LOGINPasca dua hari berjuang melawan alergi seafood yang memaksanya berbaring di ranjang dengan tumpukan obat di meja, tubuh Olivia akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda pulih. Nafasnya sudah lega, mual yang mendera hilang, hanya sisa-sisa lelah yang masih menggelayut pelan di setiap uratnya.
Pagi itu, tangannya menggenggam cangkir teh chamomile, hangatnya menyusup di sela jemari. Kimono tidur tipis masih menyelubungi tubuhnya, belum sempat ia lepas karena niat mandi masih menunggu setelah ini. Rambutnya yang diikat sembarangan menjatuhkan beberapa helai ke pelupuk mata, menambah kesan lembut pada wajahnya yang masih lelah. Dengan langkah ringan yang hampir tak bersuara di lantai kayu, ia menyusuri ruang tengah menuju halaman belakang yang menghadap kolam renang. Tempat itu selama ini hanya menjadi jalur singkat tanpa ia perhatikan. Hari ini berbeda. Ia ingin menghirup udara pagi dan merasakan hangatnya matahari yang baru terbit. Gadis cantik itu baru melangkah beberapa dari pintu kaca yang menghubungkan ruang tengah ke halaman, tapi ia langsung terhenti. "Sial! Mataku ternoda!" gerutunya sambil memicingkan mata. Napasnya serasa tercekat, pandangannya terpaku ke tengah kolam. Adrian sedang berenang, tubuhnya bergerak dengan ritme yang sempurna, tenang, kuat, dan penuh kendali. Cahaya pagi memantul dari permukaan air, menari di kulit terangnya yang basah. Rambutnya menempel rapi di kepala, setiap gerakan tangan memperlihatkan lekuk otot bisep dan pundak yang tegas, seolah dipahat dari batu. Olivia menggenggam erat cangkirnya sampai nyaris oleng, tapi ia berhasil menahan. Tiba-tiba dia merasa lelaki itu bukan sekadar pemilik restoran yang dewasa dan sabar. "Bodoh! Kenapa harus ada Om Adri di situ. Sepagi ini," gumamnya pelan, suara sedikit bergetar. Meski begitu, ia tak beranjak, malah tampak menikmati pemandangan itu dengan mata yang tak lepas menatap. Dalam basah dan gerakan lambat itu, ia menjadi laki-laki utuh yang tak bisa tidak memikat mata. Perutnya terlihat kokoh dengan otot-otot yang tidak dibuat-buat, mengingatkan Olivia pada adegan-adegan film yang sering ia anggap berlebihan. Tapi ini nyata. Terlalu nyata. Ia mematung di dekat pintu. Bahkan ketika Adrian menyelesaikan satu putaran renang dan naik ke tepi kolam, Olivia tidak segera berpaling. Napasnya sempat tercekat saat melihat air menetes dari rambut dan menyusuri garis rahang serta dada Adrian, turun perlahan ke perutnya yang basah dan rata. Ketika Adrian mengambil handuk dan mengusap wajahnya, pandangan itu baru teralihkan. Tatapannya bertemu dengan Olivia. "Hai, pagi, Via," sapanya ringan dengan senyum kecil. Olivia tersentak, suara tercekat naik satu oktaf dari biasanya. "Eh... I-ya. Pagi, Om." Ia buru-buru memalingkan wajah, menyibukkan diri menatap dedaunan tanaman hias, seolah meneliti tiap helai daun seakan itu hal terpenting di dunia saat ini. "Kamu lagi cari matahari pagi, ya?" Adrian bertanya sambil mengusap rambutnya dengan handuk, tetesan air masih tersisa di ujung helai. "I-iya, Om," jawab Olivia menoleh sekilas, sengaja mengalihkan pandangan dari otot bisep kekar Adrian yang bergerak mengikuti sapuan handuk itu. "Kamu sudah jauh lebih baik?" Adrian menatapnya penuh perhatian. Olivia mengangguk pelan. "Jauh lebih baik, Om." Wajah Adrian mengembang lega. "Syukurlah." "Berkat istirahat dan minum obat, Om." "Iya, untungnya pemulihan kamu tergolong cepat, Via. Kamu benar-benar kuat." "Iya, Om. Oh ya, apa Om memang biasa berenang sepagi ini?" tanya Olivia, berusaha terdengar santai. "Iya, sudah lama aku nggak berenang. Kamu harus coba sesekali, Via. Biar badanmu juga