ログインPasca dua hari berjuang melawan alergi seafood yang memaksanya berbaring di ranjang dengan tumpukan obat di meja, tubuh Olivia akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda pulih. Nafasnya sudah lega, mual yang mendera hilang, hanya sisa-sisa lelah yang masih menggelayut pelan di setiap uratnya.
Pagi itu, tangannya menggenggam cangkir teh chamomile, hangatnya menyusup di sela jemari. Kimono tidur tipis masih menyelubungi tubuhnya, belum sempat ia lepas karena niat mandi masih menunggu setelah ini. Rambutnya yang diikat sembarangan menjatuhkan beberapa helai ke pelupuk mata, menambah kesan lembut pada wajahnya yang masih lelah. Dengan langkah ringan yang hampir tak bersuara di lantai kayu, ia menyusuri ruang tengah menuju halaman belakang yang menghadap kolam renang. Tempat itu selama ini hanya menjadi jalur singkat tanpa ia perhatikan. Hari ini berbeda. Ia ingin menghirup udara pagi dan merasakan hangatnya matahari yang baru terbit. Gadis cantik itu baru melangkah beberapa dari pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah ke halaman, tapi ia langsung terhenti. "Sial! Mataku ternoda!" gerutunya sambil memicingkan mata. Napasnya serasa tercekat, pandangannya terpaku ke tengah kolam. Adrian sedang berenang, tubuhnya bergerak dengan ritme yang sempurna, tenang, kuat, dan penuh kendali. Cahaya pagi memantul dari permukaan air, menari di kulit terangnya yang basah. Rambutnya menempel rapi di kepala, setiap gerakan tangan memperlihatkan lekuk otot bisep dan pundak yang tegas, seolah dipahat dari batu. Olivia menggenggam erat cangkirnya sampai nyaris oleng, tapi ia berhasil menahan. Tiba-tiba dia merasa lelaki itu bukan sekadar pemilik restoran yang dewasa dan sabar. "Bodoh! Kenapa harus ada Om Adri di situ. Sepagi ini," gumamnya pelan, suara sedikit bergetar. Meski begitu, ia tak beranjak, malah tampak menikmati pemandangan itu dengan mata yang tak lepas menatap. Dalam basah dan gerakan lambat itu, ia menjadi laki-laki utuh yang tak bisa tidak memikat mata. Perutnya terlihat kokoh dengan otot-otot yang tidak dibuat-buat, mengingatkan Olivia pada adegan-adegan film yang sering ia anggap berlebihan. Tapi ini nyata. Terlalu nyata. Ia mematung di dekat pintu. Bahkan ketika Adrian menyelesaikan satu putaran renang dan naik ke tepi kolam, Olivia tidak segera berpaling. Napasnya sempat tercekat saat melihat air menetes dari rambut dan menyusuri garis rahang serta dada Adrian, turun perlahan ke perutnya yang basah dan rata. Ketika Adrian mengambil handuk dan mengusap wajahnya, pandangan itu baru teralihkan. Tatapannya bertemu dengan Olivia. "Hai, pagi, Via," sapanya ringan dengan senyum kecil. Olivia tersentak, suara tercekat naik satu oktaf dari biasanya. "Eh... I-ya. Pagi, Om." Ia buru-buru memalingkan wajah, menyibukkan diri menatap dedaunan tanaman hias, seolah meneliti tiap helai daun seakan itu hal terpenting di dunia saat ini. "Kamu lagi cari matahari pagi, ya?" Adrian bertanya sambil mengusap rambutnya dengan handuk, tetesan air masih tersisa di ujung helai. "I-iya, Om," jawab Olivia menoleh sekilas, sengaja mengalihkan pandangan dari otot bisep kekar Adrian yang bergerak mengikuti sapuan handuk itu. "Kamu sudah jauh lebih baik?" Adrian menatapnya penuh perhatian. Olivia mengangguk pelan. "Jauh lebih baik, Om." Wajah