LOGINRumah besar berlantai dua milik Adrian Fabian berdiri megah dalam balutan cahaya lampu taman yang hangat. Namun bagi Olivia, bangunan itu terasa lebih seperti penjara yang tak ia pilih, ketimbang rumah.
Saat mobil Adrian berhenti di carport, Olivia turun tanpa banyak bicara. Ia hanya menenteng tas kecil, langkahnya pelan tapi tegas menuju pintu depan. Adrian membukakan pintu, mempersilakan dengan gerakan tangan yang diam dan sopan. "Kamarmu di atas, lantai dua, yang paling ujung kiri. Sudah Mama kamu pilih sendiri waktu itu," ucapnya pelan, seperti berjalan di atas pecahan kaca. "Oke." "Perlu aku antar?" Olivia hanya menggeleng, suara pendek. "Tidak, aku bisa cari sendiri." "Yakin?" "Iya." Adrian menghela napas kecil, mencoba memecah keheningan. "Kalau butuh apa-apa, kamu bisa cari aku. Aku ada di ruang keluarga, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan." Tanpa membalas, Olivia mengangguk kecil dan berlalu tanpa mengucap sepatah kata pun. Langkah kakinya bergema pelan di lantai marmer, membawa luka dan amarah naik bersamanya ke tangga. Adrian menatap punggung gadis itu lama, lalu menghela napas berat dan menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Semoga suatu saat keadaan kita membaik, Via. Sheila pasti sedih melihat kita seperti ini," bisiknya. Olivia terus berjalan. Kamar di ujung kiri itu sederhana namun terang. Jendela besar menghadap taman belakang. Sprei bersih, lampu tidur hangat, dan ada bingkai foto kecil yang masih berisi potret Olivia dan Sheila, entah kapan diletakkan Adrian di sana. Olivia menatap foto itu dalam diam. Wajah ibunya tersenyum lebar. Senyum yang kini hanya bisa ia temui di lembaran kenangan. Tangannya mengelus permukaan bingkai. "Mama, apa Mama beneran yakin ninggalin aku sama dia?" Gadis bermata bulat itu menaruh tas dengan tangan gemetar, lalu membuka pintu lemari perlahan. Di balik pintu itu tergantung beberapa baju miliknya—Sheila rupanya sudah memindahkannya lebih dulu sebelum hari pernikahannya dengan Adrian. Jantung Olivia berdetak tak beraturan. Ia menutup lemari dengan cepat, lalu terjatuh duduk di tepi ranjang. Matanya kosong menatap dinding, bibirnya bergetar, "Ma ... Via masih berharap ini cuma mimpi." Ketukan pelan di pintu membuatnya menoleh cepat, wajahnya menegang. "Olivia?" suara Adrian mengalir dari luar dengan nada lembut. "Aku cuma mau kasih teh jahe. Mama kamu biasanya selalu bikinin ini kalau kamu susah tidur." Keheningan memenuhi ruangan. Perlahan Olivia membuka pintu sedikit, hanya cukup untuk meraih nampan yang diberikan Adrian. "Makasih," suaranya pendek, dingin. Lalu pintu itu ditutup kembali. Namun sebelum benar-benar tertutup, Adrian menahan dengan suara lirih, "Aku tahu kamu belum bisa terima aku. Tapi kalau kamu butuh sesuatu, aku di bawah." Olivia menghela napas panjang, bahunya merosot. "Om, tolong ... jangan berpura-pura seperti kita ini keluarga. Karena kita bukan. Mama yang bikin aku datang ke sini. Bukan Om. Dan aku nggak janji akan tinggal lama." Adrian menatap lama wajah Olivia, matanya penuh luka yang tak terucapkan dan kemarahan yang hampir meledak di balik tatapan itu. Namun, ia tetap tenang, suaranya rendah, "Aku nggak minta kamu anggap aku siapa-siapa. Tapi rumah ini tetap rumah kamu, Via. Selama kamu butuh tempat pulang, rumah ini selalu terbuka. Aku sudah janji sama Mama kamu." Olivia mengangkat dagunya, sudut bibirnya melebar sinis. "Sebenarnya Om baik dengan aku karena sudah ngerasa bersalah, kan? Tapi sayang, rasa bersalah itu nggak akan pernah cukup buat jadi pengganti Mama." Adrian menunduk, bibirnya bergetar sesaat, seolah menahan kata-kata yang tak pernah bisa keluar. Ia