Mag-log inHening. Suasana di dalam mobil terasa mencekam, tidak ada yang membuka suara sama sekali. Simon yang baru saja memukul Sean pun hanya diam, membuat suasana di ruangan tersebut terasa mencekam. Hingga Olivia yang sejak tadi bungkam mulai bergerak, meraih jemari Simon yang sejak tadi mengepal dan menggenggam lembut.“Sakit?”Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Olivia. Sejak tadi dia hanya menutup mulut bukan karena takut melihat aura Simon yang mematikan, tetapi dia merasa kasihan dengan pria tersebut. Melihat banyak darah di tangan pria itu, ada perasaan sakit. Meskipun bukan darah Simon sendiri.Namun, tidak ada jawaban dari pria itu. Olivia sendiri tidak menanyakannya lagi. Dia memilih meraih kotak di depannya, mengambil tisu dan mengelap darah yang masih menempel di jemari pria itu. Ada sedikit lecet, membuat Olivia melakukannya secara perlahan dan mengobati. Sampai perban di jemari Simon selesai, membuat Olivia menghela napas lirih.“Setelah sampai rumah, jangan lupa untu
“Sean, kamu sudah gila! Kita itu sudah berpisah!”Olivia yang baru saja mendengar ucapan Sean mencoba untuk menyadarkan. Mereka sudah mendaftarkan perceraian dan tinggal menunggu sidang pertama yang akan diadakan beberapa minggu lagi. Selain itu, Olivia juga sudah enggan berurusan dengan Sean, dalam hal apapun.Sayangnya, Sean tidak memperdulikan hal itu. Dia tersenyum sinis mendengar ucapan Olivia. Genggamannya juga semakin mengerat. Hingga dia menarik tangan Olivia, membuat wanita itu mendekat ke arahnya.“Aku tidak pernah mau berpisah denganmu, Olivia. Aku tetap ingin mempertahankan pernikahan ini,” ucap Sean dengan penuh penekanan.“Tapi aku sudah tidak mau, Sean. Sampai kapan pun aku tidak akan mau bersama kamu lagi,” sahut Olivia dengan tatapan tajam, menunjukkan keseriusan.Jujur, Sean sempat kesal mendengar sahutan itu. Dia sudah berniat memperbaiki semuanya. Bahkan berulang kali dia memohon, tetapi jawaban Olivia malah selalu melukainya. Sampai kekesalan itu mereda, membuat e
“Sial. Aku benar-benar tidak pernah menyangka kalau Sean akan melakukan hal gila ini.”Simon yang berada di dalam mobil masih terus menggerutu dengan pikiran tidak karuan. Ekspresi wajahnya tampak tegang, merasa takut dan menyalahkan diri sendiri. Banyak andai yang terus saja dipikirkan. Andai dia lebih memperhatikan Olivia, memberikan pengawalan yang ketat, semua pasti tidak akan terjadi. Itulah yang terus saja bergumam di hati pria tersebut.Namun, semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur dan tidak ada yang bisa ubahnya. Sekarang dia hanya perlu mencari keberadaan wanita itu. Berulang kali dia melihat ke layar ponsel, berharap anak buahnya memberikan kabar keberadaan sang kekasih. Kali ini, Simon tidak fokus dengan kemudi sama sekali, membuat Cakra yang ada di sebelahnya menjadi tidak tenang.“Simon, biar aku saja,” kata Cakra. Dia masih sayang dengan nyawanya sendiri karena beberapa kali Simon hampir menyebabkan kecelakaan.Sayangnya, Simon tidak mendengarkan sama sekali. Dia
“Kamu atur semuanya, Dafa. Aku tidak mau ada kesalahan sama sekali.”Simon mulai memberikan perintah. Ekspresi wajahnya tampak tenang dan serius. Setelah itu, Simon kembali membuka dokumen di depannya. Hari ini, dia harus segera pulang supaya bisa bertemu dengan Olivia. Hingga dering ponsel terdengar, membuat Simon mengalihkan pandangan.“Hera.”Simon yang melihat nama itu mengerutkan kening dalam. Tampak kebingungan dari ekspresi wajahnya. Pasalnya, Hera pergi dengan Olivia. Jadi, kenapa malah menghubunginya? Hingga Simon mengambil ponsel dan mengangkat panggilan tersebut.“Halo, Her—““Simon, Olivia dibawa pergi Sean.”Deg.Simon yang mendengar terkejut. Kedua matanya melebar dengan mulut sedikit terbuka. Dia bahkan langsung berdiri karena tidak menyangka hal tersebut.“Kamu dimana?” tanya Simon yang langsung melangkah keluar ruangan.“Jangan urus aku. Kamu urus saja Olivia. Segera cari dia karena dia pasti dalam bahaya,” jawab Hera dengan suara cemas.“Aku akan cari dia,” kata Simo