Adrian mengembang lega. "Syukurlah." "Berkat istirahat dan minum obat, Om." "Iya, untungnya pemulihan kamu tergolong cepat, Via. Kamu benar-benar kuat." "Iya, Om. Oh ya, apa Om memang biasa berenang sepagi ini?" tanya Olivia, berusaha terdengar santai. "Iya, sudah lama aku nggak berenang. Kamu harus coba sesekali, Via. Biar badanmu juga segar," jawab Adrian, senyumnya makin memikat saat wajahnya terkena cahaya pantulan kolam renang. "Iya, Om. Lain kali, ya." Adrian mengangguk dan meletakkan handuknya. "Ya sudah. Aku mau mandi dulu. Kita ketemu di meja makan, ya." "Baik, Om. Sampai nanti." Adrian tidak berkata banyak lagi, hanya menatapnya sesaat—mata tajamnya seperti menangkap sesuatu yang belum sempat dikatakan. Lalu ia mengangguk singkat dan berjalan masuk lewat pintu sisi lain, membiarkan Olivia berdiri sendirian dengan teh yang mulai mendingin di tangan. Setelah Adrian menghilang, Olivia menutup mata sebentar dan mengembuskan napas panjang. "Astaga... itu tadi, kenapa jadi deg-degan? Kacau kamu, Via!" Gadis cantik itu menatap kolam yang kini tenang. Tapi pikirannya tidak. Olivia menggelengkan kepalanya dan buru-buru berjalan menuju taman belakang. Sampai di sana, ia duduk di kursi besi yang tampak mengundang. Beberapa detik kemudian pikirannya kembali berisik oleh pemandangan yang seharusnya tidak mengusiknya. *** Meja makan panjang di sudut ruang itu tertata rapi dengan taplak tenun klasik yang memancarkan aura tradisional. Di atasnya tersaji sarapan sederhana: nasi pecel dengan sayuran rebus yang menggoda selera, sambal kacang kental yang masih mengkilap, dan tempe goreng hangat yang aromanya menggugah. Sebuah teko kecil berisi teh melati mengepul, wangi harumnya merayap pelan memenuhi ruangan, menenangkan udara pagi. Selepas aktivitas berjemur dan selesai membersihkan diri, Olivia duduk tegak di kursinya sambil menahan detak jantung yang masih sedikit tidak stabil sejak kejadian di kolam renang tadi. Adrian duduk di seberangnya. Kaos hitam lengan pendek dan celana santai membuatnya tampak kasual, tapi justru itu yang membuat Olivia semakin susah berkonsentrasi. Matanya berusaha fokus pada piring, bukan pada otot lengan Adrian yang masih tampak kencang saat lelaki itu menyendok nasi. "Kamu bengong aja, Via?" suara Adrian menyadarkannya, nada suara ringan tapi mengusik. Olivia tersentak, lalu menjawab terbata, "Ah, iya, Om." "Apa yang kamu pikirkan?" "Eum... anu." "Anu apa, Via?" "Non, ini sambalnya nggak terlalu pedas," tiba-tiba Bik Surti muncul di depannya dan menyelamatkan situasi. Perempuan berdaster merah itu meletakkan kerupuk putih ke atas meja. Tatapannya ke arah Olivia sekilas, lalu langsung menunduk. "Maaf ya soal waktu itu. Saya benar-benar nggak tahu Non Via alergi udang." Olivia tersenyum sopan, berusaha menetralisir suasana. "Nggak apa-apa, Bik. Saya juga kurang hati-hati dan nggak jujur sama kalian. Terima kasih ya, udah bantu rawat saya juga." Bik Surti mengangguk cepat dan langsung kembali ke dapur, tampak lega tapi masih segan untuk duduk terlalu lama di dekat mereka. Adrian menyuap sepotong tempe goreng, lalu memandang Olivia sebentar. "Kamu udah benar-benar enakan sekarang?" Olivia mengangguk, menghindari kontak mata. "Udah jauh lebih baik, kok. Kayaknya tinggal ngumpulin semangat aja." Adrian menyenderkan tubuhnya