LOGINHening. Olivia hanya diam, duduk berhadapan dengan Gauri. Sudah hampir sepuluh menit mereka berada di sana, tetapi tidak sepatah kata pun terucap. Olivia tahu apa yang akan dikatakan wanita di depannya. Semua pasti berhubungan dengan Simon.“Aku dengar kamu pergi dari rumah keluarga Charles, Olivia.” Gauri mulai membuka suara. Meski terdengar santai dan tenang, tetapi jelas terlihat aura dingin di sekitar wanita itu. Gauri juga tidak menunjukkan keramahan sama sekali.Sedangkan Olivia yang ditanya hanya menganggukkan kepala. Dia tidak mau banyak berpikir dan menyangka. Dia yakun, Gauri tahu karena berita itu sudah menyebar luas.“Apa yang kamu pikir saat itu? Kenapa kamu keluar dari sana?” tanya Gauri.Kenapa? Olivia membuang napas kasar. Dengan tenang dia menjawab, “Aku hanya ingin bebas saja, tidak mau terkekang di rumah keluarga yang tidak benar-benar mencintaiku.”Mendengar itu, Gauri terdiam, menatap Olivia yang terlihat mantap saat menjawab. Dia memperhatikan Olivia yang tampak
Sean diam, memakan sarapan tanpa semangat. Dia masih kepikiran dengan kepergian Olivia dan masalah perceraiannya. Dia tidak pernah membayangkan hal ini akan mengusik ketenangannya. Hingga dia mendesah kasar dan berdecak kecil.“Kenapa, Sean?” tanya Charles yang duduk di depan Sean.Sean yang ditanya pun menatap ke arah sang papa. Dengan lesu dia menjawab, “Aku benar-benar buntu, Pa. Aku bingung, bagaimana harus menaklukan Olivia? Sedangkan sampai sekarang aku belum menemukannya. Semalam aku ke rumah Simon, tetapi dia juga tidak ada di sana.”‘Bonusnya mukaku yang babak belur,’ batin Sean. Dia tidak berani mengatakan dengan sang papa jika pelaku yang melukai wajahnya adalah Simon. Kalau sampai tahu, papanya pasti akan mengamuk lagi,“Kalau kamu mencari di rumah Simon, jelas tidak ada, Sean. Olivia bukan orang bodoh yang mau tinggal di rumah Simon dengan ikatan mereka sekarang,” kata Charles.“Kalau begitu, kemana aku harus mencarinya? Di apartemen tidak ada juga,” sahut Sean. Dia sudah
“Elsa, kamu mau kemana?”Elsa yang baru membuka pintu kamar pun langsung terhenti. Dia menatap ke arah Keisha yang baru saja datang. Jemarinya langsung meremas tali tas, merasa tidak nyaman dengan kedatangan sahabatnya itu.“Kenapa diam saja?” tanya Keisha sembari mengeluarkan belanjaan yang baru saja dibelinya.Namun, Elsa tidak menjawab sama sekali. Dia masih merasa bimbang untuk mengatakan tujuannya kali ini. Bahkan, Elsa tidak beranjak dari tempatnya. Dia masih mematung dengan perasaan menimang.‘Haruskah aku bilang tujuanku?’ batin Elsa.“Oh iya, aku baru membeli beberapa ikan. Tadi aku lihat di supermarket dan aku membelinya untukmu. Nanti aku masakan dan kamu harus makan. Supaya bayi dalam kandunganmu sehat,” lanjut Keisha tanpa curiga.Mendengar sahabatnya itu sangat antusias dengan kandungannya, Elsa semakin tidak tega. Dia merasa bersalah dengan Keisha. Hingga dia menarik napas dalam dan membuang kasar.“Aku sudah memutuskan akan menggugurkan kandunganku, Keisha,” ucap Elsa
Sean mengamati rumah di depannya dengan sorot mata tajam. Sudah hampir dua jam dia duduk di dalam mobil, berharap rumah yang tidak diterangi lampu itu kembali menyala. Dia bahkan dengan setia menunggu, tidak meninggalkan tempatnya sama sekali. Hingga sebuah mobil sampai di depan rumah, membuat gerbang otomatis langsung terbuka. Melihat itu, Sean langsung keluar dan melangkah lebar.“Simon.”Simon yang mendengar suara itu pun menghentikan niatnya untuk masuk. Melihat Sean yang terburu-buru, dia yakin ada hal serius yang ingin dikatakan. Hal yang membuat Simon tersenyum sinis dan memperhatikan lekat.“Tuan muda keluarga Charles mencariku. Ada yang bisa dibantu?” tanya Simon dengan senyum manis yang jelas mengejek.Mendengar itu, Sean mendengus kesal. Dia tahu kalau Simon sedang merendahkannya, tetapi dia tidak memiliki waktu untuk memprotesnya. Hingga dia berkata, “Serahkan Olivia denganku.”Simon ingin tertawa keras mendengar ucapan Sean. Dia sudah membawanya pergi dengan segala cara d
