Mag-log in"Sri... dimana kau?!"
Matahari pagi menyusup malu-malu melalui jendela kaca kamar utama, menerangi kemewahan yang sunyi. Suasana di sana kontras dengan kegelapan gairah yang terjadi di gudang semalam. Sarah duduk angkuh di depan meja riasnya yang besar, rambutnya yang basah tertutup handuk. Ia baru saja memanggil Sri untuk membantunya mengeringkan dan menyisir rambut. Sri berdiri di belakang Sarah, memegang hair dryer. Meskipun semalam baru saja merelakan segalanya di atas meja berdebu, ia menampilkan profesionalisme yang sempurna. Wajahnya cantik natural seperti biasa, dan kepangan rambutnya sudah rapi kembali. Hanya saja, tubuhnya tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa sakit. Saat Sri bergerak mengitari kursi rias untuk mengambil sisir, langkahnya terlihat aneh dan terlalu hati-hati, seolah ia menahan sesuatu. Sarah, yang mata dan pikirannya selalu fokus pada citra diri yang sempurna, segera menyadarinya. Ia menurunkan cermin kecilnya dan menatap tajam ke arah Sri melalui pantulan. Ada nada angkuh dan sedikit jijik dalam suaranya. "Kau itu kenapa?" tanya Sarah, tanpa basa-basi. "Jalanmu aneh sekali. Kakimu terkilir?" Sri yang sedang memegang sisir, sedikit terkejut, namun ia segera menyunggingkan senyum malu-malu yang dibuat-buat. Senyum yang dirancang untuk membangkitkan asumsi bahwa ia baru saja berbuat kenakalan remaja yang polos. "Tidak, Nyonya," jawab Sri pelan, suaranya terdengar lembut seperti biasa. "Hanya lecet sedikit." Kata ‘lecet’ itu membuat Sarah mengerutkan alisnya. Lecet? Apa maksud wanita ini? Sarah menatap tubuh Sri dengan tatapan merendahkan, seolah membayangkan lelaki miskin mana yang mau meniduri pembantunya dan menyebabkannya berjalan pincang seperti itu. Ia tertawa geli, tawa sinis yang hanya ia keluarkan saat merasa dirinya jauh di atas segalanya. Sungguh ironi. Sarah sama sekali tidak tahu bahwa yang membuat pelayan di depannya itu kesakitan hingga berjalan aneh bukanlah pacar miskin, melainkan suaminya sendiri Andra, di atas meja kotor di gudang. Sarah kembali fokus pada cermin, mengabaikan Sri. "Dengar," katanya dingin, "Aku tidak melarangmu berpacaran, itu urusanmu. Tapi jangan sampai kau tinggalkan pekerjaanmu atau kau membuat dapur kotor karena pacaranmu itu. Mengerti?" Sri mengangguk hormat, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya memancarkan nyala api yang dingin. "Tentu, Nyonya," jawab Sri. Ia lantas mengangkat sisir itu, mulai menyisir rambut Sarah yang panjang dan tebal. Saat tangannya bergerak perlahan menyentuh rambut Sarah, Sri menatap lurus ke pantulan mata wanita itu di cermin. Di dalam hati, ia berjanji bahwa 'lecet' yang ia rasakan hari ini akan dibayar dengan kehancuran total bagi keangkuhan Sarah dan kebanggaan suaminya. "Nyonya saya permisi..." Setelah membantu Nyonya Sarah bersolek, Sri segera kembali ke meja makan. Di sana, Andra sudah menunggunya. Sri harus bergerak cepat, menyajikan sarapan seolah tidak ada yang terjadi antara mereka beberapa jam yang lalu di gudang tua. Lengan mungilnya bergerak cekatan, mengambil piring di samping. Wajahnya yang lembut menatap ke arah tuannya. "Tuan mau makan nasi atau sepotong roti?" tanyanya, suaranya terdengar lembut dan profesional seperti biasa. Sebuah suara yang kini menjadi racun candu bagi telinga Andra. Andra tersenyum kecil, senyum yang hangat namun penuh rahasia. "Aku mau makan