Share

Ini Baru Awal

Author: Nhaya_97
last update Last Updated: 2025-08-13 11:40:44

Kayla masih berdiri di sudut lift dengan kedua tangannya memegang map erat-erat. Nafasnya kacau, wajahnya panas. Dan dia hanya tahu satu hal—dia harus menghindari pria itu.

Tapi bagian terdalam diriny … diam-diam menunggu “nanti” itu datang.

“Kau sudah gila, Kayla!” gerutunya sambil menghina dirinya sendiri karena mulai terperangkap dalam gairah yang Samuel berikan padanya.

Setibanya di ruang kerja Samuel, Kayla melangkah masuk terlebih dahulu sambil membawa setumpuk dokumen yang baru saja dia peroleh dari sekretaris divisi keuangan.

Samuel berjalan santai di belakangnya, jemari tangan kirinya menyelip di saku celana dengan aura otoritasnya memenuhi ruangan seperti biasa.

Belum sempat Kayla meletakkan dokumen di atas meja, ponsel Samuel berdering nyaring. Nada dering khusus yang dia gunakan untuk satu orang—ibunya.

Samuel melirik layar sebentar lalu menjawab dengan nada datar. “Ya, Ma?”

Suara seorang wanita paruh baya terdengar lantang dari seberang, penuh dengan wibawa dan tanpa memberi ruang untuk bantahan.

“Samuel Alexander, jangan lupa malam ini jam tujuh kau makan malam di restoran yang sudah aku pesan. Thea akan datang. Jangan terlambat!”

Samuel mengembuskan napas panjang mendengar ajakan yang lebih pantas disebut sebagai perintah. “Ma, aku—”

Namun suaranya terhenti ketika sang ibu memotong cepat. “Tidak ada ‘aku’. Semua sudah diatur. Sampai ketemu nanti malam, Samuel!”

Tut!

Panggilan berakhir tanpa memberi kesempatan Samuel untuk menolak ajakan itu.

Ia menatap ponsel di tangannya sejenak dengan ekspresi yang sulit ditebak. Tegang, datar dan rahangnya mengeras.

Nama ibunya—Adeline Carter—masih tertera di layar sebelum menghilang. Samuel menggerakkan rahangnya seperti menahan komentar yang tidak perlu diucapkan.

Kayla yang berdiri di hadapan meja hanya memperhatikan sekilas.

Ia tidak berani terlalu ingin tahu, meski hatinya sedikit terusik saat mendengar nama Thea. Ia hanya menaruh map berisi dokumen di atas meja lalu menatap bosnya itu dengan tatapan datarnya.

“Sepertinya Tuan Samuel sedang sibuk. Kalau begitu, aku—”

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Samuel bergerak cepat.

Tangan besarnya menarik pergelangan tangan Kayla dan membuat wanita itu terlonjak kaget dan kehilangan keseimbangan. Dalam sekejap, tubuhnya sudah berada sangat dekat dengan tubuh pria itu.

“Apa yang—”

Kalimatnya terputus ketika bibir Samuel menempel pada bibirnya dengan ganas. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan—itu adalah serangan dan penguasaan yang penuh.

Mata Kayla membesar, terkejut, kedua tangannya refleks mendorong dada Samuel. Tapi tubuh pria itu terlalu kokoh, ototnya keras, dan tenaga Kayla tidak cukup untuk melepaskan diri.

Samuel mendorongnya perlahan ke arah dinding hingga punggungnya menempel pada permukaan dingin tembok ruangan itu.

Bibirnya bergerak semakin dalam, menuntut, memaksa Kayla untuk merasakan tiap inci keinginannya.

Napas Kayla tercekat. Ia merasakan panas tubuh Samuel menyelimuti dirinya, wangi maskulinnya bercampur dengan adrenalin yang mengalir cepat di nadinya.

“Sam … uel ….” Kayla mencoba memanggil di sela ciuman, tapi suara itu hanya keluar sebagai bisikan terputus.

