MasukPasca dua hari berjuang melawan alergi seafood yang memaksanya berbaring di ranjang dengan tumpukan obat di meja, tubuh Olivia akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda pulih. Nafasnya sudah lega, mual yang mendera hilang, hanya sisa-sisa lelah yang masih menggelayut pelan di setiap uratnya.
Pagi itu, tangannya menggenggam cangkir teh chamomile, hangatnya menyusup di sela jemari. Kimono tidur tipis masih menyelubungi tubuhnya, belum sempat ia lepas karena niat mandi masih menunggu setelah ini. Rambutnya yang diikat sembarangan menjatuhkan beberapa helai ke pelupuk mata, menambah kesan lembut pada wajahnya yang masih lelah. Dengan langkah ringan yang hampir tak bersuara di lantai kayu, ia menyusuri ruang tengah menuju halaman belakang yang menghadap kolam renang. Tempat itu selama ini hanya menjadi jalur singkat tanpa ia perhatikan. Hari ini berbeda. Ia ingin menghirup udara pagi dan merasakan hangatnya matahari yang baru terbit. Gadis cantik itu baru melangkah beberapa dari pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah ke halaman, tapi ia langsung terhenti. "Sial! Mataku ternoda!" gerutunya sambil memicingkan mata. Napasnya serasa tercekat, pandangannya terpaku ke tengah kolam. Adrian sedang berenang, tubuhnya bergerak dengan ritme yang sempurna, tenang, kuat, dan penuh kendali. Cahaya pagi memantul dari permukaan air, menari di kulit terangnya yang basah. Rambutnya menempel rapi di kepala, setiap gerakan tangan memperlihatkan lekuk otot bisep dan pundak yang tegas, seolah dipahat dari batu. Olivia menggenggam erat cangkirnya sampai nyaris oleng, tapi ia berhasil menahan. Tiba-tiba dia merasa lelaki itu bukan sekadar pemilik restoran yang dewasa dan sabar. "Bodoh! Kenapa harus ada Om Adri di situ. Sepagi ini," gumamnya pelan, suara sedikit bergetar. Meski begitu, ia tak beranjak, malah tampak menikmati pemandangan itu dengan mata yang tak lepas menatap. Dalam basah dan gerakan lambat itu, ia menjadi laki-laki utuh yang tak bisa tidak memikat mata. Perutnya terlihat kokoh dengan otot-otot yang tidak dibuat-buat, mengingatkan Olivia pada adegan-adegan film yang sering ia anggap berlebihan. Tapi ini nyata. Terlalu nyata. Ia mematung di dekat pintu. Bahkan ketika Adrian menyelesaikan satu putaran renang dan naik ke tepi kolam, Olivia tidak segera berpaling. Napasnya sempat tercekat saat melihat air menetes dari rambut dan menyusuri garis rahang serta dada Adrian, turun perlahan ke perutnya yang basah dan rata. Ketika Adrian mengambil handuk dan mengusap wajahnya, pandangan itu baru teralihkan. Tatapannya bertemu dengan Olivia. "Hai, pagi, Via," sapanya ringan dengan senyum kecil. Olivia tersentak, suara tercekat naik satu oktaf dari biasanya. "Eh... I-ya. Pagi, Om." Ia buru-buru memalingkan wajah, menyibukkan diri menatap dedaunan tanaman hias, seolah meneliti tiap helai daun seakan itu hal terpenting di dunia saat ini. "Kamu lagi cari matahari pagi, ya?" Adrian bertanya sambil mengusap rambutnya dengan handuk, tetesan air masih tersisa di ujung helai. "I-iya, Om," jawab Olivia menoleh sekilas, sengaja mengalihkan pandangan dari otot bisep kekar Adrian yang bergerak mengikuti sapuan handuk itu. "Kamu sudah jauh lebih baik?" Adrian menatapnya penuh perhatian. Olivia mengangguk pelan. "Jauh lebih baik, Om." Wajah Adrian mengembang lega. "Syukurlah." "Berkat istirahat dan minum obat, Om." "Iya, untungnya pemulihan kamu tergolong cepat, Via. Kamu benar-benar kuat." "Iya, Om. Oh ya, apa Om memang biasa berenang sepagi ini?" tanya Olivia, berusaha terdengar santai. "Iya, sudah lama aku nggak berenang. Kamu harus coba sesekali, Via. Biar badanmu juga