MasukLangit mendung bergelayut rendah sejak pagi. Udara dipenuhi kelembaban, aroma tanah basah, dan duka yang menggantung berat di udara. Tanah pemakaman wanita itu sunyi meski dipenuhi puluhan pelayat. Semuanya menunduk, seolah tak berani mengganggu kesedihan yang pekat di udara.
Di barisan depan, Olivia berdiri tegak, tanpa payung, membiarkan gerimis jatuh membasahi rambut dan wajahnya yang pucat. Kain hitam membungkus tubuhnya, sementara matanya menatap kosong ke arah liang lahat yang siap digunakan. Dari kejauhan, Adrian berjalan dengan langkah gontai. Koko putih dan celana hitamnya tampak kontras dengan sorot matanya yang hampa, seolah beban dunia menekannya. Tangannya gemetar saat ia mengangkat keranda berisi jenazah Sheila, yang dibungkus kain kafan putih bersih. Perlahan ia mendekati lubang liang lahat, bersama para pelayat pria lain. Dengan hati-hati, mereka menurunkan keranda itu. Adrian pun ikut masuk ke liang lahat, mengiringi sang istri sampai ke peristirahatan terakhir dengan langkah pelan namun penuh penghormatan. Jenazah mulai diturunkan. Adrian membaringkan tubuh Sheila miring ke kanan menghadap kiblat, sesuai syariat. Di samping sana, Olivia menatap jenazah ibunya dengan mata penuh kesedihan. Bibirnya bergerak lirih, "Mama ... Mama tega banget ninggalin aku duluan." Air matanya mengalir deras, membasahi pipi tanpa henti. Tiba-tiba, suara lembut seorang wanita paruh baya terdengar, "Via, saya turut berduka." Olivia menoleh, memaksakan senyum tipis. "Makasih, Bu Erika," jawabnya singkat, masih menyeka air mata dengan tisu. "Ibumu orang baik. Walau saya baru kenal sebentar, dia tetap akan jadi menantu saya, meski pernikahan dengan Adrian sangat singkat," kata Erika dengan tulus. Olivia hanya mengangguk pelan, hatinya berat menerima kenyataan ini. Saat Adrian mengumandangkan adzan di dalam sana, Olivia diam saja. Matanya menatap nisan kayu yang tergeletak di samping gundukan tanah. Wajahnya keras, rahangnya mengatup kaku. Setelah liang lahat tertutup tanah dan doa selesai, para pelayat mulai berpamitan satu per satu meninggalkan tempat itu. Hanya Olivia dan Adrian yang masih berdiri terpaku di tepi makam, bunga warna-warni dan beberapa tangkai bunga lily, menyelimuti gundukan tanah basah. Sunyi menyergap. Dingin menusuk kulit. Suasana terasa tegang di antara mereka. "Kenapa Mama bisa sampai turun dari mobil?" suara Olivia pelan, tapi tajam seperti silet. Adrian menoleh perlahan, wajahnya tampak kusut dan pandangan gelisah. "Aku nggak tahu Sheila keluar. Aku ti—" "Apa Om nggak nyuruh Mama tunggu di mobil? Om terlalu sibuk ganti ban sampai nggak sadar Mama turun sendirian. Om suaminya, kan? Tugas Om itu jagain Mama." Olivia langsung memotong dengan suara yang lebih tegas, tatapan menyiratkan sakit hati yang dalam. "Aku..." "Ucapan Om di depan penghulu kemarin pagi terasa main-main!" Rahang Adrian mengeras, ia menggertakkan gigi tapi tetap diam. Matanya mulai memerah, berusaha menahan perasaan yang menumpuk. Olivia melangkah mendekat, wajahnya basah oleh gerimis yang enggan berhenti, ditambah air mata yang mengalir. "Kalau Om nggak ajak Mama nikah hari itu, Mama nggak akan pakai gaun pengantin. Mama nggak akan ada di jalan tol. Mama nggak akan kena truk! Dan aku nggak akan melihat Mama dikubur!" "Via..." Adrian akhirnya buka suara, lirih, "Aku ... aku juga kehilangan. Aku mencintai Mama kamu. Kamu pikir aku nggak terpukul dengan kejadian ini? Ini su—" "Tapi Om penyebab Mama aku pergi!" Olivia membentak kali ini, suaranya pecah. "Om cuma kenal Mama selama satu tahun! Aku hidup bareng Mama selama 24 tahun. Kami cuma punya satu sama lain. Lalu Om datang, terus ... Mama meninggal." Tubuh Adrian membeku, mulutnya terbuka, tapi tak mampu mengeluarkan kata apa pun. Olivia menghembuskan napas panjang, mundur satu langkah dengan dagu terangkat, tatapannya penuh perlawanan. "Mulai sekarang, meskipun Om sudah menikah dengan Mama, Om bukan siapa-siapa buat aku." "Tapi Mama kamu sendiri meminta aku menjaga kamu, Via. Kamu sendirian sekarang." Olivia menyilangkan tangan, nada bicaranya dingin, "Aku sudah besar, Om. Aku nggak perlu dijaga. Lagipula, masih ada Tante Ruby. Dia pasti bersedia menampung aku." "Via, dengarkan dulu. Mama kamu berpesan untuk menjaga kamu sebelum pergi. Hubungan Tante Ruby dan Mama kamu juga nggak baik. Aku akan te—" "Aku nggak peduli!" potong Olivia tajam, matanya menyorot seperti ingin membakar. Adrian terdiam. Sunyi menyelimuti mereka. "Om itu bikin Mama pergi. Ini semua salah Om. Harusnya Om jangan pernah masuk ke dalam hidup kami. Kami lebih bahagia tanpa Om!" seru Olivia memecah keheningan. Adrian hanya bisa menatap tanah basah di bawah kakinya. Kata-kata Olivia menghujam lebih dalam daripada suara tangisan di pemakaman mana pun. Sore hari, hanya mereka berdua yang tersisa. Hujan turun semakin deras, tapi tak ada yang berusaha berteduh. Di depan pusara Sheila, Olivia berbisik, "Ma ... Via pulang dulu. Mama tidur sendirian di sini ya mulai malam ini. Mama harus tau, Via sayang banget sama Mama." Lalu ia melangkah pergi, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Adrian. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Adrian berdiri sendirian, di hadapan istri yang baru dikuburkan, dan anak tirinya yang menolak seluruh keberadaannya. Tapi Adrian akan tetap menjaga Olivia, apapun kondisinya. *** Matahari sore merayap perlahan di balik langit kelabu saat Olivia turun dari mobil online yang membawanya pulang dari pemakaman. Ia berdiri terpaku di depan pagar besi rumah tua bercat putih gading itu. Tempat yang selama lima belas tahun hanya dihuni oleh dirinya dan sang ibu, Sheila. Rumah itu sekarang sudah dijual. Sebelum pernikahan, mereka memang telah sepakat pindah ke rumah Adrian minggu depan. Tapi seolah-olah takdir sedang menertawakan rencana mereka. "Mama, semoga aku kuat tanpa Mama di dunia ini," bisiknya lirih sambil menggenggam gerbang yang mulai berderit, langkahnya berat dan perih. Kunci rumah masih tergantung di tasnya. Ia membuka pintu depan. Sunyi menyambutnya seperti pelukan dingin yang tak diinginkan. "Baru sebentar, Via sudah rindu banget sama Mama. Mama jahat!" suaranya pecah di ambang pintu. Tidak ada suara langkah kaki Sheila. Tidak ada aroma khas parfum vanilla favorit sang Ibu atau hangatnya bau kopi sore yang biasa menyelimuti rumah. Hanya kosong. Ruangan itu sebagian besar sudah dikemasi. Beberapa kardus ditumpuk di sudut ruang tamu. Lukisan bunga di dinding sudah dilepas. Tirai sudah dilipat. Hanya sofa kecil berwarna krem dan meja bundar di tengah ruangan yang masih bertahan di tempatnya, seolah menolak diusir dari rumah yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Olivia menjatuhkan diri ke sofa. Tubuhnya lelah, tapi jiwanya lebih hancur. "Mama ... tolong Ma. Ini semua hanya mimpi, kan? Via lagi mimpi kalau Mama tadi dikubur. Pasti habis ini Mama muncul dari dalam kamar, ganggu Via kalau Via baru pulang. Via bahkan baru lulus kuliah, Ma. Via belum bisa kasih Mama gaji pertama," lirih Olivia, menangis dengan menangkup wajahnya. Ia menatap ke langit-langit putih yang dulu sering mereka pandangi sambil tertawa-tawa membahas hal konyol, mulai dari sinetron sampai mantan gebetan yang tak kunjung serius. Kini, hanya gema sepi yang menjawab lamunannya. Tangannya mengusap pelan permukaan sofa. Ia bisa membayangkan Sheila duduk di situ, menyisir rambutnya, atau sekadar mengobrol sambil merajut sesuatu yang tak pernah selesai. Olivia menoleh ke arah dapur. Di sana masih tergantung catatan kecil dari ibunya. Tulisan tangan, tertempel magnet kulkas berbentuk semangka. Ingat sarapan. Jangan ke kampus tanpa makan. ♥ – Mama. Air matanya tumpah tanpa bisa ditahan. Ia bangkit, berjalan ke kulkas, mencabut kertas itu, lalu memeluknya erat-erat seakan dari situ ia bisa menarik kembali Sheila ke dalam pelukannya. "Aku belum siap tinggal di rumah orang lain, Ma," bisiknya. "Aku bahkan belum siap tinggal tanpa Mama…" Malam pun turun. Lampu tak ia nyalakan. Hanya cahaya lampu jalan menembus tirai yang tak tertutup sempurna. Rumah itu dingin, bukan karena cuaca, tapi karena tak ada jiwa yang menghangatkannya lagi. Di tempat lain, Adrian duduk sendiri di teras rumahnya. Jas hitamnya sudah tergantung, tapi wajahnya tetap tegang. Ia memandangi ponselnya dengan tatapan hampa, tidak ada pesan masuk dari Olivia. Ia tahu gadis itu memilih kembali ke rumah lamanya. Adrian menarik napas panjang. "Aku harus jemput kamu, Via. Aku harus menepati janjiku pada Sheila. Sekeras apapun kamu menolak. Aku harus bisa membujuk gadis itu." Pria tampan itu meraih kunci mobilnya dan menuju garasi. Malam ini, dia harus bisa membawa Olivia bersedia tinggal di rumahnya. Harus! *** Senja telah berlalu. Malam turun pelan di atas rumah tua itu, namun tak sedikit pun lampu menyala dari dalamnya. Adrian berdiri di depan pintu kayu jati bercat putih, menatap rumah yang seharusnya sudah ditinggalkan seminggu lagi. Akan tetapi kini kembali dihuni dalam sunyi oleh seorang anak yang baru saja kehilangan segalanya. Ia mengetuk pelan. Tak ada jawaban. Lalu lebih keras. Masih tidak ada sahutan. "Aku tahu kamu di dalam, Via," katanya dari balik pintu. Suaranya dalam, pelan, tapi bergetar. "Aku datang untuk menjemput kamu. Kamu boleh benci aku… tapi jangan tinggal sendirian di rumah kosong ini." Beberapa detik hening. Lalu terdengar suara kunci diputar dengan malas, pintu terbuka sedikit. Cukup untuk menampakkan separuh wajah Olivia. Wajah sembab, mata merah, rambut awut-awutan, dan tubuh yang tampak kelelahan bukan karena aktivitas, tapi karena menangis sepanjang hari. "Aku nggak mau ikut Om," ucapnya tegas. "Aku nggak mau tinggal bareng orang yang bikin Mama pergi." Adrian menatapnya dalam. Tapi kali ini, tidak ada pembelaan, tidak ada kalimat ‘bukan salahku’. Hanya kejujuran yang keluar dari bibirnya. "Aku nggak minta kamu anggap aku sebagai ayahmu. Aku bahkan nggak berharap kamu maafin aku hari ini, atau besok." Olivia