ログインHari ketiga di rumah Adrian masih sama sunyinya seperti dua hari sebelumnya. Dingin menusuk dan rasa canggung yang tak hilang dari udara.
Olivia tetap memilih mengurung diri di kamarnya, jarang sekali turun sekalipun untuk makan. Adrian berusaha berpura-pura biasa saja, menyembunyikan ketegangan seolah itu bisa membuat suasana menjadi normal. Tapi sejak Sheila pergi, semua terasa hampa dan tak pernah benar-benar seperti sedia kala. Pagi itu, Olivia duduk membungkus tubuhnya dengan selimut di sudut tempat tidur. Jari-jarinya menggenggam ponsel yang menampilkan tujuh panggilan tidak dijawab pada Ruby. Dengan enggan, ia membuka room chat, melihat deretan pesan yang belum juga dibaca oleh sang Tante. "Nomornya aktif, tapi kenapa semua pesanku nggak terbaca?" gumamnya, suara pelan penuh kesal. Tarikan napas panjang mengisi dadanya. Matanya masih sembab, meski tak ada lagi air mata yang tersisa. Hatinya seperti ditinggalkan oleh siapa pun yang seharusnya datang tapi malah pergi menjauh. Ponsel Olivia tiba-tiba bergetar lembut di genggamannya. Matanya langsung terbuka lebar saat nama Mariska, sahabatnya, terpampang jelas di layar. Tanpa ragu, dia mengangkat dengan tangan yang sedikit bergetar. "Halo…?" suara Olivia terdengar parau, nyaris tak dikenali. "VIA?! Ya Tuhan, akhirnya aku bisa hubungi kamu!" suara di seberang penuh keterkejutan dan rasa bersalah. Olivia diam saja, bibirnya mengatup rapat sementara dadanya bergemuruh tak karuan. "Aku bener-bener minta maaf. Aku baru tahu kabar Mama kamu semalam. Aku baru balik ke Jakarta kemarin sore dari Jember. HP-ku rusak total sampai di sana, Via. Dan baru bisa diperbaiki kemarin sore. Pas nyala, langsung kebanjiran notif dan kabar duka, dan aku..." Olivia menutup matanya rapat-rapat, menghisap napas dalam. Suara Mariska yang terputus-putus itu terasa seperti kepedulian paling tulus yang dia dengar selama berhari-hari ini. "Via, aku beneran ikut berduka, ya. Aku nyesel banget nggak bisa ada di sana dari awal. Habis dari acara pernikahan Mama kamu, aku langsung pergi ke Jember dan aku nggak sempat buka HP." "Ya, Mariska. It's okay." "Kamu, baik-baik saja?" "Aku nggak apa-apa, Mariska," bisiknya pelan, suaranya masih serak. "Yang penting kamu ada sekarang." Mariska terdengar menarik napas. "Kamu sekarang tinggal di mana? Di rumah kamu yang dulu?" Olivia menarik napas panjang, suaranya pelan ketika menjawab, "Rumah itu udah dijual. Sekarang aku tinggal di rumah Om Adrian, suaminya Mama." Mariska mengernyit, suaranya pelan tapi penuh perhatian. "O-oh … Gimana? Kamu nggak apa-apa tinggal di sana?" Olivia tertawa kecil, tapi nadanya serak, seperti menahan sesuatu yang sakit. "Rasanya seperti numpang di rumah orang asing. Makan, tidur, tapi nggak benar-benar tinggal." Di ujung sana, Mariska terdiam sesaat, kemudian suaranya lembut tapi tulus. "Kalau kamu butuh tempat buat narik napas, rumah aku masih kosong. Kamar di sebelah selalu ada. Atau kalau cuma pengen nginep semalam sambil ngobrol, kabarin aku, ya. Aku bisa jemput kalau kamu nggak mau jalan sendiri." Olivia menunduk, bibirnya gemetar, air mata mulai menetes pelan. Suara Mariska—sahabat yang sudah ia kenal sejak awal kuliah—bukan suara belas kasihan, tapi suara pengertian yang selama ini ia rindu. "Mariska, makasih ya. Akhirnya ada yang beneran mengerti aku." "Aku selalu ada, Via. Ya, walau sinyal dan HP kemarin bikin aku menghilang sebentar." Keduanya tertawa kecil. Ringkih. Tapi penuh rasa saling menguatkan. "Oh ya, bukannya kamu bilang ada adiknya Mama yang masih hidup. Kenapa nggak tinggal sama dia?" “Aku udah coba hubungin Tante Ruby, tapi nggak pernah diangkat. Mereka itu nggak pernah akur dan punya masalah yang aku sendiri nggak paham, Ris. Tante Ruby sepertinya tetap membenci Mama. Bahkan setelah Mama