segar," jawab Adrian, senyumnya makin memikat saat wajahnya terkena cahaya pantulan kolam renang. "Iya, Om. Lain kali, ya." Adrian mengangguk dan meletakkan handuknya. "Ya sudah. Aku mau mandi dulu. Kita ketemu di meja makan, ya." "Baik, Om. Sampai nanti." Adrian tidak berkata banyak lagi, hanya menatapnya sesaat—mata tajamnya seperti menangkap sesuatu yang belum sempat dikatakan. Lalu ia mengangguk singkat dan berjalan masuk lewat pintu sisi lain, membiarkan Olivia berdiri sendirian dengan teh yang mulai mendingin di tangan. Setelah Adrian menghilang, Olivia menutup mata sebentar dan mengembuskan napas panjang. "Astaga... itu tadi, kenapa jadi deg-degan? Kacau kamu, Via!" Gadis cantik itu menatap kolam yang kini tenang. Tapi pikirannya tidak. Olivia menggelengkan kepalanya dan buru-buru berjalan menuju taman belakang. Sampai di sana, ia duduk di kursi besi yang tampak mengundang. Beberapa detik kemudian pikirannya kembali berisik oleh pemandangan yang seharusnya tidak mengusiknya. *** Meja makan panjang di sudut ruang itu tertata rapi dengan taplak tenun klasik yang memancarkan aura tradisional. Di atasnya tersaji sarapan sederhana: nasi pecel dengan sayuran rebus yang menggoda selera, sambal kacang kental yang masih mengkilap, dan tempe goreng hangat yang aromanya menggugah. Sebuah teko kecil berisi teh melati mengepul, wangi harumnya merayap pelan memenuhi ruangan, menenangkan udara pagi. Selepas aktivitas berjemur dan selesai membersihkan diri, Olivia duduk tegak di kursinya sambil menahan detak jantung yang masih sedikit tidak stabil sejak kejadian di kolam renang tadi. Adrian duduk di seberangnya. Kaos hitam lengan pendek dan celana santai membuatnya tampak kasual, tapi justru itu yang membuat Olivia semakin susah berkonsentrasi. Matanya berusaha fokus pada piring, bukan pada otot lengan Adrian yang masih tampak kencang saat lelaki itu menyendok nasi. "Kamu bengong aja, Via?" suara Adrian menyadarkannya, nada suara ringan tapi mengusik. Olivia tersentak, lalu menjawab terbata, "Ah, iya, Om." "Apa yang kamu pikirkan?" "Eum... anu." "Anu apa, Via?" "Non, ini sambalnya nggak terlalu pedas," tiba-tiba Bik Surti muncul di depannya dan menyelamatkan situasi. Perempuan berdaster merah itu meletakkan kerupuk putih ke atas meja. Tatapannya ke arah Olivia sekilas, lalu langsung menunduk. "Maaf ya soal waktu itu. Saya benar-benar nggak tahu Non Via alergi udang." Olivia tersenyum sopan, berusaha menetralisir suasana. "Nggak apa-apa, Bik. Saya juga kurang hati-hati dan nggak jujur sama kalian. Terima kasih ya, udah bantu rawat saya juga." Bik Surti mengangguk cepat dan langsung kembali ke dapur, tampak lega tapi masih segan untuk duduk terlalu lama di dekat mereka. Adrian menyuap sepotong tempe goreng, lalu memandang Olivia sebentar. "Kamu udah benar-benar enakan sekarang?" Olivia mengangguk, menghindari kontak mata. "Udah jauh lebih baik, kok. Kayaknya tinggal ngumpulin semangat aja." Adrian menyenderkan tubuhnya sedikit ke sandaran kursi. "Minggu depan mulai kerja ya? Di kantor Bastian." "Iya, Om. Karena insiden alergi kemarin, aku jadi minta dispensasi masuk di minggu depan. Untungnya Mas Bastian setuju. Padahal, dia tau kehadiran aku sangat dibutuhkan saat ini." Olivia memotong sepotong kecil tahu bacem, mencoba terdengar tenang. "Oh ya? Dia nggak keberatan?" "Enggak, Om." "Tapi tadi kamu bilang kehadiran kamu sangat dibutuhkan saat ini?" "Iya, Om. Sebenarnya dia berharap aku bisa masuk besok, sesuai kesepakatan awal. Tapi kata Mas Bastian, kesehatan nomor satu." Adrian manggut-manggut sambil menyiram saus kacang di atas sayuran yang sudah dia tata di piringnya. "Fast Track