segar," jawab Adrian, senyumnya makin memikat saat wajahnya terkena cahaya pantulan kolam renang. "Iya, Om. Lain kali, ya." Adrian mengangguk dan meletakkan handuknya. "Ya sudah. Aku mau mandi dulu. Kita ketemu di meja makan, ya." "Baik, Om. Sampai nanti." Adrian tidak berkata banyak lagi, hanya menatapnya sesaat—mata tajamnya seperti menangkap sesuatu yang belum sempat dikatakan. Lalu ia mengangguk singkat dan berjalan masuk lewat pintu sisi lain, membiarkan Olivia berdiri sendirian dengan teh yang mulai mendingin di tangan. Setelah Adrian menghilang, Olivia menutup mata sebentar dan mengembuskan napas panjang. "Astaga... itu tadi, kenapa jadi deg-degan? Kacau kamu, Via!" Gadis cantik itu menatap kolam yang kini tenang. Tapi pikirannya tidak. Olivia menggelengkan kepalanya dan buru-buru berjalan menuju taman belakang. Sampai di sana, ia duduk di kursi besi yang tampak mengundang. Beberapa detik kemudian pikirannya kembali berisik oleh pemandangan yang seharusnya tidak mengusiknya. *** Meja makan panjang di sudut ruang itu tertata rapi dengan taplak tenun klasik yang memancarkan aura tradisional. Di atasnya tersaji sarapan sederhana: nasi pecel dengan sayuran rebus yang menggoda selera, sambal kacang kental yang masih mengkilap, dan tempe goreng hangat yang aromanya menggugah. Sebuah teko kecil berisi teh melati mengepul, wangi harumnya merayap pelan memenuhi ruangan, menenangkan udara pagi. Selepas aktivitas berjemur dan selesai membersihkan diri, Olivia duduk tegak di kursinya sambil menahan detak jantung yang masih sedikit tidak stabil sejak kejadian di kolam renang tadi. Adrian duduk di seberangnya. Kaos hitam lengan pendek dan celana santai membuatnya tampak kasual, tapi justru itu yang membuat Olivia semakin susah berkonsentrasi. Matanya berusaha fokus pada piring, bukan pada otot lengan Adrian yang masih tampak kencang saat lelaki itu menyendok nasi. "Kamu bengong aja, Via?" suara Adrian menyadarkannya, nada suara ringan tapi mengusik. Olivia tersentak, lalu menjawab terbata, "Ah, iya, Om." "Apa yang kamu pikirkan?" "Eum... anu." "Anu apa, Via?" "Non, ini sambalnya nggak terlalu pedas," tiba-tiba Bik Surti muncul di depannya dan menyelamatkan situasi. Perempuan berdaster merah itu meletakkan kerupuk putih ke atas meja. Tatapannya ke arah Olivia sekilas, lalu langsung menunduk. "Maaf ya soal waktu itu. Saya benar-benar nggak tahu Non Via alergi udang." Olivia tersenyum sopan, berusaha menetralisir suasana. "Nggak apa-apa, Bik. Saya juga kurang hati-hati dan nggak jujur sama kalian. Terima kasih ya, udah bantu rawat saya juga." Bik Surti mengangguk cepat dan langsung kembali ke dapur, tampak lega tapi masih segan untuk duduk terlalu lama di dekat mereka. Adrian menyuap sepotong tempe goreng, lalu memandang Olivia sebentar. "Kamu udah benar-benar enakan sekarang?" Olivia mengangguk, menghindari kontak mata. "Udah jauh lebih baik, kok. Kayaknya tinggal ngumpulin semangat aja." Adrian menyenderkan tubuhnya sedikit ke sandaran kursi. "Minggu depan mulai kerja ya? Di kantor Bastian." "Iya, Om. Karena insiden alergi kemarin, aku jadi minta dispensasi masuk di minggu depan. Untungnya Mas Bastian setuju. Padahal, dia tau kehadiran aku sangat dibutuhkan saat ini." Olivia memotong sepotong kecil tahu bacem, mencoba terdengar tenang. "Oh ya? Dia nggak keberatan?" "Enggak, Om." "Tapi tadi kamu bilang kehadiran kamu sangat dibutuhkan saat ini?" "Iya, Om. Sebenarnya dia berharap aku bisa masuk besok, sesuai kesepakatan awal. Tapi kata Mas Bastian, kesehatan nomor satu." Adrian manggut-manggut sambil menyiram saus kacang di atas sayuran yang sudah dia tata di piringnya. "Fast Track