Share

Hasrat Terlarang Sang Pelakor
Hasrat Terlarang Sang Pelakor
Penulis: Nona Lee

Malam Panas Di Gudang

Penulis: Nona Lee
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-19 18:32:30

"Tuan... kita mau kemana?"

Malam itu, jam dinding baru saja berdentang dua kali, menandakan dini hari telah tiba. Di luar, kemegahan rumah besar keluarga Andra tertelan keheningan yang menyesakkan, seolah seluruh penghuninya sedang bersembunyi di balik selimut dosa masing-masing. Kecuali di satu sudut.

"Kau ikut saja, aku tidak akan menggigitmu."

Baru dua minggu Sri Larasati bekerja di sana, namun kehadirannya bagai api yang menjalar perlahan dalam kegelapan. Ia adalah gadis desa dengan pesona yang luar biasa. Wajahnya cantik natural, tanpa riasan berlebihan, dan rambut panjangnya yang selalu terbagi dua dalam kepangan rapih seolah menekankan sisi polos. Namun, di balik seragam pelayan yang sederhana itu, lekuk tubuh Sri yang indah terasa terlalu seksi, terlalu menggoda, dan hal itu sudah cukup merusak akal sehat Andra Pratama, sang tuan rumah.

Andra telah lama menahan diri. Setiap senyuman tak sengaja Sri saat menyajikan kopi, setiap sentuhan singkat di lorong, bahkan setiap gerakan pinggul Sri saat membersihkan lantai, telah memicu delusi liar dalam otaknya. Malam ini, setelah pertengkaran dingin dengan sang istri yang posesif dan selalu menuntut, Andra tidak bisa menahannya lagi.

Dengan tarikan kasar, ia menarik Sri dari lorong dapur yang remang-remang, membawanya lari ke gudang tua itu. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang terdengar mematikan, menyegel mereka dalam kepekatan, hanya ditemani bau apek barang bekas.

Sri membalikkan tubuhnya. Wajahnya yang rupawan kini bersandar pada dinding kusam. Di matanya, ada sedikit kilat ketakutan yang sengaja ia tampilkan, sebuah strategi lama yang selalu berhasil memancing mangsanya.

"Tuan jangan," bisik Sri, suaranya tercekat, tetapi nada itu justru terdengar seperti nada memohon yang memabukkan. "Kalau Nyonya Sarah tahu, saya bisa dipecat. Tuan tidak akan mau membuat skandal, kan?"

Andra sudah tak peduli pada Sarah, pada reputasi, bahkan pada logikanya. Ia sudah terlalu lama haus. Ia melangkah maju, menjebak tubuh mungil Sri di antara tubuhnya yang besar dan dinding yang dingin.

"Ssstttt..." Andra membungkam bibir Sri dengan telunjuknya, mematikan sisa protes yang ada. Ia memajukan seluruh tubuhnya, menekan pinggul Sri yang padat ke dinding berdebu, memastikan gadis itu merasakan betapa tegang tubuhnya. "Tidak ada yang tahu, hanya kita berdua."

Di bawah tekanan, alih-alih gentar, di mata Sri tersulut nyala api yang penuh tantangan. Inilah yang ia tunggu. Inilah awal kehancuran Andra.

"Tapi... Tuan janji ya," Sri menjulurkan lehernya, membiarkan napas panas Andra menyambar kulitnya. Suaranya berubah menjadi desisan manja yang menusuk langsung ke telinga Andra. "Jangan buang saya begitu saja, loh. Setelah Tuan mendapatkan apa yang Tuan mau."

Permintaan itu, janji itu, justru memancing gairah Andra makin tak terkendali. Ia tersenyum, senyum seorang laki-laki yang benar-benar telah menyerah pada bisikan iblis. Ia memegang dagu Sri, memiringkan kepalanya, matanya menatap tajam, penuh janji dan hasrat.

"Tidak akan pernah," jawab Andra, serak. "Aku tidak akan pernah membuangmu, tenang saja."