itu perusahaan baru, ya?" "Betul, Om." "Pantas aja kamu sangat dibutuhkan. Mereka masih kurang main power," balas Adrian, mengaduk saus kacang dengan sayuran. "Iya, itu salah satunya. Mariska udah ngabarin juga, katanya divisinya belum lengkap jadi mungkin di awal pekerjaanku lebih serabutan. SOP pun belum semua tercatat." "Kamu yakin bisa bertahan?" tanya Adrian, mengunyah sayuran. "Bisa, Om. Aku fresh graduate dan harus cari pengalaman sebaik mungkin. Untuk dapat ke puncak, kita harus mulai dari bawah, bukan?" Adrian tersenyum bangga. "Good. Kamu bakal cocok di sana. Bastian kelihatannya baik, serius kerja, dan aku yakin dia bisa jadi bos yang fair." Olivia hanya mengangguk. Ia mengunyah perlahan, tapi pikiran masih jauh. Sisa-sisa visual Adrian yang basah dan kekar tadi di kolam berenang masih menari-nari di kepalanya. Dan itu sangat mengganggu. Tanpa sadar, Olivia meletakkan sendok terlalu keras ke piring. Tok! Adrian mengangkat alis. "Kamu baik-baik aja, Via?" Olivia menunduk. "Maaf... kupikir. Eh, enggak. Nggak sengaja." Adrian melepaskan tawa kecil, matanya menatap penuh selidik. "Kamu aneh banget pagi ini, Via. Ada yang mengganggu pikiranmu? Cerita dong, siapa tahu aku bisa bantu." Olivia tersenyum kikuk. "Enggak ada, Om. Mungkin grogi karena tadi kita bicara masalah pekerjaan pertama aku." Adrian menyender santai, ekspresinya penuh godaan tapi tetap menjaga batas. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tapi senyum geli di wajahnya tidak hilang hingga sarapan usai. Entahlah, bagi Adrian, Olivia pagi ini terasa berbeda. Dan dia senang melihat gadis itu lebih lepas. Suasana rumah pun terasa sedikit lebih hidup berkat itu. *** Selepas sarapan yang cukup mendebarkan tadi, Olivia berdiri di depan lemari kecil di kamarnya, jarinya ragu menyentuh gagang pintu. Saat membuka, deretan pakaian formal menggantung seadanya langsung menyapa matanya. Koleksi kemeja lama dari masa kuliah, celana bahan longgar, dan blazer merah yang warnanya sudah tidak cerah lagi. Tangannya menarik satu kemeja biru muda yang masih terlihat paling rapi. Perlahan, matanya menjelajah ke kancing yang satu sudah terlepas, belum sempat dijahit kembali. Napasnya terhela panjang. "Sepertinya, aku terlalu sibuk dengan kaus dan celana jeans. Harus cari baju formal baru," gumamnya lirih, walau di dalam hati masih berusaha menolak ketergantungan pada orang lain. Saat ia berbalik menuju tempat tidur untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Mariska, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Tok. Tok. "Via?" suara Adrian terdengar dari luar. Suaranya tak keras, tapi cukup tegas. "Kamu lagi sibuk?" "Enggak, Om!" "Boleh buka pintunya?" "Sebentar, Om!" Olivia berlari kecil menuju pintu. Perlahan ia membuka sedikit celah, matanya menyapu sosok Adrian berdiri santai dengan kemeja flanel yang lengannya dia biarkan tergulung setengah, tangan kanannya menggenggam kunci mobil. Wajah pria itu menunjukkan keraguan sesaat sebelum akhirnya bicara, "Aku tahu ini tiba-tiba. Tapi sebelum aku ke restoran, aku ingin ajak kamu ke butik langganan. Nggak harus beli apa-apa, cuma lihat-lihat aja. Siapa tahu ada yang kamu butuhkan buat kerja nanti." Olivia membalas tatapan itu dengan mata yang datar, suaranya keluar tanpa semangat, "Aku masih punya beberapa baju. Lagipula, aku bisa beli sendiri nanti setelah gajian." Adrian mengangguk pelan, tapi matanya tetap tak lepas dari wajah Olivia. "Aku tahu. Aku cuma ingin kamu merasa nyaman saat mulai kerja. Dan jujur aja, kamu pantas kelihatan rapi, bukan sekadar cukup. Kalau Sheila masih ada, aku yakin Mama kamu juga akan minta hal yang sama." Olivia