itu perusahaan baru, ya?" "Betul, Om." "Pantas aja kamu sangat dibutuhkan. Mereka masih kurang main power," balas Adrian, mengaduk saus kacang dengan sayuran. "Iya, itu salah satunya. Mariska udah ngabarin juga, katanya divisinya belum lengkap jadi mungkin di awal pekerjaanku lebih serabutan. SOP pun belum semua tercatat." "Kamu yakin bisa bertahan?" tanya Adrian, mengunyah sayuran. "Bisa, Om. Aku fresh graduate dan harus cari pengalaman sebaik mungkin. Untuk dapat ke puncak, kita harus mulai dari bawah, bukan?" Adrian tersenyum bangga. "Good. Kamu bakal cocok di sana. Bastian kelihatannya baik, serius kerja, dan aku yakin dia bisa jadi bos yang fair." Olivia hanya mengangguk. Ia mengunyah perlahan, tapi pikiran masih jauh. Sisa-sisa visual Adrian yang basah dan kekar tadi di kolam berenang masih menari-nari di kepalanya. Dan itu sangat mengganggu. Tanpa sadar, Olivia meletakkan sendok terlalu keras ke piring. Tok! Adrian mengangkat alis. "Kamu baik-baik aja, Via?" Olivia menunduk. "Maaf... kupikir. Eh, enggak. Nggak sengaja." Adrian melepaskan tawa kecil, matanya menatap penuh selidik. "Kamu aneh banget pagi ini, Via. Ada yang mengganggu pikiranmu? Cerita dong, siapa tahu aku bisa bantu." Olivia tersenyum kikuk. "Enggak ada, Om. Mungkin grogi karena tadi kita bicara masalah pekerjaan pertama aku." Adrian menyender santai, ekspresinya penuh godaan tapi tetap menjaga batas. Ia tidak berkata apa-apa lagi, tapi senyum geli di wajahnya tidak hilang hingga sarapan usai. Entahlah, bagi Adrian, Olivia pagi ini terasa berbeda. Dan dia senang melihat gadis itu lebih lepas. Suasana rumah pun terasa sedikit lebih hidup berkat itu. *** Selepas sarapan yang cukup mendebarkan tadi, Olivia berdiri di depan lemari kecil di kamarnya, jarinya ragu menyentuh gagang pintu. Saat membuka, deretan pakaian formal menggantung seadanya langsung menyapa matanya. Koleksi kemeja lama dari masa kuliah, celana bahan longgar, dan blazer merah yang warnanya sudah tidak cerah lagi. Tangannya menarik satu kemeja biru muda yang masih terlihat paling rapi. Perlahan, matanya menjelajah ke kancing yang satu sudah terlepas, belum sempat dijahit kembali. Napasnya terhela panjang. "Sepertinya, aku terlalu sibuk dengan kaus dan celana jeans. Harus cari baju formal baru," gumamnya lirih, walau di dalam hati masih berusaha menolak ketergantungan pada orang lain. Saat ia berbalik menuju tempat tidur untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Mariska, terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Tok. Tok. "Via?" suara Adrian terdengar dari luar. Suaranya tak keras, tapi cukup tegas. "Kamu lagi sibuk?" "Enggak, Om!" "Boleh buka pintunya?" "Sebentar, Om!" Olivia berlari kecil menuju pintu. Perlahan ia membuka sedikit celah, matanya menyapu sosok Adrian berdiri santai dengan kemeja flanel yang lengannya dia biarkan tergulung setengah, tangan kanannya menggenggam kunci mobil. Wajah pria itu menunjukkan keraguan sesaat sebelum akhirnya bicara, "Aku tahu ini tiba-tiba. Tapi sebelum aku ke restoran, aku ingin ajak kamu ke butik langganan. Nggak harus beli apa-apa, cuma lihat-lihat aja. Siapa tahu ada yang kamu butuhkan buat kerja nanti." Olivia membalas tatapan itu dengan mata yang datar, suaranya keluar tanpa semangat, "Aku masih punya beberapa baju. Lagipula, aku bisa beli sendiri nanti setelah gajian." Adrian mengangguk pelan, tapi matanya tetap tak lepas dari wajah Olivia. "Aku tahu. Aku cuma ingin kamu merasa nyaman saat mulai kerja. Dan jujur aja, kamu pantas kelihatan rapi, bukan sekadar cukup. Kalau Sheila masih ada, aku yakin Mama kamu juga akan minta hal yang sama." Olivia terdiam. Ucapan