menghela napas panjang. "Selamat malam, Olivia," katanya akhirnya, lalu melangkah pergi perlahan, membiarkan pintu tertutup dengan suara pelan. Di dalam kamar, Olivia terdiam di tepi ranjang. Matanya menatap cangkir teh di meja kecil, uap tipis mengepul ke udara dengan aroma yang dulu menenangkan, kini malah mengiris hatinya. Ia menarik napas dalam, lalu membaringkan diri tanpa menyentuh teh itu. Matanya mulai memanas, punggungnya menyentuh kasur, tapi dadanya tetap sesak. Di luar, rumah itu sunyi. Terlalu besar untuk dua orang yang tak saling bicara. Dan malam itu, untuk kesekian kalinya, Olivia menangis dalam diam. Tepat di rumah yang seharusnya menjadi awal yang baru, namun baginya hanyalah pengingat akan apa yang telah hilang. *** Cahaya matahari pagi menelusup masuk lewat jendela kaca besar di ruang makan. Aroma nasi goreng dan telur dadar menyebar dari dapur, bercampur dengan bau seduhan kopi hitam yang menenangkan. Namun tidak ada yang benar-benar terasa hangat di meja makan itu. Hanya ada keheningan, udara canggung, dan dua orang yang duduk berjauhan seolah sedang memainkan peran yang tidak mereka pilih. Olivia duduk di ujung meja makan. Di hadapannya ada sepiring nasi goreng polos dengan telur ceplok mata sapi di atasnya. Di sisi piring, beberapa kerupuk putih tersusun rapi. Tak jauh dari situ, segelas teh manis hangat masih mengepul pelan. Semuanya tampak rapi, namun tidak menggugah selera. Di seberangnya, Adrian duduk dengan tenang, mengenakan kemeja putih polos dan celana santai. Tangan kirinya menggenggam cangkir kopi, sementara tangan kanannya menahan diri untuk tidak menyentuh makanannya lebih dulu. Menunggu. Sunyi itu seperti ruang hampa yang menyiksa, sampai Adrian akhirnya memecahnya dengan suara datar, "Mau kamu diamkan sampai nasi itu dingin?" tanya Adrian. Olivia hanya menatap piringnya, datar. Adrian mengernyitkan kening, lalu tersenyum kecil, mencoba melebur suasana kaku. "Aku nggak tahu kamu suka pedas atau nggak, jadi aku minta Bik Surti nggak pakai cabai." Olivia hanya mengangguk tanpa bersuara. "Kamu suka kerupuk, kan?" tambah Adrian, menatapnya berharap. "Om, kalau Om terus ngomong, gimana aku mau makan," sahut Olivia datar, nada suaranya tajam penuh sinisme. Adrian hanya menoleh pelan, senyumnya tetap terjaga walau matanya memperlihatkan sedikit kecewa. "Oh, baiklah, saya diam. Tapi kamu harus habiskan sarapannya." Olivia mendengus, sendoknya bergerak pelan mengambil nasi tanpa ada semangat, wajahnya tetap menahan rasa enggan. "Om pasti senang sekarang, ya? Rumahnya jadi ada drama setiap hari. Seru?" Sebelum Adrian sempat menjawab, suara tumit terdengar dari arah dapur. Seorang wanita berusia empat puluhan datang dengan nampan tambahan berisi buah potong. Namanya Bik Surti, pembantu lama Adrian sejak sebelum ia menikah. Rambutnya lurus sebahu, dan tatapannya tajam meski bibirnya tersenyum tipis. "Buahnya saya tambah, Pak," ucapnya ramah ke Adrian, lalu menoleh pada Olivia sekilas. "Non Via, apa ingin diambilkan sesuatu?" "Tidak, Bik." "Non harus tetap makan dalam kondisi apapun," Bik Surti menambahkan. Olivia mengangkat alis. "Saya makan, kok. Cuma nggak bisa langsung lahap kalau baru bangun dan masih sedih karena ... ibu saya baru meninggal kemarin. Pernah dengar kalimat itu, Bik?" Bik Surti tersenyum tipis, kaku. "Oh, saya cuma takut capek-capek masak malah mubazir. Maklum, rumah ini biasanya tenang." Adrian menghela napas. "Bik Surti, tolong jangan terlalu keras pagi-pagi. Via masih menyesuaikan." "Maaf, Pak. Cuma jaga suasana rumah seperti biasa aja," katanya, lalu kembali ke dapur sambil berkomat-kamit sendiri. Olivia menatap Adrian penuh sindiran. "Wah, rumahnya