Share

Panasnya Api Dendam

Penulis: Nona Lee
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-19 19:08:04

"Terima kasih untuk malam ini. Kau tidurlah, istirahat."

Keheningan rumah kembali menyelimuti setelah pintu gudang tua tertutup dengan suara yang nyaris tak terdengar. Andra pergi ke kamarnya, tersenyum puas, meninggalkan Sri sendirian di lorong yang dingin setelah mengecup keningnya sekilas.

Sri berdiri mematung sejenak, menahan perih yang menyengat di bagian bawah tubuhnya. Tidak ada gairah, tidak ada kenikmatan, hanya rasa sakit fisik dan jijik yang merayap di kulitnya. Ia memaksakan langkahnya, berjalan perlahan menuju kamar pelayan di bagian belakang rumah. Setiap sentuhan pakaiannya pada kulitnya yang sensitif terasa menyiksa.

Sesampainya di kamar kecilnya, yang gelap dan sempit, Sri segera mengunci pintu. Ia bergegas masuk ke kamar mandi. Dalam remang-remang lampu 5 watt, ia menanggalkan pakaiannya yang kusut dan berdebu, seolah pakaian itu adalah kulit dosa yang harus segera dilepas.

Sri menyalakan shower. Ia membiarkan air dingin mengguyur tubuhnya yang masih terasa panas karena sentuhan Andra. Air dingin itu seharusnya menenangkan, tetapi hanya berfungsi sebagai pengingat pahit atas pengorbanan yang baru saja ia lakukan.

Wajah Sri di bawah guyuran air kini tidak lagi menyunggingkan senyum manja. Matanya terpejam rapat, bibirnya menipis. Perasaan jijik menjalari setiap inci kulitnya, seolah ia ingin mengikis setiap jejak sentuhan, setiap ciuman, dan setiap napas Andra yang menempel di tubuhnya. Yang ada hanyalah kebencian murni, mengalahkan rasa sakit fisik yang ia rasakan sebagai wanita yang baru pertama kali disentuh.

Saat air mulai mendingin, Sri membuka matanya dan menatap pantulannya di cermin buram. Sekilas, terlintas bayangan wajah sang kakak, Myla, yang cantik dan polos. Sosok yang kini telah direnggut dari dunia ini oleh keangkuhan seorang pria.

Sri mendekat ke cermin, menahan napas. Ia menyentuh pantulannya sendiri, mengusap bekas air mata yang kini bercampur dengan air shower.

"Kak..." bisiknya, suaranya parau dan penuh janji yang bergetar. "Aku akan membalaskan semuanya. Membalas setiap rasa sakit yang lelaki itu lakukan padamu."

Sri datang ke rumah megah ini bukan tanpa tujuan. Ia datang dengan dendam yang membara, membalut rasa sakitnya sendiri setelah menyaksikan kehancuran Myla. Kematian tragis sang kakak, yang disebabkan oleh keengganan Andra Pratama bertanggung jawab atas benih yang ia tanam. Momen kelam itu, telah mengubah Sri menjadi sosok yang dingin dan penuh perhitungan. Dunia melihat Andra sebagai pengusaha sukses yang menikah dengan wanita pilihan terbaik, Sarah. Tetapi bagi Sri, Andra hanyalah seorang pengecut yang layak menderita.

Pengorbanan dirinya di gudang tua tadi bukanlah tanda penyerahan, melainkan langkah pertama dari sebuah penghancuran total. Sri mengorbankan kehormatannya, menukar rasa sakitnya dengan akses tak terbatas ke kelemahan Andra.

Sri mematikan air. Ia mengeringkan tubuhnya. Gadis desa yang baru saja kehilangan mahkotanya ini kini menatap masa depannya dengan mata yang tajam dan dingin. Ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia harus menggunakan hasrat Andra sebagai tali pengikat untuk menariknya keluar dari pernikahan itu, menjauh dari bisnisnya, dan akhirnya, menjatuhkannya ke jurang penderitaan yang sama seperti yang dialami Myla.

Andra Pratama boleh merasa menang dan bangga malam ini. Tetapi ia tidak tahu, ia baru saja menyerahkan kunci kehancurannya sendiri ke tangan wanita yang paling ia inginkan.

"Kau boleh merasa puas sekarang, Andra.." ucapnya pelan. "Tapi lihat saja nanti, bagaimana aku menghancurkan hidupmu!"

Sementara di bagian belakang rumah Sri dicuci oleh air dingin dan kebencian, di kamar utama, Andra menikmati sisa-sisa malam dengan perasaan penuh kemenangan.

Ia duduk di balkon, diselimuti kegelapan dan aroma tembakau. Asap rokoknya melayang perlahan, sama seperti benaknya yang kini dipenuhi gambaran Sri. Ia mengingat rona merah yang menjalar di pipi Sri, ringisan tertahan di bibir gadis itu, dan pengakuan polosnya bahwa Andra adalah yang pertama.

Sensasi itu... Luar biasa.