Adrian menyentuh bagian terdalam yang masih rapuh. Ia menunduk, lalu kembali melirik lemari. Mungkin benar. Ia butuh sedikit dorongan. "Oke, Om," katanya akhirnya. "Tapi jangan lama-lama, ya. Dan kalau nggak ada yang cocok, jangan paksa aku beli." "Siap! Cepat kok nanti di sana," jawab Adrian ringan. "Aku tunggu di sofa." Setelah pintu tertutup, Olivia menarik napas dalam dan kembali ke depan lemari, memilih kaus hitam serta celana jeans. Ia tak berdandan banyak, hanya mengoles bedak tipis dan menyisir rambutnya rapi. Sepuluh menit kemudian, ia melangkah keluar kamar. Adrian duduk di sofa ruang keluarga sambil mengecek ponsel. Ia mendongak dan mengangguk saat melihat Olivia. "Kamu sudah siap?" "Sudah, Om," jawab Olivia, menjaga nada tetap netral. "Oke. Ayo kita berangkat." "Hmm," angguk Olivia. Mereka berjalan berdampingan meninggalkan ruangan keluarga menuju mobil. Tak ada percakapan, hanya suara angin pagi dan langkah kaki yang bergema di teras. Tak lama, mobil hitam itu meluncur pelan keluar dari bawah carport. Satu jam kemudian, mereka sampai di depan Butik "Tierra Mode". Suasana butik yang minimalis dan elegan langsung menyambut mereka. Interior bernuansa beige dan aksen kayu muda memberi kesan hangat. Musik lembut mengalun di latar, membuat pengunjung merasa nyaman. Di sisi kiri, barisan rak dengan koleksi blus kerja, blazer, dan rok rapi berjajar dengan tertata. Di sisi kanan, sebuah sofa empuk disiapkan untuk yang menunggu. "Eum, ini bukannya mahal banget, ya, Om?" bisik Olivia. "Masih terjangkau, kok." "Oh, oke." "Kamu liat dulu aja, siapa tau ada yang cocok." "Ya, Om." Olivia masih ragu saat matanya menatap deretan pakaian yang tergantung rapi di gantungan. Tangannya agak kaku ketika meraih satu per satu, lalu seorang pegawai butik menghampiri dengan senyum ramah, menawarkan bantuan memilihkan. Adrian menunggu di sofa, duduk dengan kedua tangan disilangkan, memperhatikan Olivia yang tengah memilih pakaian di ujung ruangan. Dari kejauhan, ekspresinya tetap serius, tapi sorot matanya menunjukkan perhatian yang tersembunyi. Olivia tampak memegang dua potong kemeja berwarna pastel. Satu biru langit, satu lagi krem muda. Ia mencoba keduanya secara bergantian di dalam kamar pas. Akhirnya ia memilih keduanya, ditambah sepotong blazer warna abu-abu muda dan celana kerja hitam. Tak banyak, tapi cukup untuk awal. Ketika ia menghampiri Adrian, lelaki itu segera berdiri, mata mereka bertemu. "Udah dapet yang pas?" tanya Adrian dengan nada hangat. "Iya, cukup segini," jawab Olivia. "Tolong jangan dibayarin ya. Aku tahu niat Om baik, tapi aku nggak nyaman. Potong aja dari uang rumah Mama." Adrian sempat ingin membantah, tapi melihat sorot mata Olivia yang tegas dan tidak ingin dikasihani, ia akhirnya mengangguk. "Oke. Aku minta mereka catat dan tagih ke aku. Nanti aku potong dari rekening itu." "Makasih, Om," ujar Olivia pelan. "Sama-sama, Via." Setelah membayar belanjaan, Olivia dan Adrian berjalan pelan menuju pintu keluar butik. Adrian meraih gagang pintu, tiba-tiba ponselnya bergetar di saku celana. Ia menarik napas pelan, matanya melekat pada nama yang muncul: Gista. Dengan nada datar dan suara tanpa semangat, ia mengangkat telepon. "Halo?" jawabnya singkat. Olivia tak berniat menguping, tapi jaraknya terlalu dekat untuk tidak mendengar sebagian isi percakapan. "Mas Adri, kamu lagi di mana?" suara Gista terdengar lembut, diselipkan nada manja yang dibuat-buat. "Di luar," jawab Adrian, singkat dan sedikit dingin. "Lagi sama siapa?" tanya Gista, santai tapi seolah menyelidik. Adrian mengerutkan dahi, nadanya berubah ketus, "Kenapa, Gista?" Olivia menunduk, pura-pura