Tanpa menunggu lebih lama, Andra meraup bibir Sri. Ciuman itu keras, mendesak, penuh tuntutan dan gairah yang lama tertahan. Itu bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang memabukkan, yang menuntut penebusan atas gairah terlarang yang selama ini mereka sembunyikan.

Sri awalnya sedikit kaku, namun ia segera membalasnya dengan intensitas yang sama panasnya. Kedua tubuh itu beradu, bergetar, dan saling menghimpit. Gudang tua itu kini dipenuhi dengan desahan tertahan dan suara ciuman panas, menjadi saksi bisu awal mula dosa.

"Mmhh..."

Di dalam pelukan gelap itu, Andra menemukan kepuasan yang ia damba, terlena pada gadis yang ia pikir hanya seorang pelayan biasa. Sementara Sri, si pembawa dendam, merasakan sentuhan yang seharusnya ia benci, tetapi harus menyesuaikan diri dengan sensasi gairah terlarang yang berbahaya.

Mereka berdua tahu, malam ini adalah awal dari kehancuran yang tak bisa ditarik kembali. Dan mereka berdua sama-sama menginginkannya.

Napas keduanya menderu kencang, memecah keheningan di dalam gudang tua itu. Debu-debu yang melayang seolah menyaksikan janji dosa yang baru saja terukir.

"Tuan... tunggu dulu. Saya kesulitan bernafas."

Ciuman itu mereda saat wanita itu mengeluh. Najun bukannya berhenti, malah perlahan turun ke leher dan bahu Sri. Tangan Andra yang besar bergerak cepat, melepas kepangan rambut Sri yang tadinya rapi, membiarkan helaian panjang itu terurai di dinding yang kusam, kontras dengan kulit lehernya yang mulus. Dengan paksa, Andra mengangkat Sri, mendudukkannya di atas meja panjang penuh barang bekas yang berdebu.

Sentuhan Andra berubah dari hasrat yang memabukkan menjadi sebuah tuntutan yang tak terhindarkan. Di atas meja berdebu itulah, dengan sisa-sisa gaun pelayan yang tersingkap. Malam ini Sri harus merelakan mahkotanya, sesuatu yang ia korbankan bukan demi cinta, melainkan demi sebuah tujuan yang lebih besar dan gelap.

"Akh! Tuan pelan-pelan..."

Rasa sakit yang tajam dan tak terduga menghantam tubuh Sri. Ia menahan erangan di tenggorokannya, mengepalkan jemarinya di bahu kokoh Andra, dan memaksa bibirnya untuk tetap tersenyum di tengah ringisan. Air mata yang seharusnya menetes karena sakit, ditahannya menjadi keringat di pelipis. Ia harus terlihat menikmatinya.

Andra sebaliknya, merasakan kejutan dan kepuasan yang luar biasa. Ia merasakan perlawanan kecil yang tiba-tiba meluruh menjadi kepasrahan dan kesakitan.

"Tahanlah sebentar, nanti kau akan terbiasa."

Bukannya memberi jeda, Andra malah mendesaknya semakin brutal dan tak terkendali. Sri meringis kesakitan, namun lelaki malah semakin menikmatinya.

Setelah segalanya usai, dan napas kembali mereda. Andra tersenyum penuh kemenangan, sebuah senyum yang menunjukkan betapa bangganya ia. Ia menunduk, mengusap lembut bibir Sri yang sedikit bengkak dan meringis menahan sakit sisa dari penyatuan yang mendadak.

"Sungguh luar biasa," bisik Andra, suaranya dipenuhi kemenangan. Ia menyentuh lembut paha Sri, merasakan getaran kecil di sana. "Jadi, aku yang pertama untukmu, Sri?"

Wanita itu mengatur napasnya yang tercekat. Ia memaksa dirinya tersenyum di tengah rasa perih di sekujur tubuh. Senyum yang diciptakan Sri sangat tulus, seolah-olah ia baru saja memberikan harta paling berharganya kepada laki-laki yang ia cintai.

"Iya, Tuan," balas Sri, suaranya parau, namun tetap terdengar manja. Ia menatap mata Andra lurus-lurus, memperkuat kebohongannya. "Saya tidak pernah bersentuhan dengan lelaki lain selain anda."