Samuel menahan rahangnya dengan satu tangan, ibu jarinya menyentuh lembut pipi Kayla, sementara tangannya yang lain bertumpu di dinding di samping kepalanya dan mengurungnya sepenuhnya.

“Jangan berpaling dariku lagi, Kayla!” ucapnya dengan nada rendah sambil mengatur napasnya yang masih menggebu.

Kayla menatapnya dengan mata yang masih membesar bahkan napasnya masih kacau. “Ini … ini tidak benar,” katanya dengan suara terputus-putus.

Samuel menunduk kembali dan menempelkan dahinya pada dahinya. “Katakan itu lagi sambil menatap mataku, Kayla.”

Namun, yang Kayla lakukan adalah memalingkan wajah, mencoba menghindar, tapi Samuel kembali menangkap bibirnya.

Kali ini ciumannya lebih lambat, tapi jauh lebih menghanyutkan. Lidahnya menyapu lembut, lalu menuntut dan membuat Kayla hampir kehilangan kendali.

“Tuan … hentikan ….” Kayla kembali mendorong dadanya, tapi dorongan itu hanya membuat Samuel tersenyum tipis di sela ciuman.

“Kau pikir aku bisa menghentikan ini?” suaranya berat dan dalam. “Kau pikir aku belum memikirkan rasa ini sejak semalam?”

Pipi Kayla memanas, tubuhnya seperti dililit oleh kombinasi rasa takut, marah, dan sesuatu yang tak mau ia akui. “Aku harap kau melupakan semuanya, Tuan. Jangan bahas itu lagi saat jam kerja seperti ini!”

Mata Samuel langsung menajam. “Aku tahu.” Tatapanya menusuk pada wajah Kayla. “Sayangnya aku tidak mau melupakannya begitu saja. Kau pikir aku akan membiarkanmu lari begitu saja setelah menyentuh tubuhku?”

Kayla merasakan debar jantungnya semakin tak terkendali. “Aku … aku tidak bisa.”

Samuel menunduk lagi dan bibirnya hampir menyentuh bibir Kayla untuk ketiga kalinya. “Bohong.”

Kayla menutup matanya rapat-rapat, berharap bisa menghapus sensasi itu.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya—setiap tarikan napasnya dipenuhi oleh kehadiran pria ini, setiap detik terasa semakin sulit untuk melawan.

Tangannya kembali mendorong dada Samuel, kali ini dengan sedikit lebih kuat. “Samuel, hentikan—"

Samuel memang sudah berhenti. Namun, matanya masih terkunci pada wajah Kayla dengan napas berat.

Jarak di antara mereka hanya sehelai rambut, namun dia tidak ingin melanjutkan.

Alih-alih, dia menyandarkan dahinya pada pelipis Kayla lalu tertawa pelan—tawa yang penuh rahasia dan frustrasi. “Kau membuatku gila, Kayla.”

Kayla menggigit bibir bawahnya menahan gejolak yang berputar di dadanya. “Kalau begitu jauhi aku.”

Samuel menarik wajahnya sedikit ke belakang dan menatapnya dengan intensitas yang lebih dalam dari sebelumnya. “Itu hal terakhir yang akan kulakukan.”

Mereka berdiri begitu dekat, napas bertemu napas, tapi tidak ada yang bergerak untuk memutus jarak itu.

Ketegangan itu terus melayang di udara sampai suara ketukan pintu terdengar.

Tok… tok…

“Tuan Samuel, meeting Anda dengan tim legal akan dimulai dalam lima menit,” suara dari sekretaris manager legal terdengar dari luar.

Samuel tetap tidak bergerak, matanya masih terkunci pada Kayla.

Senyum tipis kemudian muncul di wajahnya. “Sepertinya kita harus menghentikan ini. Untuk sementara.”

Kayla menelan ludah, tidak mampu menjawab.