Sebuah gejolak hasrat tiba-tiba menyerang. Bagian intimnya kembali berdenyut, menuntut lebih dari kenikmatan yang baru saja ia rasakan. Kebanggaan Andra meluap, ia berhasil mendapatkan yang tak terjamah, sebuah harta karun tersembunyi.

"Sialan," desis Andra, suaranya parau. Ia membuang puntung rokoknya ke asbak dengan gerakan frustrasi. "Aku menginginkan wanita itu lagi."

Hasratnya pada Sri begitu kuat, menenggelamkan semua perasaan bersalah yang seharusnya ia rasakan sebagai suami.

Andra berbalik, melangkah memasuki kamar yang luas. Matanya tertuju pada Sarah, istrinya, yang tertidur pulas di ranjang king size. Tubuh Sarah kurus, kulitnya tampak pucat karena gaya hidupnya yang terlalu fokus pada diet dan perawatan mahal. Di mata Andra, Sarah sangatlah angkuh dan keras kepala, sifat yang awalnya ia kagumi sebagai daya tarik, mini terasa membosankan. Ia sama sekali tidak semenarik tubuh Sri yang seksi alami, apalagi kenikmatan yang ia dapatkan di gudang tadi.

Andra mendesah pelan, menatap wanita yang ia nikahi karena paksaan ibunya itu.

"Jika saja Ibu tidak memaksaku menikahimu, mungkin aku akan menikahi Sri malam ini juga," gumamnya pelan, sebuah penyesalan yang terlontar hanya untuk menenangkan dirinya sendiri.

Ada sekelebat rasa bersalah, sebuah bisikan kecil di hati nuraninya, karena telah mengkhianati istri yang selama ini menemaninya. Namun hasrat Andra yang terlalu besar, hasrat pada Sri yang kini terasa begitu nyata dan panas, terlalu kuat untuk mengakui semua itu. Andra memilih untuk membenarkan nafsunya, mungkin untuk saat ini.

Ia berjalan menuju kamar mandi utama. Setelah menutup pintu, Andra menurunkan celananya. Ia menatap pantulannya di cermin. Dengan tangan yang gemetar, ia mulai menyentuh bagian miliknya, memejamkan mata erat-erat.

"Sri..."

Di dalam benaknya, bukan wajah Sarah, melainkan wajah cantik polos Sri yang terlukis jelas. Ia membayangkan lagi rambut kepang dua yang terurai, mata menantang yang pura-pura takut, dan suara parau Sri yang mengaku bahwa ia adalah yang pertama.

"Akh! Kau cantik sekali, Sri..."

Andra mengulang kembali setiap sentuhan dan desahan Sri dalam pikirannya, membiarkan dirinya tenggelam dalam fantasi cabul bersama pelayannya sendiri.

"Ah! Sial..."

Puas dengan pelepasan hasratnya, Andra tersenyum penuh dosa. Sri telah menjadi obsesi barunya. Ia tidak tahu, bahwa obsesi itu adalah umpan yang disiapkan oleh wanita pembawa dendam. Tapi yang ia tahu sekarang, ia ingin wanita itu lagi. Dan ia akan mendapatkannya, tak peduli apa pun konsekuensinya.

"Kau akan menjadi milikku, Sri. Kita lihat saja..."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Kematian Dalam Keheningan

    Koridor rumah sakit itu terasa begitu dingin dan berbau antiseptik yang menyengat. Lampu neon yang berkedip di atas kepala seolah menambah ketegangan yang menyelimuti tiga orang yang sedang menunggu di depan ruang operasi darurat. Andra duduk di kursi tunggu dengan tangan yang terus gemetar, noda darah kering milik Sri masih membekas di kemeja putih mahalnya. Darah dari anak yang sangat ia dambakan. Tak lama kemudian, Sarah datang dengan wajah cemas yang luar biasa. Ia baru saja tiba dari salon setelah mendapat kabar mengejutkan melalui telepon dari Arka. "Andra! Bagaimana keadaan Sri? Dan bayinya?" tanya Sarah sambil memegang bahu suaminya. Andra mendongak. Matanya merah dan sembab, namun ia segera memasang topeng ketenangan yang rapuh saat melihat istrinya. Ia ingin berteriak, ia ingin meraung meratapi kehilangan hartanya yang paling berharga, namun ia sadar bahwa di depan Sarah, ia tidak boleh menunjukkan duka yang berlebihan untuk seorang anak pelayan. Pintu ruang operasi terb

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Tumbal Pengampunan

    Hari demi hari bergulir seperti pasir yang jatuh di jam kaca. Waktu seolah berpihak pada kebohongan yang terpelihara rapi di rumah besar itu. Kandungan Sri kini telah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang dulu rata kini menonjol dengan nyata, sebuah gundukan kehidupan yang menjadi pusat semesta bagi Andra. Andra tampak seperti pria yang baru saja memenangkan lotre kehidupan. Setiap kali ada kesempatan, ia akan mengusap perut itu dengan wajah yang berseri-seri, membayangkan masa depan di mana darah dagingnya akan mewarisi segalanya. Kontras dengan kebahagiaan itu, Sarah semakin tenggelam dalam kemurungan. Hingga detik ini, rahimnya tetap sunyi, sebuah kekosongan yang membuatnya semakin merasa tidak berguna sebagai seorang istri. Kepulangan Nyonya Lydia ke kediaman pribadinya di luar kota menjadi angin segar bagi Andra. Tanpa pengawasan sang matriark yang bermata elang, Andra menjadi semakin berani. Ia tak segan memeluk Sri di ruang tengah atau mencium keningnya di depan Arka. Arka