Ucapan itu bagaikan mahkota baru bagi kebanggaan Andra. Ia merasakan kemenangan ganda, ia mendapatkan pelayan cantik dan seksi itu, dan ia adalah yang pertama.

Andra tertawa kecil, suara tawa yang mengandung keangkuhan. Ia memeluk tubuh polos Sri yang masih di atas meja, membenamkan wajahnya di leher gadis itu.

"Kau milikku, Sri. Hanya milikku."

Sri balas memeluknya, tetapi di dalam hati, ia merasakan lapisan es dendamnya semakin tebal, membekukan rasa sakit dan rasa bersalahnya. Bagus, batinnya keji. Kau sudah percaya, Andra. Dan kini, kehancuranmu baru saja dimulai.

Dengan sisa rasa sakit, Sri membelai kepala lelaki itu. "Jangan pernah tinggalkan aku ya, Tuan. Janji?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Bayangan Masa Lalu

    Malam itu, kantor pribadi Andra di rumah besar itu terasa sangat mencekam. Lampu meja yang redup hanya menyinari sebagian wajahnya, menyisakan sisi lainnya tenggelam dalam kegelapan. Di hadapannya, sebuah botol wiski sudah hampir kosong. Andra sedang berusaha menenggelamkan suara tangis bayi dalam kepalanya, namun alkohol justru membawanya ke sebuah lorong waktu yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Pikirannya melayang kembali ke beberapa tahun yang telah lalu. Wajah itu muncul kembali. Wajah yang sangat mirip dengan Sri, namun memiliki tatapan yang jauh lebih lembut. Myla. Dalam ingatannya, Andra melihat dirinya sendiri yang lebih muda, sedang berdiri di sebuah taman kecil yang basah karena hujan. Myla berdiri di depannya dengan tubuh gemetar, tangannya memegang erat jemari Andra. "Andra, aku hamil... ini anakmu," suara Myla dalam ingatan itu terdengar begitu jernih, memecah kesunyian malam di ruang kerjanya. Saat itu, Andra sangat mencintai Myla. Ia adalah separuh jiwanya.

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Harga Sebuah Nyawa

    Di dalam kamar perawatan yang hanya diterangi oleh lampu temaram di atas nakas, keheningan terasa begitu berat, seolah udara di ruangan itu telah berubah menjadi timah. Arka berdiri di ujung ranjang, menatap Sri yang sedang bersandar pada tumpukan bantal. Wajah wanita itu pucat pasi, namun matanya memancarkan ketenangan yang menurut Arka sangat tidak wajar bagi seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya. Arka tidak bisa lagi membendung badai di dalam dadanya. Ia telah menyaksikan bagaimana Sri menjebak Andra di tangga, melihat darah itu mengalir, dan kini ia melihat Sri justru menikmati kehancuran mental majikannya. "Sri, jawab jujur padaku," suara Arka terdengar berat, hampir seperti bisikan yang menyakitkan. "Kenapa kau melakukan semua ini? Kau sengaja menjatuhkan dirimu, kan?" Sri tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap jemarinya yang terlihat sangat putih di bawah cahaya lampu. Sebuah senyuman tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya. "Apa bedanya, Arka? Hasil

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Dihantui Rasa Bersalah

    Siang itu, koridor rumah sakit terasa lebih tenang. Sarah terpaksa pulang sebentar untuk mengambil beberapa keperluan dan mandi, meninggalkan Andra yang bersikeras ingin menjaga Sri di kamar perawatan. Andra beralasan bahwa ia merasa bertanggung jawab secara moral atas kecelakaan itu, sebuah alasan yang diterima Sarah dengan penuh haru tanpa menaruh curiga sedikit pun. Kini, di dalam kamar kelas satu yang sunyi, hanya ada Andra dan Sri. Suara detak jam dinding seolah berdetak seirama dengan kegelisahan di dada Andra. Ia duduk di kursi samping ranjang, menatap tangannya yang masih terasa bergetar. Sri perlahan memiringkan kepalanya, menatap Andra dengan wajah pucat dan mata yang sayu, namun tajam. "Tuan..." panggil Sri dengan suara lirih yang serak. Andra segera tersentak dari lamunannya. "Iya, Sri? Kau butuh sesuatu? Air? Atau panggil dokter?" Sri menggeleng pelan. Ia mengulurkan tangannya yang tertusuk jarum infus, meraih ujung kemeja Andra. "Tuan, apakah kau mendengarnya? Sejak