udah punya penjaga kestabilan emosi, ya? Aku makin merasa sangat diterima." "Bik Surti sudah bantu aku dari dulu," jawab Adrian sabar. "Mungkin dia juga butuh waktu untuk terbiasa kamu ada di sini. Biasanya dia orangnya sabar." Olivia tertawa pendek. "Lucu. Orang-orang di rumah ini kayaknya semua butuh waktu. Tapi Mama nggak dikasih waktu buat hidup lebih lama, ya?" Adrian terdiam. Untuk sesaat, hanya suara detik jam dinding yang terdengar. Lalu dengan pelan ia menjawab, "Kalau aku bisa tukar waktu itu, aku akan lakukan apa pun, Via. Kembali, ini semua takdir. Kita harus terima kematian seseorang, suka atau tidak." Olivia menatapnya, matanya mulai panas tapi ia cepat-cepat mengalihkan pandang. Ia berdiri, mendorong kursinya ke belakang. Entah mengapa ia masih sulit menerima kematian Ibunya. Mungkin karena mereka sudah terlalu lama hidup bersama dan saling bergantung. "Aku makan bukan karena Om. Tapi karena Mama pasti pengen aku tetap hidup," katanya dingin, lalu berjalan keluar dari ruang makan, meninggalkan Adrian yang masih duduk diam di tempatnya, dengan napas berat dan pandangan hampa. Dari dapur, Bik Surti mengintip dengan tatapan tidak suka. "Ngapain sih Pak Adrian ngajak gadis tantrum kayak gitu. Cuma ngerepotin aja. Kalau aku jadi Pak Adrian, udah aku usir dia sekarang juga." Bersambung...Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja merayap di permukaan kolam renang. Adrian bersandar di kursi malasnya, menatap Olivia yang duduk tak jauh darinya. Rambut istrinya tergerai bebas, kulitnya disapa lembut cahaya pagi, namun sorot matanya tampak sedikit redup. “Kamu capek, Sayang?” tanya Adrian pelan. “Hmm? Eh? Duh, apa, Mas?” Olivia menoleh, seolah baru tersadar. Pantulan air kolam menari di wajahnya. “Nah, kan,” Adrian menggeser tubuhnya, tak lagi bersandar. “Aku cuma nanya, kok kamu kelihatan bingung.” Olivia tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti usaha daripada ekspresi bahagia. “Iya, Mas… sedikit.” “Lagi pikirin apa, Sayang?” “Pekerjaan di kantor lagi ramai banget. Untung ada Ayu sama Rayhan. Kalau nggak, mungkin aku sudah tumbang.” Adrian berpindah ke kursi malas Olivia. Ruang sempit itu justru membuat mereka terasa semakin dekat. Tanpa sadar, Olivia menyandarkan kepalanya di lengan Adrian, menikmati detak jantung suaminya yang stabil.
Olivia berdiri di depan lobi kantor PT. Fast Track, membiarkan hembusan angin sore mengibaskan ujung rambutnya. Pandangannya mengikuti arus mobil yang keluar-masuk area lobi, tapi tak satu pun berhenti terlalu lama. Jam di pergelangan tangannya kembali ia lirik.“Tadi katanya udah dekat,” gumamnya pelan, nyaris kalah oleh deru mesin kendaraan. “Kok sepuluh menit belum kelihatan, sih…”Ia meraih ponsel, ibu jarinya sudah siap menyentuh nama Adrian, ketika sebuah mobil familiar berbelok memasuki gerbang gedung perkantoran. Sorot matanya langsung berubah cerah.“Ah, itu dia.”Begitu mobil melambat di depannya, Olivia melangkah cepat, lalu membuka pintu penumpang.“Hai, Mas. Kok lama?” katanya sambil duduk dan menarik sabuk pengaman.Adrian menghela napas pendek, tangannya masih mantap di kemudi. “Tadi ada keributan di halte depan. Aku mau ambil jalur kiri, tapi nggak bisa. Macet total.”“Keributan apa?”“Jambret ketahuan. Dicegat warga,” jawab Adrian singkat, lalu menginjak pedal gas per