Samuel perlahan melepaskan kurungannya, tapi sebelum benar-benar menjauh, dia berbisik di telinga Kayla dengan suara yang menggetarkan, “Jangan pikir ini sudah selesai, Kayla. Ini baru awal.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Jangan di Sini

    “Kau ikut denganku malam ini,” ucapnya tanpa basa-basi setelah pria itu selesai dengan pertemuannya.Kayla mengerutkan kening mendengarnya. “Maksudnya?” tanyanya bingung.“Makan malam.”Kayla terbelalak dan langsung beranjak dari duduknya. “Tuan Samuel, aku—”“Tenang. Kau tidak akan duduk satu meja denganku. Ada meja VIP terpisah. Aku akan memesan untukmu. Kau hanya perlu menungguku di sana. Aku tidak ingin berbincang terlalu lama dengan mereka.”“Untuk apa? Bukankah … makan malam ini adalah urusan pribadi Anda?” nada Kayla mengeras.Samuel mencondongkan tubuh sedikit menatap Kayla dengan tatapan intens. “Kalau kau tidak datang, aku akan memikirkan ulang kontrak kerjamu. Termasuk fasilitas apartemen yang kau nikmati sekarang, Kayla.”Kalimat itu membuat napas Kayla tertahan. Ia menatapnya dengan tatapan tak percaya, tapi ia tahu pria ini tidak main-main dengan ucapannya tadi.Dia kemudian menghela napasnya dan mengangguk singkat. “Baiklah.”**Malam itu, mereka datang terpisah.Samuel

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Ini Baru Awal

    Kayla masih berdiri di sudut lift dengan kedua tangannya memegang map erat-erat. Nafasnya kacau, wajahnya panas. Dan dia hanya tahu satu hal—dia harus menghindari pria itu.Tapi bagian terdalam diriny … diam-diam menunggu “nanti” itu datang.“Kau sudah gila, Kayla!” gerutunya sambil menghina dirinya sendiri karena mulai terperangkap dalam gairah yang Samuel berikan padanya.Setibanya di ruang kerja Samuel, Kayla melangkah masuk terlebih dahulu sambil membawa setumpuk dokumen yang baru saja dia peroleh dari sekretaris divisi keuangan.Samuel berjalan santai di belakangnya, jemari tangan kirinya menyelip di saku celana dengan aura otoritasnya memenuhi ruangan seperti biasa.Belum sempat Kayla meletakkan dokumen di atas meja, ponsel Samuel berdering nyaring. Nada dering khusus yang dia gunakan untuk satu orang—ibunya.Samuel melirik layar sebentar lalu menjawab dengan nada datar. “Ya, Ma?”Suara seorang wanita paruh baya terdengar lantang dari seberang, penuh dengan wibawa dan tanpa memb

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Akan Melanjutkan ini Nanti

    Hari pertama Kayla bekerja sebagai asisten pribadi Samuel berjalan dengan ritme yang melelahkan.Dari pagi, dia sudah harus mendampingi rapat internal, mengatur jadwal meeting klien, hingga memastikan dokumen penting siap di meja bosnya itu.Namun, bukan beban kerja yang membuatnya gugup sepanjang hari. Tapi, karena tatapan Samuel.Tatapan yang menusuk tanpa suara, seperti sesuatu yang dia rasakan di kulit, bahkan di tulang setiap kali dia berani mengangkat kepala. Tatapan yang seolah ingin mengupas lapisan demi lapisan dirinya sampai habis.Saat rapat berlangsung di ruang konferensi besar, Kayla duduk di sisi kanan Samuel, sedikit menunduk sambil mencatat poin-poin penting.Namun dari sudut matanya, dia bisa merasakan—pria itu sedang menatapnya.Kayla tetap mencoba untuk fokus pada pembicaraan direksi, tapi kata-kata di udara terdengar seperti gumaman tak jelas.Satu-satunya hal yang terasa nyata adalah tatapan itu. Perlahan dia melirik, dan benar saja—Samuel sedang memandangnya, tid