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Gema Di Lorong Kesunyian

    Suasana rumah sakit di malam hari selalu memiliki aura yang mencekam, namun bagi Andra, tempat ini telah berubah menjadi ruang penyiksaan pribadi. Setelah Sarah tertidur di kursi tunggu karena kelelahan, Andra memutuskan untuk berjalan menyusuri koridor yang sepi, mencari ketenangan yang mustahil ia dapatkan. Langkah kaki Andra bergema di atas lantai porselen. Namun, di antara suara langkahnya, ia mulai mendengar sesuatu yang tidak masuk akal. Sebuah suara halus, seperti rintihan kecil yang semakin lama semakin jelas. Oeeek... oeeek... Andra mematung di tengah koridor. Bulu kuduknya berdiri. Suara itu adalah suara tangisan bayi yang baru lahir—suara yang seharusnya tidak ada di sayap rumah sakit khusus pasien pasca-operasi ini. "Siapa itu?" bisik Andra, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan mata yang membelalak. Tidak ada siapa-siapa. Lorong itu kosong, hanya diterangi lampu redup yang berkedip. Namun, suara tangisan itu kembali terdengar, kali ini terasa sangat dekat, seolah-olah

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Kematian Dalam Keheningan

    Koridor rumah sakit itu terasa begitu dingin dan berbau antiseptik yang menyengat. Lampu neon yang berkedip di atas kepala seolah menambah ketegangan yang menyelimuti tiga orang yang sedang menunggu di depan ruang operasi darurat. Andra duduk di kursi tunggu dengan tangan yang terus gemetar, noda darah kering milik Sri masih membekas di kemeja putih mahalnya. Darah dari anak yang sangat ia dambakan. Tak lama kemudian, Sarah datang dengan wajah cemas yang luar biasa. Ia baru saja tiba dari salon setelah mendapat kabar mengejutkan melalui telepon dari Arka. "Andra! Bagaimana keadaan Sri? Dan bayinya?" tanya Sarah sambil memegang bahu suaminya. Andra mendongak. Matanya merah dan sembab, namun ia segera memasang topeng ketenangan yang rapuh saat melihat istrinya. Ia ingin berteriak, ia ingin meraung meratapi kehilangan hartanya yang paling berharga, namun ia sadar bahwa di depan Sarah, ia tidak boleh menunjukkan duka yang berlebihan untuk seorang anak pelayan. Pintu ruang operasi terb

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Tumbal Pengampunan

    Hari demi hari bergulir seperti pasir yang jatuh di jam kaca. Waktu seolah berpihak pada kebohongan yang terpelihara rapi di rumah besar itu. Kandungan Sri kini telah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang dulu rata kini menonjol dengan nyata, sebuah gundukan kehidupan yang menjadi pusat semesta bagi Andra. Andra tampak seperti pria yang baru saja memenangkan lotre kehidupan. Setiap kali ada kesempatan, ia akan mengusap perut itu dengan wajah yang berseri-seri, membayangkan masa depan di mana darah dagingnya akan mewarisi segalanya. Kontras dengan kebahagiaan itu, Sarah semakin tenggelam dalam kemurungan. Hingga detik ini, rahimnya tetap sunyi, sebuah kekosongan yang membuatnya semakin merasa tidak berguna sebagai seorang istri. Kepulangan Nyonya Lydia ke kediaman pribadinya di luar kota menjadi angin segar bagi Andra. Tanpa pengawasan sang matriark yang bermata elang, Andra menjadi semakin berani. Ia tak segan memeluk Sri di ruang tengah atau mencium keningnya di depan Arka. Arka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status