sedikit ke sandaran kursi. "Minggu depan mulai kerja ya? Di kantor Bastian." "Iya, Om. Karena insiden alergi kemarin, aku jadi minta dispensasi masuk di minggu depan. Untungnya Mas Bastian setuju. Padahal, dia tau kehadiran aku sangat dibutuhkan saat ini." Olivia memotong sepotong kecil tahu bacem, mencoba terdengar tenang. "Oh ya? Dia nggak keberatan?" "Enggak, Om." "Tapi tadi kamu bilang kehadiran kamu sangat dibutuhkan saat ini?" "Iya, Om. Sebenarnya dia berharap aku bisa masuk besok, sesuai kesepakatan awal. Tapi kata Mas Bastian, kesehatan nomor satu." Adrian manggut-manggut sambil menyiram saus kacang di atas sayuran yang sudah dia tata di piringnya. "Fast Track itu perusahaan baru, ya?" "Betul, Om." "Pantas aja kamu sangat dibutuhkan. Mereka masih kurang main power," balas Adrian, mengaduk saus kacang dengan sayuran. "Iya, itu salah satunya. Mariska udah ngabarin juga, katanya divisinya belum lengkap jadi mungkin di awal pekerjaanku lebih serabutan. SOP pun belum semua tercatat." "Kamu yakin bisa bertahan?" tanya Adrian, mengunyah sayuran. "Bisa, Om. Aku fresh graduate dan harus cari pengalaman sebaik mungkin. Untuk dapat ke puncak, kita harus mulai dari bawah, bukan?" Adrian tersenyum bangga. "Good. Kamu bakal cocok di sana. Bastian kelihatannya baik, serius kerja, dan aku yakin dia bisa jadi bos yang fair." Olivia hanya mengangguk. Ia mengunyah perlahan, tapi pikiran masih jauh. Sisa-sisa visual Adrian yang basah dan kekar tadi di kolam berenang masih menari-nari di kepalanya. Dan itu sangat mengganggu. Tanpa sadar, Olivia meletakkan sendok terlalu keras ke piring. Tok! Adrian mengangkat alis. "Kamu baik-baik aja, Via?" Olivia menunduk. "Maaf... kupikir. Eh, enggak. Nggak sengaja." Adrian melepaskan tawa kecil, matanya menatap penuh selidik. "Kamu aneh banget pagi ini, Via. Ada yang mengganggu pikiranmu? Cerita dong, siapa tahu aku bisa bantu." Olivia tersenyum kikuk. "Enggak ada, Om. Mungkin grogi karena tadi kita bicara masalah pekerjaan pertama aku." Adrian menyender santai, ekspresinya penuh godaan tapi tetap menjaga batas. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tapi senyum geli di wajahnya tidak hilang hingga sarapan usai. Entahlah, bagi Adrian, Olivia pagi ini terasa berbeda. Dan dia senang melihat gadis itu lebih lepas. Suasana rumah pun terasa sedikit lebih hidup berkat itu. *** Selepas sarapan yang cukup mendebarkan tadi, Olivia berdiri di depan lemari kecil di kamarnya, jarinya ragu menyentuh gagang pintu. Saat membuka, deretan pakaian formal menggantung seadanya langsung menyapa matanya. Koleksi kemeja lama dari masa kuliah, celana bahan longgar, dan blazer merah yang warnanya sudah tidak cerah lagi. Tangannya menarik satu kemeja biru muda yang masih terlihat paling rapi. Perlahan, matanya menjelajah ke kancing yang satu sudah terlepas, belum sempat dijahit kembali. Napasnya terhela panjang. "Sepertinya, aku terlalu sibuk dengan kaus dan celana jeans. Harus cari baju formal baru," gumamnya lirih, walau di dalam hati masih berusaha menolak ketergantungan pada orang lain. Saat ia berbalik menuju tempat tidur untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Mariska, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Tok. Tok. "Via?" suara Adrian terdengar dari luar. Suaranya tak keras, tapi cukup