roti saja," jawab Andra, matanya tidak lepas dari gerakan Sri. Sri menyimpan piring, lalu mengambilkan sepotong roti yang sudah diolesi selai manis kesukaan tuannya. Ia meletakkannya di piring Andra dengan hati-hati. "Silakan, Tuan. Selamat menikmati." Namun saat Sri hendak menarik tangannya, Andra dengan cepat memegang pergelangan tangan wanita itu. Andra menahan tangannya, menatap Sri dengan tatapan hangat namun penuh hasrat yang tak terpuaskan. "Kau baik-baik saja?" bisik Andra, nadanya berubah penuh perhatian. "Sepertinya kau kesulitan berjalan hari ini." Sri terkejut, pipinya merona, tetapi ini adalah bagian dari sandiwara. Ia tersenyum malu, sembari berusaha menarik tangannya dari genggaman Andra. "Tuan jangan begini, nanti ada yang melihat," bisik Sri kembali, memberi isyarat ke arah dapur, seolah takut ketahuan. Alih-alih takut, Andra justru semakin tertantang. Ia melepaskan tangan Sri, hanya untuk dengan cepat memegang pinggang wanita itu, menarik tubuh Sri sedikit lebih dekat ke meja makan. "Istriku masih di kamar. Siapa yang akan melihat?" goda Andra, suaranya rendah dan penuh keyakinan. Andra kemudian mengambil beberapa lembar uang kertas dari saku celana tidurnya, menyelipkannya cepat di tangan Sri. "Belilah salep untuk lukamu itu," katanya, matanya kembali menatap lurus ke mata Sri. "Karena aku tidak tahu kapan aku akan membuatmu merasakan sakit lagi." Sri tertawa pelan, tawa yang penuh rahasia dan menggoda, seolah mereka benar-benar adalah sepasang kekasih yang sedang berbagi lelucon mesra. Keintiman mereka terasa begitu nyata, begitu berbahaya. Tepat pada saat itu, langkah kaki berat terdengar dari arah dapur. Bi Minah, pelayan senior yang telah mengabdi di rumah itu sejak Andra masih kanak-kanak, muncul membawa keranjang cucian. Bi Minah berhenti melangkah. Ia melihat tuannya Andra, yang sedang berdiri terlalu dekat dengan si pelahan baru, Sri. Ia melihat bagaimana Andra menatap Sri, tatapan yang tidak seperti majikan ke pelayan, melainkan tatapan yang terlalu hangat, terlalu intim. "Sri, apa yang kau lakukan?" tegur Bi Minah, suaranya tegas. "Cucian di dapur sudah menumpuk. Cepat selesaikan tugasmu!" Andra dan Sri segera melepaskan diri, berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Sri menunduk hormat, menyembunyikan uang di tangannya. "Baik, Bi," jawab Sri, lantas buru-buru melangkah ke dapur, meski langkahnya masih terlihat sedikit tertatih. Bi Minah berdiri di sana, dengan keranjang cucian di tangannya, matanya yang tajam terus memperhatikan kedua orang itu. Ia merasakan ada sesuatu yang salah di udara. Bi Minah tahu betul bagaimana Andra saat kecil, dan ia tahu bagaimana Andra saat ini. Dan ia tahu, kehadiran gadis desa baru itu adalah masalah besar yang bersembunyi di balik senyum dan tatapan yang tidak biasa. "Jangan sampai aku menyesal membawa Sri ke rumah ini, ya Tuhan...""Sri! Tunggu! Sri, kuingatkan kau untuk berhenti!" teriakan Andra menggema di koridor panjang yang menuju ke arah taman samping. Sri terus melangkah dengan cepat. Gaun putihnya berkibar, membelah udara yang terasa berat oleh ketegangan. Ia tidak ingin mendengar apa pun lagi. Baginya, tugasnya sudah selesai, kehancuran Andra sudah di depan mata. Namun, Andra tidak menyerah. Ia berlari dan berhasil mencengkeram lengan Sri tepat di dekat pintu keluar menuju taman. "Lepaskan aku, Andra! Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" bentak Sri sambil mencoba menyentak tangannya. "Dengarkan aku dulu! Hanya lima menit, kumohon!" raung Andra dengan mata merah dan wajah yang berantakan. Di kejauhan, dekat gerbang besar yang menjulang, Arka berdiri mematung. Ia melihat konfrontasi itu. Ia sempat ingin maju, namun tatapan Sri mengisyaratkan agar ia menunggu. Arka mengepalkan tangannya, bersandar pada pilar gerbang, membiarkan istrinya menyelesaikan urusan terakhirnya dengan iblis dari masa lal