sibuk dengan tali tas belanjaan di tangannya. Tapi telinganya tak sengaja menangkap nama itu: Gista. "Nggak apa-apa. Nevan nanya katanya kamu janji beliin mobil-mobilan polisi. Jadi aku cuma mau ta—" "Itu bisa diatur nanti. Minggu depan aku ketemu Nevan," potong Adrian cepat dengan nada tegas, tanpa sisa kehangatan. Ia jelas tak ingin pembicaraan itu berlanjut. Gista diam sejenak. Lalu suaranya terdengar lebih lembut lagi, hampir berbisik. "Kamu lagi sibuk banget, ya? Sama siapa sih sekarang?" "Bukan urusan kamu, Gista," jawab Adrian dengan nada tajam tapi tetap terkendali. "Kalau urusannya bukan soal penting, jangan ganggu. Aku tutup dulu." Klik. Telepon diputus sepihak. Adrian kembali menghampiri Olivia yang sudah berdiri di depan mobil, ekspresi wajahnya datar. Ia tak langsung bicara, hanya membuka pintu mobil dan naik di balik kemudi. Mereka duduk di dalam mobil, kabin terasa sunyi sejenak. Adrian menyalakan mesin, lalu melirik sebentar ke arah Olivia. "Maaf ya, tadi terima telpon sebentar." "Dari siapa, Om?" tanya Olivia santai, menatap ke depan. Nada suaranya ringan, tapi matanya sempat melirik ke kaca jendela, mencuri ekspresi Adrian dari pantulan. Adrian menghela napas pelan, lalu menjawab pendek, "Orang nggak penting." Bersambung...Aroma nasi goreng yang hangat memenuhi ruang makan, tapi entah kenapa udara di sana terasa dingin dan kaku. Olivia menundukkan kepala, jemarinya saling meremas di bawah meja, seolah mencari pegangan. Di seberangnya, Adrian dengan cepat menyendok nasi goreng, matanya tak pernah menatap wajah Olivia. Sendoknya malah sibuk memindahkan potongan cabai merah dari piring satu per satu, tanpa semangat. “Kamu yakin udah kuat kerja?” Adrian bertanya tiba-tiba, suaranya datar dan seolah cuma rutinitas. Olivia mengangguk pelan, memaksakan senyum yang hampir tidak sampai ke matanya. “Yakin, Mas. Aku nggak enak udah seminggu nggak masuk. Ayu sama Rayhan pasti kewalahan. Bu Laras juga.” Dia menyuap nasi dengan gerakan lambat. Rasa mual menyergap pelan, seperti gelombang kecil yang siap membesar kapan saja. Tangannya refleks bergerak ke perutnya di bawah meja, menahannya. “Kalau belum kuat, di rumah aja,” Adrian menjawab ringan, kata-katanya terdengar seperti sekadar formalitas. “Bu Laras pasti
“Pak Adrian.” Suara itu memecah keheningan dari dengung pelan pendingin ruangan dan bunyi ketikan yang tak henti sejak pagi. Adrian hanya melirik sekilas ke arah Renata yang duduk di seberang meja, lalu kembali menatap layar laptopnya. Deretan angka merah memenuhi kolom laporan keuangan. Grafik yang biasanya naik stabil kini menukik tajam seperti tebing curam. “Maaf, Pak. Saya baru dapat info. Pihak akun gosip minta dua puluh lima juta untuk takedown video.” Jari Adrian berhenti mengetik. “Hah? Semahal itu?!” Kepalanya terangkat cepat. Renata mengangguk. “Awalnya bahkan mereka minta di lima puluh.” Adrian mendengus kasar. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, tangan menyilang di dada. “Ngaco.” Rahangnya mengeras. Tatapannya kembali ke layar, pada angka kerugian yang sudah membuat pelipisnya berdenyut sejak seminggu terakhir. “Jadi gimana, Pak?” “Satu juta. Maksimal.” Ucapannya tegas. “Kalau nggak mau, biarkan saja. Video itu sudah telanjur menyebar. Sekarang yang penting kita pu
