Masuk"Sayang..." Irene berbisik sambil menggigit bibir bawahnya, menatap Gerald dengan sorot mata yang menantang.Gerald memejamkan mata, menahan erangan yang hampir lolos dari tenggorokannya. Ia turun dari sofa dan meloloskan celana bahannya hingga jatuh ke lantai. Irene ikut bergeser, tangannya menyentuh bagian menonjol di balik boxer ketat Gerald. Ia memberikan kecupan-kecupan kecil di sana, menciptakan rangsangan yang membuat napas Gerald memburu."Love..." Gerald mengerang, tangannya mengusap rambut Irene dengan posesif.Irene menengadahkan kepalanya. Tangannya bergerak lincah menarik karet boxer Gerald, membebaskan kejantanan pria itu yang sudah mengeras sempurna dan penuh urat. Irene menjulurkan lidahnya, membasahi bagian kepalanya dengan sapuan yang pelan, lalu menghisapnya dengan ritme yang stabil."Oh, damn! Love!" Gerald menggeram keras. Ia mendongakkan kepala, menikmati setiap sensasi liar yang diciptakan mulut mungil Irene."Sayang... ah, terus... I like it, my love!" Gerald m
Bab 98“I want to—”Belum sempat Irene menyelesaikan kalimatnya, Gerald sudah menarik tengkuknya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang menuntut. Pagutan itu terasa panas dan haus, seolah membuktikan betapa mereka saling menginginkan.Gerald tidak berhenti di bibir. Ia menciumi rahang Irene lalu turun ke ceruk lehernya. Pria itu menyesap kulit lembut di sana cukup dalam hingga meninggalkan jejak kemerahan yang mencolok.“Euhm… Ge…” Irene mendesah rendah.Tangan Irene bergerak aktif. Ia menarik dasi Gerald hingga terlepas, lalu dengan jari yang sedikit gemetar, ia membuka satu per satu kancing kemeja pria itu. Begitu kemeja itu terbuka, Irene menyentuhkan telapak tangannya ke dada bidang Gerald, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu kencang di balik kulitnya.Gerald mengerang pendek di tenggorokan. Ia menatap Irene dengan sorot mata gelap, lalu merebahkan wanita itu di atas sofa. Tubuh kokoh Gerald menindih Irene, mengunci setiap gerakan wanita itu.Tangan Gerald mulai menj
Irene mengepal tangannya erat, kuku-kukunya memutih saat ia menahan gejolak emosi di dalam dadanya. “Dan sekarang?” tanyanya, suaranya sedikit bergetar.Gerald menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak seolah sedang mengumpulkan kepingan memori yang selama ini ingin ia kubur dalam-dalam.“Alea adalah putri salah satu rekan bisnis orang tuaku. Kami tumbuh bersama sejak bangku kuliah. Aku akui, dulu aku menyukainya—setidaknya, aku mengira begitu. Namun, jujur saja, belum pernah terlintas di pikiranku untuk menjadikannya pendamping hidup,” tutur Gerald dengan nada yang kini terdengar lebih tenang, meski ada jejak kepahitan di sana.Ia berhenti sejenak, menatap mata Irene dalam-dalam sebelum melanjutkan. “Kemudian, Austin Harold masuk ke dalam hidup kami. Kami bertiga menjadi sahabat karib. Namun, aku sadar bahwa Alea menaruh hati pada Austin.”Gerald tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang tak sampai ke matanya. Ia mendaratkan kecupan lembut di pipi Irene, sebuah tindakan yang bert
“Tanyakan apa saja. Aku akan menjawab semuanya sekarang juga.”Irene menatap manik mata Gerald. Ada gejolak emosi di sana yang sulit ia definisikan—campuran antara kecemasan, dan keinginan untuk jujur. Irene menghela napas panjang, meredam rasa sesak yang sempat muncul.“Cukup ceritakan semuanya saja, Ge,” suaranya lembut namun sarat akan ketenangan yang menuntut. “Aku sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.”Gerald mengusap pipi Irene dengan ibu jarinya, sentuhan yang sarat kasih sayang dan permohonan maaf tanpa kata. “Baik, Love. Akan aku ceritakan semua untukmu.”Saat pintu lift berdenting terbuka di lantai dasar, Gerald langsung merangkul pinggul Irene dengan posesif, seolah ingin memastikan wanitanya itu tidak akan pernah beranjak dari sisinya.Sementara itu, di lantai atas, atmosfer ruangan kerja Gerald telah berubah menjadi medan perang.“Lepas!” pekik Alea. Ia yang sudah kehilangan kewarasan akibat penolakan Gerald, melayangkan tamparan keras ke wajah Victor.PLAK!Suara itu