terdiam. Ucapan Adrian menyentuh bagian terdalam yang masih rapuh. Ia menunduk, lalu kembali melirik lemari. Mungkin benar. Ia butuh sedikit dorongan. "Oke, Om," katanya akhirnya. "Tapi jangan lama-lama, ya. Dan kalau nggak ada yang cocok, jangan paksa aku beli." "Siap! Cepat kok nanti di sana," jawab Adrian ringan. "Aku tunggu di sofa." Setelah pintu tertutup, Olivia menarik napas dalam dan kembali ke depan lemari, memilih kaus hitam serta celana jeans. Ia tak berdandan banyak, hanya mengoles bedak tipis dan menyisir rambutnya rapi. Sepuluh menit kemudian, ia melangkah keluar kamar. Adrian duduk di sofa ruang keluarga sambil mengecek ponsel. Ia mendongak dan mengangguk saat melihat Olivia. "Kamu sudah siap?" "Sudah, Om," jawab Olivia, menjaga nada tetap netral. "Oke. Ayo kita berangkat." "Hmm," angguk Olivia. Mereka berjalan berdampingan meninggalkan ruangan keluarga menuju mobil. Tak ada percakapan, hanya suara angin pagi dan langkah kaki yang bergema di teras. Tak lama, mobil hitam itu meluncur pelan keluar dari bawah carport. Satu jam kemudian, mereka sampai di depan Butik "Tierra Mode". Suasana butik yang minimalis dan elegan langsung menyambut mereka. Interior bernuansa beige dan aksen kayu muda memberi kesan hangat. Musik lembut mengalun di latar, membuat pengunjung merasa nyaman. Di sisi kiri, barisan rak dengan koleksi blus kerja, blazer, dan rok rapi berjajar dengan tertata. Di sisi kanan, sebuah sofa empuk disiapkan untuk yang menunggu. "Eum, ini bukannya mahal banget, ya, Om?" bisik Olivia. "Masih terjangkau, kok." "Oh, oke." "Kamu liat dulu aja, siapa tau ada yang cocok." "Ya, Om." Olivia masih ragu saat matanya menatap deretan pakaian yang tergantung rapi di gantungan. Tangannya agak kaku ketika meraih satu per satu, lalu seorang pegawai butik menghampiri dengan senyum ramah, menawarkan bantuan memilihkan. Adrian menunggu di sofa, duduk dengan kedua tangan disilangkan, memperhatikan Olivia yang tengah memilih pakaian di ujung ruangan. Dari kejauhan, ekspresinya tetap serius, tapi sorot matanya menunjukkan perhatian yang tersembunyi. Olivia tampak memegang dua potong kemeja berwarna pastel. Satu biru langit, satu lagi krem muda. Ia mencoba keduanya secara bergantian di dalam kamar pas. Akhirnya ia memilih keduanya, ditambah sepotong blazer warna abu-abu muda dan celana kerja hitam. Tak banyak, tapi cukup untuk awal. Ketika ia menghampiri Adrian, lelaki itu segera berdiri, mata mereka bertemu. "Udah dapet yang pas?" tanya Adrian dengan nada hangat. "Iya, cukup segini," jawab Olivia. "Tolong jangan dibayarin ya. Aku tahu niat Om baik, tapi aku nggak nyaman. Potong aja dari uang rumah Mama." Adrian sempat ingin membantah, tapi melihat sorot mata Olivia yang tegas dan tidak ingin dikasihani, ia akhirnya mengangguk. "Oke. Aku minta mereka catat dan tagih ke aku. Nanti aku potong dari rekening itu." "Makasih, Om," ujar Olivia pelan. "Sama-sama, Via." Setelah membayar belanjaan, Olivia dan Adrian berjalan pelan menuju pintu keluar butik. Adrian meraih gagang pintu, tiba-tiba ponselnya bergetar di saku celana. Ia menarik napas pelan, matanya melekat pada nama yang muncul: Gista. Dengan nada datar dan suara tanpa semangat, ia mengangkat telepon. "Halo?" jawabnya singkat. Olivia tak berniat menguping, tapi jaraknya terlalu dekat untuk tidak mendengar sebagian isi percakapan. "Mas Adri, kamu lagi di mana?" suara Gista terdengar lembut, diselipkan nada manja yang dibuat-buat. "Di luar," jawab Adrian, singkat dan sedikit dingin. "Lagi sama siapa?" tanya Gista, santai tapi seolah menyelidik. Adrian mengerutkan dahi, nadanya berubah ketus, "Kenapa, Gista?" Olivia menunduk, pura-pura