi ini kesempatan yang tepat, bukan?”

Kayla menunduk lagi, pikirannya mendadak jadi kacau saat mendengar tawaran fantastis tersebut. Ini tawaran yang terlalu besar untuk diabaikan, tetapi juga terlalu rumit untuk diterima begitu saja.

Apalagi ada sejarah semalam—sejarah yang dia bahkan tidak sepenuhnya ingat, tapi cukup untuk membuat tubuhnya merinding saat mengingat tatapan pria itu di kamar hotel.

“Tapi, kita punya sejarah yang …,” katanya pelan, berharap bisa mengalihkan topik atau memberi batas.

“Semalam?” potong Samuel cepat. “Itu hanya kebetulan. Kita profesional sekarang. Kecuali ....” Ia menyeringai samar seraya menatap Kayla dari sudut mata. “Kau ingin mengulangnya lagi.”

Wajah Kayla langsung memanas. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya seraya menatap wajah Samuel. “Tentu saja tidak!” serunya dengan nada datarnya. 

Samuel tertawa kecil. Bukan tawa lepas, tapi tawa pelan penuh makna—seperti pria yang tahu bahwa dia baru saja mengguncang benteng lawannya.

“Bagus. Karena aku juga tidak ingin mengacaukan dinamika kerja kita, kecuali kau yang memulainya nanti.”

Kayla terdiam. Dadanya naik turun karena emosi yang tidak bisa dia jelaskan. Tawaran itu masih menggantung di udara seperti perangkap madu beracun. Menggiurkan, tapi berbahaya.

“Ambil waktumu untuk berpikir. Tapi jangan lama-lama. Aku butuh jawaban sebelum jam lima sore ini,” ujar Samuel datar lalu berjalan kembali ke kursinya dan duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Jangan di Sini

    “Kau ikut denganku malam ini,” ucapnya tanpa basa-basi setelah pria itu selesai dengan pertemuannya.Kayla mengerutkan kening mendengarnya. “Maksudnya?” tanyanya bingung.“Makan malam.”Kayla terbelalak dan langsung beranjak dari duduknya. “Tuan Samuel, aku—”“Tenang. Kau tidak akan duduk satu meja denganku. Ada meja VIP terpisah. Aku akan memesan untukmu. Kau hanya perlu menungguku di sana. Aku tidak ingin berbincang terlalu lama dengan mereka.”“Untuk apa? Bukankah … makan malam ini adalah urusan pribadi Anda?” nada Kayla mengeras.Samuel mencondongkan tubuh sedikit menatap Kayla dengan tatapan intens. “Kalau kau tidak datang, aku akan memikirkan ulang kontrak kerjamu. Termasuk fasilitas apartemen yang kau nikmati sekarang, Kayla.”Kalimat itu membuat napas Kayla tertahan. Ia menatapnya dengan tatapan tak percaya, tapi ia tahu pria ini tidak main-main dengan ucapannya tadi.Dia kemudian menghela napasnya dan mengangguk singkat. “Baiklah.”**Malam itu, mereka datang terpisah.Samuel

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Ini Baru Awal

    Kayla masih berdiri di sudut lift dengan kedua tangannya memegang map erat-erat. Nafasnya kacau, wajahnya panas. Dan dia hanya tahu satu hal—dia harus menghindari pria itu.Tapi bagian terdalam diriny … diam-diam menunggu “nanti” itu datang.“Kau sudah gila, Kayla!” gerutunya sambil menghina dirinya sendiri karena mulai terperangkap dalam gairah yang Samuel berikan padanya.Setibanya di ruang kerja Samuel, Kayla melangkah masuk terlebih dahulu sambil membawa setumpuk dokumen yang baru saja dia peroleh dari sekretaris divisi keuangan.Samuel berjalan santai di belakangnya, jemari tangan kirinya menyelip di saku celana dengan aura otoritasnya memenuhi ruangan seperti biasa.Belum sempat Kayla meletakkan dokumen di atas meja, ponsel Samuel berdering nyaring. Nada dering khusus yang dia gunakan untuk satu orang—ibunya.Samuel melirik layar sebentar lalu menjawab dengan nada datar. “Ya, Ma?”Suara seorang wanita paruh baya terdengar lantang dari seberang, penuh dengan wibawa dan tanpa memb