“Alea!”Suara berat Gerald menggelegar, membelah atmosfer ruangan yang sempat menegang. Sosok pria itu berdiri tegak di ambang pintu, rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam ke arah wanita yang kini membeku di tempatnya.Gerald sebenarnya sudah berada di sana selama beberapa menit. Ia sengaja tidak langsung masuk, membiarkan dirinya terpaku saat mendengar bagaimana Irene membela haknya dengan cara yang begitu anggun dan berwibawa. Rasa bangga membuncah di dadanya—wanitanya bukan hanya cantik, tapi juga memiliki benteng pertahanan yang tak tertembus.Tiga pasang mata beralih ke sumber suara. Alea, wanita yang sempat menghilang dari kehidupan Gerald selama bertahun-tahun karena ketakutan akan rahasia kehamilannya, kini berdiri di sana. Saat matanya bertemu dengan Gerald, Alea dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. Ia memaksakan senyum yang manis dan innocent, seolah tahun-tahun pelarian dan pengkhianatan tidak pernah terjadi.“Gerald, kau di sini?” sapa Alea lembut, suaranya dibu
“Entahlah,” sahut Irene ringan sembari mengangkat bahu. Namun, ia gagal menyembunyikan lengkungan tipis yang merekah di sudut bibirnya—sebuah tawa tertahan yang membuat matanya bersinar.Gerald, yang sedari tadi mengunci pandangannya pada Irene, tak membiarkan momen itu berlalu. Ia meraih jemari Irene, menuntun langkah wanita itu dengan gerakan posesif namun lembut hingga Irene terduduk di kursi kebesarannya—kursi yang biasanya menjadi singgasana dingin bagi sang CEO, namun kini terasa hangat karena kehadiran Irene.“Sayang…” gumam Gerald dengan suara bariton yang berat, menggetarkan udara di antara mereka. Ia mendekat, jempolnya mengusap lembut bibir ranum Irene sebelum ia menundukkan kepala dan melumat bibir itu dengan intensitas yang sarat akan kerinduan.“Uhm… Ge…” Irene mendesah, jemarinya mencengkeram kemeja sutra Gerald, berusaha menjaga keseimbangan di tengah serangan gairah yang mendadak.Ciuman itu semakin dalam, menuntut, dan penuh gairah, sebelum akhirnya Gerald perlahan m
Bab 91"Ka-kamar kita?" tanya Irene gugup. Yang ada dipikiran Irene saat ini adalah kenapa harus kamar kita? Apa artinya ia akan tidur bersama Gerald?Gerald menaikkan satu alisnya. “Apa ada yang salah?”“Uhm… Maksud kamu kamar kita?” tanya Irene hati-hati, berharap Gerald paham maksud pertanyaanny
Bab 90Setelah badai gairah mereda, Gerald menarik Irene ke pelukannya. Mereka terlelap beberapa jam dalam penerbangan panjang di tengah kenyamanan kabin.Private jet mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Internasional Toronto, Kanada. Cahaya matahari pagi menerobos jendela, menandakan awa
Bab 89Gerald mengangkat wajahnya, menyeringai puas. "Itu baru permulaan, my love," bisiknya serak. Ia tidak membiarkan Irene beristirahat lama.Kini tubuh Irene benar-benar dilahap oleh Gerald. Pria itu dengan cepat menanggalkan sisa pakaiannya dan Irene, menyatukan kulit panas mereka. Tanpa menun
Bab 88“Oh my, Ge…” lirih Irene, matanya memejam, pasrah dan penuh gairah. Ia tidak lagi mampu mengucapkan kata-kata.Gerald tersenyum tipis, Ia memutus ciuman mereka, namun tatapannya tak pernah lepas dari mata Irene.Gerald melepaskan pakaian atas Irene, blazer putih dan dress lilac itu kini terg