sibuk dengan tali tas belanjaan di tangannya. Tapi telinganya tak sengaja menangkap nama itu: Gista. "Nggak apa-apa. Nevan nanya katanya kamu janji beliin mobil-mobilan polisi. Jadi aku cuma mau ta—" "Itu bisa diatur nanti. Minggu depan aku ketemu Nevan," potong Adrian cepat dengan nada tegas, tanpa sisa kehangatan. Ia jelas tak ingin pembicaraan itu berlanjut. Gista diam sejenak. Lalu suaranya terdengar lebih lembut lagi, hampir berbisik. "Kamu lagi sibuk banget, ya? Sama siapa sih sekarang?" "Bukan urusan kamu, Gista," jawab Adrian dengan nada tajam tapi tetap terkendali. "Kalau urusannya bukan soal penting, jangan ganggu. Aku tutup dulu." Klik. Telepon diputus sepihak. Adrian kembali menghampiri Olivia yang sudah berdiri di depan mobil, ekspresi wajahnya datar. Ia tak langsung bicara, hanya membuka pintu mobil dan naik di balik kemudi. Mereka duduk di dalam mobil, kabin terasa sunyi sejenak. Adrian menyalakan mesin, lalu melirik sebentar ke arah Olivia. "Maaf ya, tadi terima telpon sebentar." "Dari siapa, Om?" tanya Olivia santai, menatap ke depan. Nada suaranya ringan, tapi matanya sempat melirik ke kaca jendela, mencuri ekspresi Adrian dari pantulan. Adrian menghela napas pelan, lalu menjawab pendek, "Orang nggak penting." Bersambung...Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari baru saja merayap di permukaan kolam renang. Adrian bersandar di kursi malasnya, menatap Olivia yang duduk tak jauh darinya. Rambut istrinya tergerai bebas, kulitnya disapa lembut cahaya pagi, namun sorot matanya tampak sedikit redup. “Kamu capek, Sayang?” tanya Adrian pelan. “Hmm? Eh? Duh, apa, Mas?” Olivia menoleh, seolah baru tersadar. Pantulan air kolam menari di wajahnya. “Nah, kan,” Adrian menggeser tubuhnya, tak lagi bersandar. “Aku cuma nanya, kok kamu kelihatan bingung.” Olivia tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti usaha daripada ekspresi bahagia. “Iya, Mas… sedikit.” “Lagi pikirin apa, Sayang?” “Pekerjaan di kantor lagi ramai banget. Untung ada Ayu sama Rayhan. Kalau nggak, mungkin aku sudah tumbang.” Adrian berpindah ke kursi malas Olivia. Ruang sempit itu justru membuat mereka terasa semakin dekat. Tanpa sadar, Olivia menyandarkan kepalanya di lengan Adrian, menikmati detak jantung suaminya yang stabil.
Olivia berdiri di depan lobi kantor PT. Fast Track, membiarkan hembusan angin sore mengibaskan ujung rambutnya. Pandangannya mengikuti arus mobil yang keluar-masuk area lobi, tapi tak satu pun berhenti terlalu lama. Jam di pergelangan tangannya kembali ia lirik.“Tadi katanya udah dekat,” gumamnya pelan, nyaris kalah oleh deru mesin kendaraan. “Kok sepuluh menit belum kelihatan, sih…”Ia meraih ponsel, ibu jarinya sudah siap menyentuh nama Adrian, ketika sebuah mobil familiar berbelok memasuki gerbang gedung perkantoran. Sorot matanya langsung berubah cerah.“Ah, itu dia.”Begitu mobil melambat di depannya, Olivia melangkah cepat, lalu membuka pintu penumpang.“Hai, Mas. Kok lama?” katanya sambil duduk dan menarik sabuk pengaman.Adrian menghela napas pendek, tangannya masih mantap di kemudi. “Tadi ada keributan di halte depan. Aku mau ambil jalur kiri, tapi nggak bisa. Macet total.”“Keributan apa?”“Jambret ketahuan. Dicegat warga,” jawab Adrian singkat, lalu menginjak pedal gas per