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Akan Melanjutkan ini Nanti

    Hari pertama Kayla bekerja sebagai asisten pribadi Samuel berjalan dengan ritme yang melelahkan.Dari pagi, dia sudah harus mendampingi rapat internal, mengatur jadwal meeting klien, hingga memastikan dokumen penting siap di meja bosnya itu.Namun, bukan beban kerja yang membuatnya gugup sepanjang hari. Tapi, karena tatapan Samuel.Tatapan yang menusuk tanpa suara, seperti sesuatu yang dia rasakan di kulit, bahkan di tulang setiap kali dia berani mengangkat kepala. Tatapan yang seolah ingin mengupas lapisan demi lapisan dirinya sampai habis.Saat rapat berlangsung di ruang konferensi besar, Kayla duduk di sisi kanan Samuel, sedikit menunduk sambil mencatat poin-poin penting.Namun dari sudut matanya, dia bisa merasakan—pria itu sedang menatapnya.Kayla tetap mencoba untuk fokus pada pembicaraan direksi, tapi kata-kata di udara terdengar seperti gumaman tak jelas.Satu-satunya hal yang terasa nyata adalah tatapan itu. Perlahan dia melirik, dan benar saja—Samuel sedang memandangnya, tid

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Tawaran Terakhir

    Kayla berdiri di lorong panjang gedung itu, jemarinya masih meremas map berisi berkas lamaran. Ruang kerja Samuel ada di ujung sana, tapi langkahnya justru menjauh.Udara dingin dari pendingin ruangan tidak mampu meredam panas yang membakar pikirannya. Tawaran yang baru saja dia dengar terasa seperti jebakan yang dibungkus dengan pita emas—menggiurkan, namun berbahaya.Ia naik ke lantai atas, menuju area rooftop yang biasanya sepi. Dari sana, kota terbentang luas di bawah langit mendung.Mobil-mobil tampak seperti mainan kecil yang bergerak lambat di jalanan, lampu-lampu mulai menyala meski sore belum sepenuhnya tenggelam. Kayla berdiri di tepi pagar pengaman, memeluk dirinya sendiri tengah mencoba berpikir jernih.Tiga puluh juta per bulan. Apartemen. Kendaraan. Tunjangan. Semua yang dia butuhkan untuk memperbaiki hidupnya ada di dalam tawaran itu.Tapi, bekerja langsung di bawah Samuel, pria yang semalam menjadi bagian dari malam paling memalukan dalam hidupnya?Dia menutup matanya

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Penawaran yang Fantastis

    “Aku … tidak mengerti maksudmu,” ucap Kayla seraya menatap datar wajah Samuel. Ia berusaha menekan gelombang kegelisahan yang mulai muncul dari dalam dadanya.Samuel menyilangkan kakinya dengan angkuh, lalu bersandar santai di kursinya yang terbuat dari kulit hitam mahal.Ia tampak seperti raja di singgasananya, mengamati Kayla layaknya pion yang baru masuk ke dalam permainan catur miliknya. “Kau tahu posisi apa yang kau lamar di sini?” tanyanya dengan suara rendah tapi mengandung tekanan.“Asisten administratif,” jawab Kayla singkat. Ia kemudian menggenggam tangannya erat di pangkuan, sedang mencoba menyembunyikan kegugupan.Samuel menatapnya dalam, pandangannya tajam menembus lapisan luar pertahanan diri Kayla. “Aku punya tawaran yang sedikit berbeda untukmu,” katanya dengan pelan.Kayla mengerutkan kening, naluri curiganya langsung menyala. “Berbeda?” ulangnya dengan nada waspada.“Jadi asisten pribadiku,” ucap Samuel dengan nada yang tenang tapi tegas. Manik matanya yang tajam seo

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Malam Panas yang Membara

    Langkah Kayla Janneth tertatih, hak tingginya nyaris patah, dan napasnya berat dengan aroma alkohol yang menyelimuti tubuhnya.Ia tidak pernah terbiasa minum, tapi malam ini, dia ingin melupakan semuanya. Jeremy, mantan tunangannya, pria brengsek yang membawa kabur semua uang tabungannya termasuk cicilan apartemen yang baru dibayar setengah.Matanya yang setengah terpejam menangkap nomor kamar 2703 dan tanpa berpikir, dia menempelkan kartu akses yang diberikan oleh resepsionis bar hotel.Entah bagaimana bisa kartu itu berada di tangannya, Kayla tak tahu. Yang dia tahu hanyalah kasur empuk dan tempat tenang adalah satu-satunya pelarian saat ini. Pintu terbuka. Lampu kamar temaram, beraroma maskulin dan dingin.Seorang pria tinggi berdiri dengan setelan hitam rapi, dasinya sudah dilepas dan segelas wine di tangannya. Matanya menyipit tajam saat melihat wanita asing—Kayla—menerobos masuk begitu saja.Namun sebelum dia bisa mengucap kata protes, wanita itu telah menutup pintu di belakang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status