meninggal." "Sabar, ya." "Iya, Ris. Semoga saja aku segera punya pekerjaan. Setelah aku bisa mandiri, aku pergi dari sini." "Semoga, Via. Ya sudah, ada yang mau aku kerjakan. Kabari aku kalau kamu butuh sesuatu." "Siap, Ris. Makasih ya." "Sama-sama, Via. Aku yakin kamu kuat!" Olivia tersenyum sambil menutup sambungan telpon. Setelah panggilan itu berakhir, untuk pertama kalinya sejak pemakaman, ia merasa sedikit lebih hidup, hanya karena satu telepon dari seseorang yang benar-benar peduli. *** Sinar matahari menyelinap pelan dari celah tirai ruang makan, menerangi meja panjang mewah dengan piring setengah berisi nasi goreng dingin dan telur ceplok yang belum benar-benar disentuh Olivia. Setelah menerima telepon dari Mariska, dia memutuskan untuk sarapan, tapi duduknya di kursi empuk tampak lebih seperti rutinitas daripada semangat. Sesaat kemudian, Adrian melangkah masuk, menenteng amplop kecil dengan gerakan hati-hati. Dia meletakkan amplop itu di ujung meja, dekat piring Olivia. "Untuk kamu, Via." "Apa ini, Om?" suara Olivia tenang, tanpa sekalipun menoleh. "Kartu ATM," jawab Adrian, suaranya rendah dan mantap. "Aku buatkan rekening atas namamu. Untuk kebutuhan kamu. Mama kamu bilang kamu masih cari kerja, jadi—" "Aku masih punya tabungan yang cukup!" Olivia langsung menyela dengan nada yang tajam, "Aku bukan anak umur lima belas tahun yang perlu dikasih uang jajan." Wajahnya tetap datar, tapi dalam dadanya ada getar kecil dari rasa enggan untuk terlihat lemah. Adrian menundukkan kepala sejenak, sunyi memenuhi ruang itu. Matanya tidak menyiratkan kemarahan atau kecewa, hanya kekhawatiran yang tersimpan rapat. "Aku tahu kamu mandiri, Via," katanya pelan sambil melirik ke arah Olivia yang masih menatap kosong ke luar jendela. "Ini bukan soal kamu nggak punya uang. Ini soal kamu sekarang tinggal di sini. Aku cuma nggak mau kamu ngerasa terasing, atau ngerasa beban." Olivia mendengus. "Justru karena aku tinggal di sini, aku nggak mau diatur dan disuapi." Adrian menarik napas, mencoba bersikap setenang mungkin. "Kartu itu nggak akan mengubah kamu jadi orang yang tergantung. Tapi kamu juga nggak harus menolak semuanya cuma supaya kelihatan kuat." Olivia menatapnya dingin. "Apa aku kelihatan lemah di mata Om?" "Bukan. Tapi kamu kelihatan terluka dan kamu kira semuanya pengen manfaatin luka itu. Tapi kamu salah, Via. Justru aku peduli. Sangat peduli." Jawaban itu membuat Olivia diam sejenak. Tiba-tiba gadis cantik itu berdiri, mendorong kursinya mundur. "Oke, makasih atas kepedulian itu, Om. Tapi aku masih bisa beli sabun dan sampo pakai uang sendiri." Olivia meninggalkan meja makan begitu saja, meninggalkan kartu ATM yang masih tergeletak di sana. Adrian hanya bisa menghela napas berat sambil memandangi punggung Olivia yang menghilang dibalik tembok. Olivia berjalan cepat menaiki tangga. Hilang sudah rasa laparnya. Seharusnya dia memang tidak turun untuk sarapan pagi ini. Ternyata suasana hatinya masih kacau. Di kamar, Olivia duduk di tepi tempat tidur. Nafasnya berat. Ia benci diperlakukan seolah butuh diselamatkan. Tapi lebih dari itu, ia benci betapa Adrian terlihat tenang saat dirinya terus merasa kacau. Ponselnya di atas nakas bergetar. Ada pesan masuk. Dia segera mengambilnya. Ternyata dari sahabatnya. Mariska : Via, aku cuma ingin kamu tau kalau kamu itu kuat banget untuk hadapi semua ini. Tapi nggak apa-apa kok kalau suatu hari kamu capek. Aku tetap di sini. Kita bisa ngobrol banyak dan ketawa lagi seperti biasa. Olivia membaca pesan itu, lalu meletakkan ponsel di dada. Ia belum membalas. Tapi senyum kecil menyelinap, meski samar. Sementara itu di dapur, Bik Surti yang diam-diam melihat adegan tadi menggeleng pelan sambil bergumam, "Udah dikasih baik-baik masih aja nyolot, dasar anak zaman sekarang. Nggak tau diuntung