masih menatap tajam, tapi matanya mulai basah lagi. "Tapi Mama kamu bilang, ‘kalau aku kenapa-kenapa, tolong jangan biarkan Via sendirian, Mas.’” Suara Adrian bergetar, bibirnya sedikit gemetar. "Dan sekarang dia nggak ada. Tapi kamu masih di sini. Masih sendiri." Olivia menunduk. "Kamu nggak harus suka sama aku. Tapi tolong jangan hukum diri kamu sendiri dengan tinggal di rumah kosong ini. Kamu boleh benci aku, bisa diam seribu bahasa, bahkan bisa acuhkan aku seumur hidupmu. Tapi jangan tinggal sendirian, Via. Itu permintaan terakhir Mama kamu. Bukan dari aku." Sunyi. Gerimis mulai turun pelan. Adrian melangkah mundur. "Kalau kamu tetap nggak mau, aku nggak akan paksa. Tapi mobilku parkir di depan sampai kamu siap. Meskipun itu besok pagi." Adrian berbalik. Tapi langkahnya tertahan saat suara berat dan parau Olivia akhirnya terdengar. "Kalau aku ikut Om, bukan berarti aku udah bisa terima semua ini." Adrian menoleh perlahan. Wajahnya tak bisa menyembunyikan haru. Olivia membuka pintu lebih lebar, menggenggam tas kecil yang sejak pagi belum sempat dibongkar. Ia berdiri mematung sejenak, lalu berkata dengan suara lirih, "Aku ikut karena Mama." Adrian mengangguk pelan. Ia tidak tersenyum, tidak bicara lagi. Ia hanya meraih tas dari tangan Olivia dan berjalan menuju mobil. Bersambung…Olivia melirik ke samping, memperhatikan jemari Mariska yang mantap menggenggam setir. Jalanan siang itu cukup lengang dan sahabatnya itu tetap fokus menembus deretan ruko dan bangunan tua yang mereka lewati satu per satu.Mereka sedang dalam perjalanan meninjau beberapa lokasi yang dipertimbangkan Mariska untuk usaha kafenya.“Ris,” panggil Olivia akhirnya, memecah keheningan. “Lo yakin mau buka kafe? Lo kan nggak pernah benar-benar terjun di dunia itu. Keluarga lo dari dulu di pendidikan. Kenapa nggak sekalian pegang salah satu yayasan papa lo?”Mariska tidak langsung menjawab. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya, seolah pertanyaan itu sudah sering ia dengar dan sudah lama ia siapkan jawabannya.“Gue nggak pernah ngerasa hidup di dunia pendidikan, Via. Biar Papa sama Mama aja yang sibuk di sana.”Olivia menghela napas pelan. “Tapi lo anak satu-satunya, Ris. Cepat atau lambat, semuanya bakal jatuh ke tangan lo.”Mariska terkekeh kecil, matanya tetap menatap lurus ke depan. “Justru
Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja merayap di permukaan kolam renang. Adrian bersandar di kursi malasnya, menatap Olivia yang duduk tak jauh darinya. Rambut istrinya tergerai bebas, kulitnya disapa lembut cahaya pagi, namun sorot matanya tampak sedikit redup. “Kamu capek, Sayang?” tanya Adrian pelan. “Hmm? Eh? Duh, apa, Mas?” Olivia menoleh, seolah baru tersadar. Pantulan air kolam menari di wajahnya. “Nah, kan,” Adrian menggeser tubuhnya, tak lagi bersandar. “Aku cuma nanya, kok kamu kelihatan bingung.” Olivia tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti usaha daripada ekspresi bahagia. “Iya, Mas… sedikit.” “Lagi pikirin apa, Sayang?” “Pekerjaan di kantor lagi ramai banget. Untung ada Ayu sama Rayhan. Kalau nggak, mungkin aku sudah tumbang.” Adrian berpindah ke kursi malas Olivia. Ruang sempit itu justru membuat mereka terasa semakin dekat. Tanpa sadar, Olivia menyandarkan kepalanya di lengan Adrian, menikmati detak jantung suaminya yang stabil.