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan

    Pagi itu, sinar matahari menyelinap di antara celah pepohonan besar di halaman belakang. Arka sedang membantu Sri mengangkat keranjang cucian yang berat. Sri jadi mudah lelah, membuat Arka tidak tega membiarkan wanita itu bekerja sendiri. Di antara mereka, ada keheningan yang berbeda dari biasanya. Sisa-sisa percakapan emosional semalam masih menggantung, membuat setiap tatapan mata terasa lebih bermakna. Namun, ketenangan itu terganggu saat Sarah muncul dari beranda belakang. Wajahnya tampak pucat, dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang menunjukkan bahwa ia tidak tidur nyenyak. "Arka, bisa kita bicara sebentar? Berdua saja," panggil Sarah dengan nada yang tenang namun menyimpan otoritas. Sri memberikan isyarat dengan matanya agar Arka mengikuti majikannya. Arka meletakkan keranjang cucian dan berjalan mengekor di belakang Sarah menuju bangku taman yang agak jauh dari jangkauan telinga orang lain. Sarah duduk dengan anggun, namun jemarinya terus meremas kain bajunya sendiri.

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Di Balik Topeng Kebencian

    Malam itu, paviliun terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Suara jangkrik di luar jendela seolah menonjolkan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar kecil tersebut. Arka duduk di kursi kayu, matanya tak lepas dari punggung Sri yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin rias sederhana. Pikiran Arka berkecamuk. Bayangan kejadian-kejadian sebelumnya. Pelukan panas Andra, desahan Sri, dan bagaimana wanita itu dengan lihai bersandiwara di depan Sarah terus menghantuinya. Ia merasa seperti sedang menonton sebuah pertunjukan teater yang mengerikan, di mana pemeran utamanya adalah wanita yang kini menyandang status sebagai istrinya. "Sri," panggil Arka lirih. Suaranya pecah di tengah kesunyian. Sri tidak berhenti menyisir. "Hmm?" "Sebenarnya kau itu mencintai Tuan Andra atau tidak?" Arka menjeda sejenak, mengumpulkan keberanian. "Kenapa kau selalu bersikap begitu manis di depannya, menikmati sentuhannya, tapi di belakangnya kau seolah sedang merencanakan kehancurannya?" Sri menghe

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Gairah Yang Terusik

    Malam semakin larut, namun udara di dalam kamar paviliun yang sempit itu justru terasa semakin panas dan menyesakkan. Andra tidak lagi memedulikan etika atau kemungkinan ada mata yang mengintai. Di atas ranjang kayu yang berderit pelan, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Sri, menghirup aroma tubuh wanita itu yang selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang. Sentuhan Andra menjadi semakin liar dan menuntut. Ia menciumi Sri dengan penuh rasa memiliki, seolah-olah ingin menghapus jejak keberadaan Arka dari ruangan itu. Di bawah dekapan Andra, Sri membiarkan pria itu melakukan apa pun yang ia inginkan. Ia memberikan respon yang membuat Andra semakin kehilangan akal sehatnya. Desahan-desahan halus mulai memenuhi ruangan, menenggelamkan rasa takut akan resiko yang mereka ambil. Bagi Andra, momen ini adalah kemenangannya atas Arka. Meskipun dunia melihat Arka sebagai suami Sri, di atas ranjang ini, ia membuktikan bahwa dirinyalah penguasa tunggal atas jiwa dan raga wanita itu. Gairah yan

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Cara Licik Andra

    Di dalam kamar utama, suasana masih terasa tegang. Sarah mondar-mandir dengan wajah cemas, sementara Andra duduk di tepi ranjang, pura-pura sibuk memeriksa jam tangannya seolah-olah penemuan kunci inggris berdarah itu hanyalah interupsi kecil yang mengganggu jadwalnya. "Andra, aku tidak bisa tenang. Aku ingin melaporkan masalah ini ke polisi besok pagi. Aku hanya takut para preman itu salah sasaran. Mungkin mereka pikir Arka itu kau karena dia menyetir mobilmu," ucap Sarah dengan nada suara yang bergetar karena khawatir. Andra bangkit, melangkah mendekati istrinya dan mengusap pipinya dengan gerakan yang terlihat sangat penuh kasih, meski di dalam kepalanya ia sedang memutar otak untuk menutupi kejahatannya. "Kau tenang saja, Sayang. Aku tidak selemah lelaki itu. Aku bisa membela diri dengan jauh lebih baik," ucap Andra dengan nada sombong yang terselubung. "Tapi Andra... Arka itu terluka parah, dan Sri..." Sebelum Sarah sempat melanjutkan kalimatnya, Andra segera menarik tubuh i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status