tegas. "Kamu lagi sibuk?" "Enggak, Om!" "Boleh buka pintunya?" "Sebentar, Om!" Olivia berlari kecil menuju pintu. Perlahan ia membuka sedikit celah, matanya menyapu sosok Adrian berdiri santai dengan kemeja flanel yang lengannya dia biarkan tergulung setengah, tangan kanannya menggenggam kunci mobil. Wajah pria itu menunjukkan keraguan sesaat sebelum akhirnya bicara, "Aku tahu ini tiba-tiba. Tapi sebelum aku ke restoran, aku ingin ajak kamu ke butik langganan. Nggak harus beli apa-apa, cuma lihat-lihat aja. Siapa tahu ada yang kamu butuhkan buat kerja nanti." Olivia membalas tatapan itu dengan mata yang datar, suaranya keluar tanpa semangat, "Aku masih punya beberapa baju. Lagipula, aku bisa beli sendiri nanti setelah gajian." Adrian mengangguk pelan, tapi matanya tetap tak lepas dari wajah Olivia. "Aku tahu. Aku cuma ingin kamu merasa nyaman saat mulai kerja. Dan jujur aja, kamu pantas kelihatan rapi, bukan sekadar cukup. Kalau Sheila masih ada, aku yakin Mama kamu juga akan minta hal yang sama." Olivia terdiam. Ucapan Adrian menyentuh bagian terdalam yang masih rapuh. Ia menunduk, lalu kembali melirik lemari. Mungkin benar. Ia butuh sedikit dorongan. "Oke, Om," katanya akhirnya. "Tapi jangan lama-lama, ya. Dan kalau nggak ada yang cocok, jangan paksa aku beli." "Siap! Cepat kok nanti di sana," jawab Adrian ringan. "Aku tunggu di sofa." Setelah pintu tertutup, Olivia menarik napas dalam dan kembali ke depan lemari, memilih kaus hitam serta celana jeans. Ia tak berdandan banyak, hanya mengoles bedak tipis dan menyisir rambutnya rapi. Sepuluh menit kemudian, ia melangkah keluar kamar. Adrian duduk di sofa ruang keluarga sambil mengecek ponsel. Ia mendongak dan mengangguk saat melihat Olivia. "Kamu sudah siap?" "Sudah, Om," jawab Olivia, menjaga nada tetap netral. "Oke. Ayo kita berangkat." "Hmm," angguk Olivia. Mereka berjalan berdampingan meninggalkan ruangan keluarga menuju mobil. Tak ada percakapan, hanya suara angin pagi dan langkah kaki yang bergema di teras. Tak lama, mobil hitam itu meluncur pelan keluar dari bawah carport. Satu jam kemudian, mereka sampai di depan Butik "Tierra Mode". Suasana butik yang minimalis dan elegan langsung menyambut mereka. Interior bernuansa beige dan aksen kayu muda memberi kesan hangat. Musik lembut mengalun di latar, membuat pengunjung merasa nyaman. Di sisi kiri, barisan rak dengan koleksi blus kerja, blazer, dan rok rapi berjajar dengan tertata. Di sisi kanan, sebuah sofa empuk disiapkan untuk yang menunggu. "Eum, ini bukannya mahal banget, ya, Om?" bisik Olivia. "Masih terjangkau, kok." "Oh, oke." "Kamu liat dulu aja, siapa tau ada yang cocok." "Ya, Om." Olivia masih ragu saat matanya menatap deretan pakaian yang tergantung rapi di gantungan. Tangannya agak kaku ketika meraih satu per satu, lalu seorang pegawai butik menghampiri dengan senyum ramah, menawarkan bantuan memilihkan. Adrian menunggu di sofa, duduk dengan kedua tangan disilangkan, memperhatikan Olivia yang tengah memilih pakaian di ujung ruangan. Dari kejauhan, ekspresinya tetap serius, tapi sorot matanya menunjukkan perhatian yang tersembunyi. Olivia tampak memegang dua potong kemeja berwarna pastel. Satu biru langit, satu lagi krem muda. Ia mencoba keduanya secara bergantian di dalam kamar pas. Akhirnya ia memilih keduanya, ditambah sepotong