Olivia berdiri di depan lobi kantor PT. Fast Track, membiarkan hembusan angin sore mengibaskan ujung rambutnya. Pandangannya mengikuti arus mobil yang keluar-masuk area lobi, tapi tak satu pun berhenti terlalu lama. Jam di pergelangan tangannya kembali ia lirik.“Tadi katanya udah dekat,” gumamnya pelan, nyaris kalah oleh deru mesin kendaraan. “Kok sepuluh menit belum kelihatan, sih…”Ia meraih ponsel, ibu jarinya sudah siap menyentuh nama Adrian, ketika sebuah mobil familiar berbelok memasuki gerbang gedung perkantoran. Sorot matanya langsung berubah cerah.“Ah, itu dia.”Begitu mobil melambat di depannya, Olivia melangkah cepat, lalu membuka pintu penumpang.“Hai, Mas. Kok lama?” katanya sambil duduk dan menarik sabuk pengaman.Adrian menghela napas pendek, tangannya masih mantap di kemudi. “Tadi ada keributan di halte depan. Aku mau ambil jalur kiri, tapi nggak bisa. Macet total.”“Keributan apa?”“Jambret ketahuan. Dicegat warga,” jawab Adrian singkat, lalu menginjak pedal gas per
Mobil yang dikemudikan Adrian melambat tepat di depan lobi gedung PT. Fast Track Logistic. Olivia melepaskan seatbelt, tubuhnya condong sedikit ke kanan. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut.“Makasih, Pak Suami,” katanya sambil tersenyum. “Hati-hati ya. Kabari aku kalau udah sampai Solaire.”Adrian tertawa kecil, meraih tangan Olivia dan mengecup punggungnya. “Siap, Sayang. Happy working, Nyonya Adrian.”Olivia membuka pintu, turun dengan langkah ringan sambil membawa paperbag berisi oleh-oleh. Ia melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobil itu kembali melaju.Begitu melangkah masuk ke lobi, Rayhan, dengan tas selempang menggantung di bahu, mengangkat tangan tinggi-tinggi.“Hai, Via!” godanya nyaring. “Pengantin baru, gimana bulan madunya?”Olivia tersenyum sambil mempercepat langkah. “Menyenangkan,” jawabnya singkat, lalu menoleh dengan senyum nakal. “Kamu kapan nyusul? Buruan cari perempuan baik-baik, Ray.”Rayhan terkekeh, ikut berjalan di sampingnya melewati pemeriksaan keamana
Olivia terbangun oleh dentuman petir yang memecah langit, begitu dekat hingga kaca jendela bergetar pelan. Matanya langsung terbuka, napasnya tercekat sesaat sebelum ia sadar ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik Adrian. Kehangatan tubuh suaminya membuat jantungnya perlahan tenang. “Ya Tuhan,” bisiknya lirih, suara hujan seperti tumpah dari langit. “Deres banget. Pantes petirnya serem.” Olivia mengangkat tangan Adrian dengan hati-hati, melepaskan diri pelan-pelan agar tak membangunkannya. Ia turun dari tempat tidur, melangkah mendekat ke jendela. Tirai tipis tersibak sedikit, memperlihatkan kilatan cahaya putih yang membelah langit pagi. “Kenapa, Sayang?” suara Adrian terdengar serak dari atas ranjang. Matanya menyipit, mengikuti siluet Olivia. Olivia menoleh, senyum kecil mengembang. Ia kembali mendekat, naik ke ranjang, lalu merebahkan diri kembali di samping Adrian. “Aku cuma mau nutup tirai. Tadi petirnya kelihatan jelas banget. Serem.” “Oh…” Adrian
Adrian menata pakaian mereka satu per satu ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang. Kaosnya dilipat rapi, celana disusun sejajar, lalu gaun Olivia ia ratakan pelan. Bulan madu yang manis terasa seperti baru dimulai, padahal koper sudah kembali terbuka dan siap menelan kenangan. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Aroma sabun bercampur uap hangat menyusup ke kamar. “Udah kamu rapihin pakaian kita, Mas?” suara Olivia muncul lebih dulu, lembut. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya basah dan dibalut handuk kecil. Tetesan air masih jatuh ke lantai saat ia melangkah masuk. “Udah, meringankan tugas istri,” jawab Adrian tanpa menoleh. Olivia tersenyum. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata, duduk di pangkuan Adrian. Berat tubuhnya ringan, tapi kehadirannya langsung memenuhi ruang. “Sweet banget suami aku,” ujarnya sambil menyenderkan kepala sebentar. Adrian tertawa pelan. Tangannya refleks melingkar di p







