แชร์

[80] Berniat Melamar

ผู้เขียน: Kim Meili
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-07 06:25:11

“Aduh.”

Tiara yang baru saja terlempar di atas ranjang mulai mengadu. Lengannya tidak sengaja terkena pinggiran nakas. Dia menyengir, menahan rasa ngilu di bagian lengannya.

Namun, Randy seperti tidak peduli sama sekali. Pria itu bahkan menatap ke arah Tiara dengan sorot mata tajam. Tanpa memikirkan kondisi wanita itu, Randy langsung berada di atas tubuh Tiara.

“Randy, tanganku sakit,” keluh Tiara. Dia berharap pria itu akan berhenti menggoda tubuhnya. Setidaknya Tiara ingin Randy bertanya Bagaimana kondisinya saat ini.

“Kita urus nanti saja. Sekarang ada hal yang jauh lebih penting yang harus diselesaikan,” sahut Randy.

Tidak ada rasa bersalah ataupun iba sama sekali. Dia bahkan seperti tidak peduli dengan segala kesakitan yang Tiara rasakan. Sekarang, pria itu menggenggam kedua tangan Tiara dan meletakkan di atas kepala wanita itu. Tanpa menunggu lama, Randy mulai mencumbui setiap bagian dari tubuh Tiara.

“Aku benar-benar merindukanmu, Tiara,” kata Randy di sela kecupannya.

Ti
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [86] Apa Kamu Membenciku?

    “Simon, bagaimana dengan kabar terbaru kasus kedua orang tuaku? Apa kamu sudah mendapatkan petunjuk? Apa kematian mereka ada sangkut pautnya dengan papa Charles?”Simon yang berbaring di sebelah Olivia sedikit terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka kalau wanita itu akan menanyakan sekarang. Simon pikir Olivia tidak akan buru-buru menanyakan kasus tersebut. “Kenapa tiba-tiba kamu menanyakannya?” Simon balik bertanya dengan raut wajah tenang. Dia yang seringkali menyembunyikan sesuatu tidak lagi merasa canggung ataupun takut. “Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya saja. Sejak mendengar percakapan mereka waktu itu pikiranku benar-benar tidak tenang. Aku selalu mencurigai Papa Charles. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa Kalau ini ada takut pautnya dengan papa,” jawab Olivia. Memang benar, tetapi sekarang Simon tidak bisa mengatakan kebenarannya. Itu adalah senjata pamungkas dari Charles. Tentu Simon ingin menggunakan itu di waktu yang tepat. Meskipun dia tahu sekarang Olivia sedan

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [85] Ketakutan Sepihak

    Sean yang sudah berada di ruang kerja langsung mendudukkan tubuh dengan kasar. Dia menarik nafas dalam dan membuang secara perlahan. Rasanya benar-benar lelah dan tidak memiliki semangat sama sekali. Padahal mereka baru kembali kemarin, tetapi sang papa tetap saja menyuruhnya untuk bekerja. “Apa aku tidak memiliki hari libur sama sekali? Benar-benar menyebalkan,” gerutu Sean. Sean menyandarkan tubuh dengan sofa di ruang kerjanya. Dia menatap ke arah langit-langit ruangan tersebut. Rasanya benar-benar ingin sekali berada di rumah. Setidaknya dia bisa menenangkan pikiran dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Sampai pintu ruangannya terbuka, membuat Sean mengalihkan pandangan dengan raut wajah kesal. “Siapa yang menggangguku pagi-pagi begini,” keluh Sean dengan raut wajah masam. Namun, saat melihat siapa sang pelaku, ekspresi wajahnya berubah. Dia berusaha untuk tetap tenang dan mengendalikan emosinya. Pasalnya, saat ini Elsa menatapnya dengan lekat. “Apa aku mengganggumu?” tanya E

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [84] Sangat Merindukanmu

    “Kamu pastikan dokumen ini disimpan rapat-rapat. Jangan sampai Olivia mengetahuinya. Aku mau menggunakan ini untuk menemui Charles.”Dafa yang mendengar perintah atasannya langsung menganggukkan kepala patuh. Dia tidak banyak bertanya mengenai apa yang akan Simon lakukan. Selama bekerja dengan pria itu, Dafa sudah mengetahui bagaimana cara kerja atasannya itu. Jadi, mengenai apa yang Simon katakan pasti akan ada hal besar yang akan dilakukan. Simon dan Dafa melangkah ke arah lift. Raut wajah serius pria itu membuat karyawan yang tanpa sengaja berpapasan hanya bisa menundukkan kepala. Tidak ada yang berani menyapanya sama sekali. Ekspresi dingin dan mematikan itu benar-benar terasa mencekam di seluruh gedung. Meski dia tidak pernah menunjukkan senyumnya, tetapi raut wajah pria itu tidak menyeramkan seperti sekarang. “Simon.”Simon yang hendak memasuki lift langsung menghentikan langkah. Suara itu terasa begitu familiar. Dengan cepat, dia membalikkan tubuh dan menatap asal suara. Liha