blazer warna abu-abu muda dan celana kerja hitam. Tak banyak, tapi cukup untuk awal. Ketika ia menghampiri Adrian, lelaki itu segera berdiri, mata mereka bertemu. "Udah dapet yang pas?" tanya Adrian dengan nada hangat. "Iya, cukup segini," jawab Olivia. "Tolong jangan dibayarin ya. Aku tahu niat Om baik, tapi aku nggak nyaman. Potong aja dari uang rumah Mama." Adrian sempat ingin membantah, tapi melihat sorot mata Olivia yang tegas dan tidak ingin dikasihani, ia akhirnya mengangguk. "Oke. Aku minta mereka catat dan tagih ke aku. Nanti aku potong dari rekening itu." "Makasih, Om," ujar Olivia pelan. "Sama-sama, Via." Setelah membayar belanjaan, Olivia dan Adrian berjalan pelan menuju pintu keluar butik. Adrian meraih gagang pintu, tiba-tiba ponselnya bergetar di saku celana. Ia menarik napas pelan, matanya melekat pada nama yang muncul: Gista. Dengan nada datar dan suara tanpa semangat, ia mengangkat telepon. "Halo?" jawabnya singkat. Olivia tak berniat menguping, tapi jaraknya terlalu dekat untuk tidak mendengar sebagian isi percakapan. "Mas Adri, kamu lagi di mana?" suara Gista terdengar lembut, diselipkan nada manja yang dibuat-buat. "Di luar," jawab Adrian, singkat dan sedikit dingin. "Lagi sama siapa?" tanya Gista, santai tapi seolah menyelidik. Adrian mengerutkan dahi, nadanya berubah ketus, "Kenapa, Gista?" Olivia menunduk, pura-pura sibuk dengan tali tas belanjaan di tangannya. Tapi telinganya tak sengaja menangkap nama itu: Gista. "Nggak apa-apa. Nevan nanya katanya kamu janji beliin mobil-mobilan polisi. Jadi aku cuma mau ta—" "Itu bisa diatur nanti. Minggu depan aku ketemu Nevan," potong Adrian cepat dengan nada tegas, tanpa sisa kehangatan. Ia jelas tak ingin pembicaraan itu berlanjut. Gista diam sejenak. Lalu suaranya terdengar lebih lembut lagi, hampir berbisik. "Kamu lagi sibuk banget, ya? Sama siapa sih sekarang?" "Bukan urusan kamu, Gista," jawab Adrian dengan nada tajam tapi tetap terkendali. "Kalau urusannya bukan soal penting, jangan ganggu. Aku tutup dulu." Klik. Telepon diputus sepihak. Adrian kembali menghampiri Olivia yang sudah berdiri di depan mobil, ekspresi wajahnya datar. Ia tak langsung bicara, hanya membuka pintu mobil dan naik di balik kemudi. Mereka duduk di dalam mobil, kabin terasa sunyi sejenak. Adrian menyalakan mesin, lalu melirik sebentar ke arah Olivia. "Maaf ya, tadi terima telpon sebentar." "Dari siapa, Om?" tanya Olivia santai, menatap ke depan. Nada suaranya ringan, tapi matanya sempat melirik ke kaca jendela, mencuri ekspresi Adrian dari pantulan. Adrian menghela napas pelan, lalu menjawab pendek, "Orang nggak penting." Bersambung...Sambil menunggu Adrian menebus vitamin di bagian farmasi, Olivia duduk sendiri di kursi ruang tunggu lantai tiga First Hospital. Jemarinya pelan mengusap lembar hasil USG 4 dimensi yang tadi diberikan dokter.Meski sudah sering melihat kertas itu, rasanya tetap asing di matanya. Garis-garis samar yang tak ia pahami membentang di sana, namun di salah satu sudut terlihat wajah mungil dengan hidung kecil yang membuat dada Olivia tiba-tiba penuh haru.Bibirnya melengkung tanpa sadar.Matanya perlahan menurun ke perutnya yang semakin membulat. “Sehat-sehat ya, Nak…” bisiknya lirih sambil mengusap perutnya dengan lembut. “Tiga bulan lagi, kamu akan ketemu Mama sama Papa…”Suara bising rumah sakit mendadak terasa jauh. Yang tersisa hanya debar hangat di dadanya saat membayangkan tangisan bayi yang akan memenuhi rumahnya. Ada tangan kecil yang menggenggam jarinya. Ada seseorang yang akan memanggilnya Mama. Ada makhluk kecil yang begitu bergantung padanya.Matanya sedikit berkaca.“Jangan naka