“Olivia.”Olivia yang mendengar suara itu langsung membeku. Dia cukup kenal dengan suara yang sangat familiar baginya. Tanpa melihat pun, dia tahu siapa sang pelaku, membuat jemari yang sejak tadi memegang sendok mulai mengepal.“Olivia, kam—““Kita pergi dari sini, Hera,” sela Olivia dengan cepat. Tanpa menunggu lama, dia langsung mengambil tas dan bangkit. Olivia bersiap untuk pergi.Namun, di waktu yang sama, Sean berdiri di depannya. Melihat pria itu, Olivia semakin kesal. Dia sedang tidak ingin berurusan dengan pria itu, membuatnya memilih membalikkan tubuh dan mencari jalan lain. Sayangnya di waktu yang sama, Sean meraih pergelangan tangannya.“Olivia, kita perlu bicara,” kata Sean serius.Bicara? Olivia tertawa kecil mendengarnya. Dengan kasar dia menarik tangannya, membuat genggaman Sean terlepas. Manik matanya berganti, menatap ke arah Sean yang terlihat lemah. Hal itu bukan membuat Olivia simpati, tetapi dia malah meremehkan pria di depannya.‘Senjatamu itu tidak akan mempan
Sean menatap ruang operasi di depannya dengan sorot mata datar. Tidak ada rasa kehilangan sama sekali. Dia bahkan terlihat tenang, tidak terlalu memikirkan bagaimana kondisi Elsa yang masih berada di dalam. Sesekali, Sean memainkan ponsel. Hingga benda pipih itu berbunyi, membuat Sean langsung mengangkat panggilan.“Ada apa?” tanya Sean tanpa basa-basi.“Saya melihat keberadaan Nona Olivia, Tuan,” jawab Kevin dari seberang panggilan.Mendengar nama wanita itu, Sean langsung bangkit. Dengan antusias dia kembali bertanya, “Dimana dia?” “Di restoran Damai, Tuan.”Sean tersenyum sinis mendengarnya. Dengan tenang dia berkata, “Ikuti dia terus. Jangan sampai dia melihatmu dan kabari terus keberadaannya. Aku akan segera datang.”Sean langsung mematikan panggilan. Dia melangkah lebar, bersiap meninggalkan ruang operasi. Hingga dia teringat sesuatu, membuatnya berhenti. Sejenak, Sean menatap pintu operasi yang masih tertutup, menimang keputusannya. Sampai dia yang sudah yakin pun kembali mela
“Terima kasih sudah datang ke acara ulang tahun pernikahan kami yang kedua. Saya harap, semoga kami bisa menjadi pasangan yang semakin baik dan pernikahan ini berjalan langgeng.” Semua tamu undangan yang hadir pun langsung bertepuk tangan dan mendoakan pasangan yang saat ini berada di hadapan mere
“Kamu dandan semenor ini untuk apa, Olivia? Mau menggoda pria-pria di kantor?”Olivia yang masih mengenakan make pun langsung berhenti. Manik matanya menatap ke arah Sean dari pantulan cermin. Rahangnya tampak mengeras dengan tatapan tajam. Dia benar-benar kesal dan merasa sakit hati dengan ucapan
“Simon, kamu mau apa?”Olivia yang melihat Simon melangkah mendekatinya pun langsung perlahan mundur. Dia menatap lekat, tidak mengalihkan pandangan sama sekali. Olivia takut, kalau dia berpaling, pria itu akan menangkapnya.“Menurutmu, aku mau apa, Olivia?” Simon malah balik bertanya. Dia mulai me
“Silahkan, Nona. Tuan Simon sudah menunggu anda.”Olivia yang baru saja datang ke perusahaan Simon dibuat terpana dengan bangunan tersebut. Semua tersusun dengan rapi dan gaya yang elegan. Baru masuk saja, Olivia sudah disuguhkan dengan desain perusahaan yang berbeda dari perusahaan kebanyakan. Dia