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Tawaran Terakhir

    Kayla berdiri di lorong panjang gedung itu, jemarinya masih meremas map berisi berkas lamaran. Ruang kerja Samuel ada di ujung sana, tapi langkahnya justru menjauh.Udara dingin dari pendingin ruangan tidak mampu meredam panas yang membakar pikirannya. Tawaran yang baru saja dia dengar terasa seperti jebakan yang dibungkus dengan pita emas—menggiurkan, namun berbahaya.Ia naik ke lantai atas, menuju area rooftop yang biasanya sepi. Dari sana, kota terbentang luas di bawah langit mendung.Mobil-mobil tampak seperti mainan kecil yang bergerak lambat di jalanan, lampu-lampu mulai menyala meski sore belum sepenuhnya tenggelam. Kayla berdiri di tepi pagar pengaman, memeluk dirinya sendiri tengah mencoba berpikir jernih.Tiga puluh juta per bulan. Apartemen. Kendaraan. Tunjangan. Semua yang dia butuhkan untuk memperbaiki hidupnya ada di dalam tawaran itu.Tapi, bekerja langsung di bawah Samuel, pria yang semalam menjadi bagian dari malam paling memalukan dalam hidupnya?Dia menutup matanya

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Penawaran yang Fantastis

    “Aku … tidak mengerti maksudmu,” ucap Kayla seraya menatap datar wajah Samuel. Ia berusaha menekan gelombang kegelisahan yang mulai muncul dari dalam dadanya.Samuel menyilangkan kakinya dengan angkuh, lalu bersandar santai di kursinya yang terbuat dari kulit hitam mahal.Ia tampak seperti raja di singgasananya, mengamati Kayla layaknya pion yang baru masuk ke dalam permainan catur miliknya. “Kau tahu posisi apa yang kau lamar di sini?” tanyanya dengan suara rendah tapi mengandung tekanan.“Asisten administratif,” jawab Kayla singkat. Ia kemudian menggenggam tangannya erat di pangkuan, sedang mencoba menyembunyikan kegugupan.Samuel menatapnya dalam, pandangannya tajam menembus lapisan luar pertahanan diri Kayla. “Aku punya tawaran yang sedikit berbeda untukmu,” katanya dengan pelan.Kayla mengerutkan kening, naluri curiganya langsung menyala. “Berbeda?” ulangnya dengan nada waspada.“Jadi asisten pribadiku,” ucap Samuel dengan nada yang tenang tapi tegas. Manik matanya yang tajam seo

  • Hasrat Terlarang CEO Tampan   Malam Panas yang Membara

    Langkah Kayla Janneth tertatih, hak tingginya nyaris patah, dan napasnya berat dengan aroma alkohol yang menyelimuti tubuhnya.Ia tidak pernah terbiasa minum, tapi malam ini, dia ingin melupakan semuanya. Jeremy, mantan tunangannya, pria brengsek yang membawa kabur semua uang tabungannya termasuk cicilan apartemen yang baru dibayar setengah.Matanya yang setengah terpejam menangkap nomor kamar 2703 dan tanpa berpikir, dia menempelkan kartu akses yang diberikan oleh resepsionis bar hotel.Entah bagaimana bisa kartu itu berada di tangannya, Kayla tak tahu. Yang dia tahu hanyalah kasur empuk dan tempat tenang adalah satu-satunya pelarian saat ini. Pintu terbuka. Lampu kamar temaram, beraroma maskulin dan dingin.Seorang pria tinggi berdiri dengan setelan hitam rapi, dasinya sudah dilepas dan segelas wine di tangannya. Matanya menyipit tajam saat melihat wanita asing—Kayla—menerobos masuk begitu saja.Namun sebelum dia bisa mengucap kata protes, wanita itu telah menutup pintu di belakang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status