“Tante, minum dulu.”Suara Olivia memecah sunyi ruang keluarga yang sejak tadi hanya dipenuhi suara detik jam dinding dan gemerisik hujan di luar rumah.Ruby mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembab, rambutnya masih sedikit acak-acakan setelah kejadian kebakaran tadi malam. Saat melihat secangkir teh hangat di tangan Olivia, bibirnya langsung melengkung tipis.“Makasih, Via,” ucapnya lirih.Uap tipis mengepul dari cangkir keramik berwarna putih itu ketika Ruby menerimanya dengan kedua tangan. Olivia lalu duduk di sofa seberang sambil mengeratkan tali kimono satin yang membungkus tubuh hamilnya.Padahal seharusnya dia sudah tidur sejak satu jam lalu.Tapi bayangan Ruby yang kehilangan rumah sekaligus kios kecilnya terus mengusik pikirannya. Karena itu, Olivia diam-diam turun dari kamar hanya untuk memastikan tantenya baik-baik saja.Ruby meniup permukaan teh perlahan sebelum menyesapnya, matanya langsung terpejam. “Ya ampun…” napasnya keluar panjang. “Udah lama Tante nggak minum te
“Siapa, Mas?” suara Olivia bergetar pelan saat ia merapat ke sisi Adrian. Jemarinya refleks menggenggam lengan suaminya ketika melihat perubahan raut wajah Adrian sejak laki-laki bernama Stevan itu datang. “Kamu kenal dia?”Tatapan Adrian belum lepas dari pria muda yang kini berdiri di dekat Ruby. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya menegang samar, menandakan sesuatu yang tak nyaman.“Stevan Utomo,” Adrian menjawab lirih, suaranya nyaris berbisik. “Itu nama aslinya.”Alis Olivia mengernyit, ada tanda tanya besar di matanya. “Maksud kamu?”Adrian menunduk sedikit, suaranya makin pelan. “Dia sepupu jauh Gista. Dulu Gista pernah cerita… Stevan sempat kena kasus berat, bahkan dipenjara.”Mata Olivia melebar, suaranya tercekat, “Hah?! Serius, Mas? Gila…”Adrian tetap fokus pada Stevan yang sekarang mengusap lembut pundak Ruby. “Sebenarnya aku belum pernah ketemu langsung dengan dia, tapi Gista pernah tunjukin fotonya. Aku yakin ini orang yang sama. Aku nggak akan lupa wajahnya. Dia punya
“Tante butuh bantuan kamu, Via... rumah tante hangus, kebakaran…”Suara di seberang telepon pecah oleh isak panik, napas tersengal-sengal, dan riuh orang yang saling berteriak di belakangnya.Olivia mendadak tegak di kursi penumpang, matanya membesar.“Apa!?” Suaranya tercekat, hampir terputus. “Kebakaran? Tante sekarang di mana?”Dari balik kemudi, Adrian melirik istrinya dengan wajah tegang. Jemarinya yang tadi santai kini mencengkeram setir lebih erat.“Tante di depan rumah...” suara Ruby bergetar, berusaha menahan tangis. “Api masih besar, Via... maaf ya, Tante nggak punya siapa-siapa lagi, makanya cuma kamu yang Tante hubungi...”Olivia menarik napas dalam, menutup mata sejenak. Jantungnya berdegup semakin kencang, tapi dia berusaha keras meredakan paniknya.“Tante, coba tenang dulu, ya? Aku sama Mas Adrian langsung ke sana sekarang.”Isak Ruby semakin pecah. “Makasih, Via... Tante tunggu...”Panggilan pun terputus.Beberapa saat mobil hanya dipenuhi suara napas Olivia yang belum