banget. Pak Adrian kenapa baik banget sih sama dia? Gemes aku tuh!" Di sisi lain, Adrian hanya tersenyum tipis setelah menerima sikap dingin dari Olivia. Pria tampan itu mengambil kartu ATM tadi dan memasukkannya ke laci lemari kecil. "Nggak apa-apa kalau sekarang belum mau menerima. Mungkin nanti dia berubah pikiran." Bersambung…“Siapa, Mas?” suara Olivia bergetar pelan saat ia merapat ke sisi Adrian. Jemarinya refleks menggenggam lengan suaminya ketika melihat perubahan raut wajah Adrian sejak laki-laki bernama Stevan itu datang. “Kamu kenal dia?”Tatapan Adrian belum lepas dari pria muda yang kini berdiri di dekat Ruby. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya menegang samar, menandakan sesuatu yang tak nyaman.“Stevan Utomo,” Adrian menjawab lirih, suaranya nyaris berbisik. “Itu nama aslinya.”Alis Olivia mengernyit, ada tanda tanya besar di matanya. “Maksud kamu?”Adrian menunduk sedikit, suaranya makin pelan. “Dia sepupu jauh Gista. Dulu Gista pernah cerita… Stevan sempat kena kasus berat, bahkan dipenjara.”Mata Olivia melebar, suaranya tercekat, “Hah?! Serius, Mas? Gila…”Adrian tetap fokus pada Stevan yang sekarang mengusap lembut pundak Ruby. “Sebenarnya aku belum pernah ketemu langsung dengan dia, tapi Gista pernah tunjukin fotonya. Aku yakin ini orang yang sama. Aku nggak akan lupa wajahnya. Dia punya
“Tante butuh bantuan kamu, Via... rumah tante hangus, kebakaran…”Suara di seberang telepon pecah oleh isak panik, napas tersengal-sengal, dan riuh orang yang saling berteriak di belakangnya.Olivia mendadak tegak di kursi penumpang, matanya membesar.“Apa!?” Suaranya tercekat, hampir terputus. “Kebakaran? Tante sekarang di mana?”Dari balik kemudi, Adrian melirik istrinya dengan wajah tegang. Jemarinya yang tadi santai kini mencengkeram setir lebih erat.“Tante di depan rumah...” suara Ruby bergetar, berusaha menahan tangis. “Api masih besar, Via... maaf ya, Tante nggak punya siapa-siapa lagi, makanya cuma kamu yang Tante hubungi...”Olivia menarik napas dalam, menutup mata sejenak. Jantungnya berdegup semakin kencang, tapi dia berusaha keras meredakan paniknya.“Tante, coba tenang dulu, ya? Aku sama Mas Adrian langsung ke sana sekarang.”Isak Ruby semakin pecah. “Makasih, Via... Tante tunggu...”Panggilan pun terputus.Beberapa saat mobil hanya dipenuhi suara napas Olivia yang belum
Gyan terdiam beberapa saat. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam punggung tangan Mariska, perlahan mengendur, matanya jatuh lurus ke wajah Mariska yang duduk di depannya.“Hubungan kita spesial, Ris,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tertelan denting sendok dan riuh rendah pengunjung di sekitar. “Tapi… kamu yakin mau sama laki-laki kayak aku?”Mariska mengernyit kecil. “Maksudnya?”Gyan menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan sambil menyunggingkan senyum tipis yang terasa pahit. “Aku hidup biasa aja, nggak punya apa-apa buat dibanggain. Aku takut suatu saat kamu sadar kalau kamu salah pilih.”“Kita udah sedekat ini tapi kamu masih nanya begitu?” Nada kesal Mariska muncul tanpa bisa disembunyikan.“Bukan karena aku ragu sama perasaan kamu,” sahut Gyan cepat, matanya penuh gelisah. “Aku cuma takut kamu nantinya kecewa. Aku nggak bisa janjiin hidup mewah—”“Kamu cinta sama aku?” suara Mariska tiba-tiba menyela, lembut tapi penuh harap.Gyan terdiam, pandangannya melembut, jemariny