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [83] Perasaan Berbeda

    “Bagaimana kabar Olivia dan Sean, Gina?” Gina yang baru saja menyendok makanan langsung berhenti. Dia menatap ke arah sang suami dan menjawab, “Baik-baik saja. Kemarin Sean juga mengatakan kalau hubungannya dan Olivia sudah mulai membaik.” Charles tersenyum mendengar hal itu. Kepalanya mengangguk kecil sembari berkata, “Aku harap itu benar dan bukan akal-akalannya saja. Soalnya aku mau secepatnya Sean dan Olivia memiliki anak.” Gina hanya terdiam mendengarnya. Dia tidak berani membantah ucapan suaminya. Charles adalah pria cukup keras dalam bertindak. Tidak mau keputusannya diganggu gugat. Tidak mau ada yang membantah perintahnya juga. Sekarang, Gina hanya bungkam dengan raut wajah tidak tenang. ‘Kalau sampai dia tahu mengenai kejadian sebenarnya, apa Charles masih bisa berlaku baik seperti ini? Aku benar-benar takut kalau harus mengatakannya,’ batin Gina. Perasaannya menjadi cemas. Nafsu makannya juga mulai menghilang, berganti dengan ketakutan dan kekhawatiran. “Kamu suda

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [82] Mengetahui Kebenarannya

    Simon membuang nafas kasar ketika sudah sampai di rumah. Sekarang dia sedang merebahkan tubuh di atas ranjang. Kepalanya mendongak, menatap langit kamar dengan perasaan lega. Beberapa hari berada di rumah sakit luar negeri membuat Simon merasa tidak nyaman. Meski kondisinya tidak sebegitu parah, tetapi Simon tetap membutuhkan istirahat. “Bagaimana kondisimu sekarang?” tanya Cakra. Dia yang menemani Simon setiap berada di luar negeri. “Sudah jauh lebih membaik,” jawab Simon, “lagi pula hanya luka kecil saja. Tidak akan berdampak apapun untukku.”Cakra yang mendengar jawaban santai itu hanya bisa membuang nafa lirih. Dia tidak menyalahkan dengan pemikiran sahabatnya kali ini. Pasalnya, memang Simon pernah menerima luka yang jauh lebih berat dari yang sekarang. Bahkan pernah sahabatnya itu hampir kehilangan nyawa. “Tapi aku benar-benar bingung denganmu, Simon. Padahal Sean hanya menyewa beberapa preman biasa saja. Dia tidak benar-benar menggunakan tenaga yang profesional, tapi kenapa

  • Hasrat Terlarang Kakak Ipar   [81] Merasa Kesal dengan Sikapnya

    “Orang tuanya menyuruh untuk berbulan madu dengannya, tapi sudah beberapa hari dia bahkan tidak kembali ke penginapan. Dia sibuk dengan selingkuhannya. Aku malah sendiri. Lebih baik aku pulang dan kembali bekerja.”Olivia yang masih kesal dengan tingkah Sean mulai menggerutu. Rasanya benar-benar seperti ingin marah saat ini juga. Bagaimana tidak, Sudah beberapa hari Sean bahkan tidak kembali ke penginapan. Olivia selalu berjalan-jalan sendiri. “Kalau memang dari awal dia hanya ingin bersama dengan Elsa, Lebih baik aku pulang bersama Simon waktu itu,” garutu Olivia lagi. Olivia yang sudah selesai mengemasi pakaiannya langsung menarik koper dan keluar dari penginapan. Dia tidak ingin dijadikan tameng untuk perselingkuhan Sean dan Elsa lagi. Sekarang Olivia benar-benar muak. Bukannya berubah, tetapi Sean malah semakin menjadi-jadi.Namun, belum sempat Olivia membuka pintu, pintu penginapannya sudah terbuka lebih dulu. Olivia yang melihat sang pelaku cukup terkejut. Di hadapannya sudah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status