Olivia membuka mata perlahan. Langit kamar masih pucat kebiruan. Jam digital di nakas menyala redup: 06.02.Napasnya tiba-tiba terasa sesak, seolah ada beban berat yang mendesak dari dalam perutnya, menekan hingga dada ikut sesak.Sebelum sempat berpikir, gelombang mual itu menyergap tanpa ampun.Ia segera bangkit, hampir tersandung selimut sendiri. Tangannya menutup mulut, menahan cairan asam yang naik ke tenggorokan. Kakinya bergegas menuju kamar mandi.Tubuhnya membungkuk di depan kloset.“Ukh—”suara serak keluar bersamaan dengan muntahan sisa makanan yang tumpah.Beberapa detik berlalu, perutnya seperti dikuras hingga hanya tersisa cairan bening yang terasa sangat asam, menusuk sampai ke ujung hidungnya.Dadanya naik turun tak beraturan, tenggorokannya terasa terbakar. Air mata mengalir begitu saja, refleks tubuh yang tersiksa.“Ya Tuhan…” lirihnya lemah di sela batuk keras.Tubuhnya gemetar, tangannya mencari sesuatu untuk berpegangan dan menemukan tepi wastafel. Jemarinya memut
Kelopak mata Olivia terbuka perlahan, menolak sepenuhnya menerima siang yang beranjak sore. Cahaya temaram keemasan merayap lewat tirai, menyelimuti tubuhnya dengan kehangatan yang terasa asing. Tanpa berpikir panjang, tangannya bergerak otomatis meraih ponsel di atas nakas.Layar menyala, matanya terpaku pada jam di sudut layar: 17.03.Dadanya mengempis pelan. Ponselnya sepi dari notifikasi ataupun panggilan tak terjawab dari Adrian. Padahal sejak siang, ia sudah menelpon berkali-kali dan mengirim pesan, tapi ada balasan dari Adrian yang dinantinya.“Ya ampun… sibuk banget sih kamu?” gumamnya dengan suara serak.Tiba-tiba ponselnya bergetar, membuat Olivia terkejut. Jantungnya melonjak, berharap ada sesuatu yang berbeda. Namun saat nama “Mama Erika” terpampang di layar, bahunya kembali turun dengan lemas.Ia menarik napas dalam dan menyeka wajahnya. “Halo, Ma…” suaranya lirih, terdengar lebih rapuh dari yang ia duga.“Via? Kamu sakit?” Erika langsung terdengar cemas. “Suara kamu sera
Sendok itu terlepas dari jemari Olivia dan berdenting pelan di tepi mangkuk bakso. Kuah yang masih mengepul tiba-tiba terasa amis di hidungnya. Perutnya seperti diperas dari dalam. Tanpa sepatah kata, ia menutup mulut dan berdiri terlalu cepat hingga kursinya bergeser keras. “Via?” panggil Ayu, sendoknya masih menggantung di udara. Olivia tak menjawab. Ia berlari keluar pantri, satu tangan menekan bibir, tangan lain memegangi perutnya yang bergolak. Rayhan yang baru masuk hampir bertabrakan dengannya. “Eh, kenapa tuh?” “Nggak tahu,” jawab Ayu sambil menatap mangkuk Olivia yang tinggal beberapa butir bakso. “Tadi masih makan biasa…” “Mukanya pucat banget,” gumam Rayhan, ikut menoleh ke arah pintu. Seorang perempuan di ujung meja mengangkat wajahnya. “Mbak Olivia lagi hamil, kan?” “Iya, Bu Meli,” sahut Rayhan sambil menarik kursi. “Oh, ya pantesan. Trimester pertama memang begitu. Mualnya bisa datang tiba-tiba. Bau makanan sedikit saja langsung berontak.” Ayu menepuk dahinya
Malam itu, ruang kerja Adrian tampak gelap, seolah mencerminkan perasaannya yang suram beberapa hari terakhir. Entah kenapa, layar laptop di depannya terasa begitu menyilaukan.Ia duduk tegak di kursi, rahangnya mengeras menahan emosi. Di layar, video klarifikasi dari akun resmi Solaire diputar ulang. Wajahnya sendiri muncul di sana dengan penampilan rapi, formal, dan suara yang dibuat setenang mungkin.“Kami dari manajemen Solaire memohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian tidak nyaman beberapa hari lalu…”“Kami telah melakukan pembersihan menyeluruh, bekerja sama dengan pihak pengendalian hama profesional…”“Kami menjamin standar kebersihan kami akan ditingkatkan secara ketat…”Potongan suara itu berasal dari video berdurasi dua menit empat belas detik. Dua menit empat belas detik yang terasa sia-sia.Kolom komentar di bawahnya terus bergerak, dibanjiri komentar pedas.“Cih! Maaf doang nggak cukup.”“Udah terlanjur jijik.”“Kalau nggak viral, nggak bakal minta maaf.”“Fix blacklist