"Apa kau bilang, Sri?!" suara Andra meninggi, bergetar antara amarah dan ketakutan yang mendalam. "Jaga bicaramu! Jangan meracuni pikiran Sarah dengan omong kosong!" Sri tidak bergeming. Ia masih berlutut di depan Sarah, menatap wanita yang pipinya masih memerah akibat tamparan itu dengan tatapan yang nyaris seperti belas kasihan. "Nyonya... apakah anda tahu jika Andra, suami yang Anda puja ini, adalah seorang pembunuh?" Sarah terengah-engah, air matanya tertahan di pelupuk mata saat ia menatap Sri dengan nanar. "Apa... apa maksudmu? Apa yang kau bicarakan, Sri?" "Hentikan, Sri! Cukup!" Andra mencoba menarik lengan Sri untuk berdiri, namun Sri menyentak tangan itu dengan kasar. Kekuatan dalam gerakan Sri membuat Andra terhuyung mundur. "Kenapa, Andra? Kau takut rahasia busukmu tercium?" Sri bangkit berdiri perlahan, auranya kini berubah menjadi sangat dominan dan mengancam. Ia menatap Andra dengan kebencian yang sudah membusuk selama bertahun-tahun. "Nyonya Sarah, beberapa tahun l
Pagi itu, udara di dalam rumah utama terasa begitu statis, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh rahasia yang menyesakkan. Sarah bangun dengan perasaan yang aneh. Mimpi buruk semalam tentang surat-surat kosong yang ia tanda tangani terus menghantuinya. Dengan langkah yang sedikit gontai, ia menuju ruang kerja pribadi Andra, berniat mencari berkas investasi yang suaminya sebutkan semalam. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Andra sedang berada di kamar mandi saat Sarah mulai memeriksa laci meja jati yang biasanya terkunci. Namun, entah karena kecerobohan atau rasa percaya diri yang terlalu tinggi setelah kemenangan semalam, Andra lupa mencabut kuncinya. Tangan Sarah gemetar saat ia menarik sebuah map cokelat tebal dari tumpukan paling bawah. Begitu ia membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kertas-kertas yang ia tanda tangani semalam kini tidak lagi kosong. Di atas sana, tertera barisan kalimat hukum yang dingin dan
Malam itu, angin berembus cukup kencang, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa kegelisahan yang menyelimuti paviliun belakang. Sri berdiri di teras kecil, menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu yang dingin. Matanya menatap hamparan langit malam yang hitam pekat, tanpa bintang, seolah-olah langit itu sedang memantulkan kekosongan yang ada di dalam jiwanya sendiri. Ia memegangi perutnya yang kini terasa hampa, sebuah pengingat fisik akan harga mahal yang telah ia bayar demi sebuah rencana. Langkah kaki yang ringan dan sangat ia kenali terdengar mendekat. Arka muncul dari balik bayang-bayang, mengenakan jaket tipis untuk menghalau dingin. Ia berdiri di samping Sri, ikut menatap ke arah yang sama, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada wanita di sampingnya. "Kau seharusnya tidak berada di luar sedini ini, Sri. Udara malam tidak baik untuk pemulihanmu," ucap Arka dengan nada suara yang rendah dan penuh perhatian. Sri tidak menoleh. "Langit malam ini sangat gelap, Arka. Begitu gel