Aroma kopi dan cokelat memenuhi udara di salah satu kafe bergaya industrial itu ketika Olivia mendorong paper bag ke arah Mariska.Mariska yang sejak tadi menikmati cappuccino-nya mengangkat alis. “Apa itu?”“Oleh-oleh,” jawab Olivia ringan, dagunya sedikit terangkat. “Dari pantai kemarin.”Gerakan tangan Mariska terhenti sesaat di udara. Ia menyipitkan mata, lalu senyum tipis mulai mengembang. “Ooh… yang liburan sama Mas Adrian itu?” Ia menyesap lagi kopinya, sengaja pelan, memberi jeda untuk menggoda. “Pantesan dari tadi mukanya bersinar banget.”Olivia terkekeh, “Ya iyalah. Mas Adrian balik romantis lagi.” Ia menyandarkan punggung, matanya berbinar seperti menyimpan potongan-potongan kenangan yang belum habis diputar ulang. “Empat hari di sana tuh… kayak cuma lewat sebentar. Lo nanti juga bakal ngerti, kalau udah nikah.“Ah… menikah…” gumam Mariska. Tatapannya justru melayang ke luar jendela, mengikuti garis hujan yang mulai membentuk jalur-jalur tipis di kaca.Olivia mengernyit, b
"Tentu saja aku akan puaskan kamu, Sayang..." bisik Adrian sambil tersenyum lebar setelah mendengar permintaan istrinya barusan.Pria itu melumat bibir Olivia lagi. Kali ini lebih dalam dan lebih liar. Ciuman mereka masih menyatu saat dia menggiring tubuh Olivia pelan menuju tempat tidur. Suara debur ombak di luar berpadu dengan hembusan napas dan cecapan bibir mereka yang terus bertaut.Adrian memperdalam ciumannya, jari-jarinya meremas lembut tengkuk Olivia."Eumh... mas. Pelan aja, nikmati momennya," bisik Olivia antara lumatan bibirnya.Adrian tersenyum tipis, perlahan melepas handuk yang membelit tubuh istrinya. Kini, Olivia polos tanpa sehelai benangpun.Dia menekan pundak Olivia dengan lembut, memintanya duduk di tepian kasur. Dengan gerakan tenang, Adrian mengangkat kausnya dan melepaskannya."Mas, lampunya. Matikan," bisik Olivia.Adrian mengangguk pelan, berjalan ke saklar dan memadamkan lampu.Cahaya rembulan menerobos jendela, melukis siluet tubuh mereka dengan lembut. Kem
"Jadi, Bima sudah ketangkap, Mas?" suara Olivia yang beradu dengan angin yang menyusup lewat celah jendela mobil membuat Adrian sempat melirik sekilas, lalu mengangguk. Senyum tipis terbit di wajahnya."Udah, Sayang.""Syukurlah..." kata Olivia sambil menghembuskan napas panjang, matanya menatap jalanan yang meliuk di depan mereka, diapit pepohonan dan bayang-bayang sore yang mulai jatuh."Iya," lanjut Adrian dengan suara lebih ringan. "Teman kontrakannya jujur waktu diperiksa polisi. Dari situ langsung dilacak. Dari CCTV di terminal juga keliatan waktu mau naik bus. Pas ditangkap, dia sempat coba kabur, tapi polisi di sana sigap."Tangannya mencari tangan Olivia, menggenggamnya hangat di atas konsol tengah. Jemari mereka saling mengunci, seolah memastikan semuanya benar-benar sudah berlalu."Semoga setelah ini nggak ada masalah lagi di Solaire, Mas," gumam Olivia, matanya mengikuti garis jalan yang tak ia kenal."Amiin," jawab Adrian, lalu mengecup punggung tangan itu pelan, lama.Ol
Pagi itu, Mariska melangkah cepat melewati teras rumah Olivia. Ia mendorong pintu rumah itu dengan terburu-buru. “Via!” Olivia yang berdiri di lorong pemisah ruang tamu dan ruang keluarga menoleh. Belum sempat berkata apa-apa, tubuhnya sudah diterjang pelukan hangat. “Selamat! Bumil!” Mariska be
Adrian melirik ke arah dapur. Pintu akses sudah tertutup rapat. Para pegawai bergerak cepat dengan langkah terkoordinasi, suara instruksi saling bersahutan pendek, menandakan SOP berjalan sesuai prosedur.Di bagian depan, Renata sudah lebih dulu sigap. Ia mencondongkan tubuh ke meja terdekat dari l
“Hamil?” suara Adrian terdengar pelan, setelah beberapa saat keheningan menggantung di antara mereka. Olivia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, sementara perutnya kembali bergejolak halus dan itu sebenarnya bukan sakit, lebih seperti peringatan yang samar tapi mengganggu. “Apa iya, Mas?
Olivia melirik ke samping, memperhatikan jemari Mariska yang mantap menggenggam setir. Jalanan siang itu cukup lengang dan sahabatnya itu tetap fokus menembus deretan ruko dan bangunan tua yang mereka lewati satu per satu.Mereka sedang dalam perjalanan meninjau beberapa lokasi yang dipertimbangkan