Gyan terdiam beberapa saat. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam punggung tangan Mariska, perlahan mengendur, matanya jatuh lurus ke wajah Mariska yang duduk di depannya.“Hubungan kita spesial, Ris,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tertelan denting sendok dan riuh rendah pengunjung di sekitar. “Tapi… kamu yakin mau sama laki-laki kayak aku?”Mariska mengernyit kecil. “Maksudnya?”Gyan menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan sambil menyunggingkan senyum tipis yang terasa pahit. “Aku hidup biasa aja, nggak punya apa-apa buat dibanggain. Aku takut suatu saat kamu sadar kalau kamu salah pilih.”“Kita udah sedekat ini tapi kamu masih nanya begitu?” Nada kesal Mariska muncul tanpa bisa disembunyikan.“Bukan karena aku ragu sama perasaan kamu,” sahut Gyan cepat, matanya penuh gelisah. “Aku cuma takut kamu nantinya kecewa. Aku nggak bisa janjiin hidup mewah—”“Kamu cinta sama aku?” suara Mariska tiba-tiba menyela, lembut tapi penuh harap.Gyan terdiam, pandangannya melembut, jemariny
Aroma kopi dan cokelat memenuhi udara di salah satu kafe bergaya industrial itu ketika Olivia mendorong paper bag ke arah Mariska.Mariska yang sejak tadi menikmati cappuccino-nya mengangkat alis. “Apa itu?”“Oleh-oleh,” jawab Olivia ringan, dagunya sedikit terangkat. “Dari pantai kemarin.”Gerakan tangan Mariska terhenti sesaat di udara. Ia menyipitkan mata, lalu senyum tipis mulai mengembang. “Ooh… yang liburan sama Mas Adrian itu?” Ia menyesap lagi kopinya, sengaja pelan, memberi jeda untuk menggoda. “Pantesan dari tadi mukanya bersinar banget.”Olivia terkekeh, “Ya iyalah. Mas Adrian balik romantis lagi.” Ia menyandarkan punggung, matanya berbinar seperti menyimpan potongan-potongan kenangan yang belum habis diputar ulang. “Empat hari di sana tuh… kayak cuma lewat sebentar. Lo nanti juga bakal ngerti, kalau udah nikah.“Ah… menikah…” gumam Mariska. Tatapannya justru melayang ke luar jendela, mengikuti garis hujan yang mulai membentuk jalur-jalur tipis di kaca.Olivia mengernyit, b
Adrian berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja yang masih rapi meski kainnya tampak kusut, dan rambutnya tak setertata biasanya. Ia langsung masuk dengan langkah tergesa, dalam sekejap sudah berada di sisi ranjang.Sebelum Olivia sempat berkata apa pun, Adrian memeluknya erat. Tangannya melingka
Aroma jagung manis yang direbus bersama kaldu ayam mengisi seluruh sudut dapur. Olivia berdiri di depan kompor, tangannya perlahan mengaduk krim sup dengan sendok kayu yang berputar membentuk pusaran kecil di permukaannya. Matanya menatap kosong ke arah sup itu, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
Malam itu, ruang kerja Adrian tampak gelap, seolah mencerminkan perasaannya yang suram beberapa hari terakhir. Entah kenapa, layar laptop di depannya terasa begitu menyilaukan.Ia duduk tegak di kursi, rahangnya mengeras menahan emosi. Di layar, video klarifikasi dari akun resmi Solaire diputar ula
Olivia merapikan kembali kain gaun tidurnya. Bahan lembut itu mengikuti lekuk tubuhnya saat ia mengusapnya pelan, seolah sedang menenangkan debar yang tak ia pahami sepenuhnya. Ada sesuatu di dadanya malam ini dan itu bukan gelisah, bukan pula sekadar rindu. Perasaan itu datang bergelombang, kadang