Malam semakin larut saat Andra duduk di tepi ranjang paviliun, tempat Sri masih dalam masa pemulihan. Cahaya lampu tidur yang temaram membiaskan bayangan mereka di dinding, menciptakan suasana yang intim namun sarat akan rahasia gelap. Dengan suara rendah yang penuh kepuasan, Andra menceritakan segalanya, tentang surat anonim Bi Minah yang berhasil ia gagalkan, ancaman yang ia berikan pada pelayan tua itu, hingga keberhasilannya mendapatkan tanda tangan Sarah di atas dokumen-dokumen kosong. "Segalanya sudah hampir selesai, Sri," ucap Andra sambil menggenggam tangan Sri, matanya berbinar dengan kegilaan yang ia sebut sebagai cinta. "Semua aset, rumah ini, saham perusahaan... sebentar lagi semuanya akan berpindah ke namaku. Sarah tidak akan punya apa-apa lagi. Kita akan bebas. Kita akan memulai hidup baru tanpa ada yang menghalangi." Sri terdiam, matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat. Ia benar-benar terkejut. Ia tahu Andra adalah pria yang licik, namun ia tidak me
Suasana kamar utama yang dingin mendadak terasa mencekam. Sarah menggeliat di balik selimut sutranya, matanya perlahan terbuka karena mendengar suara gesekan kain yang tidak wajar. Di bawah remang lampu tidur, ia melihat siluet suaminya sedang membungkuk, tangannya merogoh ke dalam tas kerja miliknya dengan gerakan yang terburu-buru. "Andra? Apa yang kau lakukan?" suara Sarah yang serak karena baru bangun tidur memecah kesunyian.Andra tersentak hebat, jantungnya seakan melompat ke tenggorokan. Namun, dengan kecepatan seorang pembohong ulung, jemarinya sudah lebih dulu meremas selembar kertas kecil yang baru saja ia temukan di kantong dalam tas itu. Ia berbalik dengan senyum tenang yang dipaksakan. "Ah, kau terbangun, Sayang?" ucap Andra sambil memasukkan kertas itu ke saku celananya dengan gerakan yang sangat halus. "Aku hanya mencari korek api gas yang kupinjam darimu tadi siang. Aku ingin merokok di balkon tapi tidak menemukannya di laci." Sarah menyipitkan mata, menatap suaminy
Koridor rumah sakit itu terasa begitu dingin dan berbau antiseptik yang menyengat. Lampu neon yang berkedip di atas kepala seolah menambah ketegangan yang menyelimuti tiga orang yang sedang menunggu di depan ruang operasi darurat. Andra duduk di kursi tunggu dengan tangan yang terus gemetar, noda d
Hari demi hari bergulir seperti pasir yang jatuh di jam kaca. Waktu seolah berpihak pada kebohongan yang terpelihara rapi di rumah besar itu. Kandungan Sri kini telah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang dulu rata kini menonjol dengan nyata, sebuah gundukan kehidupan yang menjadi pusat semesta b
Pagi itu, sinar matahari menyelinap di antara celah pepohonan besar di halaman belakang. Arka sedang membantu Sri mengangkat keranjang cucian yang berat. Sri jadi mudah lelah, membuat Arka tidak tega membiarkan wanita itu bekerja sendiri. Di antara mereka, ada keheningan yang berbeda dari biasanya.
Malam itu, paviliun terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Suara jangkrik di luar jendela seolah menonjolkan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar kecil tersebut. Arka duduk di kursi kayu, matanya tak lepas dari punggung Sri yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin rias sederhana. Pikir