Mobil yang dikemudikan Adrian melambat tepat di depan lobi gedung PT. Fast Track Logistic. Olivia melepaskan seatbelt, tubuhnya condong sedikit ke kanan. Ia mengecup pipi Adrian dengan lembut.“Makasih, Pak Suami,” katanya sambil tersenyum. “Hati-hati ya. Kabari aku kalau udah sampai Solaire.”Adrian tertawa kecil, meraih tangan Olivia dan mengecup punggungnya. “Siap, Sayang. Happy working, Nyonya Adrian.”Olivia membuka pintu, turun dengan langkah ringan sambil membawa paperbag berisi oleh-oleh. Ia melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobil itu kembali melaju.Begitu melangkah masuk ke lobi, Rayhan, dengan tas selempang menggantung di bahu, mengangkat tangan tinggi-tinggi.“Hai, Via!” godanya nyaring. “Pengantin baru, gimana bulan madunya?”Olivia tersenyum sambil mempercepat langkah. “Menyenangkan,” jawabnya singkat, lalu menoleh dengan senyum nakal. “Kamu kapan nyusul? Buruan cari perempuan baik-baik, Ray.”Rayhan terkekeh, ikut berjalan di sampingnya melewati pemeriksaan keamana
Olivia terbangun oleh dentuman petir yang memecah langit, begitu dekat hingga kaca jendela bergetar pelan. Matanya langsung terbuka, napasnya tercekat sesaat sebelum ia sadar ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya. Lengan itu milik Adrian. Kehangatan tubuh suaminya membuat jantungnya perlahan tenang. “Ya Tuhan,” bisiknya lirih, suara hujan seperti tumpah dari langit. “Deres banget. Pantes petirnya serem.” Olivia mengangkat tangan Adrian dengan hati-hati, melepaskan diri pelan-pelan agar tak membangunkannya. Ia turun dari tempat tidur, melangkah mendekat ke jendela. Tirai tipis tersibak sedikit, memperlihatkan kilatan cahaya putih yang membelah langit pagi. “Kenapa, Sayang?” suara Adrian terdengar serak dari atas ranjang. Matanya menyipit, mengikuti siluet Olivia. Olivia menoleh, senyum kecil mengembang. Ia kembali mendekat, naik ke ranjang, lalu merebahkan diri kembali di samping Adrian. “Aku cuma mau nutup tirai. Tadi petirnya kelihatan jelas banget. Serem.” “Oh…” Adrian
Adrian menata pakaian mereka satu per satu ke dalam koper yang terbuka di atas ranjang. Kaosnya dilipat rapi, celana disusun sejajar, lalu gaun Olivia ia ratakan pelan. Bulan madu yang manis terasa seperti baru dimulai, padahal koper sudah kembali terbuka dan siap menelan kenangan. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air berhenti. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Aroma sabun bercampur uap hangat menyusup ke kamar. “Udah kamu rapihin pakaian kita, Mas?” suara Olivia muncul lebih dulu, lembut. Ia berdiri di ambang pintu, rambutnya basah dan dibalut handuk kecil. Tetesan air masih jatuh ke lantai saat ia melangkah masuk. “Udah, meringankan tugas istri,” jawab Adrian tanpa menoleh. Olivia tersenyum. Ia berjalan mendekat, lalu tanpa banyak kata, duduk di pangkuan Adrian. Berat tubuhnya ringan, tapi kehadirannya langsung memenuhi ruang. “Sweet banget suami aku,” ujarnya sambil menyenderkan kepala sebentar. Adrian tertawa pelan. Tangannya refleks melingkar di p
Adrian melajukan mobilnya perlahan menuju Puncak, menembus jalanan hijau yang berliku. Di kursi depan sedan itu, dua hati yang baru sehari disatukan dalam pernikahan menikmati perjalanan pertama mereka sebagai suami istri. “Mas, habis dari Puncak, ada rencana ke tempat lain?” tanya Olivia. Adrian menoleh sekilas, lalu meraih tangan Olivia dan meletakkannya di depan dadanya. “Sejauh ini belum ada, Sayang. Kamu masih pengen jalan-jalan?” “Pengen sih, tapi aku cuma cuti satu minggu, Mas,” jawab Olivia. Adrian tersenyum hangat. “Lain kali kita atur waktu, ya.” “Iya, Mas. Tempat yang lebih jauh, gimana? Aku mau ke Nusa Penida,” bisik Olivia. “Boleh. Aku juga pengen banget ke sana.” “Asiiik! Nanti aku coba cari tahu trip ke sana.” Mereka terus berbincang ringan sepanjang perjalanan. Udara cerah meski langit Bogor sempat meneteskan gerimis di atas kaca mobil Adrian. Tak lama, mobil yang membawa mereka akhirnya melambat, lalu berhenti mulus di depan sebuah bangunan kecil yang tersemb