Mobil yang dikemudikan Adrian melambat tepat di depan lobi gedung PT. Fast Track Logistic. Olivia melepaskan seatbelt, tubuhnya condong sedikit ke kanan. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut.“Makasih, Pak Suami,” katanya sambil tersenyum. “Hati-hati ya. Kabari aku kalau udah sampai Solaire.”Adrian tertawa kecil, meraih tangan Olivia dan mengecup punggungnya. “Siap, Sayang. Happy working, Nyonya Adrian.”Olivia membuka pintu, turun dengan langkah ringan sambil membawa paperbag berisi oleh-oleh. Ia melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobil itu kembali melaju.Begitu melangkah masuk ke lobi, Rayhan, dengan tas selempang menggantung di bahu, mengangkat tangan tinggi-tinggi.“Hai, Via!” godanya nyaring. “Pengantin baru, gimana bulan madunya?”Olivia tersenyum sambil mempercepat langkah. “Menyenangkan,” jawabnya singkat, lalu menoleh dengan senyum nakal. “Kamu kapan nyusul? Buruan cari perempuan baik-baik, Ray.”Rayhan terkekeh, ikut berjalan di sampingnya melewati pemeriksaan keamana
Olivia terbangun oleh dentuman petir yang memecah langit, begitu dekat hingga kaca jendela bergetar pelan. Matanya langsung terbuka, napasnya tercekat sesaat sebelum ia sadar ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik Adrian. Kehangatan tubuh suaminya membuat jantungnya perlahan tenang. “Ya Tuhan,” bisiknya lirih, suara hujan seperti tumpah dari langit. “Deres banget. Pantes petirnya serem.” Olivia mengangkat tangan Adrian dengan hati-hati, melepaskan diri pelan-pelan agar tak membangunkannya. Ia turun dari tempat tidur, melangkah mendekat ke jendela. Tirai tipis tersibak sedikit, memperlihatkan kilatan cahaya putih yang membelah langit pagi. “Kenapa, Sayang?” suara Adrian terdengar serak dari atas ranjang. Matanya menyipit, mengikuti siluet Olivia. Olivia menoleh, senyum kecil mengembang. Ia kembali mendekat, naik ke ranjang, lalu merebahkan diri kembali di samping Adrian. “Aku cuma mau nutup tirai. Tadi petirnya kelihatan jelas banget. Serem.” “Oh…” Adrian
Adrian menata pakaian mereka satu per satu ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang. Kaosnya dilipat rapi, celana disusun sejajar, lalu gaun Olivia ia ratakan pelan. Bulan madu yang manis terasa seperti baru dimulai, padahal koper sudah kembali terbuka dan siap menelan kenangan. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Aroma sabun bercampur uap hangat menyusup ke kamar. “Udah kamu rapihin pakaian kita, Mas?” suara Olivia muncul lebih dulu, lembut. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya basah dan dibalut handuk kecil. Tetesan air masih jatuh ke lantai saat ia melangkah masuk. “Udah, meringankan tugas istri,” jawab Adrian tanpa menoleh. Olivia tersenyum. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata, duduk di pangkuan Adrian. Berat tubuhnya ringan, tapi kehadirannya langsung memenuhi ruang. “Sweet banget suami aku,” ujarnya sambil menyenderkan kepala sebentar. Adrian tertawa pelan. Tangannya refleks melingkar di p
Adrian melajukan mobilnya perlahan menuju Puncak, menembus jalanan hijau yang berliku. Di kursi depan sedan itu, dua hati yang baru sehari disatukan dalam pernikahan menikmati perjalanan pertama mereka sebagai suami istri. “Mas, habis dari Puncak, ada rencana ke tempat lain?” tanya Olivia. Adrian menoleh sekilas, lalu meraih tangan Olivia dan meletakkannya di depan dadanya. “Sejauh ini belum ada, Sayang. Kamu masih pengen jalan-jalan?” “Pengen sih, tapi aku cuma cuti satu minggu, Mas,” jawab Olivia. Adrian tersenyum hangat. “Lain kali kita atur waktu, ya.” “Iya, Mas. Tempat yang lebih jauh, gimana? Aku mau ke Nusa Penida,” bisik Olivia. “Boleh. Aku juga pengen banget ke sana.” “Asiiik! Nanti aku coba cari tahu trip ke sana.” Mereka terus berbincang ringan sepanjang perjalanan. Udara cerah meski langit Bogor sempat meneteskan gerimis di atas kaca mobil Adrian. Tak lama, mobil yang membawa mereka akhirnya melambat, lalu berhenti mulus di depan sebuah bangunan kecil yang tersemb