“Aku dengar kamu membawa Olivia keluar dari rumah keluarga Charles, Simon. Apa itu benar?”Simon yang ditanya hanya diam dengan sebelah bibir terangkat. Rasanya memuaskan bisa melihat ekspresi penuh kekesalan di wajah sang papa. Dia sudah membayangkan sorot mata angkuh itu hanya bisa menahan emosi dalam waktu yang lama, tetapi hal itu baru tersampai sekarang.“Kamu benar-benar nekad, Simon.”Simon mengalihkan pandangan, menatap ke arah sahabatnya dan mengulas senyum lebar. “Aku hanya melakukan hal yang sudah lama ingin kulakukan, Cakra. Jadi, aku rasa ini bukan masalah. Lagi pula cepat atau lambat semua itu pasti akan terjadi,” sahutnya tanpa rasa bersalah.Benar-benar sudah tidak tertolong. Cakra hanya bisa menghela napas ketika mendengar jawaban tanpa rasa bersalah dari sahabatnya. Benar-benar menyebalkan. Dia khawatir kalau Charles akan melukai Simo, tetapi yang dikhawatirkan justru bersikap menyebalkan.“Kamu tahu keluarga Charles tidak pernah mau ditentang, Simon. Kamu melakukan
“Sialan! Semua Sialan!”Sean yang merasa kesal langsung menyingkirkan semua barang di meja kerja. Napasnya terdengar memburu dengan rahang mengeras. Tatapannya tajam, siap menerkam siapa saja yang ada di depannya. Emosinya benar-benar memuncak. Bahkan Revan yang tidak sengaja ada disana pun hanya bisa diam.“Aku benar-benar ingin menghabisimu, Simon. Aku ingin membunuhmu!” teriak Sean lagi. Setiap mengingat mengenai Simon, rasanya dia ingin memaki.Reva yang ada di sana hanya menatap kegilaan sahabatnya. Sudah lama dia tidak melihat Sean yang seemosi ini. Dulu dia melihat Sean mengamuk seperti ini karena Simon yang mendapat pujian dari Charles. Sekarang, dia kembali melihat dan penyebab utamanya pun masih Simon.‘Sebenarnya mau sampai kapan mereka ini mau bermusuhan,’ batin Revan. Rasanya sudah muak melihat keduanya bertengkar dan saling adu kekuatan.Revan masih duduk dengan sebelah kaki disilangkan. Kedua tangannya disedekapkan, memperhatikan Sean yang sudah sedikit mereda. Sahabat
“Bagaimana kabar Olivia dan Sean, Gina?” Gina yang baru saja menyendok makanan langsung berhenti. Dia menatap ke arah sang suami dan menjawab, “Baik-baik saja. Kemarin Sean juga mengatakan kalau hubungannya dan Olivia sudah mulai membaik.” Charles tersenyum mendengar hal itu. Kepalanya menganggu
Simon langsung menghindar ketika pria di depannya mulai menyerang. Dia yang hanya seorang diri langsung melangkah menjauh. Sayangnya serangan demi serangan terus saja mengerangnya. Simon juga sudah berusaha untuk melawan. Hingga salah satu anak buah Sean mengeluarkan pisau dan mengarahkan ke arah S
“Masih ingat kembali kamu, Olivia?”Olivia yang baru memasuki kamar penginapan langsung disambut dengan pertanyaan sinis dari Sean. Olivia pun memilih diam. Dia melangkahkan kaki, meletakkan tas dan menuju ke arah sofa. Dia tidak mau mempedulikan Sean yang terlihat sedang menahan emosi. “Pagi suda
Elsa membuang nafas kasar. Dia melongok ke arah jalannya di depannya, menanti seseorang dengan perasaan cemas. Entah Sudah berapa kali dia mengalihkan pandangan, terasa tidak tenang sama sekali. Hingga dia melihat siluet yang sejak tadi ditunggunya, membuat Elsa tersenyum dengan penuh kelegaan. “A







